The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Pulang Bersama


__ADS_3

Sean tersenyum hangat dan segera menjawab ucapan dari ibu mertuanya.


"Ibu tenang saja. Willona akan selalu baik-baik saja kok. Aku akan menjaganya dengan baik, Ibu ... ibu tidak perlu khawatir." sahut Sean dengan lembut dan hangat.


Willona yang mendengar ucapan Sean tak menjawabnya sama sekali dan hanya tersenyum tipis dan segera kembali duduk di sebelah Sean.


"Terima kasih ya, Sean. Karena sudah menerima Willona yang mungkin sedikit berbeda dengan gadis-gadis lain. Willona memang pemalu dan pendiam. Karena Willona memang tak pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya. Dan tiba-tiba saja malah menikah dengan kamu Sean. Tolong makhum ya ..." ucap ibu Sean dengan tawa kecil.


"Tidak masalah kok, Bu. Itu berarti Willona memang gadis yang baik selama ini dan tidak neko-neko." sahut Sean masih dengan nada berbicara yang begitu bersemangat. "Oh iya, Ibu ... maaf jika aku baru sempat menjenguk ibu. Karena dari kemarin pekerjaan kantor sangat menumpuk dan baru selesai sore ini." imbuh Sean.


"Tidak apa-apa kok, Sean. Kami tau kamu adalah orang yang selalu sibuk. Jadi tidak perlu merasa menyesal dan segan. Asal kamu sehat selalu saja kami sudah merasa senang." sahut ibu Willona dengan senyum lebar.


"Hhm. Terima kasih atas pengertiannya, Ibu." sahur Sean dengan manisnya, dan benar-benar terlihat seperti seorang menantu idaman.


Bahkan kak Sean masih saja bersandiwara seperti ini di hadapan kedua orang tuaku. Aku benar-benar tak bisa membayangkan jika suatu saat kita akan benar-benar berpisah. Semoga kedua orang tuaku tak begitu sakit dan bersedih disaat itu... ya ... semoga saja ... aku tak tega melihat mereka bersedih dan kecewa.


Batin Willona terlihat sedikit murung sambil menikmati makan malamnya dengan tenang dan pelan.


"Ayah, Ibu ... apakah malam ini aku boleh mengajak Willona untuk pulang?" tanya Sean menatap ayah dan ibu Willona secara bergantian.


Willona yang mendengarkan permintaan dari Sean sebenarnya merasa cukup terkejut. Bagaimana Sean bisa datang dan menjemputnya begitu saja? Padahal selama ini dirinya tak pernah dianggap sama sekali oleh sang suami.


"Tentu saja kamu boleh, Sean. Lagipula Assyifa juga sudah sembuh kok." ayah Willona menyauti kali ini.


"Benar. Aku juga sudah sehat kembali kok. Kalian bisa pulang bersama nanti. Jangan lupa untuk segera menghadirkan cucu yang lucu dan menggemaskan untuk kami ya." imbuh ibu Willona.

__ADS_1


Sean dan Willona mulai membekukan senyumannya, namun Sean segera menutupinya dengan sangat baik dengan senyuman dan sikap ramahnya.


"Ya, Ibu. Doakan saja kita bisa segera memberikan cucu untuk ayah dan ibu." jawab Sean dengan begitu alami.


"Uhm ... aku akan ke kamar mandi dulu. Permisi ..." ucap Willona tiba-tiba dan segera meninggalkan ruangan makan ini begitu saja.


Sebenarnya Willona masih ingin menghindari Sean, yang sebenarnya masih cukup membuat Willona merasa syok, karena Willona masih mengira jika Cinta sudah mengandung anak dari Sean.


Mengapa kak Sean datang dan menjemputku? Padahal keberadaanku di rumah itu juga sangat tidak dia inginkan bukan? Seharusnya kami segera bercerai saja, dan Cinta-lah yang harus dinikahi kak Sean. Karena bayi itu membutuhkan seorang ayah. Semoga saja ayah mertua segera memberikan hak waris keluarga Lucano untuk kak Sean, agar aku bisa segera terlepas dari semua sandiwara ini. Huft ... karena ini sungguh melelahkan sekali ...


Batin Willona sambil menatap dirinya sendiri melalui sebuah cermin di hadapannya.


