
Sofia segera berjalan cepat menuju tempat yang diinginkan setelah bel pulang berdering.
Senyuman terus mengembang membayangkan akan bertemu seseorang yang sudah lama di cari.
Hingga sampai juga di sebuah Cafe di mana dulu dirinya bertemu dengan Ailina pertama kali, Sofia memilih tempat yang nyaman dan sedikit jauh dari keramaian, namun dengan pemandangan yang tak kalah apik untuk memanjakan mata dan pikiran.
"Dimana Ailina, sepertinya aku tak melihatnya" gumam Sofia lirih sambil mengedarkan pandangan.
Bukannya Ailina yang tertangkap matanya, namun malah Ethan dan seorang laki-laki yang tak kalah tampan berjalan di sampingnya.
"Ethan?, Heh kenapa malah dia yang aku lihat disini" batin Sofia yang ingin menghindari sejak dirinya berjanji tidak akan menganggu lagi.
Ada hati yang terluka di saat melihat Laki-laki yang selalu diinginkan namun tak pernah merespon hatinya, namun Sofia sadar, mungkin dia memang tidak pantas untuknya.
Lamunan Sofia terhenti, saat sepasang matanya menangkap sosok Ailina telah berjalan masuk, menyadari kalau Ailina tak melihatnya, Sofia segera mengangkat tangan tinggi-tinggi, melambai memberikan isyarat kalau dirinya sudah menunggu di tempatnya.
Langkah Ailina segera terhenti, menangkap gerakan tangan seolah memanggil dirinya, lalu tersenyum dan melangkah mendekati.
"Sudah lama?" Tanya Ailina setelah mengucap Salam.
"Lumayan" sahut Sofia.
"Di jawab dulu salamku, muslim kan?" Tanya Ailina.
"Eh iya, sorry, belum biasa" ucapnya.
"Oh, begitu?" Sahut Ailina yang kini sudah duduk berhadapan dengan Sofia.
"Mau pesan apa?" Tanya Sofia, lalu memberikan tanda memanggil pelayan yang ada di sana.
Pelayan itu sedikit terkejut melihat Ailina ada disana, lalu menunduk memberi hormat, begitu juga dengan Ailina yang membalasnya, Dua buah Es Cream lengkap dengan toping segera di pesan, di tambah cemilan ringan untuk menemani perbincangan.
"Terimakasih" ucap Sofia.
"Untuk apa?" Tanya Ailina.
"Sudah menolongku waktu itu" jawab Sofia.
"Oh, tidak masalah, sudah seharusnya aku melakukan hal itu" ucap Ailina.
Sofia menatap sungkan mata indah Ailina, terasa bingung harus membicarakan apa lagi saat ini, hingga Ailina berganti membuka pembicaraan lagi.
"Kamu seorang model?" Tanya Ailina.
__ADS_1
"Oh, iya, kebetulan sekali, aku suka dengan fashion" jawab Sofia.
"Hem, aku melihat itu, kamu sangat cantik dengan tubuh yang proposional, cocok di profesi itu" ucap Ailina.
"Kamu juga, tinggi mu bahkan lebih dari aku, walaupun itu hanya sedikit"
"Hehehe, tapi aku tidak bisa berjalan dengan baik di atas catwalk, tidak Pede juga"
"Padahal kamu sangat sempurna Ailina, semua yang ada pada dirimu bagai tak ada cela, wajah cantikmu, dan mata yang begitu indah, bahkan aku yang wanita saja sangat menyukainya"
"Oh ya?, Kamu juga cantik, tampak sekali kalau semua yang ada pada dirimu terawat dengan baik" sahut Ailina.
"Beda Ailina, kalau aku merawat semua itu karena tuntutan pekerjaan, sedangkan dirimu memang begitu adanya"
"Tidak juga, aku juga merawat semua ini, bentuk syukur ku karena di beri kesempurnaan fisik oleh Sang Maha Kuasa, jangan sampai kita mendzolimi diri sendiri, itu juga tidak di benarkan" sahut Ailina.
Jawaban yang tidak pernah di sangka oleh Sofia sebelumnya, dirinya terdiam, merasa sangat rendah di hadapan Ailina, kalau dirinya melakukan sesuatu hanya untuk pandangan manusia, sedangkan wanita di hadapannya melakukannya lebih pada urusannya dengan Sang Pencipta.
"Kenapa?" Tanya Ailina.
"Tidak ada, Aku lihat Ilmu Agamamu luar biasa" ucap Sofia.
