THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 43


__ADS_3

"Hehe, bercanda kak, aku pernah merasakan getaran di hati sih, tapi dengan laki-laki yang tak mungkin aku miliki, kakak tenang saja"


"Jangan sembarangan membuka hati untuk seseorang, fokus ke sekolah dulu Ai" ucap Ethan menasehati dan melanjutkan langkahnya lagi.


"Siap Kak" jawab Ailina.


Dalam hati Ailina tiba-tiba saja ada rasa ketakutan akan kehilangan seseorang, yah siapa lagi kalau bukan sosok laki-laki muda yang hanya dikenalnya dengan nama Sky.


*


*


Nampak di depan Ruangan terlihat begitu banyak orang yang mengunjungi Kania bergantian, rupanya kini Kania sudah di pindahkan ke tempat perawatan yang tak jauh dari tempat awalnya.


Evan yang melihat kedatangan dua saudaranya melambaikan tangan memberikan sapaan.


"Itu sepertinya Evan" ucap Ethan memberitahu Ailina.


"Hem, benar kak, kita sebaiknya disini dulu saja, keadaan masih terlalu ramai, lagi pula kita hanya boleh bergantian menjenguknya" jawab Ailina.


"Iya, benar sekali, kita ke kantin dulu saja, makan siang, perutku sudah lapar sekali" ucap Ethan yang sudah merangkul Ailina dan tentu saja membuat Evan begitu iri karena tak bisa bersama kedua saudaranya.


Kini giliran Evan di akhir semua temannya bertemu dengan Kania.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Evan.


"Alhamdulillah semua baik-baik saja, mama bercerita kamu dan Ailina ikut membantuku, terimakasih" ucap Kania.


"Hem, yang penting jaga kondisi mu biar segera sehat dan kembali masuk sekolah" sahut Evan.


"Maaf Ev" ucap Kania tiba-tiba.


"Maaf?, Untuk apa?" Tanya Evan sedikit terkejut.


"Karena aku menyukaimu tanpa tau kalau sudah ada Ailina di hidupmu, aku sungguh minta maaf, dan akan merelakan kalian" ucap Kania yang tentu saja membuat mata Evan melebar seketika.


"Oh my God, apa mungkin Kania salah paham?" Batin Evan yang masih terdiam dan berusaha mencerna.


Dan disaat yang bersamaan, Sofia yang dari tadi bersama dengan ibu Marisa sudah masuk dan berada di belakang Evan.


"Kenapa kalian terdiam, aku Sofia, maaf kita belum sempat berkenalan waktu itu, terimakasih sudah ikut membantu Kania, jadi kamu yang bernama Evan?" Tanya Sofia.


"Hem, aku Evan" ucap Evan segera mundur dan memberi ruang ke Sofia untuk lebih dekat dengan Kania.


"Kalian saling kenal?" Tanya Kania yang kini sudah tersenyum melihat Sofia ada didekatnya.


"Tidak" ucap Sofia, aku hanya melihatnya datang membantumu bersama dengan_" Sofia terdiam seolah baru menyadari sesuatu.


"Tunggu, kamu datang bersama dengan Ailina waktu itu?" Tanya Sofia dengan wajah penasarannya.


"Aku _"


"Tentu saja, Dia kekasih sahabat kita, Ailina" sahut Kania sebelum Evan sempat melanjutkan jawabannya.

__ADS_1


"Apa?!, Ya Tuhan, ini tidak benar, ini keterlaluan" ucap Sofia membuat Kania dan Evan terkejut.


"Apa yang tidak benar, apa yang keterlaluan?, Jelaskan ada apa Sofia?" Tanya Kania nampak belum paham.


"Ailina kekasih Ethan, kamu tau kan Ethan yang pernah aku ceritakan" jawab Sofia.


"Apa?!, Tidak mungkin" ucap Kania yang merasa kepalanya sedikit pusing.


Sementara Evan hanya memutar matanya, mengetahui kesalahpahaman merajalela dan dengan menghela nafas panjang sangat ingin segera menghilang dari ruangan.


Sementara kedua wanita itu kini tengah menatap dengan tajam ke arah Evan seolah meminta penjelasan dengan paksa.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?, Aku bukan penj-ahat" ucap Evan mulai panik.


"Kenapa kamu begitu tenang mengetahui kekasihmu memiliki kekasih yang lain?, Atau jangan-jangan kamu yang sedang berselingkuh dengan Ailina dari Ethan?" Ucap sinis Kania.


"What?!" Oh my_, Kalian ini kenapa?" Jawab Evan semakin tak mengerti.


"Kalau begitu, jujurlah pada kami!" Seru Sofia yang juga mulai emosi.


"Bukan seperti itu, kenyataanya adalah_"


"Kami saudara!" Seru seseorang memotong pembicaraan Evan yang nampak terpojokkan, rupanya Ethan dan Ailina sudah berjalan masuk bersama dengan ibu Marisa.


"APA?!" Ucap spontan Kania dan juga Sofia. Kini keduanya menatap Ketiga saudara kembar itu bergantian, dan kedua mata mereka melebar saat menyadari sesuatu.


"Kalian kembar?!" Ucap Sofia begitu terkejut.


"Wajah kalian mirip, walau ada perbedaan" sahut Kania menatap untuk yang kesekian kali.


"Ya Tuhan!" Ucap Sofia.


