
Hari-hari selanjutnya berjalan dengan lebih baik, seperti malam yang hangat disaat Ailina dan Ethan sedang berbincang tanpa Evan yang tengah melakukan konser bersama dengan group band nya.
"Ada apa Ai?, aku melihatmu sering duduk terdiam di balkon kamarmu" sapa Ethan yang kini sudah duduk disamping Ailina.
"Kakak mengejutkanku, aku hanya ingin bersantai saja" jawab Ailina berusaha menghindari tatapan Ethan.
"Apa perlu aku menggunakan kekuatan mata batinku?" Sahut Ethan.
"Kak, aku tidak apa-apa, sungguh" jawab Ailina berusaha meyakinkan.
"Apa kamu lupa kita saudara kembar dan pernah berada dalam satu rahim dalam waktu yang sama?, Bahkan Evan yang paling cuek saja bisa merasakan keresahanmu" ucap Ethan sambil menatap indahnya bintang yang memenuhi malam.
Ailina terdiam, merasa sangat lelah dengan pikirannya setelah minggu-minggu sebelumnya menghadapi ujian akhir di sekolah dan tentu saja dengan hasil yang memuaskan.
"Aku memikirkan sosok laki-laki misterius yang sering membantuku, dia muncul tiba-tiba dan pergi begitu saja, kadang aku merasa nyaman sesaat didekatnya, tapi disaat yang sama seolah ada signal bahwa dia adalah orang yang berbahaya, membuatku bingung kenapa harus membantuku kalau dia juga mengusir keberadaan ku" ucap Ailina sambil melempar pandangannya keluar.
"Apa kau mengenalnya?" Tanya Ethan.
"Tidak, dia menutup akses, dan sangat misterius, bahkan terakhir kali dia memerintahkan beberapa orang untuk mengusirku dan tidak memperbolehkan aku mendekat" jawab Ailina.
"Laki-laki itu punya pengawal?"
"Banyak, dan mereka bukan orang-orang sembarangan, entahlah, sepertinya ada bahaya yang mengancam nyawanya" jawab Ailina.
"Bagaimana kamu tau Ai?"
"Dia terluka cukup parah, terakhir aku bertemu dia masih menggunakan kursi Roda keluar dari Rumah Sakit" ucap Ailina.
"Oh jadi begitu" gumam Ethan sambil menelaah semua cerita Ailina.
"Siapa namanya?" tanya Ethan menyambung perbincangan.
"Sky, hanya itu yang aku tau, identitasnya sangat dirahasiakan" jawab Ailina.
"Apa perlu kita minta bantuan papa Raka?" tanya Ethan memberikan ide.
"Tidak perlu, untuk apa?, Kita tidak punya urusan dengan laki-laki itu kak" ucap Ailina kini menatap Ethan dengan senyumannya.
"Jangan sampai kau menjatuhkan hatimu dengan sosok yang tidak jelas Ai, hilangkan rasa penasaran mu, karena itu akan memperkuat perasaanmu padanya" ucap Ethan lalu mengusap puncak kepala Ailina dengan lembut.
"Iya kak, maaf, aku tidak bisa mengontrol perasaan ku" jawab Ailina.
"Aku tau, tapi kamu harus belajar mengendalikannya, berpikirlah realistis, okey?" ucap Ethan.
"Siap kak, jangan khawatir" sahut Ailina.
"Aku tau, kamu bukan wanita yang lemah, pikirkan apa yang pantas kamu pikirkan, jangan membuang waktu percuma, mengerti?" ucap Ethan.
Ailina tersenyum, lalu mengangguk, dan disaat yang sama, terdengar suara deringan Handphone Ethan yang berada di saku bajunya, Ethan segera mengangkat dan menarik nafas panjang saat melihat layar Ponselnya.
"Siapa?" Tanya Ailina.
"Siapa lagi yang suka sekali mengganggu kalau bukan kakakmu yang satu lagi" jawab Ethan.
__ADS_1
"Oh, hehe" Ailina tertawa, sudah bisa menebak siapa dalang dibalik muka sebal Ethan saat ini.
Perbincangan pun terjadi dan seperti biasa, Evan paling suka merepotkan saudara kembarnya.
"Jadi kapan aku menjemputmu, sekarang?" Tanya Ethan.
"Iya kak, pesta hampir selesai dan aku tidak ingin berakhir menyentuh minuman ini" ucap Evan.
"Jangan berani kamu melakukan itu, atau aku akan menghajar mu, tunggu aku sebentar" sahut Ethan yang segera berdiri.
"Kamu mau ikut Ai?" Tanya Ethan sebelum pergi dari sisi Ailina.
"Tidak kak, aku dirumah saja, dan aku sarankan kakak pakai motor kak Evan saja, biar lebih cepat, jalanan macet di beberapa titik kalau malam Minggu seperti ini" jawab Ailina.
"Hem, aku tau, aku pergi dulu" ucap Ethan lalu memeluk Ailina sekejab sebelum meninggalkan balkon kamar adiknya.
Kini Ethan sudah berada di jalanan, membelah malam dengan motor sport yang dikendarai dengan kecepatan rata-rata ditengah ramainya malam yang dipenuhi banyak orang yang ingin menikmati malam liburnya.
