The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Cinta Kecelakaan ?


__ADS_3

"Apa itu cwimie, Kak?" tanya Willona yang merasa cukup asing dengan nama makanan itu.


Karena sebelumnya Willona memang belum pernah menikmati atau mendengarkan nama masakan itu. Bahkan di kantin kampusya juga tidak pernah ditemuinya sebelumnya.


"Jadi cwie mie itu itu adalah makanan khas dari Malang, Jawa Timur. Sajian ini berupa mi ayam dengan topping daging ayam giling tanpa kecap manis dan biasanya disajikan dengan selada. Kamu cobain ya. Itu adalah salah satu makanan kesukaanku." sahut Sean tersenyum tipis.


"Oh makanan dari Malang Jawa Timur ya? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya, Kak. Maaf. Hehe ..." sahut Willona meringis malu.


"Ya. Makanannya sangat gurih dan tidak bikin eneg." sahut Sean menjelaskan.


Sebuah melodi yang cukup tidak asing dan berasal dari ponsel Sean kini mulai terdengar kembali. Sean segera meraih benda pipih itu dari saku pakaiannya untuk melihat siapa yang sedang berusaha untuk menghubunginya.


Setelag melihat nama Cinta pada layar ponselnya. Sean segera menolak panggilan itu dan meletakkan benda pipih itu di atas mejanya kembali.


"Mengapa tidak diangkat, Kak?" tanya Willona ingin tau.


"Biarkan saja! Aku malas berurusan dengan dia lagi." jawab Sean dengan malas.


Namun tiba-tiba saja ponsel Sean berdering kembali. Lagi-lagi sebuah panggilan dari Cinta. Karena merasa kesal, akhirnya Sean menolak panggilan itu dan segera mematikan sinyal ponselnya.


Sepertinya kak Sean benar-benar sudah sangat marah dan kesal kepada Cinta.


Batin Willona tanpa berani bertanya apapun kembali kepada Sean.


Tak lama kemudian seorang pelayan wanita sudah datang lagi dengan membawakan pesanan Sean dan segera meletakkan makanan-makanan itu di atas meja.


"Silakan menikmati sajian dari restoran kami, Tuan." ucap pelayan wanita itu dengan sangat ramah lalu segera pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.


"Makanlah ... cuangki dan cwie mie akan terasa lebih nikmat saat kita menikmatinya dalam keadaan hangat." ucap Sean sambil mengambil sendok dan garpunya untuk menikmati cwangki terlebih dulu.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan mencoba cwie mie ini terlebih dulu." sahut Willona bersemangat dan mulai mengambil sepasang sumpit yang sudah disiapkan bersama cwie mie itu, lalu mulai menikmati cwie mie itu.


"Bagaimana? Apa itu enak?" tanya Sean ingin tau.


"Mirip seperti mie ayam. Hanya saja rasanya gurih dan tidak manis. Benar seperti yang sudah kakak katakan padaku. Rasanya tidak membuat eneg." jawab Willona dengan jujur. "Kalau boleh tau, bukankah makanan ini khas dari Malang? Lalu mengapa kakak bisa langsung mengetahui dan menyukainya?"


"Sebenarnya ibuku adalah asli orang Malang, Willona. Namun ibu sudah lama sekali tinggal di Jakarta dan tidak kembali ke Malang, karena kakek dan nenek dari pihak ibu sudah tiada. Sedangkan ibu adalah anak tunggal. Rumah peninggalan dari kakek dan nenek juga sudah dijual saat itu karena tak ada yang bisa merawatnya." jelas Sean seadanya.


"Wah ... mengapa aku tidak mengetahui hal itu ya. Aku kira kalian semua adalah asli orang Jakarta." celutuk Willona sambil memasukkan sebuah bakso kecil ke dalam mulutnya.


"Tidak kok. Ayahpun sebenarnya bukan asli Jakarta. Tapi dia asli Garut, Bandung. Dan sedikit ada darah Cina, karena nenek dari pihak ayah adalah seorang Chinese." ucap Sean yang kali ini mulai meraih semangkok cwie mie miliknya dan mulai menikmatinya.


