THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 34


__ADS_3

Pagi diguyur dengan Air hujan yang membuat cuaca begitu dingin. Ailina sudah bersiap dengan payung yang sudah ada di tangannya, sementara Ethan sudah berada di sampingnya.


"Bagaimana kalau kita naik mobil kita sendiri saja Ai?" Ethan memberi saran, Karena terlalu malas kalau harus berlarian terkena air hujan.


"Nanti malah timbul masalah baru disekolah Kak" jawab Ailina mengingatkan.


"Iya juga, Oh God, ini terkadang sangat merepotkan" sahut Ethan.


"Aku ikut kalian!" Teriak seseorang dari arah belakang, membuat Ethan dan Ailina terkejut dan merasa aneh ternyata Evan sudah berlarian ke arahnya.


"Kak Evan gak naik motor?" Tanya Ailina.


"Hujan Ai, ikut kalian saja naik Taksi ya?" Sahut Evan.


"Tetap saja kita akan kena air hujan Ev, kita harus keluar Mansion dulu seperti biasanya dan mencari Taksi di sana" sahut Ethan.


"Okey, tak masalah, aku ikut" jawab Evan dengan senyum tengilnya.


Ketiganya segera berjalan cepat membawa payung masing-masing, bahkan air hujan kini sudah menyapa langkah mereka dan tentu saja mengenai pakaian paling bawahnya.


"Ai, jangan cepat-cepat, kamu membuat air mengenai celanaku!" Teriak Evan.


"Ish, kak Evan juga sama saja!" Sahut Ailina tak mau kalah.


"Kalian diamlah, perhatikan langkah dan jangan berisik!" Teriak Ethan berusaha melerai keriuhan saat berjalan.


Semua penjaga Mansion yang melihat tersenyum melihat tingkah ketiga Tuan mudanya, begitu juga dengan para Asisten Rumah tangga, kedekatan ketiga majikan kembarnya selalu bisa membawa suasana Ramai dan juga lucu, membuat semuanya merasa senang dan terhibur.


*


*


Kania merasa lebih hidup saat ini, setelah mengantar mamanya ke beberapa outlet yang bisa di tutupi masakan jadi, dirinya segera pergi ke Sekolah dengan berjalan kaki, butuh waktu 15 menit saja dari Apartemen mewah itu menuju ke Sekolahnya, dan itu membuat Kania begitu senang karena bisa lebih berhemat.


Sama halnya dengan Sofia, kini sudah berada di dalam kamar dan bersiap menghadapi kakaknya.


"Berani sekali kau mengatakan hal itu di saat ktit tengah sarapan ha!" Teriak Sarah yang sudah menutup pintu kamar Sofia.


"Memang begitu kenyataannya bukan, kakak pulang subuh tadi, dan aku mengetahuinya, aku juga yakin bau Alkohol keluar dari mulutmu saat itu"


"Diam bre-ng-sek!, Apa urusanmu hingga harus membahasnya di meja makan?!" Sahut Sarah penuh emosi.


"Karena Papa bertanya, dan kalian berdua seperti biasa membohonginya, aku sudah tidak tahan dan apa salahnya aku mengatakan yang sesungguhnya!" Teriak Sofia tak mau kalah.

__ADS_1


"Kau berani membentak ku, gadis Sia-lan!"


Teriak Sarah lalu bergerak menendang Sofia seperti biasanya.


Namun kali ini, Sofia sudah waspada, dengan segenap kemampuannya menghindar dan melempari Sarah dengan sesuatu, hingga kaki Sarah tersandung meja hampir terjatuh.


"Kau, benar-benar kurang ajar Ba-ng-sat!" Umpat Sarah makin murka dan berhasil menendang Sofia yang memang tidak mempunyai dasar bela diri apapun saat ini.


Tendangan memang mengenai perutnya, namun tak mau kalah, Sofia menangkap kaki Sarah dan mendorongnya dengan kuat, hingga Sarah terkejut dan terjatuh berguling, bahkan kepalanya sampai terbentur pojokan tempat tidur.


"Akh!, Kau gila Sofia, bre-ng-sek!" Teriak Sarah cukup keras, dan disaat yang sama, kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar dan sangat terkejut dan melihat kamar yang begitu berantakan.


"Hentikan, apa yang kalian lakukan!" Teriak sang Papa yang begitu terkejut, dan selanjutnya Sofia tetap menjadi yang bersalah.


Dengan senyum lebarnya kini Sofia menuju ke Sekolah, rupanya pergulatannya tadi membuat hatinya bahagia walaupun dia masih kalah telak dengan Sarah, tapi setidaknya dia berani melawan dan tidak diam saja.


"Ada apa denganmu, Kau nampak berantakan Sofia" ucap salah satu temannya.


"Aku sedang bahagia!" Seru Sofia berlalu begitu saja, tak peduli dengan banyak tatapan aneh yang memperhatikannya.


