THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 59


__ADS_3

Perjalanan yang cukup melelahkan saat seorang tengah baya sudah sampai ditempat yang berada jauh di perbukitan.


"Rupanya paman sudah datang?" Tanya seseorang dengan senyuman penuh kerinduan, lalu keduanya berpelukan sejenak.


"Hem, sebelumnya terimakasih dengan tempat yang kamu berikan Raka" ucap Sang Paman.


"Itu sudah kewajibanku, Paman adalah satu-satunya orang yang sudah aku anggap saudaraku sendiri" jawab Raka.


"Terimakasih, maaf selalu merepotkan mu akhir-akhir ini"


"Jangan sungkan Paman, dulu paman yang merawat ku, semua ini tidak ada apa-apanya" sahut Raka sambil tersenyum menatap sang Paman yang sudah duduk di depannya.


"Aku minta bantuanmu lagi, ada seorang laki-laki, tepatnya Tuan Muda yang harus aku lindungi dengan segenap nyawaku"


"Apa?!" Sahut Raka terkejut.


Sang Paman menarik nafas panjang, lalu bercerita tentang Sky yang saat ini butuh perlindungan dan juga bantuan.


"Jadi, Tuan Muda itu bernama Sky?" Ucap Raka yang sudah memahami situasi.


"Hem, sama seperti keluarga seseorang yang sudah menganggap mu keluarga sendiri, dia juga dari keluarga dengan kekuatan Supranatural yang luar biasa"


"Benarkah?, Berarti ini bukan masalah biasa, dari yang bisa aku simpulkan, seseorang yang membuat nya dalam bahaya adalah keluarga nya sendiri, seperti itukah paman?" Tanya Raka memastikan dugaannya tidak salah.


"Tepat sekali, dan aku harus membuatnya seaman mungkin, nyawanya dalam bahaya dan beberapa kali hampir saja melayang karena perbuatan saudaranya sendiri"


"Baiklah, Paman butuh bantuan apa?" Ucap Raka.


"Hanya tempat dan beberapa persenjataan canggih darimu" jawab sang paman.


"Jangan khawatir, akan aku sediakan paman, dan sebaiknya hindari pemakaian Ponsel untuk saat ini, agar keberadaan paman tidak mudah terdeteksi oleh musuh" ucap Raka.


Begitulah pertemuan singkat itu berlangsung, Raka yang tau akan posisinya dimana harus menjaga semua kerahasiaan masalah sang Paman, segera bergegas pergi dari tempat itu.


Sementara di sebuah ruangan, nampak sosok laki-laki berusaha keras untuk menyambungkan ikatan batinnya dengan seorang wanita yang mengalirkan darah di tubuhnya.


"Mommy" ucapnya nampak resah, memejamkan matanya kembali dan nampak air mata menetes tak terasa.


Dengan kekuatan yang masih tersisa, Sky kembali berkonsentrasi, dan sebuah bisikan lirih hampir tak terdengar menyebutkan namanya, sekilas mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja, lalu segera menghilang dengan sayup-sayup terdengar suara teriakan.


"Mommy!" Teriak Sky lalu membuka matanya.


"Tuan Muda?!" Ucap seseorang yang langsung menghampiri dan mengambilkan air minum di dekatnya.


"Terimakasih Paman"


"Tuan muda sebaiknya beristirahat dulu, jangan terlalu memforsir kekuatan anda, tubuh anda akan lelah tak kuat menanggungnya" sahut sang Paman.


Sky hanya terdiam, menenangkan dirinya sendiri dan berbaring kembali sambil menarik nafas panjang.


Sementara itu, ditempat yang lain nampak Edward tersebut tipis melihat pesan masuk di dalam handphonenya, membuat sang istri cantiknya mengerutkan kening dan segera berjalan ke arahnya.


"Jangan merahasiakan sesuatu dariku honey" ucap Alena yang sudah berada dekat di depannya.


"Tentu saja tidak Bee" jawab Edward menyambar tubuh sang istri dan merengkuhnya.

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di bibirnya, melu-mat sekejab dan melepaskannya kembali.


"Lalu kenapa kamu tersenyum saat menatap ponsel mu?" Tanya Alena.


"Hanya kabar dari orang kepercayaan ku" jawab Edward.


"Soal?" Tanya Alena penasaran.


"Raka" jawab Edward.


"Raka?" Tanya Alena semakin heran.


"Hem, Raka sedang melakukan sesuatu, aku rasa itu tidak penting Bee, bagaimana kalau kita_"


"Akh!, Honey!" Teriak Alena sang suami sudah menyambar tubuh dan menindihnya di atas kasur.


"Kenapa Hem, kamu tidak menginginkan ku?" Tanya Edward dengan tatapan hangat yang menginginkan sesuatu tentunya.


"Ini masih sore, anak-anak masih aktif dengan kegiatannya, kamu ingin mereka mendengar teriak kita?" Ucap Alena mengingatkan.


"Sepertinya istri cantikku ini lupa, kamar kita bisa di mode kedap suara, bagaimana?" Kembali Edward bernegosiasi.


