
Sean melakukannya dengan sangat pelan dan begitu hati-hati agar Willona tidak begitu merasakan perih dan sakit karena lupa bakar yang terjadi karena kecerobohan Sean itu.
Willona hanya terdiam saja dan sesekali menahan nafasnya dan memejamkan matanya, karena masih merasa sedikit perih.
"Apakah sakit sekali? Sangat perih ya?" tanya Sean sesekali mendongak menatap Willona.
"Iya, Kak. Sedikit perih ..." ucap Willona pelan.
Setelah selesai mengoleskan salep itu, Sean mulai meniup memar karena luka bakar itu agar rasa perih itu sedikit berkurang. Namun tetap saja rasa perih itu akan dirasakan kembali oleh Willona ketika Sean berhenti meniupnya.
Dan tidak mungkin juga Willona akan mengandalkan Sean terus untuk melakukannya agar kakinya tidak terasa perih. Hingga akhirnya Willona mulai sedikit menggeser kakinya dan menurunkan kembali roknya karena semakin merasa tidak nyaman.
"Sudah tidak apa-apa, Kak. Terima kasih karena kakak sudah merawat dan mengobatinya." ucap Willona lirih dan masih sangat kaku.
Jemarinya masih meremas roknya sendiri, sementara kepalanya masih menunduk menatap roknya sendiri.
"Aku minta maaf ya. Ini semua terjadi karena aku. Aku begitu ceroboh dan tidak hati-hati. Sekali lagi aku minta maaf ..." ucap Sean dengan tulus.
"Tidak kok, Kak. Tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah seperti ini. Ini semakin membuatku tidak nyaman. Ini hanya luka ringan. Dan pasti besok juga akan sembuh." ucap Willona sedikit berbohong.
Karena sebenarnya rasa perih itu masih dirasakannya hingga saat ini.
"Baiklah. Aku akan ambilkan celana ganti untukmu. Aku akan pergi ke kamarmu sebentar. Tunggulah sebentar disini dan jangan kemana-mana ..." ucap Sean mulai berdiri kembali.
"Iya, Kak."
"Apa kamu butuh sesuatu lagi lainnya? Aku akan ambilkan untukmu." tanya Sean lagi sebelum Sean meninggalkan kamar ini.
"Tolong ambilkan juga laptop di dala. kamarku, Kak. Ada sesuatu yang juga harus aku kerjakan." jawab Willona.
__ADS_1
"Baiklah. Tunggulah disini dulu. Aku akan ambilkan." ucap Sean lalu segera berbalik dan mulai melenggang meninggalkan kamar ini.
Sean mengamati sekitarnya terlebih dulu sebelum memasuki kamar Willona, berharap Marisha tak sedang melihat dan memergokinya saat ini.
Karena melihat sekitarnya aman, kini Sean segera memasuki kamar Willona dan menutupnya kembali. Dengan cepat Sean mendekati lemari pakaian Willona untuk mencarikan rok ataupun celana untuk Willona.
Namun baru saja membuka lemari itu pemandangan pertama yang ditangkap oleh Sean cukup membuatnya merasa terkejut bukan main. Sean sudah menemukan pakaian dalam yang memang sengaja Willona tata pada bagian depan agar memudahkan Willona untuk mencarinya.
Selama beberapa saat, Sean terdiam dan terpaku menatap pemandangan dengan warna yang bernuansa begitu lembut dan lucu itu hingga membuatnya berpikiran entah kemana.
Namun akhirnya Sean segera membuyarkan lamunannya sendiri dan segera mengambilkan sebuah celana training longgar untuk Willona. Tak lupa Sean juga mengambil laptop milik Willona yang berada di atas mejanya.
Namun rupanya tak sengaja Sean malah menjatuhkan sebuah buku ber-cover pink lembut di atas lantai. Dan sebuah foto tak sengaja terjatuh dari dalam buku itu.
Sean mulai memungutnya dan melihat foto itu. Terlihat seorang gadis masih dengan seragam putih abu-abunya tersenyum penuh binar sedang duduk di sebuah bangku taman bermain bersama seorang pemuda yang sedang mengenakan seragam putih abu-abunya.
