
Ailina datang tak berapa lama kemudian, menambah suasana semakin ramai di saat Sofia protes dengan guyonan Kedua temannya yang akan mengajarinya cukup keras hari ini.
"Sudah-sudah, sebaiknya kalian makan siang dulu, ibu sudah memasakkan sesuatu yang segar dan nikmat untuk makan siang kalian" ucap Marisa berhasil menenangkan ketiga gadis yang tengah beradu kata sesaat yang lalu.
Kini semua ada di meja makan, dan dengan tenang menikmati makan siang.
"Wah lezat sekali Bu" ucap Ailina memberikan pujian karena memang rasa makanannya sungguh nendang.
"Alhamdulillah, special untuk kamu sayang, terimakasih sudah membantu kami, dan juga Sofia yang sudah bersedia menjadi teman Kania" ucap Marisa ber sungguh-sungguh.
"Tapi ingat Ma, kita harus berhemat" ucap Kania memperingatkan.
"Tentu saja sayang, ini tadi Mama dapat Rezeki, masakan yang mama buat dan titipkan ke beberapa tempat, banyak di minati dan bahkan habis dengan cepat, uangnya juga segera di transfer ke rekening mama hari ini juga" sahut Marisa.
"Benarkah Ma, Alhamdulillah" ucap Kania diikuti oleh Ailina dan Sofia.
"Wow ibu hebat, selamat Bu" sahut Sofia.
Sementara Ailina nampak berpikir sejenak, "Maaf, jadi Ibu Marisa suka memasak?" Tanya Ailina.
"Itu satu-satunya hal yang mahir ibu lakukan sayang" jawab Marisa.
"Dan mama sangat menyukainya!" sahut Kania.
"Oh begitu, kebetulan sekali kalau begitu, ingat Cafe yang biasa kita kunjungi Sof?" Ucap Ailina.
"Tentu saja, memang kenapa?" Tanya Sofia masih tidak memahami.
Ailina tersenyum senang, seolah ada sesuatu yang membuatnya begitu bahagia.
"Pemilik tempat itu masih saudara denganku dan kebetulan ingin memperbesar Resto dengan merambah dunia Kuliner yang lebih luas selain Es Cream dan minuman" jawab Ailina.
"Oh iya?, benarkah, kebetulan sekali, Ibu butuh pekerjaan sayang, untuk kebutuhan kami nantinya" sahut Marisa.
"Baiklah Bu, nanti akan saya perkenalkan dengan mama Ratu, pemilik Resto itu" ucap Ailina.
Lalu kemudian makan siang itu segera dilakukan dengan tenang, semua menikmatinya dengan senang, masakan yang di buat oleh Marisa memang mempunyai cita rasa yang bisa diunggulkan, dan bahkan semua hidangan di atas meja tak tersisa sama sekali.
Saatnya berlatih, setelah mengisi tenaga yang cukup disiang hari, kini Sofia sudah mengeluarkan banyak keringat karena latihan yang diberikan oleh Kania, sementara Ailina hanya tersenyum sambil melihat bagaimana Kania dengan keras mengajarkan apa yang dia bisa tanpa ampun.
"Stop Kania, cukup untuk hari ini, aku tak kuat lagi!" Terdengar suara teriakan dari Sofia dan membuat Ailina yang melihat hal itu sempat tertawa.
"Okey, kita istirahat, bersihkan dirimu dan segera pulang untung beristirahat" Kania segera menghentikan latihan dan kini duduk disebelah Ailina dengan mengatur nafasnya.
"Lumayan keras juga kamu menghajar Sofia" Ailina memberikan komentar.
"Itu karena aku tidak ingin melihatnya di hajar dengan semena-mena lagi oleh kakak bre-ng-sek nya itu, aku penasaran sekali dari yang pernah Sofia ceritakan, seperti apa sebenarnya kakaknya?" ucap Kania.
"Aku yakin kamu sudah mengenalnya, dan pasti akan terkejut" sahut Ailina.
__ADS_1
"Apa?!" Sahut Kania kaget.
"Hem, kau sudah mengenalnya, aku yakin itu" sahut Ailina dengan senyum misterinya.
"Ck, bagaimana kamu tau Ai, ayolah ceritakan dengan gamblang, jangan membuatku penasaran" Kania memohon.
Ailina tersenyum dan menatap mata Kania sejenak, lalu kemudian mengingatkan cerita bagaimana awal pertama bertemu dengan dirinya.
"Oh jadi perempuan itu kakak Sofia?" Ucap Kania tak menyangka akan hal itu.
"Kalian membicarakan ku?" Tanya Sofia yang kini berjalan tertatih mendekat.
"Lebih tepatnya kakak mu Sarah" jawab Kania sambil memberikan minuman ke Sofia yang kini tergeletak di samping Ailina.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ailina menatap tak tega dengan keadaan Sofia.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir, memangnya kenapa kalian membicarakan si bre-ng-sek itu?" Tanya Sofia.
"Dia pernah membuat masalah denganku, dan aku rasa kakak mu cukup kaya raya karena waktu itu aku melihat ada beberapa bodyguard di sampingnya, seandainya tidak, ku pastikan dia sudah habis aku hajar" ucap Kania.
