THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 31


__ADS_3

Seorang laki-laki tengah tertawa bersama dengan teman-temannya, merasa senang telah membuat tangan musuhnya hampir saja di patahkan.


"Aku sangat menikmati bagaimana gadis itu menjerit kesakitan"


"Iya, tapi sayang sekali, kau dihentikan oleh seorang gadis yang lainya, aku dengar dia berhasil membanting mu di awal serangannya"


"Ck, itu karena aku ceroboh saja, lain kali aku yang akan membantingnya di atas tempat tidur, matanya sangat indah dan aku pastikan dia sangat cantik walaupun dia memakai masker separuh wajah waktu itu" sahut Ramon membayangkan mata indah Ailina.


"Dan kau pantas mendapatkan hal ini!" Tiba-tiba saja suara tak dikenal terdengar dari arah belakang.


Sekali kibasan membuat Ramon terbang menghantam tembok pertokoan dan detik berikutnya bajunya terbakar hingga membuat luka cukup dalam, beberapa teman Ramon segera berlari dan berteriak meminta bantuan.


Sementara senyuman puas nampak dari laki-laki misterius yang sudah berjalan pergi.


"Berani kau bicara kotor tentang gadisku, itu hukuman yang setimpal untukmu" ucapnya lirih.


"Tuan muda sudah sangat keterlaluan" ucap Salah satu pengawalnya.


"Beruntung aku tidak membakarnya menjadi Abu" sahut laki-laki itu.


"Itu sangat mengerikan Tuan"


"Itu akibat dia berani menganggu gadisku"


"Nona bidadari itu mengatakan bukan milik anda Tuan"


"Suatu saat nanti aku akan membuat dirinya menjadi milikku seutuhnya"


"Baiklah, untuk saat ini, sebaiknya Tuan Muda fokus menyelesaikan masalah penting anda dulu, bagaimana?"


"Aku tau"


*


*


Sementara itu, Ailina sudah membawa Kania ke tempat yang aman, tidak sulit bagi Ailina untuk mengobati Kania, tapi hal itu tidak bisa dilakukan begitu saja.


"Sebaiknya kita baw saja Kania ke klinik, bagaimana?" Tanya Sofia yang terlihat panik.


"Tunggu sebentar, ruangan ini tampak sepi, aku bisa sedikit pengobatan, biar aku bantu sebelum kita bawa ke klinik" sahut Ailina yang tak mungkin lagi melihat Kania kesakitan.


Lalu kemudian Ailina memutar otak untuk menyalurkan tenaga dalamnya.


"Boleh aku pinjam jaket mu?" Tanya Ailina ke Sofia.


"Tentu saja" Sofia langsung memberikan Jaketnya ke Ailina.


Kania tampak kesakitan saat Ailina mulai menggerakkan tangannya di bawah jaket yang menyelimuti bahunya.


KREK


"Akh!, My God, sakit Ai" jerit Kania tertahan.


"Tahan sedikit lagi Kania" sahut Ailina melanjutkan kembali.


Sofia merasa miris, ikut meringis saat Kania terlihat kesakitan sejenak, namun kemudian dikejutkan dengan mata biru Ailina yang sedikit bersinar bagai batu berlian yang begitu indah.

__ADS_1


"Ai, mata mu?" Ucap Sofia ternganga.


Ailina segera menyadari, lalu memejamkan matanya dan menyudahi apa yang dilakukan.


"Bagaimana?" Tanya Ailina ke Kania.


"Sakitnya sudah tidak aku rasakan" jawab Kania merasa aneh dan menggerakkan lengannya perlahan.


Ailina menyibak jaket dan melihat lengan Kania yang tadinya bengkak, sekarang sudah mulai mereda.


"Alhamdulillah, aku rasa sudah teratasi dan sebaiknya kamu segera beristirahat " ucap Ailina.


"Tunggu Ai, bagaimana kamu bisa melakukan hal itu?" Tanya Kania.


"Aku kebetulan bisa, sudahlah, Ayo kita antar kamu pulang" sahut Ailina berusaha mengalihkan percakapan.


"Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu" sahut Sofia yang kini sudah berdiri membantu Kania.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin di lontarkan oleh Sofia, namun mengingat keadaan Kania, tidak memungkinkan Sofia membahas hal itu disaat seperti ini.


Hingga kemudian ketiganya sampai di halaman rumah Kania, ada rasa terkejut di mana seorang laki-laki yang tak lain adalah papa Kania kebetulan sekali baru sampai di rumah itu.


"Apa yang terjadi, dan bagaimana pertandingan mu?" Tanya Dika.


"Maaf Pa, aku terluka dan_"


"Bukan itu jawaban yang aku inginkan, kamu tau aku tidak peduli akan hal itu bukan?" Ucap Dika dengan tatapan tajamnya.