Bahkan Ethan yang baru saja datang juga dikejutkan dengan apa yang di perbuat Sofia, dan dengan kecepatan matanya, Ethan melihat beberapa luka memar yang baru di salah satu lengangnya.


"Apa yang terjadi dengan Sofia, apa dia sudah gila dengan masalahnya?" Batin Ethan sambil berlalu pergi menuju kelasnya.


Ethan baru saja duduk dan mendapati pesan masuk bergetar di handphonenya, segera di buka takut hal penting dari kedua saudara kembarnya.


"Jadi seperti itu kejadiannya?, Pantas, tampilannya hari ini begitu tidak karuan" ucap lirih Ethan sambil membalas pesan dari Ailina.


Kembali lagi ke sekolah yang lain, dimana Kania kini terlihat berbeda, sikap urakan dan pembuat onar tidak nampak di sana, bahkan beberapa pelajaran diikuti dengan tenang tanpa harus membuat drama seperti biasanya.


Hingga di waktu pulang, Kania mendapat telpon dari seseorang yang sedang menagih janjinya.


"Okey, hari ini kita akan mulai, datang ke Apartemen, aku langsung pulang dan menunggumu di sana" ucap Kania di dalam percakapan ponselnya sebelum di tutup dan tersenyum.


Jadi jemarinya kini terlihat menekan handphone nya kembali, rupanya Kania tak ingin sendirian dan saatnya harus mengikut sertakan seseorang yang haus bertanggung jawab sebelum nanti membagi kemampuan bela dirinya.


Terdengar suara salam, dan Kania menjawab dengan cepat.


"Kamu harus ikut di perdana bagaimana aku akan membuat di model cantik nan lentik itu berkeringat hari ini" ucap Kania lalu tertawa.


"Kau ini, jangan terlalu keras di awal melatihnya, Sofia bisa pingsan di tempatmu nanti!" Sahut Ailina dalam percakapan ponsel yang tengah terjadi.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi, bukankah dia sudah dilatih bertahun-tahun menerima pukulan dari kakak bre-ng-sek nya itu?" Ucap Kania.

__ADS_1


"Benar juga, aku lupa akan hal itu" jawab Ailina lalu tertawa.


"Ya sudah, aku tunggu di Apartemen mewah hasil dari pinjamanmu Ai"


"Ish kau ini, anggap itu Apartemen mu sendiri!" Sahut Ailina.


"Okey" ucap Kania lalu tertawa dan kemudian mengucap salam sebelum akhirnya memutuskan panggilan.


Sambutan dari sang Mama yang tersenyum bahagia membuat Kania terkejut dan hampir saja menangis, lalu Kania memeluknya dengan erat dan cukup lama, sampai Marisa memperingatkannya.


"Kamu kenapa sayang, katanya sebentar lagi kalian mau berkumpul disini?" Ucap Marisa memperingatkan.


"Iya ma, maaf" ucap Kania segera melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang tak mampu ditahan dan akhirnya menetes.


"Ayo masuk dulu, Mama sudah memasakkan kalian sesuatu yang enak, di jamin pasti kalian semua nanti suka dan makan banyak" Marisa mengajak Kania masuk dan menyiapkan semuanya.


Seperti yang diperkirakan, sepuluh menit kemudian bel Apartemen berbunyi, rupanya seseorang yang ditunggu telah datang.


Ceklek


"Sendirian?" Tanya Kania mengerutkan kening saat melihat Sofia datang seorang diri.


"Tentu saja, memangnya aku harus membawa kakakku untuk kau jadikan samsak?" Sahut Sofia membuat Kania langsung tergelak.


"Bukan itu maksudku, aku pikir kamu datang bersama dengan Ailina" ucap Kania berjalan masuk bersama dengan Sofia.


"Memang Ailina mau datang juga?" Tanya Sofia terkejut sekaligus tampak begitu senang.


"Hem, dia yang bertanggung jawab karena memberikan murid sepertimu" jawab Kania yang kini menuju ke ring latihan.


"Ish, kau ini, harusnya kamu bangga mendapatkan murid secantik diriku, apalagi seorang model" sahut Sofia.


"Heeh, justru mengajari seorang model seperti mu sangat menyusahkan ku, tentu tak boleh ada luka memar yang berlebihan di tubuhmu saat latihan, padahal aku ingin membuat tanda memar cukup banyak"


"Hei, kau mau melatihku atau membunuhku!" Teriak Sofia dan sontak membuat Kania tertawa, begitu juga dengan Marisa.


"Jangan terlalu keras Kania" Marisa memperingatkan.


"Tenang Ma, paling juga beberapa gigi yang terlepas" sahut Kania bercanda.


"Kania!!' teriak Sofia hingga membuat Kania tertawa ngakak, sementara Marisa hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah keduanya.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.

__ADS_1


Mampir juga di channel YouTube Sinho Channel/Sinho Novel untuk menikmati Cerpen yang menarik.


Bersambung.


__ADS_2