The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Belajar Bersama Sean


__ADS_3

Sean dan Willona terlihat sedang duduk lesehan bersama di ruang tengah di atas sebuah karpet roll wilton bermotif vintage. Mereka duduk bersama dan berkutat dengan sebuah laptop di hadapannya.


Sean terlihat sedang memberikan contoh dan menerangkan sesuatu kepada Willona. Sean menarikan jemarinya dengan begitu lincah di atas keyboard yang menyala dengan lampu warna-warni itu. Sementara pandangannya menatap layar berukuran 14 inchi itu.


"Semua program akan dibuat melalui proses coding. Jika mau membuat bahasa pemrograman sendiri, setidaknya kuasai dan tentukan mau menggunakan bahasa pemrograman yang mana?" ucap Sean yang terlihat begitu menikmati aktifitasnya saat ini.


"Uhm ... bagaimana jika bahasa pemrograman Visual basic? " ucap Willona memainkan sebuah pena berwarna hitam yang dijepitnya diantara jemarinya.


"Baiklah. Malam ini kita akan sedikit belajar tentang bahasa pemrograman visual basic." ucap Sean mulai membuka sebuah aplikasi visual studio pada laptop itu.


"Sebenarnya visual basic adalah bahasa pemrograman yang paling dasar dan sangat mudah, Willona. Pemrograman ini bersifat event driven dan menawarkan Integrated Development Environment atau IDE visual untuk membuat program aplikasi berbasis sistem operasi Microsoft Windows dengan menggunakan model pemrograman Common Object Model atau COM. Dan bahasa pemrograman ini juga cukup populer." jelas Sean yang terlihat begitu cerdas dan berwibawa saat menjelaskan semua itu.


Sebenarnya hal itu pernah dijelaskan oleh lektor Willona saat di kampus, namun Willona tak banyak berkomentar saat ini. Gadis cantik itu terlihat mendengarkan penjelasan Sean dengan seksama seperti seorang mahasiswi teladan yang sedang patuh dan mendengarkan penjelasan dari sang profesor.


Setelah beberapa saat belajar bersama tiba-tiba saja mulai terdengar sebuah lantunan melodi indah yang begitu menenangkan hati. Dan melodi indah itu berasal dari ponsel Sean.


Sean segera meraih sebuah benda pipih yang kebetulan masih tergeletak di atas meja, sebuah nama terpampang dengan sangat jelas dan membentuk sebuah nama seorang gadis, Cinta.


"Willona, aku akan mengangkatnya dulu. Kamu lanjutkan saja sendiri dulu." ucap Sean mulai bangkit dari tempat duduknya sambil mengangkat panggilan itu.


"Ya, Cinta. Ada apa?" suara Sean yang sudah berada di balkon kamar, masih saja terdengar seperti sebuah sayup-sayup.


Willona hanya sedikit melirik dan menghembuskan nafas kasarnya ke udara. Lalu gadis cantik itu mulai beralih menatap layar di hadapannya kembali dan jemarinya juga mulai memasukkan coding-coding.


Tak sengaja sebuah cincin berwarna silver dengan sebuat batu berlian putih berkilauan yang masih melingkar manis pada jari manis Willona, kini membuatnya kembali bersedih.

__ADS_1


Cincin pernikahan seharusnya membuat bahagia, namun tidak untuk Willona. Karena pernikahannya kali ini hanyalah sebuah drama saja yang suatu saat pasti akan berakhir. Hubungan suami istri ini sungguh palsu.


"Huft ... kelak aku akan melepaskan cincin ini lagi." gumam Willona lirih. "Sebaiknya mencoba untuk kerjakan beberapa dulu sebelum kak Sean datang kembali deh." imbuhnya mulai memfokuskan dirinya kembali untuk mencoba membuat sebuah pemrograman dengan memakai bahasa pemrograman visual basic.


Setelah beberapa saat, akhirnya Sean sudah kembali lagi dan mulai duduk bersama dengan Willona lagi. Sepasang netranya mulai menatap layar laptop di hadapannya dan memperhatikannya dengan seksama variabel-variabel yang diketik oleh Willona.


"Wah ... project coding-nya bukan seperti itu, Willona. Jadi begini ..." sela Sean lalu mulai duduk bergeser semakin mendekat dan mulai menghapus beberapa variabel ran coding yang sudah dimasukkan oleh Willona.


