The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Kunjungan Marisha


__ADS_3

Setelah kepergian Sean, Keanu masih tetap berada di rumah Sean dan malah menghabiskan waktunya untuk bermain console game milik Sean di ruang tengah. Sementara Willona masih tertidur di kamarnya.


Setelah beberapa saat seorang wanita paruh baya dengan gayanya yang begitu elegan dan berkelas mulai memasuki rumah ini. Derap langkah kakinya yang berasal dari sepatu hak tingginya terdengar dengan ritme yang begitu pelan dan beraturan.


"Keanu! Kamu menginap disini ya rupanya?" ucap wanita paruh baya itu setelah melihat Keanu yang masih bermain dengan sebuah console game.


"Eh ... tante Marisha ... iya, Tante. Aku menginap disini. Hehe ..." sahut Keanu mulai menghentikan permainannya dan merasa sedikit terkejut karena tak menyadari kehadiran Marisha sebelumnya.


"Oh begitu ya. Iya sering-seringlah berkunjung juga ke rumah. Rumah kami akhir-akhir ini juga sangat sepi karena Sean yang sudah menikah dan tinggal di rumah ini. Semoga saja sih segera hadir cucu-cucuku agar suasana rumah juga semakin ramai dan berwarna." ucap Marisha penuh harap dan wajahnya sangat berbinar.


Keanu yang mendengarkan ucapan dari Marisha seketika merasa terkejut bukan main, bahkan sampai tokoh yang sedang dimainkannya saat ini dalam sebuah game tiba-tiba saja dihempaskan dengan sangat mudah oleh lawannya hingga membuat Keanu kalah dalam permainan itu.


"Cucu?" ucap Keanu kembali dan kali ini pemuda tampan itu mulai mendongak menatap Marisha.


"Tentu saja dong, Keanu! Apa lagi yang tante harapkan di umur seperti ini kalau tidak cucu?" Marisha menyauti dengan senyum lebar dan mungkin saja wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu kini sedang membayanfkan seorang cucu yang lucu dan menggemaskan.


Keanu hanya meringis dan mengusap tengkuknya mendengar ucapan dari Marisha.


"Oh iya. Dimana Willona, Keanu? Sean bilang jika Willona sedang sakit." tanya Marisha lagi.


"Dia ada di kamarnya, Tante. Tadi sedang beristirahat. Entah saat ini sudah bangun atau belum." sahut Keanu mulai memainkan permainan baru.


"Baiklah. Tante akan melihatnya dulu sebentar." sahut Marisha lalu mulai melenggang dengan langkah anggunnya meninggalkan ruangan tengah dan menuju ke sebuah kamar.


Sedangkan Keanu masih saja terlihat memulai sebuah permainan baru lagi.

__ADS_1


Marisha mulai memasuki sebuah kamar utama yang dia tau adalah kamar dari Sean dan Willona, namun pada kenyataannya hanyalah Sean saja yang mrnempati kamar itu.


Saat Marisha mulai memasuki kamar yang cukup luas, bersih, rapi dan harum itu kedua alis indahnya mulai berkerut saling berdekata. Seakan merasa ada sesuatu yang sedang tidak beres.


"Dimana Willona? Bukankah Keanu mengatakan jika Willona sedang berada di dalam kamar sedang beristirahat? Namun ... mengapa kamar ini malah kosong? Lalu dimana Willona saat ini?" gumam Marisha merasa sangat kebingungan hingga menggaruk pelan pelipisnya.


Sementara itu ...


Willona mulai membuka sepasang matanya karena mendengar melodi indah yang melantun dari ponselnya. Gadis cantik yang memiliki rambut kecoklatan panjang dan sedikit bergelombang itu kini mulai meraih benda pipih yang berada di atas nakasnya.


Terlihat nama si pemanggil yang rupanya adalah Sean. Tanpa pikir panjang lagi akhirnya Willona mulai mengangkat panggilan itu setelah menggeser sebuah tombol hijau ke atas.


"Hallo, Kak. Ada apa?" sapa Willona dengan ramah seperti biasanya.


