The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Kehadiran Sean Di Kediaman Naresha


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan itu mulai diangkat oleh Willona.


"Hallo, Kak ..." sapa Willona dari seberang.


"Willona ... kamu dimana? Mengapa pergi begitu saja?" tanya Sean sedikit kesal karena sudah membuatnya membuang waktu dan tenaga untuk mencari Willona.


"Maaf, Kak. Aku sudah pergi duluan. Karena ada panggilan dari ibu, dan saat ini aku pulang ke rumah besar Naresha." ucap Willona.


"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu? Apa ibumu sedang sakit?" tanya Sean menerka-nerka.


"Hanya sedikit demam dan ingin bertemu denganku saja kok. Uhm ... kak ... bolehkah aku menginap di rumah kedua orang tuaku malam ini?" tanya Willona dengan hati-hati.


"Oh, mau menginap ya. Baiklah ... sampaikan salamku untuk ibu. Aku belum bisa datang karena masih ada sesuatu yang harus aku urus." ucao Sean.


"Baik, Kak ..." sahut Willona pelan.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Sean sambil mematikan ponselnya.


...⚜⚜⚜...


"Ada sesuatu yang sedang ingin diurus ya? Hhm ... tentu saja. Cinta saat ini sedang sakit, ditambah dia sedang hamil. Pasti kak Sean akan sibuk mengurus Cinta. Huft ... berada di rumah ayah dan ibu memang pilihan yang tepat untuk saat ini. Setidaknya aku tidak akan terlalu kesepian saat berada di rumah." gumam Willona saat panggilan itu berakhir.


"Ada apa, Sayang? Ibu dengar kamu mengatakan hamil. Apa kamu sudah hamil, Sayang? Ibu Willona yang tiba-tiba saja datang rupanya sedikit mendengarkan ucapan Willona.


Willona cukup terkejut dan tidak menyangka jika sang ibu tiba-tiba saja menyusulnya ke dalam taman samping rumahnya.


"Ib-ibu ... itu ... bukan aku yang hamil, Ibu. Tapi temennya temenku yang baru saja menikah. Hehe ..." jawab Willona berkilah dengan cepat dan meringis.


"Oh begitu. Jadi kamu kapan dong, Sayang. Ibu juga sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu juga. Kalian tidak sedang menunda kehamilan bukan?" selidik ibu Willona yang kini sudah duduk di samping putri semata wayangnya.

__ADS_1


Willona tersenyum tipis dan sebenarnya merasa cukup kebingungan untuk menjawab ibunya saat ini.


"Doakan kami saja, Ibu ..." jawab Willona seadanya. "Oh iya ... seharusnya ibu beristirahat saat ini agar demam ibu mulai turun. Ayo aku antarkan ke kamar!" ucap Willona sambil menggandeng sang ibu dan memaksa ibunya untuk segera bangkit kembali.


...⚜⚜⚜...


Malam ini Sean terlihat sedang menyibukkan dirinya di dalam kamarnya di hadapan laptopnya. Ada beberapa tugs kantor yang sengaja dikerjakannya di rumah untuk mengusir rasa bosannya.


"Willona ... tolong buatkan kopi untukku!" titah Sean tanpa sadar dan masih berkutat di depan layar berukuran 14 inchi itu.


Setelah beberapa saat akhirnya Sean baru saja menyadari, jika rupanya malam ini tak ada Willona di rumah ini.


"Ahh ... mengapa aku bisa lupa. Malam ini kan dia berada di rumah kedua orang tuanya." gumam Sean akhirnya mulai menuju dapur untuk membuat kopi dengan mesin pembuat kopi.


"Rupanya sepi juga saat dia tidak ada di rumah ... biasanya dia yang selalu menyiapkan makanan, membuatkan aku kopi, atau menyiapkan segala keperluanku." gumam Sean mulai menikmati kopi hitam kesukaannya.