"Aku kalah" sahut Kania.


PLAK


"Jangan ikut campur!"


"Tapi Kania sedang terluka, apa yang anda lakukan!" Teriak Sofia lagi.


Ailina yang mengetahui bagaimana perlakukan Dika sejak awal dulu hanya terdiam, lalu kemudian menarik tangan Sofia untuk memberikan kode segera diam.


"Tapi Ai, Kania_"


"Diamlah Sofia" sahut Ailina masih terdiam di tempatnya.


"Maaf Pa, tapi Kalah menang dalam pertandingan adalah hal biasa" ucap Kania yang rupanya kini berani membantah Papanya.


PLAK


Satu tamparan keras lagi di dapatkan, lalu kemudian tamparan berikutnya menyusul, bahkan Kania sampai terhuyung.


"Aku tidak sudi melihat kekalahan, dan juga seorang anak perempuan!" Teriak Dika yang kini akan memukul Kania lagi.


"Hentikan Mas!, Dia anakmu, darah dagingmu!" Teriak seorang wanita yang sudah keluar dan berlari melindungi Kania.


"Masuk dan jangan ikut campur!" Seru Dika dan menghempaskan istrinya.


BRUG


"Ma!, Hentikan Pa!" Teriak Kania melihat sang Mama terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Bukan hanya Kania, Ailina dan Sofia sangat terkejut dengan kejadian yang ada di depan matanya, namun bagaimanapun Ailina harus menahan dirinya.


"Ai, kita harus_"


"Tunggu" sahut Ailina masih menatap Kania yang sedang membantu mamanya, lalu kemudian Kania melihat Ailina dengan air mata yang menggenang.


"Papa keterlaluan, dan aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini!" Teriak Kania pada akhirnya.


"Oh ya, lalu, kau ingin pergi, bagus, pergilah!, Itu yang sejak dulu ku harapkan, anak perempuan membuat Sial!"


"Mas!, Jangan berkata seperti itu!" Ucap mama Kania dan segera berdiri memohon ke Kania, "Minta maaflah ke Papa mu Nak, ayolah"


"Aku tidak sudi ma!, Sudah cukup bertahun-tahun Papa menyakiti kita!" Teriak Kania pada akhirnya.


"Kania!, Jangan begitu sayang"


"Aku tidak peduli, dan akan pergi dari rumah Neraka ini" sahut Kania.


"Bagus, lakukan secepatnya!, dan kau ikut anak sialan mu itu juga, atau aku akan melepaskan kekesalan dan amarah ku padamu!" Bentak Dika dengan mata yang nyalang.


"Mas, jangan seperti ini, maaf kan Kania, dia hanya emosi sesaat saja"


"Ma!, Hentikan dan ayo kita pergi!" Ucap Kania.


Namun sang mama berkeras hati untuk tidak pergi, lalu memohon kepada sang suami yang menahan amarahnya.


"Mas, aku Mohon?"


"Kau memohon padaku, baiklah, apa yang kau ajarkan pada anak sialan mu itu hingga berani sekali sekarang padaku!" Teriak Dika yang kini sudah menarik rambut istrinya, dan bahkan menyeretnya.


"Akh!, Lepaskan mas, sakit!" Teriakan terdengar begitu menyakitkan.


Dan sebuah tendangan mendarat tepat di punggung Dika hingga membuat dirinya tersungkur.


"Anak tak tau diri!" Teriak Dika murka lalu segera menyerang Kania yang rupanya telah melakukan perlawanan padanya.


Kania yang fokus membantu mamanya tak memperdulikan hal itu, hingga kemudian tangan papanya kini sudah meraih rambutnya, menyeret dan membantingnya ke lantai.


"Mas, lepaskan!, Kau menyakiti Kania" teriak sang Istri berusaha menghentikan aksi suaminya.


Wajah Kania terbentur lantai dan sedikit membiru, tangannya berusaha menggapai, namun kekuatan papanya jauh lebih besar dan dia tidak bisa berbuat apapun juga.


"Ai, apa yang harus kita lakukan, Kania bisa Mati, kanapa kamu malah mengambil video di saat seperti ini!" Teriak Sofia yang ikutan panik tapi tak tau apa yang harus dilakukan.


"Okey, aku rasa ini cukup" ucap Ailina kini segera mematikan handphone, dan berikutnya segera melesat untuk membantu mengakhiri drama keluarga yang membuat dirinya sedari tadi menahan diri.


BRAK


"AKH!, Kau!" Teriak Dika terkejut karena tubuhnya seketika terlempar dengan cukup keras, hingga kesulitan untuk berdiri kembali.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ailina yang kini menghampiri Kania dan juga mamanya.


"Sepertinya kita bertemu lagi Bu" ucap Ailina dengan senyuman.


"Kamu _"


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2