"Tidak juga, aku masih perlu banyak belajar, bahkan aku merasa belum bisa" jawab Ailina.
"Apa lagi aku" sahut Sofia.
"Sudah, tidak ada manusia itu yang sempurna, tugas kita ya terus belajar, menjadi lebih baik setiap harinya, itu saja, jangan terlalu di pikirkan" ucap Ailina.
Sofia mendongak dan menatap Ailina, lalu tersenyum dan bersiap menanyakan sesuatu.
"Boleh aku bertanya?"
"Hem" Ailina mengangguk.
"Apa itu warna mata Aslimu?"
"Yap, kenapa?"
"Aku suka, dan saat aku menatapnya, begitu menenangkan, bahkan ketika aku ingin pergi dari dunia ini, bayangan mata biru mu yang membuatku tersadar karena ketenangan yang masih bisa aku rasakan" ucap Sofia dan sontak membuat Ailina terdiam.
"Jangan lagi melakukan hal-hal yang aneh, seberat apapun masalahmu, berarti memang kau yang di pilih oleh -NYA untuk menjalani semua itu, yang artinya Kamu akan di bentuk menjadi Wanita yang lebih kuat lagi" ucap Ailina.
DEG.
__ADS_1
Jawaban kali ini benar-benar membuat Sofia tertampar, kenapa dia begitu sempit berpikir akan takdir yang di berikan, bahkan tak pernah menyangka kalau sebenarnya Sang Pencipta sangat menyayanginya.
"Ailina, Apa keluargamu yang mengajarkan semua ini?"
"Mengajarkan apa?" Tanya Ailina tersentak kaget, karena dipikirannya menyangka kalau Sofia tau akan kekuatan supranatural yang selalu di latih oleh keluarganya.
"Semua pengetahuan Spiritual mu, kita punya keyakinan yang sama, tapi aku merasa tidak tau apapun"
"Oh my God, aku kira apa, kau membuatku sangat terkejut, kalau hal itu, kami sudah di ajari sejak kecil, mensyukuri semua nikmat yang di berikan, tak peduli itu sekecil apapun, Hidup hanya untuk-NYA, tentunya dengan jalan yang harus di tempuh dengan benar, salah satunya mengumpulkan kebaikan sesama manusia" ucap Ailina.
"Aku tidak mengerti"
"Aku juga masih terus belajar"
"Tapi maksud perkataan mu tadi _"
Tiba-tiba saja berbunyi deringan ponsel milik Ailina, dan perbincangan itu terhenti seketika, rupanya seseorang menelepon untuk segera bertemu dengannya.
"Sorry, aku harus pergi, kita lanjutkan kapan-kapan ya" ucap Ailina.
"Eh tunggu, Nomer Kontakmu, boleh aku menyimpannya?" Tanya Sofia sangat berharap.
Ailina tersenyum, lalu memberikan Nomer Handphonenya, kemudian pamit pergi setelah mengucap Salam.
Ailina mengacungkan jempolnya saat Sofia tanpa di sadari sudah menjawab Salamnya begitu saja.
Sofia tersenyum bahagia, pertemuan yang singkat namun membawa begitu banyak makna dalam hidupnya, lalu Sofia menyadari sesuatu, "Loh Kenapa Ailina masuk ke ruang Privat yang ada di sana?, Aku kira mau pulang" Ucap lirih Sofia, bicara dengan dirinya sendiri.
Tak lama Sofia juga mengingat sesuatu, dimana Ethan juga tadi berjalan bersama dengan seseorang memasuki ruangan yang sama.
"Tunggu, mungkinkah Ailina juga berteman dengan Ethan?" Batin Sofia makin bertanya-tanya.
Namun karena hari sudah mulai sore, Sofia tidak ingin mendapat Omelan lagi dari Ibu tirinya yang akan berakhir dengan pertengkaran, hingga dirinya memutuskan untuk segera pulang saja.
*
*
Malam menjelang, pertemuan terjadi di sebuah hotel mewah, Sarah sudah bersiap dan kini di sambut oleh beberapa pengawal pribadi untuk memasuki sebuah kamar yang sudah di pesan oleh seseorang.
Yang lebih parah lagi adalah Kekasih Sarah yang malam itu ikut mengantarnya untuk bertemu dengan seseorang yang akan membayar tubuhnya.
laki-laki yang bernama Boy Anggara memang sangat terkenal di dunia bisnis keartisan, entah itu legal maupun I-legal, untuk itulah Sofia dengan keras menolaknya dekat walaupun hanya untuk berteman.
__ADS_1
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.