The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Kejutan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Hari ini sepasang pengantin baru yang masih memiliki usia pernikahan sebiji jagung, sudah kembali ke Jakarta. Bulan madu selama beberapa hari itu terasa begitu menyiksa Sean karena membuatnya jauh dan tak bisa menemui kekasihnya, Cinta. Hingga akhirnya hari ini Sean nekat umtuk membawa pulang Cinta ke rumahnya.


Sebuah melodi indah mulai terdengar menggema di rumah pasangan pengantin baru ini, menandakan sedang ada tamu yang sedang menunggu di luar.


Willona dengan sumringah bergegas untuk segera membukakan pintu untuk sang tamu, karena jam seperti ini adalah waktu biasa saat suaminya sampai di rumah.


"Hallo, Kak. Sudah pulang ya ..." sambutan hangat diiringi oleh sebuah senyuman manis itu perlahan mulai memudar saat Willona mulai menyadari jika yang sedang di hadapannya saat ini adalah suaminya, namun di sebelahnya sudah ada seorang gadis yang sangat cantik dan anggun sudah melingkarkan tangannya pada lengan suaminya.


NYUUTT ...


Sungguh pemandangan ini membuat Willona merasa begitu sesak. Bagaimana tidak? Di deoan matanya sendiri Willona melihat suaminya sangat dekat dengan gadia lain.


"Buatkan minuman untuk kita! Ingat, jangan membuatkan minuman terlalu manisnuntuk Cinta. Karena Cinta tidak bisa makan dan minum sembarangan!" titah Sean menatap dingin Willona, sementara gadis yang bernama Cinta itu hanya tersenyum miring menatap Willona.


"Baik, Kak." jawab Willona singkat.


Sean dan Willona kini mulai melenggang bersama memasuki rumah ini. Willona sempat merasa sesak lagi saat melihat punggung Sean dan Cinta yang sudah berjalan mulai menjauh. Namun Willona segera mengabaikan kembali perasaannya.


Dengan pelan Willona mulai menutup pintu utama rumah itu dan segera bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman untuk suaminya dan kekasih suaminya.


Apakah aku benar-benar gadis yang bodoh? Hingga aku melakukan semua ini? Aku bahkan melayani kekasih suamiku seperti ini? Tapi aku tak bisa membantah perintah dari suamiku. Sudahlah, Willona. Lakukan saja semua dengan baik. Anggap saja kamu sedang melayani seorang tamu yang sedang berkunjung ke rumahmu.


Batin Willona berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dua cangkir jus melon mulai dibawakan untuk Sean dan Cinta. Lagi-lagi Willona harus menyaksikan pemandangan yang sedikit membuatnya merasa nyeri.


Gadis bernama Cinta itu sedang duduk menempel Sean dan bersandar manja pada dada bidang suami Willona dengan kedua tangan yang melingkar memeluk Sean.

__ADS_1


"Iya ... aku juga kangen sekali. Selama kamu di Bali aku jadi merasa kesepian karena tak bisa bertemu dengan kamu selama beberapa hari." sungut Cinta dengan nada yang begitu manja.


"Maaf, Sayang. Itu semua kemauan bibi Daisy. Kamu tentu sangat memahami bibi Daisy bukan? Semua perintahnya tak bisa dilawan. Karena dia yang paling dihormati di keluarga besarku. Bahkan ayah dan ibuku juga tak bisa membantah semua perintah bibi Daisy." sahut Sean mengusap lembut rambut Cinta.


"Ya!! Bahkan pernikahanmu juga terjadi karena campur tangan dari bibi Daisy bukan? Huuh ... menyebalkan!!" sungut Cinta mendengua karena kesal.


"Bersabarlah. Semua ini hanya sebentar saja kok. Setelah ayahku memberikan hak warisnya sepenuhnya untukku, maka aku akan menceraikan Willona. Dan aku akan menikahimu."


PRRAANGG ...


Willona yang tak sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua kini malah menjatuhkan 2 gelas jus melon yang sedang di bawanya di atas sebuah nampan dan berniat akan memberikannya untuk Sean dan Willona.