Alena hanya memutar matanya, tak mungkin juga menolak keinginan sang suami, dan tentu tidak ingin hanya memberikan kepuasan sepihak saja.


"Okey, puaskan aku honey" ucap Alena dengan kerlingan nakal mata indahnya.


Edward mengangkat alisnya, wanita yang selalu menemani hari-hari nya tidak pernah berubah, selalu bisa memberikan yang terbaik untuknya.


Tak menyia-nyiakan waktu begitu saja, keduanya kini sudah saling menyerang dengan kehangatan tubuh masing-masing, menyatukan has-rat hingga jeritan kecil saling bersahutan saat mencapai apa yang diinginkan.


Edward tersenyum, tak membiarkan istrinya beristirahat terlalu lama, dengan lembut kembali menyatukan miliknya, Alena yang masih baru saja mengatur nafasnya sedikit tersentak saat mendapati serangan selanjutnya.


"Sshh, Honey, ohhh" suara Alena begitu lembut terdengar indah memanjakan telinga.


"Bee, sshh, ough" sahutan suara Edward tak kalah se-ksi.


Dan berikutnya adalah teriakan kepuasan dari keduanya, Edward merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri, mengatur nafas dan detak jantungnya, lalu kembali memeluk Alena yang terlihat masih begitu kelelahan.


"Apa yang dilakukan Raka, katakan padaku" ucap lirih Alena, membuat Edward tersenyum sambil membelai lembut punggung polos istrinya.


"Dia tengah membantu seseorang" jawab Edward masih dengan memejamkan matanya.


"Hanya itu?" Tanya Alena lagi.


"Seseorang yang sudah membantu anak-anak kita" sahut Edward.


"What?!, Sky?" Alena terperanjat


Seketika Alena membalikkan badan menatap mata sang suami yang ikut terbuka karena gerakan tiba-tiba yang dilakukannya.


"Hem"


CUP


Sebuah kecupan singkat di bibir indahnya diberikan oleh Edward untuk menetralkan keadaan.

__ADS_1


"Sudahlah, ini bukan masalah yang buruk, kita istirahat dulu, aku sangat lelah" ucap Edward memberitahu keadaannya.


Alena tersenyum, membelai lembut pipi Edward dengan tangannya dan kemudian ikut terlelap dalam dekapan suaminya.


*


*


Nampak Ethan menata dan memasukkan beberapa baju ke dalam koper yang sudah di persiapkan, sementara sang adik yang tak lain adalah Evan hanya menatapnya saja dari tempat yang tak jauh.


"Ada apa?" Tanya Ethan yang merasa risih terus di perhatikan.


"Tidak ada kak, hanya tak percaya saja, kita sudah harus berpisah karena waktunya kuliah, rasanya masih ingin kumpul-kumpul terus dengan kak Ethan dan juga Ailina" jawab Evan.


Ethan hanya menggelengkan kepala, tak menjawab apa yang sedang Evan bicarakan, baginya lebih penting dirinya harus mempersiapkan diri untuk masa depannya.


Tak lama, muncul Ailina, duduk disamping Evan dan menyandarkan kepala di bahu kakaknya.


"Kamu kenapa?" Tanya Evan.


"Pengen seperti ini kak" ucap Ailina.


"Kamu nanti akan selalu merindukan ku kan?" Ucap Evan mengusap lembut kepala Ailina.


Tak ada jawaban, hanya anggukan yang Ailina berikan, Ethan tersenyum melihat tingkah kedua adiknya yang sangat lebay baginya.


"Kalian masih bisa ketemu, tinggal terbang saja menyusul kita atau sebaliknya, jangan terlalu di jadikan beban pikiran" ucap Ethan memberi wejangan.


"Tapi beda kak, siapa lagi nanti yang berteriak padaku kalau bukan Ailina" jawab Evan.


"Ish, kakak!" Teriak Ailina.


"Hahahaha"


Ethan dan Evan tertawa bersama melihat tingkah jengkel Ailina yang kini sudah menggeser tubuhnya lebih dekat ke Ethan.


"Apa kak Ethan akan merindukan kita juga?" Tanya Ailina.


"Tentu saja, tapi bukan berarti aku harus menunda study ku kan?" Ucap Ethan.


"Hehe, tentu saja tidak kak, bagaimana kalau disana nanti kakak bertemu dengan seorang wanita yang membuat hati kakak berdebar?" Pertanyaan Ailina yang membuat Ethan sejenak menghentikan aktifitasnya.


"Apa boleh buat" jawab Ethan.


"Wow, kakak pasti akan sangat menikmatinya bukan?!" Teriak Evan.


BRUG


Sebuah bantal sudah melayang di muka Evan.


"Jaga bicaramu!" Seru Ethan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ailina tertawa puas melihat Evan menggosok kepalanya yang terasa sedikit sakit karena perbuatan Ethan padanya.


Ketiganya melanjutkan perbincangan sambil sesekali melempar candaan, membantu Ethan berkemas mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke hunian barunya saat melanjutkan studi di negara orang sebentar lagi.

__ADS_1


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.


Bersambung.


__ADS_2