"Sial! Lama-lama aku sudah bergantung padanya rupanya. Huft ... pada waktu-waktu sepert ini biasanya aku dan dia selalu bersama mempelajari bahasa pemrograman di rumah. Meskipun hanya satu jam hingga 2 jam saja, namun melakukannya juga cukup menyenangkan. Karena aku memang menyukai bidang itu. Dia sedang apa ya? Apa dia juga masih belajar malam ini disana? Apa aku coba telpon dia saja ya?" gumam Sean mulai mencari kontak Willona di dalam ponselnya.


...⚜⚜⚜...


Malam ini keluarga Naresha terlihat sedang menikmati makan malam bersama di ruangan makan. Bahkan ibu Willona juga sudah bisa makan bersama-sama dengan Willona dan suaminya.


"Apakah ibu benar-benar sudah merasa lebih baik saat ini? Ibu bisa beristirahat di kamar, dan aku akan membawakan makan malam untuk ibu deh." ucap Willona.


"Tidak kok. Ibu sudah merasa lebih baik kok. Sayang, apa kamu tidak pulang lagi malam ini? Jika kamu terlalu lama disini, nanti tidak ada yang mengurus suamimu." ucap ibu Willona sambil menikmati teh hangatnya.


"Sudah ada asisten rumah tangga kok, Bu. Jadi semua pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan. Mungkin aku akan pulang besok saja deh." sahut Willona mulai menikmati kembali gulai ayamnya.


"Biarpun sudah asisten rumah tangga, namun kamu juga harus selalu melayani suamimu dengan baik, Sayang." ucap ibu Willona menasehati Willona.

__ADS_1


"Ibumu benar, Willona." imbuh ayah Willona dengan bijak.


Belum sempat Willona menjawab kedua orang tuanya, tiba-tiba saja mulai terdengar suara derap langkah dengan ritme yang pelan namun tegas dan beraturan semakin mrndekati meja makan.


Hingga akhirnya kini mulai terlihat sosok pria yang masih lengkap dengan pakaian dinasnya yang rapi dan necis mulai menghampiri mereka di ruang makan.


"Selamat malam, Ibu ... ayah ..." sapa pria itu dengan ramah dan penuh rasa hormat.


"Oh menantuku yang tampan sudah datang rupanya." sahut ibu Willona dengan wajahnya yang begitu berbinar.


"Sean! Duduk dan makan malamlah bersama dengan kita!" ucap ayah Willona mempersilakan.


"Baik, Ayah." sahut Sean dengan ramah dan patuh.


Bahkan Sean terlihat begitu manis, patuh dan tidak menyebalkan seperti biasanya. Terlihat seperti sosok suami dan menantu yang begitu penyanyang, penuh kasih dan sempurna. Seperti yang diidam-idamkan oleh kebanyakan orang.


"Willona, siapkan makan malam untuk suamimu ..." titah ibu Willona.


"Iya, Ibu." sahut Willona sambil mengambilkan makan malam untuk Sean.


"Terima kasih, Sayang." ucap Sean begitu manis dan mendongak menatap sang istri.


Sementara Willona hanya tersemyum tipis dan masih mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk Sean.


"Oh iya. Bagaimana keadaan ibu? Aku dengar ibu sakit? Apa sekarang sudah merasa lebih baik, Ibu?" tanya Sean beralih menatap ibu Willona dan terlihat begitu khawatir.


"Alhamdulillah sudah lebih baik kok, Sean. Dan sebenarnya ibu hanya merindukan Willona saja kok karena sudah lama tidak bertemu. Dan terkadang ibu masih merasa khawatir jika Willona masih belum terbiasa dengan kehidupan rumah tangga. Karena pernikahan kalian terlalu terburu-buru." sahut ibu Willona dengan senyum tipis.


Mendengar ucapan ibu Willona membuat Sean tersenyum dengan hangat.

__ADS_1


"Ibu tenang saja. Willona akan selalu baik-baik saja kok. Aku akan menjaganya dengan baik, Ibu ..." sahut Sean dengan lembut dan hangat.


__ADS_2