Meskipun sebelumnya Willona sudah mengetahui, jika suatu saat Sean akan menceraikannya setelah tujuannya tercapai. Namun kenyataan jika Sean akan menikahi Cinta selelah menceraikannya baru saja diketahui oleh Willona saat ini. Dan hal ini sungguh membuat Willona merasa begitu terpukul.


Sean dan Cinta mulai beralih menatap ke arah Willona yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Willona yang sudah tersadar, kini mulai jongkok dan mengambil beberapa pecahan gelas dan memasukkannya di dalam nampan itu. Tak sengaja, sebuah pecahan dari gelas itu telah melukai jemari Willona begitu saja.


"Aaww ..." rintihnya pelan.


"Sekarang kenapa lagi?!" ujar Sean yang terlihat begitu muak.


"Sayang, jangan marah-marah seperti itu. Kasihan dia ..." ucap Cinta mulai meraih sisi samping wajah tampan Sean dan menghadapkan pada Cinta. "Tidak usah terlalu memikirkannya." senyuman manis Cinta berhasil meluluhkan Sean kembali dan menuruti ucapan Cinta begitu saja.


Sedangkan Willona yang sudah merasa begitu hancur mulai bangkit dan membawa nampan yang sudah berisi dengan pecahan gelas itu ke dapur. Willona mulai membuatkan kembali minuman untuk Sean dan Cinta.

__ADS_1


Setelah beberapa saat akhirnya Willona sudah kembali lagi dengan dua gelas jus melon lagi. Rupanya Sean dan Cinta masih saja bermesraan di ruang tengah. Willona menarik nafas dalam lalu mulai mengeluarkannya perlahan.


Setelah itu Willona mulai menghampiri mereka berdua dan mulai memberikan jus melon itu untuk pasangan itu.


"Silakan. Aku akan ke kamar. Jika butuh sesuatu, kakak bisa memanggilku." ucap Willona lalu berbalik dan berniat untuk meninggalakan ruang tengah.


"Cihh ... ini masih terlalu manis!! Aku tidak bisa memakan atau meninum sesuatu yang terlalu manis!!" ucap Cinta tiba-tiba dan kembali meletakkan gelas yang masih berisi dengan jus melon yang baru diminumnya satu teguk dengan hentakan yang cukup keras.


BBRRAAKK ...


Willona menghentikkan langkah kakinya dan mulai berbalik kembali. Kini Sean mulai menatap Willona penuh murka. Wajah putihnya yang selalu terlihat dinginnya di hadapan Willona kini seketika menjadi merah padam.


"Willona!!" geram Sean dengan aura yang begitu mencekam. "Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya kepadamu? Jika Cinta tak bisa memakan atau meminum sesuatu yang terlalu manis?! Apa kau sengaja melakukan semua ini untuk mencelakainya? Kamu pasti sengaja melakukan semua ini karena merasa benci dan iri kepadanya!! Dasar gadis tidak tau diri!!"


Sean yang sudah bangkit dan berdiri tegap di hadapan Willona kini sudah mengangkat tangan kanannya ke udara dan sudah bersiap untuk mendaratkannya pada pipi Willona.


Namun tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menahannya sehingga serangan untuk Willona tergagalkan begitu saja.


"Sayang jangan ... mungkin saja Willona memang tidak sengaja. Jangan terlalu kasar seperti ini. Kasihan sekali dia." rupanya Cinta yang sudah berusaha untuk menghalangi tamparan itu.


Dan kali ini Sean juga mendengar ucapan dari Cinta lagi. Cinta berusaha untuk menggiring Sean untuk pergi ke kamarnya agar emosinya mulai tereda.


Sedangkan Willona mulai terduduk lemas di atas lantai, rasanya seperti tak memiliki tenaga lagi. Hancur, merasa tak dihargai, merasa tak dianggap, bahkan seakan dirinya sudah dianggap sebagai seorang pembantu oleh suaminya sendiri.


Tangisnya mulai pecah begitu saja setelah mendapatkan perlakuan yang begitu kejam dan kasar dari suaminya sendiri.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2