
Kania masih terdiam, berusaha mendengarkan suara yang samar-samar terdengar dari handphone nya karena sepertinya Sofia sengaja tidak menutup panggilannya.
"Sial!" Umpat Kania langsung menyambar jaket dan tas kecilnya, berlari menuju sepeda motor yang terparkir sambil berteriak berpamitan dengan mamanya yang sangat terkejut.
"Sofia dalam bahaya ma!" Teriak Kania.
"Apa?!" Jawab Sang mama.
"Tolong bantu hubungi Ailina!" Teriak Kania lagi.
Secepat kilat, mama Kania mengambil handphone dan segera menghubungi Ailina, sementara Kania sudah melesat pergi dengan kecepatan diatas rata-rata.
*
*
Disudut tempat yang lain, Ailina tak kalah terkejut, berlari menuju pintu kamarnya dan membuka pintu yang lain.
"Kak, bangun!, Bawa aku ke rumah Sofia, cepat!" Teriak Ailina mengagetkan Evan yang masih belum genap mengumpulkan nyawanya.
"Ck, ini sudah malam, kamu bisa bawa sopir kesana" jawab Evan sambil mengucek matanya.
"Terlalu lama!, Kekuatan teleportasi kak Evan, aku mohon bantu aku kak!" ucap Ailina.
"Apa?!, Kamu gila Ai, ini_"
SRET
Ailina tidak peduli dan segera menyeret tubuh Evan untuk berdiri dari tempat tidurnya.
"Tunggu-tunggu, memangnya ada apa?" tanya Evan.
"Sofia dalam bahaya kak, cepatlah!" Teriak Ailina.
"Ada apa ini?" Keduanya dikejutkan dengan suara Ethan dari balik pintu.
Ailina segera menjelaskan dengan cepat, dan kedua kakaknya segera bersiap.
"Kita keluar dari Mansion dulu, jangan gunakan kekuatan di dalam rumah, ingat aturan keluarga kita" sahut Ethan.
Ketiganya segera bersiap, keluar menyapa beberapa pengawal yang ada dalam Mansion menuju ke tempat latihan yang ada di halaman belakang.
Setiba disana, ketiganya segera melakukan apa yang sudah direncanakan, Evan tentu saja menyiapkan dirinya dengan penuh konsentrasi, memejamkan mata dan membawa kedua saudaranya untuk melakukan teleportasi.
*
*
Sofia tidak bisa berbuat apapun, tubuhnya bahkan tidak merespon keinginannya untuk bergerak sedikitpun, hingga dirinya hanya bisa melihat bagaimana Sarah tersenyum picik dengan membawa seorang laki-laki ke kamar.
"Aku sudah transfer separuh harga yang kau minta" ucap laki-laki itu terus mendekat dan kini tersenyum dengan sorot mata haus akan tubuh Sofia.
__ADS_1
"Kak, tega sekali kau lakukan ini padaku!" Teriak Sofia tanpa bisa berbuat apapun.
"Hei, tenanglah sweety, aku tidak akan menyakitimu, puaskan aku dan kita akan sama-sama merasakan surga dunia, jangan takut" ucap laki-laki itu dengan menjulurkan tangan menyentuh rambut dan pipi Sofia.
Boy dan Sarah tersenyum puas.
"Baiklah, aku sudah mencarikan mu seorang pera-wan Tuan, aku yakin dia sangat spesial, dan selamat menikmati" ucap Boy lalu merangkul Sarah dan segera menutup pintu dengan rapat.
"Aku mohon, jangan lakukan itu tuan, aku memohon padamu, tolong" ucap Sofia yang sudah mulai berkaca-kaca.
Namun laki-laki itu tak menggubris sama sekali, berdiri dan membuka baju atasnya, berputar mengeliling Sofia seolah sedang merencanakan sesuatu untuk memuaskan dirinya.
BRAK
Terdengar suara keras pintu yang di tendang, sontak pesta itu sedikit terganggu, rupanya Kania dengan amarahnya menerjang beberapa penjaga dan terjadi baku hantam di sana.
Kerusuhan terjadi di lantai bawah, namun Kania yang datang seorang diri tak mampu menembus pertahanan orang-orang yang ditugaskan untuk menjaga keamanan.
"Dasar wanita Gila!, Tega kau menjual adikmu sendiri bre-ng-sek!" Teriak Kania saat melihat Sarah maju menghampiri dirinya yang tengah di pegangi beberapa orang-orang bayaran.
"Wow, rupanya ada pahlawan kesiangan yang salah sasaran, percuma kau berteriak, tidak akan ada yang mendengar mu di sini" jawab Sarah.
"Lepaskan!, Aku akan membawa Sofia pergi dari sini!" Teriak Kania yang terus meronta dan menendang kan kakinya dengan percuma.
