
Tampak Rombongan sudah menghilang dari pandangan matanya. Ailina menyadarkan dirinya sendiri dan berjalan pergi menuju ke tempat Kania yang sudah dikabarkan telah sadarkan diri.
"Saya ikut senang Bu, akhirnya Kania sudah tersadar kembali"
"Iya nak, Alhamdulillah, terimakasih pertolongannya" jawab Marisa.
"Iya Bu, sama-sama"
"Apa kamu tidak Sekolah?" Tanya Marisa.
"Sebentar lagi saya akan berganti pakaian dan berangkat sekolah Bu, sengaja menyempatkan kesini dulu, pengen tau keadaan Kania dan Alhamdulillah saya bisa tenang, Kania sudah lebih baik keadaannya" jawab Ailina.
Kania tersenyum, bersyukur telah di pertemukan dengan Ailina dan orang-orang baik lainnya, walaupun dalam hati saat ini, Marisa tengah kebingungan mengganti biaya Operasi Kania yang sangat tinggi.
"Maaf Nak Ailina, apa di Rumah Sakit ini melayani pembayaran ber angsur?" Tanya Marisa.
"Maksud Ibu Marisa?" Tanya Ailina masih belum mengerti.
"Begini nak, biaya operasi yang dilakukan Kania ternyata sangat besar, dan ibu bingung harus membayarnya pakai apa, bagi Ibu uang 400 juta itu sangat banyak dan Ibu merasa tak mampu membayarnya"
Oh, begitu, maaf Bu, saya baru mengerti" ucap Ailina yang kini masih terdiam, ingin sekali membantu yang tentunya sangat mudah dia lakukan, namun Ailina tau dengan cara seperti itu, bisa saja Bu Marisa akan tersinggung.
Disaat Ailina tidak tau harus berkata apa, Rupanya Ratu sudah berdiri di belakangnya dan menyapa.
"Halo semuanya, bagaimana keadaan Kania?" Tanya Ratu.
"Alhamdulillah" sahut keduanya hampir bersamaan.
"Syukurlah, sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu?" Tanya Ratu selanjutnya.
Marisa tersenyum, lalu kemudian menceritakan permasalahannya, Ratu terdiam dan nampak berpikir sejenak, menoleh ke Ailina dan seolah mereka Saling memberikan kode.
"Baiklah, bagaimana kalau saya membantu anda dalam hal keuangan mbak Marisa?" Ucap Ratu yang kini lebih nyaman memanggil Mbak karena sudah lumayan akrab setelah sering bekerja bareng.
"Maksudnya bagaimana?" Tanya Marisa tak mengerti.
"Memakai uang saya dulu untuk membayar biaya Kania di Rumah sakit, nanti bisa mbak Marisa cicil dengan potongan gaji tiap bulanya, tidak semuanya di potong, mungkin hanya separuhnya saja, bagaimana?"
"Apa?!, Tapi itu sangat banyak, akan butuh waktu lama bisa dilunasinya, apa tidak memberatkan?"
"Tentu saja tidak, tidak ada yang keberatan sama sekali, bagaimana menurut mbak Marisa?"
"Alhamdulillah, kalau memang bisa seperti itu, aku sangat berterimakasih" jawab Marisa dengan air mata yang menggenang karena terharu akan bantuan Ratu.
Ailina segera pamit undur diri, merasa ikut lega karena masalah Marisa sudah bisa teratasi, Ailina pun menerima perintah Ratu untuk diantar oleh sopirnya yang berada di area parkir.
*
*
Sementara itu, kini Dika tengah mengum-pat karena telah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan, tidak pernah menyangka sama sekali dirinya akan berurusan dengan hu-kum karena kekera-san yang dilakukan pada istrinya secepat ini.
"Bre-ng-sek!, Beraninya Marisa melaporkanku, aku akan buat perhitungan dengannya!" Teriaknya sambil menggebrak meja kerjanya.
__ADS_1
Tak mau kalah, Dika pun mengerahkan semua kuasa hukum yang dia punya untuk membuatnya terbebas dari hu-kum seperti yang biasa di lakukannya.
Namun tentu saja percuma, lawannya kali ini adalah salah satu keluarga Eagle yaitu Alfaro, tentu bukan sesuatu yang mudah untuk di taklukkan.
"Apa teman Ailina akan mendapat keadilannya honey?" Tanya Kirana saat duduk santai di ruang tengah Mansion Edward.
"Tentu saja, aku bisa pastikan itu, dan sekarang ini laki-laki bede-bah itu mulai kebingungan untuk meloloskan diri" sahut Alfaro yang kini sudah duduk sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Syukurlah, aku sangat geram dengan laki-laki itu, teganya melakukan kekerasan ke anak dan istrinya, apa dia kelainan jiwa?!" Sahut Kirana.
"Tenanglah, sebentar lagi kita juga akan kembali ke Rumah kita sendiri, Edward akan segera pulang dan semua akan di bawah kendalinya, aku sudah menceritakan detail soal ini" ucap Alfaro.
"Aku lega sekali, tidak bisa ku bayangkan kalau sampai Kak Edward turun tangan, apalagi Kak Alena, dalam sekejap mata mereka akan lenyap" sahut Kirana.
Alfaro terkekeh, lalu menciumi puncak kepala sang istri dan membelai rambutnya dengan perlahan.
*
*
Siang yang sangat terik, Rombongan Evan sudah menuju ke Rumah sakit untuk melihat keadaan Kania bersama dengan beberapa guru yang mewakili.
