
Beruntung suasana di tempat parkir itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang kebetulan selesai makan siang dan hendak pergi.
"Bukan salah anak ini, tapi maafkan suami saya" sahut Marisa yang sudah berjalan mendekati dengan rambut yang tak karuan.
"Oh my_, apa yang terjadi denganmu Bu Marisa?" Ratu begitu terkejut melihat keadaan Marisa dengan luka lebam di wajahnya.
"Laki-laki itu yang membuat seperti itu, apa mama masih menyalahkan ku?"
"Evan masuk, dan bawa Ibu Marisa" Perintah Ratu.
"Baiklah Ma, Jangan sampai pisau bedah mama menancap di tubuhnya!" Teriak Evan dengan senyum misterinya.
Ratu hanya melihat Evan yang tersenyum tengil dan membawa masuk Marisa, lalu kemudian beralih menatap tajam laki-laki yang ada di depannya.
"Jadi kau memukuli istrimu sendiri?" Tanya Ratu.
"Itu urusanku"
"Aku tanya sekali lagi, apa benar kau memukuli istrimu?"
"Iya, memangnya kenapa, itu urusanku, dan aku bisa memperlakukan Marisa sesukaku, dia wanita yang tidak berguna!"
PLAK
Satu tamparan melesat cepat mengenai wajah Dika, begitu kerasnya hingga membuat bibirnya pecah dan berdarah
"Ba-ng-sat, Wanita Sial-an!" Teriak Dika yang tak menduga sama sekali serangan tindakan Ratu yang tak bisa dia prediksi.
BUG
Kali ini bukan tamparan, tapi tepatnya pukulan dari genggaman tangan Ratu yang sudah tak bisa lagi menahan diri.
"Kau Berani memukulku!' teriak Dika yang kini sudah melesat dan menyerang Ratu.
"Kau pikir kamu yang paling hebat ha!" Teriak Ratu melesat dan menyerang Dika.
BUG PLAK BUG
"Akh!" Teriak Dika kesakitan menahan pukulan di wajahnya
"Dasar Wanita gila!" Teriak Dika lagi.
"Kau benar-benar menguji kesabaran ku Ba-ji-ngan!" Seru Ratu yang kini melesat dan menggunakan pisau yang kebetulan dia pegang untuk sedikit memberi sentuhan hingga kemudian _.
"Akh, Hentikan!" Teriak Dika yang lengannya kini sudah mengalir darah segar akibat saya-tan yang disengaja oleh Ratu.
Ratu tiba-tiba tidak bisa bergerak lagi, rupanya tangan seseorang sudah memeganginya dengan kuat.
"Hentikan sayang, kau dokter bedah, bukan psiko-pat yang bisa dengan mudah membunuh seseorang" ucap seorang laki-laki yang kini sudah menahan serangan berikutnya.
__ADS_1
"Ck, sayang, lepaskan aku" ucap Ratu merasa tak suka dengan apa yang dilakukan suaminya.
Rupanya Kaisar melihat perkelahian istrinya dengan seseorang yang tidak di kenalinya, namun dirinya yakin kalau Ratu tidak akan melakukan hal gila itu tanpa alasan yang tepat.
"Bawa laki-laki ini, antarkan ke klinik dan pastikan dia baik-baik saja, ucap Kaisar kepada dua orang pengawal yang ada di dekatnya.
"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuanmu, biarkan aku membawa Istri ku, itu lebih dari cukup"
"Bre-ng-sek, masih berani kamu menganggu ibu Marisa, aku akan benar-benar menghajar mu!" Teriak Ratu semakin kesal.
"Sayang, masuklah dan biarkan aku yang mengurusnya" sahut Kaisar yang kini mulai mengerti duduk permasalahannya.
"Aku akan membalas semua ini" ucap Dika yang masih memegangi lengannya, di tambah dengan drama dimana perempuan yang Dika bawa kini menjerit tak terima.
"Pergilah dari sini, sebelum aku berubah pikiran" perintah Kaisar cukup singkat.
"Aku tidak akan melupakan hal ini begitu saja!, Ingat itu!" Ucap Dika dengan seringai licik dan segera pergi dengan wanitanya.
Belum sempat Kaisar masuk ke dalam, panggilan seseorang membuatnya menghentikan langkah dan membalikkan badan.
"Ailina?, Kamu baru saja datang sayang?" Tanya Kaisar dan langsung memeluk gadis kesayangannya.
"Iya Pa, apa Queen juga ikut?" Tanya Ailina berharap.
"Tidak, putri cantikku itu sedang sibuk dengan ekstrakulikuler nya"
"Oh, Papa sendirian?"
"Sepertinya ada yang baru saja terjadi, apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Ailina sambil melihat sekitar.
"Iya, Mama mu hampir saja melakukan bedah plastik disini"
"What!, Yang benar saja Pa" sahut Ailina terkejut dan tertawa, begitu juga dengan Kaisar yang sudah membawa Ailina masuk kedalam.