Willona mulai menghela nafas selama beberapa saat dan segera meninggalkan kamar mandi itu. Namun betapa terkejutnya Willona ketika Willona malah melihat Sean yang sudah menunggu dirinya di luar.


"Kak Sean ..." ucap Willona sedikit terkejut.


Willona yang mendengarkan ajakan dari Sean seketika menjadi gelagapan dan kebingungan sendiri harus menjawab seperti apa.


"Ada apa, Willona? Mengapa kamu hanya diam saja?" tanya Sean tak mengerti. "Kita pulang ya sekarang ... ini juga sudah larut."


"Oh ... uhm ... i-iya, Kak." sahut Willona mengangguk pelan dan hanya menunduk tanpa menatap Sean sama sekali.


"Ya sudah. Ayo!" Sean menggandeng tangan Willona dan segera mengajaknya untuk segera kembali dan berpamitan dengan kedua orang tua Willona.


"Hati-hati ya, Sayang. Sering-seringlah datang ke rumah." ujar Asyifa, ibu Willona melambaikan tangannya ketika Lexus hitam metalik itu mulai melaju dan meninggalkan kediaman Naresha.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


"Maaf, aku baru bisa menjemputmu malam ini. Pekerjaan kantor sangat banyak dan semuanya baru aku selesaikan sore tadi." ucap Sean memijit keningnya dan sudah duduk di sofa ruangan utama untuk beristirahat sejenak.


"Tidak masalah, Kak. Jangan khawatir. Aku tau kok kakak memiliki banyak pekerjaan. Jika memang kakak tidak bisa menjemputku, padahal aku bisa pulang sendiri kok." sahut Willona seadanya.


"Tidak mungkin aku tidak menjemputmu, Willona. Kamu bahkan kemarin sudah datang sendiri ke rumah kedua orang tuamu tanpa aku antarkan. Jadi, setidaknya aku harus menjemputmu." sahut Sean sedikit memerosotkan tubuhnya dan mulai menyandarkan tubuh dan kepala pada sofa empuk itu dan mulai memejamkan sepasang matanya.


"Ya sudah. Kakak mau aku ambilkan sesuatu?" tanya Willona menawari.


"Tidak perlu ..." sahut Sean pelan dan masih memejamkan sepasang matanya.


"Baiklah jika memang tidak ada. Aku akan ke kamar dan segera beristirahat." ucap Willona lalu berniat untuk segera meninggalkan Sean.


"Willona!! Tunggu ..." sergah Sean dengan cepat dan sukses membuat Willona tertahan kembali.


"Ya, Kak?"


"Uhm ... tolong buatkan aku kopi saja ..." ucap Sean dengan asal.


Karena sebenarnya Sean masih ingin bersama dengan Willona. Dan hal itu sungguh tak dimengerti oleh Sean, mengapa dirinya merasa sedikit aneh semenjak Willona tak ada di rumah ini.


Ada rasa rindu, namun rasa itu sangat tidak mungkin! Dan perasaan itu dengan segera ditepis dengan cepat oleh Sean. Seorang Sean yang begitu sempurna merindukan Willona? Seorang gadis kecil yang selalu saja dianggap seperti anak ingusan oleh Sean karena perbedaan umur mereka yang dianggap terpaut jauh oleh Sean.


Padahal terpaut usia 7 tahun adalah sangatlah wajar bagi sepasang suami istri bukan? Namun tidak untuk Sean. Karena Sean memang tak pernah memiliki sebuah ikatan dengan seorang gadis dengan umur yang bertaut cukup banyak.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan membuatkannya untuk kakak. Kakak tunggu disini sebentar ya." sahut Willona dengan nada lemah lembut seperti biasanya dan mulai melenggang untuk pergi ke dapur.


"Haisshhh ... sial!! Mengapa kamu malah menahan Willona yang sedang ingin beristirahat dan malah membuat sebuah alasan untuk tetap bersama dengan dia, Sean?? Kamu bahkan hari ini juga datang begitu saja dan menjemlut Willona dari rumah orang tuanya! Apa otakmu sudah tidak baik-baik saja, Sean?!" gerutu Sean terlihat begitu frustasi sendiri dan sedikit menghempaskan sebuah majalah yang sempat dia baca selama beberapa saat tadi.


__ADS_2