
"Kali ini tugas apa?" tanya Sean ingin tau.
"Membuat program perpustakaan kok. Dan aku sudah hampir menyelesaikannya." jawab Willona seadanya.
"Kalau begitu biar aku yang mengerjakannya saja. Akan aku selesaikan dan aku akan memeriksanya. Kamu tidur dan istirahat saja, Willona ..." ucap Sean mulai merebut laptop Willona.
"Tap-tapi, Kak ..." ucap Willona sedikit keberatan dan merasa tidak enak.
"Sudah, tidak apa-apa. Kebetulan malam ini aku sedang tidak memiliki pekerjaan. Kamu tidur saja. Agar perih pada kakimu tidak terlalu kamu rasakan lagi." ucap Sean lalu segera membawa laptop Willona dan segera duduk di atas sofa kamarnya.
Willona tak bisa menolak dan berkata-kata lagi. Gadis cantik itu hanya terduduk dan menatap Sean dari kejauhan yang sedang mulai melakukan sesuatu di dalam laptopnya.
Hingga akhirnya setelah beberapa saat Willona mulai tertidur begitu saja dan masih dalam posisi duduk bersandar. Sean yang menyadari hal itu, kini mulai mendatangi Willona kembali dan membenarkan posisi tidur Willona dan mulai menyelimutinya.
Sean menghela nafas menatap Willona yang sudah tertidur dengan tatapan nanar. Ada sebuah rasa bersalah dan sebuah penyesalan di dalam hatinya saat ini.
Willona sudah terlalu baik dan sabar menghadapiku selama ini. Apakah masih ada tersisa sedikit kesabarannya untukku di dalam hatinya? Akankah aku memiliki sebuah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku Agna Sean Lucano yang selama ini selalu mendapatkan apapun yang aku mau, tapi kali ini ... malah bergantung kepada seorang gadis. Menyedihkan sekali nasibku. Mungkin ini adalah sebuah karma untukku.
Batin Sean mulai menarik dan membenarkan kembali selimut Willona.
Sean kembali duduk di sofa dan segera menyelesaikan tugas kuliah Willona dalam pembuatan sebuah program perpustakaan. Bahkan Sean juga sedikit merubah tugas Willona ahar menjadi semakin lengkap dan akurat.
...⚜⚜⚜...
"Ibu! Kami berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum ..." ucap Sean berpamitan dengan Marisha.
"Waalaikumussalam. Hati-hati ya, Sayang." sahut Marisha dengan hangat.
"Iya, Ibu ..." sahut Sean mulai memasuki mobilnya.
"Ibu. Kami berangkat dulu ya ..." ucap Willona berpamitan dengan Marisha.
__ADS_1
"Iya, Sayang ... belajar yang rajin ya." sahut Marisha mengusap lembut kepala Willona.
"Iya, Ibu. Assalamualaikum ..."
"Waalaikumussalam ..."
Willona mulai memasuki mobil Lexus hitam metalik itu dan duduk di kursi sebelah kemudi. Sean mulai menghidupkan mesin mobil itu dan segera melajukan mobil kesayangannya ini yang sudah satu tahun selalu menemaninya.
"Hari ini kamu akan melakukan presentasi bukan?" tanya Sean memulai pembicaraan.
"Iya, Kak. Oh iya terima kasih karena sudah membantuku menyesaikan tugasku semalam." ucap Willona dengan tulus.
Padahal Willona belum sempat memeriksa tugas itu sama sekali. Dan sepertinya Willona akan merasa sedikit terkejut jika sudah melihatnya. Karena Sean sudah merubah sedikit program itu agar menjadi lebih efektif, efisien dan mudah dipahami.
"Sama-sama. Oh iya, Willona ... soal yang kemarin ... aku akan menunggu jawabanmu di akhir pekan. Aku harap kamu bisa memikirkannya baik-baik." ucap Sean dengan hati-hati.
"Baiklah, Kak. Aku akan memutuskannya dan akan memberitahu kakak di akhir pekan." ucap Willona dengan santai tanla beban.
Setelah beberapa saat Sean mulai menepikan mobilnya di depan sebuah gerbang utama kampus Gunadharma.