Dan sebenarnya perlakuan dari Sean cukup membuat Willona merasa tidak nyaman karena merasa terkekang, padahal hubungan diantara mereka hanyalah sebagai partner dalam sebuah topeng rumah tangga yang cukup konyol ini!


"Aku di rumah, Kak. Dan aku tidur sejak dari kakak berangkat ke kantor. Dan ini aku baru saja bangun. Maaf, aku tidak tau jika ibu datang. Aku akan seera menemuinya. Ibu masih disini kan?" ucap Willona masih berusaha untuk tetap ramah dan sabar.


Namun belum sempat Willona turun dari tempat tidurnya, kini pintu kamarnya mulai terbuka setelah beberapa kali terdengar ritme teratur dari arah luar.


Setelah beberapa saat akhirnya mulai terlihat Marisha memasuki kamar ini. Ada senyum tipis penuh dengan kelegaan saat melihat menantunya yang ternyata sedang beristirahat di kamar lainnya.


"Kak. Ada ibu. Sudah dulu ya ... sampai jumpa." ucap Willona sedikit berbisi lalu mulai mengakhiri panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Marisha dengan senyum hangatnya kini mulai duduk si pinggiran tempat tidur Willona saat ini. Perempuan paruh baya itu mengelus lembut kepala Willona.

__ADS_1


"Sayang, Sean bilang kamu sakit. Kamu sakit apa? Apa perlu kita pergi ke dokter?" tanya Marisha terlihat begitu khawatir.


"Tidak perlu, Ibu. Hanya sakit perut biasa saja kok. Dan sekarang sudah merasa lebih baik kok." jawab Willona seadanya.


"Apa kamu benar-benar sudah merasa lebih baik, Sayang? Jika memang masih kurang enak dan tidak kuat, maka ibu akan panggilkan dokter saja." ucap Marisha lagi membujuk Willona.


Willona tersenyum tipis melihat ibu mertuanya yang begitu mengkhawatirkan dirinya saat ini. Sebenarnya Willona merasa cukup beruntung karena memiliki ibu mertua yang begitu baik dan sangat menyayanginya seperti Marisha.


Hanya saja Willona kurang beruntung karena memiliki suami yang tak sepenuhnya menganggapnya sebagai seorang istri, dan malah menjadkannya sebagai partner untuk mendapatkan semua hak waris keluarga Lucano.


"Iya, Ibu. Aku baik-baik saja kok. Ibu jangan khawatir." sahut Willona dengan senyum tipisnya menatap Marisha.


"Hhm. Baiklah jika memang seperti itu." sahut Marisha mengalah. "Willona, atau jangan-jangan kamu sedang hamil? Uhm ... bagaimana jika kita pergi ke dokter kandungan saja yuk! Ibu punya kenala dokter kandungan yang sangat bagus dan ramah. Yuk!!" imbuh Marisha tiba-tiba dengan wajahnya yang begitu berbinar.


Mendengar ucapan dari Marisha kini malah membuat sepasang mata Willona mulai membulat karena sangat terkejut.


"Hamil?" Willona bergeming pelan dan tak sadar jika sudah mengucapkan kata-kata itu.


Bagaimana bisa hamil? Padahal selama ini saja Sean tak pernah menyentuh Willona. Dan bagaimana Willona menolak ajakan dari Marisha kali ini?


Jika sampai Willona diperiksa oleh dokter kandungan dan ternyata terbukti tidak hamil, dan bahkan malah terbukti masih perawan maka semua itu akan semakin mempersulitnya. Dan tentu saja Sean akan merasa murka dengan dirinya.


Di tengah kebingungannya saat ini, Marisha malah semakin mendesak Willona terus karena sangat bersemangat ingin mendapatkan seorang cucu.


"Ayo, Sayang kita segera bersiap! Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa. Kamu juga harus sering-sering melakukan pemeriksaan untuk kesehatanmu. Apalagi kamu sedang dalam program untuk hamil. Jangan takut ... ibu akan menemanimu kok." bujuk Marisha lagi karena melihat Willona yang sedikit gelisah.

__ADS_1


__ADS_2