"Jangan menganggapnya remeh, dia perempuan dengan jebolan sabuk hitam taekwondo" sahut Sofia.
"Dan itu semua hanya di gunakan untuk menghajar mu selama ini?" Tanya Ailina.
"Entahlah, mungkin saja begitu, karena memang aku tidak pernah melihat ada Piala kejuaraan pertandingan apapun di kamarnya" sahut Sofia.
Perbincangan segera di hentikan, sudah saatnya mereka pulang karena hari semakin sore, Sofia dan Ailina segera pamit.
*
*
"Bagaimana kalau kita berpisah saja kak, mungkin akan lebih cepat, apa yang kita cari tidak sama" ucap Evan.
"Hem, terserah kau saja, kita akan bertemu sebelum jam 5 sore di tempat parkir" jawab Ethan lalu segera melangkah pergi dan keduanya berpisah.
Beberapa barang masih di amati oleh Ethan, mencari sesuatu yang saat ini dia butuh kan hingga kemudian tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Sh-it!, Hati-hatilah saat berjalan, Pakai matamu!" Teriaknya begitu tak sopan.
"Maaf Paman, aku tidak sengaja" sahut Ethan, lalu dirinya seperti mengingat sesuatu.
Hanya menatap kesal sebentar, orang itu tak memperdulikan Ethan dan justru melanjutkan obrolan seriusnya dengan wanita yang begitu manja menempelkan tubuhnya.
"Aku akan mencari istriku dulu untuk tanda tangan semua berkas pelimpahan kekuasaan warisan rumah dan beberapa tanahnya" ucap laki-laki itu masih terdengar oleh telinga Ethan yang sedang memilih barang.
"Lakukan secepatnya sayang, tapi bagaimana caranya?"
"Itu hal yang gampang, dia pasti takut padaku dan akan menyerahkan semuanya, dan kalau itu tidak berhasil, aku akan mengambil anak perempuan sialan itu untuk aku jadikan Sandra"
__ADS_1
"What?!, Kau berani sekali sayang, ingat, Kania adalah Putrimu juga"
"Aku tidak sudi mempunyai anak perempuan, dan setelah itu, beri aku anak laki-laki dari rahimmu"
"Tentu saja sayang, jangan khawatir, aku pasti akan memberikan mu seorang putra" ucap perempuan itu.
Ada suara tawa dari mereka berdua yang membuat Ethan merasa jij-ik, lalu ingatannya memunculkan sesuatu di saat nama Kania masuk kedalam pendengarannya.
"Kania?, Sepertinya sangat Familiar sekali nama itu, mungkinkah itu_" Ethan terdiam sejenak dan diam-diam mengambil gambar laki-laki itu.
Cepat sekali Ethan mengirim ke Ailina, hingga beberapa detik berikutnya Ailina memberikan jawaban sesuai dengan prediksinya.
Tak lama kemudian ada pesan masuk dari Evan yang ternyata sudah menunggunya di Tempat Parkir, dan kemudian Ethan segera menuju ke sana.
"Kakak tidak mendapatkan apa-apa?" Tanya Evan nampak heran.
"Dapat, sesuatu yang sangat penting, dan kau pasti akan terkejut mendengarnya"
"What?, Apa itu?" Tanya Evan menuntut penjelasan.
"Wanita mu dalam bahaya" ucap Ethan membuat Evan mengerutkan keningnya.
"Wanitaku?, Maksud kakak Ailina?" Sahut Evan sekaligus mendapatkan sentilan di jidatnya.
"Aw, sakit Kak!" Teriak Evan.
"Ailina saudara kita, bukan wanita mu, sembarangan kalau berbicara" Ethan memberikan peringatan.
"Ck, aku tau kak, tapi wanita yang aku punya saat ini ya cuma Ailina dan juga Mommy saja, siapa lagi?, Bisa kak Ethan menjelaskan lebih gamblang lagi?!" Teriak Evan yang makin kesal kalau harus menduga-duga tak pasti.
"Kania, ingat Kania?" Sahut Ethan dan seketika membuat Evan terkejut.
"Kania?, Ada apa dengan Kania, siapa yang ingin menyakitinya?" Tanya Evan masih belum tau maksud kakaknya.
Ethan segera masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun, sementara Evan bertanya-tanya dengan dirinya sendiri tentang kemungkinan siapa yanga akan menyakiti Kania.
"Papa kandungnya yang ingin mencelakainya" ucap Ethan.
CIIT
BRUG
"Akh Sh-it!, Kau mau aku hajar Ev!!" Teriak Ethan yang kini tengah kesakitan karena kepalanya membentur dasboard mobil saat Evan menghentikan mobil mendadak.
"Ups, Sorry kak, tidak sengaja hehe" sahut Evan yang kini ikut melihat keadaan kepala kakaknya terlihat sedikit biru karena benturan yang lumayan keras.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Yuk mampir ke channel YouTube : SINHO Channel/ SINHO NOVEL untuk mendapat cerita-cerita seru di sana.
__ADS_1
Bersambung.