Wah. Pantas saja kak Sean bisa terlihat begitu sempurna. Aku yang sudah sebulan selalu bersama dengannya dengan status istri di atas kertas untuknya rupanya sangat tidak mengetahui apapun soal dia. Saat itu aku hanya berusaha untuk patuh dan menuruti perintah dari ibu dan ayah untuk segera menikah dengan putra tunggal keluarga Lucano, tanpa mengetahui apapun tentang kak Sean. Dan ternyata dia begitu dingin dan dia hanya memperalat dan memanfaatkan pernikahan ini saja ...


Batin Willona mulai teringat dengan saat-saat kedua orang tuanya mulai membujuknya untuk segera menikah dengan Sean.


Angan Willona seketika buyar ketika ponselnya kini mulai melantunkan sebuah lagu yang menjadi salah satu lagu kesukaannya saat ini.


"Siapa, Willona?" tanya Sean yang juga merasa penasaran, karena melihat Willona yang begitu kebingungan ketika menerima panggilan itu.


Willona beralih menatap Sean dan menggeleng pelan, "Aku tidak tau, Kak. Nomor baru yang sedang menghubungiku."


"Ya sudah. Angkat saja. Siapa tau penting." ucap Sean tidak merasa keberatan sedikitpun.


Akhirnya Willona mulai menhgeser tombol hijau itu ke atas dan segera menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Hallo ..." sapa Willona dengan ramah.


"Willona. Ini aku Willy! Apa kamu sedang bersama dengan Sean? Aku sudah berulang kali menghubungi Sean, namun ponselnya malah tidak aktif." ucap seorang pria dari seberang line.

__ADS_1


"Iya, Kak Willy. Dia sedang bersama denganku. Apa ada sesuatu yang bisa aku sampaikan untuknya?" sahut Willona.


"Tolong berikan panggilan ini untuknya, Willona ..." sahut Willy terdengar tak sabaran dan buru-buru.


"Baiklah. Tunggu sebentar, Kak Willy." ucap Willona sambil menyerahkan ponselnya untuk Sean.


"Kak. Ada panggilan dari kak Willy. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi saat ini." ucap Willona samnil mengulurkan ponselnya kepada Sean.


Sean menerima ponsel itu dan segera menempelkannya pada telinga kanannya.


"Ada apa, Willy? Tumben sekali masih pagi sudah mencariku?" tanya Sean lalu menikmati jus alpukatnya.


"Kamu kemana saja, Sean? Ponselmu juga tidak bisa dihubungi dari tadi." sahut Willy masih berbicara dengan terburu-buru.


"Aku hanya sedang sarapan di luar saja kok. Memang ada apa hingga kamu mencari-cariku seperti ini?" tanya Sean mulai penasaran.


"Cinta mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit, Sean." jawab Willy mulai menjelaskan.


"Apa?? Cinta kecelakaan?!" tanya Sean begitu syok dan suaranya begitu menggelegar. "Dimana dia dirawat saat ini? Kirimkan alamatnya padaku sekarang juga!!" titah Sean yang terlihat begitu khawatir.


"Oke. Aku akan mengirimkan alamat rumah sakit dan ruangannya kepadamu melalui pesan." jawab Willy.


"Okay!! Cepat!!" sahut Sean lalu mulai mengakhiri panggilan itu kembali.


Sean memejamkan sepasang matanya dan mengusap rambutnya ke belakang. Raut wajahnya sangat terlihat dengan jelas, jika saat ini Sean benar-benar sangat khawatir.


"Ada apa dengan Cinta, Kak?" tanya Willona yang mulai sedikit khawatir karena sempat mendengar sebuah kata kecelakaan dan rumah sakit.


Meskipun Cinta adalah sebuah hambatan dalam hubungan Willona dan Sean, namun tentu saja Willona juga tak menginginkan nasib buruk menimpa Cinta.

__ADS_1


"Cinta mengalami kecelakaan. Dan saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit. Aku akan pergi sebentar ..." jawab Sean.


"Aku ikut, Kak ..." ucap Willona dengan cepat karena Willona juga mengkhawatirkan Cinta dan ingin melihat keadaannya saat ini.


__ADS_2