"Aku masuk dulu, Kak. Terima kasih karena sudah mengantarku." ucap Willona sambil membuka pintu di sampingnya.
"Hhm. Hati-hati dan belajarlah dengan benar. Nanti aku akan menjemputmu." ucap Sean sebelum Willona benar-benar berlalu.
"Tidak perlu, Kak. Aku sudah memiliki janji dengan Keanu. Kami akan pergi ke festifal musik di Monas. Dan mungkin aku akan sedikit pulang terlambat hari ini. Karena akan ada perayaan kecil." ucap Willona tanpa beban. "Bye ... aku masuk dulu. Kakak hati-hati ya ..." ucap Willona mulai melenggang memasuki kampus itu dan melewati gerbang utama yang begitu besar dan tinggi.
Mendengar ucapan dari Willon sebenarnya cukup membuat Sean merasa kesal, namun Sean tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menahan amarahnya saja.
Willona ... apakah kamu benar-benar tidak melihatku sebagai seorang pria? Bahkan kamu masis resmi menjadi istriku. Namun kamu selalu saja pergi bersama Keanu dan Rasya. Apakah kamu benar-benar sedikitpun tak pernah menyukaiku?
Batin Sean menatap nanar kepergian Willona.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...
Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi mulai melakukan presentasi di depan podium. Hingga akhirnya kini giliran Willona melakukan presentasi itu. Sebenarnya ada beberapa yang membuat Willona kebingungan.
Karena program yang sedikit dia buat ada perubahan pada beberapa bagian. Namun untung saja Willona masih bisa menjelaskan semua itu, bahkan Willona bisa melakukan presentasinya dengan cukup baik hingga membuat sang dosen begitu puas.
"Luar biasa sekali! Program yang kamu buat sungguh sangat lengkap dan terperinci. Rupanya kamu begitu berbakat ya, Willona. Saya bangga memiliki seorang mahasiswi secerdas kamu!" puji dosen itu begitu bangga dan wajahnya juga sangat berbinar.
Willona yang sedang dipuji oleh dosennya hanya tersenyum tipis dan mengusap tengkuknya karena merasa malu. Terlebih tugasnya kali ini bukan sepenuhnya dia yang mengerjakan, melainkan karena Sean yang membantunya menyelesaikannya.
Wah. Ini semua berkat kak Sean. Bahkan ide membuat variasi program perpustakaan yang seperti itu tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku harus membalas kebaikan kak Sean. Paling tidak traktir dia makan deh. Hhm ... yah!! Besok pulang dari kampus aku ajak makan deh dia! Biar bagaimanapun dia sudah baik dan mebantuku.
Batin Willona bersemangat.
Kelas hari ini berakhir begitu saja, dan seperti yang sudah direncanakan oleh Keanu dan Willona. Mereka berdua pergi ke Ancol bersama untuk menghadiri sebuah festival musik dan menghadiri sebuah perayaan yang dibuat oleh Keanu atas rilis album terbarunya.
Lagi-lagi Willona begitu menikmati acara itu hingga tidak melihat dan tidak memeriksa ponselnya sama sekali, bahkan hingga malam Willona sama sekali tak memwriksa ponselnya.
...⚜⚜⚜...
"Huft gara-gara mobil mendadak mogok. Aku harus naik kendaraan umum." gumam Sean yang sedang berdiri di pinggiran jalan untuk menantikan taxinya datang.
"Willona sudah pulang belum ya?" gumam Sean berusaha untuk menghubungi Willona, namun panggilan itu tak diangkat oleh Willona.
Sean masih berusaha untuk menghubungi Willona, namun sama saja. Panggillan itu tak diangkat oleh Willona.
"Huft ... sepertinya dia belum pulang." humam Sean mulai menyimpan kembali ponselnya.
Tiba-tiba Sean mengangkat tangan kanannya dan melihat jemarinya. Terlihat sebuah cincin pernikahan berwarna silver yang sedikit mengkilap saat terkena cahaya lampu.
Sean melepasnya sebentar untuk membersihkannya karena ada sebuah noda kecil yang menempel pada cincin pernikahannya. Namun saat Sean mau memakai kembali cincin itu, tiba-tiba saja cincin itu malah terjatuh dan menggelinding ke tengah jalan.
__ADS_1