Rupanya mereka adalah Willona dan Keanu semasa SMU. Mereka berdua terlihat begitu ceria di dalam foto itu. Keanu juga tersenyum lebar dengan pose memperlihatkan jemarinya membentuk sebuah huruf V dan meletakkannya di bawah dagu tirusnya.
Batin Sean mulai menepis pikiran buruknya tentang Keanu, saudara sepupunya sendiri.
Sean segera menyelipkan kembali foto itu di dalam buku ber-cover pink lembut itu lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Kini Sean segera meninggalkan ruangan ini dan segera kembali lagi ke kamarnya selagi Marisha tak melihatnya saat ini. Tak lupa Sean juga mengunci kembali kamar Willona agar Marisha tidak bisa memasukinya.
CEKLEKK
Sean mulai memasuki kamarnya lagi dan segera memberikan celana ganti untuk Willona. Sementara lapotop Willona dia letakkan di atas meja.
"Gantilah dulu. Aku akan keluar ke balkon sebentar." ucap Sean setelah memberikan celana ganti untuk Willona lalu segera melenggang menuju balkon.
__ADS_1
Sementara Willona segera berganti dengan celana training yang sudah dibawakan oleh Sean.
"Ahh ... kak Sean rupanya mengambil pakaian ganti di sebelah samping ya. Padahal aku menyimpan pakaian dalamku pada sisi itu. Aduh ... pasti dia sudah melihat semuanya. Ahh ... rasanya malu sekali!! Argh ... bagaimana ini?" gumam Willona dengan wajah yang seketika memerah karena membayangkan saat Sean melihat seisi lemarinya saat itu.
"Willona, apakah sudah selesai?" tiba-tiba kembali terdengar ucapan Sean yang berasal dari arah balkon.
"Tunggu sebentar, Kak. Aku sedang berganti ... jangan masuk dulu!" ucap Willona menjadi sedikit gelagapan dan segera melepaskan pengait roknya lalu mulai menurunkan roknya.
Setelah itu Willona segera mengenakan celana training itu dengan sangat terburu-buru karena khawatir Sean akan segera masuk ke dalam kamar kembali.
"Apakah sudah selesai? Mengapa lama? Apa kamu mengalami kesulitan untuk berganti, Willona? Aku akan bantu jika kamu kesulitan." ucap Sean lagi.
Mendengar ucapan dari Sean malah semakin membuat sepasang mata Willona membulat. Dengan cepat Willona segera menaikkan celana training itu dan memakainya dengan benar.
"Willona mengapa diam? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Sean dengan nada sedikit khawatir.
DDRTT ...
Pintu pembatas kamar dan balkon itu kini mulai terbuka dan Sean mulai memasuki kamar dengan raut wajah khawatir. Namun saat melihat Willona baik-baik saja dan sudah duduk di atas tempat tidur, Sean mulai terlihat lega kembali.
"Ah ... aku kira kamu kenapa-kenapa. Mengapa tidak menjawabku?" tanya Sean dengan nada bersahabat dan mulai melenggang mendekati pembaringan hingga akhirnya Sean mulai duduk di tepian penbaringan itu.
"Karena aku baru saja selesai berganti, Kak. Maaf ..."
"Malam ini kamu mau mengerjakan apa lagi? Apakah ada tugas dari kampus?" tanya Sean karena melihat Willona sudah mulai menghidupkan laptopnya.
"Hanya menyelesaikan sedikit dan memeriksa kembali tugas kuliahku kok. Karena besok akan dikumpulkan." jawab Willona seadanya.
"Kali ini tugas apa?"
__ADS_1
"Membuat program perpustakaan kok. Dan aku sudah hampir menyelesaikannya."
"Kalau begitu biar aku yang mengerjakannya saja. Akan aku selesaikan dan aku akan memeriksanya. Kamu tidur dan istirahat saja ..." ucap Sean mulai merebut laptop Willona.