"Berikan minuman itu, paksa dia meminumnya sampai teler, dan siapapun boleh bersenang-senang dengannya setelah itu, bukankah pesta ini akan bertambah meriah?!" Teriak Boy dan disambut dengan tepukan tangan para lelaki hidung belang yang sudah ada di pesta.
Kania dengan tubuh babak belur, di dudukkan dengan paksa, seolah menjadi tontonan yang menarik, tubuhnya di tali dengan kursi dan beberapa pemuda mengambil minuman beralkohol untuk di dije-jalkan ke mulutnya.
Boy yang sudah tidak sabar melihat Kania terus menghindar dan tak membuka mulutnya, segera mendekat dan menampar cukup keras, bibir Kania berdarah.
Dengan tatapan nyalang Kania seolah menantang.
"Kalau kau benar-benar laki-laki, lepaskan aku dan kita bertarung!" Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Bre-ng-sek, kau menantang ku?" Jawab Boy.
"Iya, aku tau kamu tidak akan berani bukan, dasar pengecut!" teriak Kania.
PLAK
Sekali lagi tangan Boy sudah mendarat cukup keras, sudut bibir Kania semakin membiru.
Boy sudah mencengkram wajah Kania, memaksa mulutnya untuk terbuka, dirasa berhasil, tangannya segera menyambar botol minuman yang telah terbuka untuk di masukkan ke dalam mulut Kania.
Kania berusaha memberontak, namun kekuatannya tak sebanding sama sekali, Boy tertawa, sedikit lagi berhasil melakukan keinginan nya.
DAN
BLAM
Tiba-tiba saja ruangan itu seperti terhantam sesuatu yang membuat semua berserakan seketika, bahkan kaca rumah dan aksesori ruangan berhamburan.
__ADS_1
Suara jeritan di tengah wanita-wanita gila pesta yang tengah berlarian terdengar nyaring dan memekakkan telinga.
Kania terdorong bersama dengan kursinya, dan di tengah kekacauan dan kepulan asap yang entah dari mana, keluar tiga orang dari arah pintu, yang tak lain adalah Ailina, Evan dan Ethan.
"Apa yang terjadi?" Ucap Sarah kebingungan dan berusaha bangkit dengan beberapa tubuhnya yang terkena serpihan kaca.
"Aku tidak tau, dan lihat itu!" Tunjuk Boy yang juga mengalami keadaan yang sama dengan Sarah.
Ruangan itu kini tidak ramai lagi, hanya ada Sarah, Boy dan orang-orang bayaran nya.
Ailina segera melakukan gerakan cepat menghampiri dan membebaskan Kania, lalu membawa ke sisinya.
"Kalian benar-benar manusia yang kejam!" Ucap Ailina.
Sementara Sarah dan Boy masih melongo tak percaya melihat bagaimana gerakan Ailina begitu cepat tidak seperti manusia normal lainnya.
Evan membantu Kania untuk keluar dan membawanya ke tempat yang lebih nyaman, sementara Ethan menatap tajam Boy dan Sarah bergantian.
"Aku akan mencari Sofia kak" ucap Ailina.
"Hem, serahkan mereka padaku" jawab Ethan.
"Hadang gadis itu!" Teriak Sarah.
Namun itu sama sekali tak berguna, Ailina bergerak cepat, beberapa penjaga yang menghadang terpental tiba-tiba saat tangan Ailina terangkat dan menghempaskan mereka.
Ethan tak tinggal diam, menyelesaikan sisanya, dengan senyum dinginnya mulai membabat habis satu persatu dengan gerakan bela dirinya, bermain-main untuk membuatnya berkeringat kesukaan tersendiri bagi Ethan.
Ailina menghancurkan daun pintu kamar itu dengan keras.
"Siapa ka_"
"Akh!"
BRUG
Laki-laki yang hampir saja merenggut kehormatan Sofia terlempar menghantam tembok dan berteriak kesakitan.
"Berani kau menyentuhnya Ba-ji-ngan!" Teriak Ailina begitu murka saat melihat keadaan Sofia.
Seolah tak terkontrol lagi, Ailina menggerakkan tangannya dan membawa laki-laki itu kembali melayang ke dinding, matanya melotot seolah tidak bisa bernafas karena tercekik.
Tangannya mengejang berusaha meraih apapun tapi tak bisa, tubuhnya mulai menggelepar, sebuah pemandangan mengerikan saat Ailina dengan sorot mata birunya yang bersinar indah itu tengah mematahkan satu persatu tulang di tubuh laki-laki itu.
"Ai, kendalikan dirimu!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Evan yang sudah menyusul Ailina.
"Dia harus_"
"Jangan Ai, kita bukan pembunuh" sahut Evan berusaha mencegah Ailina.
jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
__ADS_1
Bersambung.