The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Sean Mabuk


__ADS_3

"Sean!! Aku mohon jangan seperti ini ..." Cinta meraih jemari Sean dan menatapnya dengan sangat memohon dan memperlihatkan tatapan mata kucingnya.


"Saat itu kami sedang mabuk, dan aku tidak sadar. Hingga akhirnya kami malah melakukannya. Maafkan aku ... aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, Sean. Hiks ... jika kamu memintaku untuk menggugurkan kandungan ini, maka aku akan menggugurkannya. Tapi aku mohon jangan pergi dariku ... hiks ..." ucap Cinta kembali dalam isak tangisnya.


"Cinta ... bayi yang berada dalam kandunganmu sama sekali tidak bersalah! Seharusnya kalian berdua malu jika ingin menggugurkannya! Aku harap pria itu bisa bertanggung jawab dan menjagamu dengan baik. Dan maaf ... aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Jaga dirimu baik-baik ..." ucap Sean berusaha untuk menurunkan emosinya dan mulai melepaskan genggaman Cinta.


"Aku pulang ..." imbuh Sean mulai melenggang meninggalkan Cinta yang sudah semakin menangis karena belum siap untuk berpisah dengan Sean.


Sebenarnya hal ini begitu menyakitkan untuk Sean, gadis yang selama ini selalu dioerjuangkan dan selalu dia sayangi rupanya bisa melakukan hal bodoh seperti ini bersama dengan laki-laki lain.


Padahal selama ini Sean saja selalu menjaga jarak dengan Willona yang jelas-jelas sudah menjadi istri sahnya.


Sean yang masih dalam suasana hati yang kurang baik akhirnya memutuskan untuk mendatangi sebuah club malam dan menghubungi salah satu teman dekatnya untuk menemaninya minum wine bersama.


Beberapa botol red wine sudah dihabiskan sendiri oleh Sean saking merasa frustasi dan terpuruk atas kenyataan yang sedang menimpanya saat ini.


"Aku benar-benar terlihat seperti seorang yang bodoh ya, Willy ..." gumam Sean yang sudah mendaratkan kepalanya di atas meja dengan mata yang sudah terpejam.


"Ya. Kamu sangat bodoh, Sean!! Jelas-jelas kamu sudah memiliki seorang istri sah yang tak kalah cantik dari Cinta. Namun kamu malah menyia-nyikaan dia selama ini dan malah mempertahankan Cinta. Pada akhirnya kamu malah diperlakukan seperti ini oleh Cinta. Cih ... bodoh kamu, Sean!" tandas Willy malah mencemooh Sean.


"Cihh ... kamu ini temanku apa bukan? Mengapa malah ikut-ikutan memojokkanku." balas Sean masih dengan sepasang matanya yang masih terpejam.


"Habis kamu sangat keras kepala! Sudah dari dulu aku mengatakan lebih baik kamu melupakan Cinta. Namun kamu sangat kekeh dengan pilihanmu sendiri. Sekarang rasakan saja akibat dari semua perbuatanmu. Kamu sudah sangat berdosa karena membuat Willona sakit hati dan kamu juga sudah membohongi kedua orang tuamu." celutuk Willy sambil menikmati sepuntung rokoknya lalu mengepulkan asap melakui hidungnya.

__ADS_1


"Hufft ... berisik sekali kamu, Willy! Kamu bahkan lebih cerewet dari burung beo. Seharusnya aku meminta Dirga saja yang datang untuk menemaniku malam ini." gerutu Sean mulai mengangkat kepalanya kembali.


Sean mengambil sebuah botol red wine di hadapannya dan berniat untuk menuangkannya pada gelasnya, namun rupanya red wine di dalam botol itu sudah habis.


"Tolong pesankan lagi beberapa botol untukku, Willy!" titah Sean yang sudah terlihat mulai teler dan hilang kesadarannya.


"Sudah cukup, Sean! Kamu bahkan sudah banyak minum malam ini. Sebaiknya kamu segera pulang saja. Aku akan mengantarmu pulang! Ayo!" ucap Willy mulai mematikan rokoknya.


"Aku tidak mau pulang ..." Sean menyauti dengan matanya yang sudah merem melek.


