THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 57


__ADS_3

Langkah kaki memasuki ruangan yang begitu gelap untuk sesaat, lalu kemudian cahaya lampu yang dihidupkan tiba-tiba membuat matanya sesaat terkejut.


"Kita dimana paman?" Pertanyaan dari suara Tuan muda yang baru saja di temukan.


"Untuk sementara, ini adalah tempat teraman Tuan muda"


"Hem, terimakasih paman sudah mencarikan tempat untuk ku bersembunyi" ucap sang Tuan muda.


"Sudah tugasku tuan, dan jangan keluar dulu sampai tuan muda benar-benar sembuh, luka di tubuh anda sangat serius" ucap sang Paman.


Sky hanya tersenyum setelah menatap sang Paman sekejap.


"Tuan Sky, maafkan saya, tidak bisa menjaga anda dengan baik, sampai tidak mengetahui ada penghianat di balik para pengawal yang aku pilih, maafkan saya Tuan" ucapnya lagi.


"Paman, tidak apa-apa, bukan salah paman, aku pun tidak menyangka akan hal itu, yang penting aku selamat dan untuk sementara kita sudah mendapatkan tempat yang aman" ucap Sky.


"Iya Tuan, beristirahat lah, ada dua kamar disini, saya berada di ruangan sebelah kamar ini" ucap sang Paman.


"Hem, pergilah" sahut Sky.


Sesaat Sky melihat keadaan kamar yang tak luas namun bersih dan tertata dengan rapi, tempat yang sangat lumayan untuk bersembunyi di dalam ruang bawah tanah lengkap dengan sistem keamanan yang sangat canggih.


"Dari mana Paman mendapatkan fasilitas ini?" Ucap lirih Sky berbicara dengan dirinya sendiri.


Sky berjalan memasuki kamarnya, memeriksa sekeliling dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalamnya, membersihkan diri sejenak lalu segera keluar dengan wajah sedikit meringis menahan nyeri luka yang ada di tubuhnya.


Lalu Sky segera duduk di atas tempat tidur, tidak menyia-nyiakan kesempatan, dirasa tubuhnya segar kembali, segera melakukan meditasi dengan tenaga yang tersisa untuk menyembuhkan dirinya sendiri walaupun tidak bisa terlalu cepat karena keterbatasan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki saat ini.


Ceklek.


Pintu terbuka, sang paman tersenyum, berjalan pelan karena tak ingin mengganggu konsentrasi sambil membawa sebuah minuman, meletakkan diatas meja tanpa suara, lalu berjalan keluar dan menutup pintu.


Perlahan Sky menutup kekuatan supranatural nya, mengehentikan aktifitasnya saat tubuhnya merasa sudah lebih baik, luka menganga yang ada di beberapa tubuhnya kini sudah menutup, dan keringat pun membanjiri tubuhnya setelah mengeluarkan begitu besar tenaga supranatural nya.


Sky melihat ada minuman dan beberapa roti yang sudah tersedia di atas meja, lalu segera beranjak dan mengambilnya untuk mengisi perutnya demi memulihkan tenaganya kembali.


Setelah itu berjalan keluar menunju tempat sang paman yang masih berada di dapur kecil dan sedang mengerjakan sesuatu.


"Apa yang paman lakukan?" tanya Sky.


"Membuat makan malam"


"Terimakasih paman" ucap Sky.


"Sudah tugas ku, menjaga tuan muda, itu adalah sumpahku sebelum_" sang paman mengehentikan ucapannya yang dirasa berlebihan.


"Maaf Tuan muda" ucap sang Paman lagi.


"Tidak apa-apa paman, Almarhum Daddy tidak salah memilih paman untuk menjagaku" ucap Sky.


"Terimakasih Tuan"

__ADS_1


"Lalu, siapa yang sudah memberikan tempat ini?" Tanya Sky yang masih penasaran.


"Oh tempat ini, kebetulan aku mempunyai keponakan di negara ini, dan dia adalah orang penting yang bekerja dengan keluarga milyarder disini" jawab Sang Paman.


"Keluarga milyarder?" Tanya Sky.


"Iya Tuan, sangat terkenal, tapi juga sangat tertutup dari dunia luar, hanya itu yang aku tau" jawab sang paman.


"Hem, sampai kan rasa terimakasih ku kalau paman bertemu lagi dengannya" ucap Sky yang sebenarnya semakin penasaran dengan sosok yang membantunya.


"Keponakan ku tidak tau tentang anda Tuan, keberadaan tuan muda harus benar-benar aku sembunyikan"


"Lebih baik memang begitu, lebih aman kalau dunia menganggap ke sudah mati" ucap Sky dengan wajah nampak sekali luka yang tersembunyi.


"Maaf kan saya tuan muda, tidak bisa_"


"Sudahlah paman, aku bersyukur kita masih bisa bernafas sampai saat ini" sahut Sky dan menuju kamarnya kembali.