"My God, aku tak menyangka Ma" ucap Kania.


"Mama juga, nak Ailina baru saja menjelaskan" jawab Marisa.


"Jadi_"


"Aku anak pertama, dan disini aku juga menegaskan padamu Sofia, bahwa tak ada perasaan apapun padamu, maaf, karena hati tidak bisa di paksakan" Ethan segera memotong ucapan Sofia.


"Begitu juga aku" sahut Evan menyambung, "Maaf Kania, kita lebih baik berteman bukan?" Ucap Evan yang sudah tersenyum.


Baik Sofia dan Kania menunduk, lalu keduanya tersenyum dan menatap Ailina yang nampak khawatir.


"Aku tau, dan berteman juga sangat menyenangkan, terimakasih Ethan" sahut Sofia dengan senyuman.


"Aku juga Ev, maaf kalau memaksamu, berteman juga tak kalah seru bukan?" Kania kini tersenyum sambil melihat Ailina.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian bisa menerima dan tidak ada acara cemburu lagi padaku, terimakasih ya?" Ucap Ailina yang kini sudah ber hambur dan memeluk kedua sahabatnya.


Ibu Marisa juga ikut tersenyum bahagia mendapati semua kesalahan pahaman bisa diselesaikan dengan baik.


*

__ADS_1


*


Sementara itu di sebuah perusahaan yang di pimpin oleh seseorang yang kini sedang pusing karena surat panggilan dari pihak berwajib sehubungan dengan penganiayaan yang dia lakukan.


"Bagaimana ini pak, di depan sudah ada beberapa petugas yang siap menjemput Bapak, apa yang harus saya lakukan?"


"Bre-ng-sek!, hadang mereka selama mungkin aku akan mencari jalan keluar yang lain"


"Tapi Pak_"


"Diam!, dan lakukan perintahku" ucap Dika yang sudah menatap anak buahnya dengan nyalang.


Dika keluar bersama dengan beberapa anak buahnya melewati pintu belakang perusahaan, namun nasib tidak berpihak padanya, ternyata apa yang dia rencanakan sudah terbaca oleh petugas yang sudah siap membawa Dika dengan paksa.


Sore itu keadaan terasa begitu mencekam karena Dika berusaha untuk lari hingga membuat beberapa pihak kepo-lisian harus mengambil tindakan untuk meringkus Dika beserta dengan anak buah yang berusaha melindungi.


"Sh-it!, Lepaskan!" Teriak Dika histeris dan berusaha untuk melawan.


"Maaf Pak Dika, mohon kerja samanya" ucap pihak berwajib yang berusaha untuk menenangkan Dika dan membawa masuk ke dalam mobil.


Beberapa pegawai yang sempat melihatnya sangat terkejut dan dengan takut berusaha untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan pemimpin perusahaan.


Tak butuh waktu lama, nama Dika sudah ada dalam sebuah berita online yang sangat mengejutkan banyak pihak, bahkan beberapa kolega yang bekerja sama dengan perusahaannya mulai berpikir untuk memutuskan kontrak kerja.


Tentu saja kabar itu diterima dengan gembira oleh Alfaro dan juga Kirana.


"Saatnya kau menerima balasannya" ucapan Alfaro lirih sambil mengamati berita yang ada dalam handphonenya.


"Apa ada kabar gembira honey?" Tanya Kirana yang kini sudah duduk di samping suaminya.


"Hem, seperti yang kita harapkan, laki-laki itu akhirnya menerima semua akibat dari perbuatannya" jawab Alfaro, kemudian menyodorkan ponsel ke Kirana.


Kirana mengamati dan membaca isi ponsel itu dengan serius dan sebuah senyuman muncul di bibirnya.


"Akhirnya, keadilan untuk kalian sudah tiba, Aku sangat senang sekali melihat hal ini" ucap Kirana.


Memang bukan hal yang mudah untuk menjebloskan Dika, bahkan Alfaro sempat menggunakan jasa beberapa orang untuk mempercepat prosesnya.


Beruntung semua bukti yang mendukung tuntutan yang dilayangkan cukup kuat, sehingga mempermudah semua rencana laporan hu-kum yang dilakukan.


Tak lama kemudian terdengar ponsel Alfaro berdering, sang pemilik segera mengangkat, rupanya Edward dan Alena juga mengikuti semua kabar tentang keluarga besarnya.


"Jadi semua urusan sudah selesai?" Tanya Edward dalam sambungan ponsel.


"Hem, syukurlah, aku tidak perlu melibatkanmu lagi" jawab Alfaro.


"Kerja yang bagus, terima kasih sudah menjaga anak-anakku dengan baik" ucap Edward.


"Itu bukan hal yang sulit, karena sebenarnya mereka sudah bisa menjaga dirinya sendiri dan kami hanya melengkapi" jawab Alfaro.


"Hem, aku tau, besok kita akan tiba di Jakarta, Apa kamu juga akan segera kembali ke Paris?" tanya Edward.


"Tentu saja Ed, putraku juga sangat membutuhkan kami, aku tunggu kedatangan mu, hati-hatilah" Alfaro memberikan pesan.

__ADS_1


"Terimakasih" jawab Edward.


Sambungan perbincangan di ponsel segera berakhir dan Alvaro memberitahu kabar tentang kepulangan Edward dan Ailina ke Kirana.


__ADS_2