Sementara Willona hanya terdiam dan memperhatikan saja saat Sean sedang mengajarinya. Mereka berdua terlihat begitu menikmati saat ini. Sean yang memang sangat berpotensi dan berbakat dalam hal pemrograman tentunya akan sangat menikmati layaknya seperti mendapat sebuah pekerjaan sebagai guru Willona saat di rumah.


Dan Willona juga lebih mudah memahami penjelasan Sean, karena Sean begitu tepat sasaran saat menerangkan semua itu jika dibandingkan dengan dosennya yang tentunya lebih tegas dan killer.


"Sudah hampir jam 10 malam. Kita lanjutkan besok lagi saja. Besok juga harus berangkat pagi ke kantor. Kamu juga tidurlah ..." ucap Sean mulai bersiap untuk segera kembali ke kamarnya.


"Iya, Kak." jawab Willona seadanya.


"Uhm ... baiklah, aku akan mencobanya kelak." jawab Willona sambil mematikan laptopnya lalu menutupnya.


"Hhm. Plat motormu masih belum keluar, jadi besok berangkat bersama saja."


"Oh ... baiklah, Kak."


Setelah mengatakan hal itu, Sean mulai berlalu dan menuju ke kamarnya yang hanya berada di seberang ruangan. Willona juga mulai merapikan beberapa buku pemrograman miliknya itu lalu segera membawanya ke kamarnya.


"Aneh sekali ... semenjak malam pesta ulang tahun ayah mertua kak Sean sedikit berubah menjadi lebih ramah. Apa telah terjadi sesuatu? Ataukah gara-gara ciuman itu? Ahh ... itu sangat tidak mungkin bukan? Kak Sean pasti sudah pernah melakukan hal seperti itu bersama Cinta bukan? Ya!! Tentu saja!! Huft ... sudahlah!! Tak perlu terlalu dipikirkan!! Sebaiknya tidur, Willona!! Besok harus bangun pagi dan memasak sesuatu!!"

__ADS_1


Gumam Willona sambil memejamkan sepasang matanya. Tak butuh waktu yang lama, kini Willona sudah tertidur begitu saja.


...⚜⚜⚜...


Pagi-pagi sekali Willona sudah menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak beberapa menu untuk sarapan paginya bersama dengan Sean. Masakan itu disajikannya dengan begitu rapi dan menggiurkan saliva. Selain penyajiannya yang cantik, aroma masakan itu begitu menggoda saliva.


Dan hari ini Willona sengaja memasak beberapa makanan kesukaan Sean seperti nasi uduk khas Betawi dan soto Betawi, sebagai tanda terima kasihnya karena semalaman sudah mengajari Willona tentang Visual basic.


Dan semua menu makanan kesukaan Sean ini, Willona ketahui dari sang ibu mertua beberapa hari yang lalu saat mereka melakukan sebuah panggilan telpon.


"Whoa ... makanan-makanan ini siapa yang memasak?" ucap Sean yang tiba-tiba sudah datang di ruang makan dan menatap takjub semua makanan itu.


"Aku yang memasaknya, Kak. Semua asisten rumah tangga masih belum masuk kembali bukan?" sahut Willona.


Yeap, semenjak mereka berdua menikah Sean memang sengaja memberhentikan para asisten rumah tangga agar Willona yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.


Karena setau Sean, setelah menikah maka semua pekerjaan rumah seharusnya memang dikerjakan oleh seorang istri. Namun karena melihat kesibukan Willona, akhirnya Sean merasa sedikit tak tega.


"Mulai besok kamu tidak perlu memasak dan mengurus rumah lagi! Aku akan mendatangkan asisten rumah tangga itu kembali." ucap Sean tiba-tiba. "Kamu fokuslah belajar saja!"


"Eh? Ba-baiklah ..." jawab Willona yang sebenarnya cukup terkejut mendengar semua itu.


"Darimana kamu tau jika aku menyukai soto Betawi dan nasi uduk khas Betawi?" tanya Sean yang kini sudah bersiap untuk menikmati nasi uduknya.


"Dari ibu, Kak. Maaf jika rasanya masih kurang enak, Kak. Soalnya aku hanya belajar memasak dari google saja." jawab Willona.

__ADS_1


"Tidak masalah kok. Ya sudah kamu juga makanlah, kita akan segera berangkat sebentar lagi."


"Iya, Kak ..."


__ADS_2