Begitu juga dengan Ailina, yang kini sudah berada di halaman sekolah Ethan dan juga Sofia.
"Jadi kita bareng dengan Ethan juga?" Tanya Sofia.
"Hem, apa kamu keberatan?" Tanya Ailina.
"Tidak, asal aku nanti yang duduk di depan" jawab Sofia yang membuat Alena mengerutkan kening.
"Ti tidak, tapi bukannya kalian lebih senang duduk berdekatan?" ucap Sofia.
"Tentu saja, kami sudah terbiasa akan hal itu" sahut Ailina tanpa bermaksud menegaskan sesuatu.
Namun berbeda dengan persepsi Sofia, dirinya melebarkan mata tanda terkejut mendengar Ailina dengan enteng ingin bermesraan dengan Ethan.
"Bukannya tidak di perbolehkan laki-laki dan wanita yang bukan muhrim saling berdekatan, apalagi di mobil yang tak luas tempatnya" sahut Sofia kini sedikit sengit.
"Alhamdulillah, sepertinya kamu mulai paham akan hal itu Sof?" Ucap Ailina.
"Ck, bukan aku, tapi kamu yang sepertinya gantian gak paham akan hal itu Ai"
"Maksudnya?" Tanya Ailina terkejut.
"Itu buktinya, kamu malah senang bisa berduaan dengan Ethan"
"Apa?!" Ailina terkejut dengan penjelasan Sofia, lalu Ailina tertawa saat menyadari sesuatu.
"Kamu Cemburu?" Tanya Ailina yang baru mengerti kenapa Sofia bersikap dingin padanya mulai kemaren, rupanya dia mengira dirinya adalah kekasih Ethan.
"Enggak, aku dan Ethan teman biasa saja, kamu gak perlu khawatir!" Sahut Sofia.
Kembali Ailina tersenyum, lebih tepatnya menahan tawa agar Sofia tidak bertambah kesal, belum sempat Ailina menjelaskan, muncul Ethan yang sudah berlarian menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Sorry aku telat, ayok!" Ucap Ethan yang hampir saja membuka pintu mobil Taksi depan, namun segera di didahului oleh Sofia.
Ethan mengerutkan kening, menatap Ailina yang kini tengah tertawa tanpa suara, dari pada harus membuang waktu untuk berdebat dengan Sofia, Ethan pun menerima saja duduk di belakang bersama Ailina.
"Kenapa Sofia, kesambet?" Ucap lirih Ethan mendekati telinga Adiknya.
"Ada yang sedang cemburu" Ailina menjawab setengah berbisik.
Tampak sekali kedekatan posisi duduk Ethan dan Ailina yang terlihat begitu mesra di mata Sofia yang melirik dari kaca depan Taksi.
Ethan yang mulai mengerti, ikut merasa lucu dan tersenyum sendiri, beberapa kali bahkan melihat ekspresi kesal dari Sofia dan membuatnya tertawa.
"Kalian tidak perlu sungkan padaku, anggap saja aku tidak ada" sahut Sofia yang tak tahan lagi.
Ailina dan Ethan saling menatap dan saling melempar senyum, ingin tertawa tapi tentu saja tak bisa dilakukannya, khawatir akan menambah Sofia semakin murka.
"Sebaiknya kakak jujur padanya" ucap Ailina berbisik.
"Untuk apa?"
"Sofia akan bersikap dingin terus padaku kak"
"Itu masalahmu, tugasmu menyelesaikannya"
"Ish, kak Ethan!"
Sofia yang hanya mendengar keduanya berisik kemudian menyela.
"Sstt, jangan berisik, kalian ngomong gak perlu kalian tahan, kecuali kalian memang ingin berbuat yang tidak-tidak disini" Sahut Sofia.
Ailina berniat membuka mulut untuk menjelaskan, namun sopir Taksi keburu memotong dan memberitahukan kalau sudah sampai di tempat yang di tuju.
Mereka pun akhirnya turun dan Ethan membayar Taksinya, sedangkan Sofia sudah berjalan cepat begitu saja, tanpa menunggu Ailina dan juga Ethan.
"Orang cemburu, tingkahnya makin aneh" ucap Ailina.
"Nanti jelaskan saja padanya"
"Harusnya Kak Ethan yang menjelaskan"
"Ck, aku tidak ada hubungan apapun, beda denganmu, kalian kan berteman baik, jangan sampai pertemanan pecah gara-gara kesalahpahaman konyol seperti ini Ai"
"Iya kak Aku tau, Sofia sangat baik padaku, begitu juga Kania, mereka berdua adalah sahabat sejati ku"
"Hem, aku tau" ucap Ethan yang kini sudah berjalan berdampingan dengan Ailina.
"Oh iya kak, apa kak Ethan tak ada hati sedikitpun?" Tanya Ailina menatap Ethan berharap ada perubahan di wajahnya, tapi nyatanya tidak sama sekali.
"Kamu bisa menjawab sendiri bukan, aku lebih menganggapnya adik saja, tidak lebih"
"Yah, kasian dong Sofia kak"
"Hati tidak bisa di paksa Ai, belum ada wanita yang membuat hati kakakmu ini merasakan sesuatu yang berbeda, mungkin karena Mommy juga tak merestui kalau kita menjalin kasih dengan seseorang di saat sekarang ini, dan kamu juga jangan berani-berani "
__ADS_1
"Terlanjur kak"
"Apa?!, Ailina!" Seru Ethan menghentikan langkah dan menatap tajam adiknya.