"Willona pasti akan mencemaskanmu jika kamu tidak pulang. Ayo menurut saja padaku!! Aku akan mengantarkanmu pulang selagi aku masih peduli dan baik hati padamu. Dan masih beruntung aku tidak membuangmu di jalanan." ucap Willy dengan asal sambil mulai membantu Sean untuk berdiri.


Sean mengalungkan tangan kirinya pada bahu lebar Willy dan mereka mulai berjalan bersama untuk segera mencapai parkiran dan menaiki mobil Sean.


"Hhm. Terserah kamu saja." sahut Sean dengan cuek dan tak peduli.


...⚜⚜⚜...


Setelah menekan bel rumah Sean dan menunggu beberapa saat, akhirnya pintu itu mulai terbuka. Terlihat Willona sudah berdiri di balik ambang pintu berwarna putih itu.


Wajah ramahnya seketika terlihat begitu cemas ketika melihat kondisi Sean yang sudah hampir ambruk dan tidak kuat untuk berdiri sendiri untuk menopang tubuhnya sendiri.


"Kak Sean kenapa, Kak Willy?" tanya Willona begitu cemas dan segera membantu memapah Sean di sisi samping lainnya.

__ADS_1


"Hanya terlalu banyak minum saja kok. Otaknya sedikit eror hari ini, hingga dia minum cukup banyak. Jangan khawatir ... Dia akan baik-baik saja setelah beristirahat kok, Willona." sahut Willy masih membantu memapah Sean untuk menuju ke kamarnya.


Willy dan Willona dengan pelan dan hati-hati memapah Sean melewati tangga dan segera mengantarnya ke kamarnya. Setelah selesai mengantarkan Sean, Willy segera berpamitan karena temannya yang bernama Dirga sudah menunggunya di luar.


Willona mulai melepaskan sepadang sepatu pantofel Sean yang berwarna hitam mengkilap itu beserta kaos kaki Sean. Sebuah jam tangan berwarna hitam yang masih melingkar dengan manis pada pergelangan tangan kiri Sean juga mulai dilepaskannya.


Willona juga sedikit melonggarkan dasi berwarna merah maron yang sedang dikenakan oleh Sean. Sedangkan pakaian formal itu masih Sean kenakan saat ini, karena pria itu sudah tertidur dan sangat tidak mungkin untuk Willona membantunya berganti pakaian saat ini.


Bahkan karena Cinta, kak Sean sampai menjadi seperti ini. Kasihan sekali dia ... padahal selama ini kak Sean selalu mempercayainya. Hingga saat sudah menikah denganku saja, kak Sean masih selalu menomorsatukan Cinta. Huft ...


Batin Willona menatap nanar Sean yang terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur dengan lelap.


Willona mulai menarik selimut untuk menyelimuti Sean dan berniat untuk segera meninggalkannya kembali. Namun tiba-tiba saja tangan Sean mulai meraih tangan Willona dan berhasil menahan Willona.


"Jangan pergi ... tetaplah disini. Aku benci harus selalu sendirian saat hatiku remuk ..." ucap Sean begitu lirih masih dengan mata yang masih terpejam.


Rasa sakit itu tiba-tiba saja juga dirasakan oleh Willona saat ini. Mungkin karena Willona juga pernah mendapatkan perlakukan yang hampir sama.


Memiliki sebuah harapan, namun dihempaskan begitu saja. Memiliki rasa cinta, namun tak pernah diinginkan. Memiliki angan untuk bahagia, namun disakiti. Memiliki kepercayaan, namun dikecewakan.


Rasanya sangat menyesakkan ketika angan dan harapan tidak sejalan dengan kenyataan hidup. Namun itulah hidup, terkadang begitu berat. Namun dari situ Willona mulai belajar bersabar dan menjadi seorang gadis yang semakin kuat untuk menjalani kehidupannya yang sebenarnya tak semanis yang dibayangkan oleh orang-orang.


Willona mulai duduk di pinggiran tempat tidur Sean dengan tatapan nanarnya. Namun akhirnya gadis yang selalu terlihat cantik luar dan dalam ini mulai tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2