Ailina menuju ke tempat Ratu, dirinya sempat terkejut saat melihat Marisa tengah di obati oleh kakaknya Evan dan juga Ratu.
"Apa yang terjadi Ma?" Tanya Ailina yang kini sudah berada di dekat Evan.
"Ada Papa Kania datang, dan maaf kalau harus menimbulkan kekacauan seperti ini, sungguh saya tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini" sahut Marisa yang merasa tidak enak dengan apa yang sudah terjadi.
"Keterlaluan" ucap Ailina melihat luka lebam di wajah Marisa.
Insiden hari ini cukup membuat Ratu mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi dengan Marisa, karena setelah kejadian itu, Marisa memilih menceritakan masalah yang terjadi dengan suaminya.
Bahkan rencana untuk berpisah pun juga diungkapkan, dengan alasan yang tentu saja bisa di terima oleh Ratu, lebih tepatnya pilihan Marisa dianggap yang paling tepat untuk saat ini.
Sementara itu, Evan dan Ailina kini tengah menunggu kedatangan Ethan untuk pulang bersama.
"Kemana Ethan, kenapa sampai jam segini belum datang?" Tanya Kaisar yang kini duduk diantara keduanya.
__ADS_1
"Pamitnya telat tidak lama Pa, sebentar lagi mungkin datang, masih Otw" jawab Ailina.
"Oh iya Ai, siapa Ibu Marisa itu, sepertinya kamu dan Mama Ratu begitu mengenalnya" tanya Evan penasaran.
"Dia ibu Kania, teman kak Evan yang selalu menganggu" jawab Ailina.
"Kania Senvanca?" Tanya Evan terkejut.
"Hem, tentu saja, kakak masih ingat kan?" Ucap Ailina.
"Oh my_, Sempit sekali dunia ini" sahut Evan membuat Ailina tertawa.
Evan dan Ailina segera berdiri dan beranjak pergi setelah kedatangan Ethan, ketiga Remaja itu pun segera masuk ke dalam Taksi yang sudah di pesannya.
*
*
Satu Bulan berlalu dengan aman.
Kania kini sudah berada di sebuah gedung kosong yang kebetulan berada di dekat sekolah, apa lagi yang dilakukan kalau bukan melatih Sofia yang sudah satu minggu bersamanya.
"Jangan sampai lengah Sofia, Perkuat pertahanan mu!" Teriak Kania yang kini menyerang dengan cepat.
Tendangan Kania mampu di tepis oleh Sofia, beberapa serangan yang mendadak di berikan juga mampu di baca oleh Sofia dan bisa dihindari dengan cepat.
Awal latihan di temani Ailina ternyata menunjukkan hasil yang memuaskan, karena Sofia bisa menyerap semua tehnik dasar yang di berikan.
"Aku rasa sekarang sudah cukup, setelah satu bulan ke depan, kamu pasti akan menguasai semua yang aku berikan, belajarlah sendiri dengan giat" ucap Kania yang kini sudah duduk dan beristirahat mengatur nafasnya.
"Terimakasih Kania, aku juga merasakan manfaat yang begitu banyak, lebih bisa fokus dalam berpikir dan tubuhku terasa lebih segar tidak gampang kecapekan seperti dulu" jawab Sofia yang kini sudah duduk di dekat Kania.
"Hem, sama-sama, aku berharap Ailina mau mengajariku teknik-teknik bela dirinya yang begitu langka, gerakannya bisa sangat cepat di waktu yang dia inginkan"
"Iya, aku juga meras begitu, tapi aku merasakan sesuatu yang lain juga, tehnik bela dirinya seperti tidak sewajarnya, apa kau juga merasakan hal itu Kania?"
"Tentu saja, aku kira hanya aku merasakannya, ternyata kamu juga?" Tanya Kania.
"Hem, tentu saja, tapi sudahlah, apapun keadaan Ailina, aku bersyukur bisa mengenal dan menjadi temannya" sahut Sofia.
"Begitu juga denganku, Ailina banyak membantuku dan juga Mamaku, sekarang hidup kami lebih aman dan tenang, keputusan Mama untuk segera berpisah dari Papa juga membuatku lega"
"Iya, aku heran dengan Papamu, dasar laki-laki bre-ng-sek, bagaimana bisa dia begitu membenci anak perempuan, apa Papamu itu lupa, dia lahir ke dunia ini karena seorang perempuan juga?!" Ucap Sofia yang seketika ikut emosi mengingat apa yang terjadi dengan Kania karena ulah Papanya.
Keduanya saling pandang dan tersenyum, kedekatan mereka menambah kebahagiaan masing-masing, dan mereka merasa lebih lengkap jika di antara mereka ada Ailina.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Yuk segera mampir ke channel YouTube : SINHO Channel/ SINHO NOVEL untuk mendapat cerita-cerita seru di sana.
__ADS_1
Bersambung.