Kurang lebih hampir satu jam, Evan akhirnya bisa tersenyum lebar saat melihat Ethan kini tengah memarkir motornya di area yang tak jauh dari ruang tunggu.
Ethan berjalan dengan santai memasuki ruangan khusus Artis yang sedang beristirahat setelah konser selesai.
"Anda mencari Evan?" Tanya seorang model cantik dengan baju minimnya.
"Iya"
"Bagaimana kalau aku antar?" Tanya wanita itu yang seolah tidak ingin berkedip melihat wajah Ethan.
Wanita itupun langsung membalikkan badan dan benar saja, disana sudah ada sosok Evan yang melambaikan tangan memberi tanda.
"Oh, begitu rupanya, baiklah, apa boleh aku berkenalan?" Wanita itu mendesak.
"Maaf, saya sedang terburu-buru nona, lain kali saja" ucap Ethan sambil melanjutkan langkahnya.
Evan tertawa, sepertinya sudah menduga apa yang telah terjadi dengan Ethan.
"Dia cantik dan se-ksi kak, kau tidak tertarik?"
"Jaga bicaramu, kita pulang, disini sangat mengerikan, para wanitanya buas dan siap menerkam" ucap Ethan.
"Hahaha" Evan tertawa keras, dan segera diseret keluar oleh Ethan.
Jalan di tengah malam yang cukup gelap kini Evan yang mengambil peran membawa Ethan pulang bersamanya. Tentu saja dengan kecepatan yang lebih menegangkan.
"Jangan terlalu kencang" ucap Ethan.
"Kakak takut?"
"Bukan takut, hanya khawatir menganggu kenyamanan pengendara lain, jangan terlalu menarik perhatian banyak orang" jawab Ethan.
"Siap kak, tenang saja" sahut Evan yang masih melajukan motornya.
Saat berusaha untuk mencari jalan menghindari kemacetan dan ingin cepat sampai di Mansion melewati sebuah gang yang diketahui Ethan dari Google map.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyeberang jalan seolah akan menghadangnya.
Ciiiit
"****!"
"Awas Ev!" Teriak Ethan.
Beruntung Evan berhasil mengerem secara mendadak dan menghindari orang itu, sedangkan Ethan menahan laju motornya dengan reflek menggunakan kekuatan tenaga dalamnya.
"My God, apa yang terjadi" ucap Ethan yang kini segera turun dari boncengan saat melihat kebelakang, mendapati seseorang telah ambruk di tengah jalan dan terdengar mengerang kesakitan.
Evan segera menepikan motornya, lalu berlari mengejar Ethan yang sudah jauh darinya, setiba di tempat yang sama, keduanya sangat terkejut melihat keadaan seorang pemuda di depannya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ethan segera mendekat dan makin terkejut melihat luka di dada seorang laki-laki yang tengah ambruk di depannya.
"Bawa aku pergi dari sini secepatnya, tolonglah" ucap laki-laki itu penuh harap sambil meringis kesakitan menahan luka di dadanya yang mengeluarkan banyak darah yang merembes keluar dari bajunya.
Ethan menatap mata laki-laki itu, berharap bisa menembus pikiran untuk mengetahui kejadian sebelumnya, tapi Ethan sangat terkejut saat dia tidak bisa melakukan hal itu pada laki-laki yang ada didepannya saat ini.
"Ada apa?" Tanya Evan setengah berbisik.
"Dia, Aneh" ucap lirih Ethan.
"Tolong, bantu aku keluar dari sini, cepat sebelum mereka datang, Akh!" Teriak laki-laki itu semakin meringis kesakitan.
"Kak?" Ucap Evan tak tega.
"Baiklah, ayo!" Ucap Ethan yang langsung mengajak Evan untuk membantu memapahnya.
Kini ketiganya sudah berada diatas sepeda motor yang melaju.
"Kita langsung ke Rumah sakit!" Teriak Ethan memberikan perintah ke Evan yang sedang menyetir.
"Jangan!" Ucap keras laki-laki itu, dan tentu saj membuat Evan dan Ethan terkejut.
"Lukamu harus segera ditangani, banyak darah keluar, itu berbahaya" sahut Ethan.
"Aku sedang di buru, dan mereka akan mudah menemukanku jika kalian membawaku ke rumah sakit, carikan aku rumah kosong saja, dan tinggalkan aku disana, kalian boleh pergi setelah itu"
"Apa?!, Kau gila?, Dengan luka seperti ini kamu bisa mati!" Teriak Evan.
"Aku bisa mengurus hal itu, carikan saja rumah kosong atau gudang kosong yang tidak terpakai, Tolonglah"
"Oh my God, merepotkan sekali" gumam Evan yang kini harus berpikir ulang untuk mencari tempat.
"Aku tau, dan tidak jauh dari sini, ada gudang kosong yang sepertinya tidak terpakai Ev, kita kesana!" Teriak Ethan.
Evan menambah laju motornya, menuju tempat yang dimaksud oleh kakaknya, berharap secepatnya tiba dan tidak semakin membahayakan laki-laki yang kini tengah terluka parah.
jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.
Bersambung.
__ADS_1