*


*


Ailina terbangun dari tidurnya, sekali lagi membuatnya begitu jengkel saat bermimpi bertemu dengan Sky kembali.


"Sepertinya aku perlu lebih sering melakukan meditasi menenangkan diri ku, laki-laki bre-ng-sek itu sering sekali muncul di mimpiku dan merusak mood ku" gumam Ailina lalu segera mengambil air minum diatas meja kamarnya.


Ethan kembali menyambangi kamar Ailina, saat mendengar sesuatu.


"Tidak ada kak, mimpi buruk saja"


"Sky?" Selidik Ethan.


"Aku berharap laki-laki itu pergi dari pikiranku" ucap Ailina merengut kesal sendiri.


"MENYEBALKAN!!" teriak Ailina tiba-tiba.


"Ada apa ini?!" Teriak Evan yang sudah berlari ikut masuk ke kamar Ailina.


"Tidak ada, Ailina hanya kesal saja" jawab Ailina.


"Oh my God, kamu mengejutkan ku saja pagi-pagi Ai!" Ucap Evan kesal.


Ailina hanya memandang dengan kekesalannya yang masih tersisa, Ethan hanya mengangkat bahunya sejenak sebelum akhirnya pergi dari sana, Evan terpaksa tersenyum demi kenyamanan hati Ailina.


"Ada apa dengan Ailina kak?" Tanya Evan.


"Sky muncul di mimpinya lagi" jawab Ethan terus melangkah menuju taman belakang.


"Oh pantas, mukanya nampak mengerikan, rupanya dia kesal dengan bayangan Sky" sahut Evan.


"Jangan menyebutkan nama itu di depannya kalau tidak ingin mendapati wajah sangar Adik perempuan kita satu-satunya" Ethan memperingatkan.

__ADS_1


"Hahaha, siap kak, jangan khawatir " sahut Evan.


"Aku serius Ev" ucap Ethan lagi.


"Iya kak, aku ngerti" jawab Evan.


Keduanya kini sudah bersiap untuk berlatih di pagi hari, waktu kosong beberapa hari tak di gunakan sia-sia begitu saja, melatih semua kekuatan yang dimiliki dengan sungguh-sungguh, terkadang ditemani oleh kedua orang tuanya.


Ailina menyusul kemudian, pertarungan ketiga anak muda itupun berlangsung cukup seru, hingga akhirnya kedua orang tuanya ikut bergabung bersama dengan mereka.


"Perhatikan langkahmu Ev!" Teriak Edward.


"Siap Dad!" Jawab Evan.


Sementara Alena kini menyerang Ailina dengan kekuatannya, kekuatan mommy nya tidak bisa dianggap enteng tentunya, hingga Ailina harus benar-benar waspada saat serangan ditujukan padanya.


"Ada yang menganggu konsentrasi mu sayang?" Tanya Alena yang akhirnya membobol kekuatan Ailina.


"Sorry Mom" ucap Ailina.


"Jaga konsentrasi mu, berpikir jernih lah saat menggabungkan kekuatan mu, atau_"


Dag


"Akh!"


Ailina menjerit saat tendangan sang Mommy berhasil mendarat di lengannya.


Alena menghentikan serangan, terdiam dan masih menatap Ailina yang kini tengah berusaha menata tubuhnya setelah terhuyung.


"Sorry Mom, sekarang aku siap"


"Oh ya?, bagus" ucap Alena tersenyum tipis dan bersiap menyerang Ailina kembali.


Ailina memejamkan mata sejenak, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi otaknya untuk berkonsentrasi penuh sebelum serangan sang Mommy selanjutnya.


Ailina benar-benar berkonsentrasi, Alena menyerang dengan cepat, dan kali ini tak satupun tendangan berhasil menyentuh dirinya.


Alena tersenyum senang, melihat anak perempuannya begitu pandai mengkondisikan pikirannya walaupun banyak beban pikiran.


"Bagus sayang, kau benar-benar anak gadisku yang sangat tangguh" batin Alena merasa puas dengan apa yang dilihat dari sosok putrinya.


Ailina merasa saat yang tepat untuk memulai serangan balasan, tentu saja Alena di buat sedikit kerepotan, karena dia tau betul kekuatan yang sebenarnya dari putri satu-satunya.


Edward melihat hal itu, kekuatan mata Ailina terpancar tiba-tiba, perisai Alena pun keluar hingga kekuatan itu tak mempan pada dirinya, sedangkan Edward yang sempat terhenti gerakannya karena imbas kekuatan Ailina kini berhasil bergerak kembali dengan menggunakan kekuatan supranatural nya.


Alena tersenyum puas, kini kembali berada di tengah pertarungan bersama dengan putrinya, tak ada yang kalah ataupun menang, hingga Edward berteriak memberi perintah untuk beristirahat.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2