THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 48


__ADS_3

Hampir satu bulan lamanya, Sofia kini mendapati perlakuan yang lebih hangat dari papanya, bahkan saudara tirinya tidak seberani dulu untuk membuat masalah dengannya.


"Kita semakin mendekati ujian Akhir, tak terasa setelah ini akan berpisah" ucap Sofia disaat semua telah berkumpul di cafe seperti biasanya.


"Hem, Jangan fokus dengan perpisahannya, tapi pikirkan nilai ujian akhir kita nanti, aku peringatkan untukmu Sofia, segera atur jadwal mu, jangan uang saja yang kamu cari" sahut Ailina.


"Aku tau, terimakasih kamu begitu memperhatikan ku Ai" ucap Sofia tersenyum manja.


"Kau menji-jikkan sekali kalau seperti itu, dasar!" Sahut Ailina dan tentu saja membuat semua tertawa.


"Kau tau Ai, seandainya aku laki-laki, pasti sudah ku ikat dirimu dengan apapun asal tak bisa lagi meninggalkan ku" ucap Sofia membuat Ailina bergidik ngeri.


"Jaga ucapanmu, aku masih Normal" jawab Ailina sambil menggeser duduknya.


"Aku juga Sofia, dan itu artinya kita akan bersaing sampai titik darah penghabisan" ucap Kania menimpali.


"Oh my_, kalian benar-benar membuatku mual!" Sahut Ailina membuat kedua sahabatnya merasa sukses mengerjai.


Sementara Ethan dan Evan hanya tersenyum melihat tingkah ketiga wanita yang ada di depannya.


"Untuk itu, tugas kami menjaganya lumayan berat" sahut Ethan.


"Dan cukup melelahkan " sahut Evan.


Semuanya tertawa kembali, begitulah mereka saling support dan berkomunikasi, walaupun dari kalangan keluarga yang berbeda, semua di satukan dengan rasa persahabatan yang tinggi.


*


*


Hingga sore hari, akhirnya Sofia pulang ke rumah diantar oleh Ailina dengan menaiki Taksi.


"Apa kamu tidak bisa menyetir sendiri Ai?" Tanya Sofia yang sangat heran dengan gaya hidup Ailina yang begitu biasa bagi seorang anak milyarder ternama.


"Bisa"


"Terus, kenapa kemana-mana harus naik Taksi?" Tanya Sofia.


"Aku ingin orang mengenalku sebagai Ailina, bukan anggota keluarga Nugraha, karena orang yang tulus itu susah di cari" jawab Ailina.


"Alhamdulillah, kalau begitu aku termasuk orang yang tulus kan?" Tanya Sofia.


"Bukan"


"Ai,!" Teriak Sofia tak terima.


"Kamu orang yang tulus meminta pertolongan saja". Sahut Ailina lagi.


"Ailina!" Teriak Sofia tak terima.


Ailina tertawa senang, berhasil membuat jengkel sahabatnya, menyadari hal itu, Kania dan Sofia ikut tertawa hingga kemudian dirinya harus turun dan pamit masuk ke dalam rumah mewahnya.

__ADS_1


"Sepi, pada kemana?" Tanya Ailina saat menyempatkan mampir masuk ke dalam rumah.


"Papa dan mama tiriku sedang melakukan perjalanan luar kota, sudah 2 hari yang lalu" jawab Sofia, Ailina terlihat mengangguk beberapa kali.


"Kamu sendirian?" Tanya Kania sambil berjalan menuju kamar Sofia.


"Apa kamu lupa kalau aku punya kakak tiri?" Sahut Sofia membuat Ailina dan Kania tersenyum mengingat Sarah.


"Tentu saja ingat, hanya saja tak percaya wanita macam itu masih ingat pulang" jawab Ailina.


"Dia butuh hemat uangnya saat ini, aku dengar dunia modelnya mengalami penurunan drastis karen sikapnya sendiri, dan dia harus mulai berhemat sepertinya" sahut Sofia.


"Oh ya, baguslah, setidaknya sang pencipta sudah menegurnya untuk menjadi lebih baik" jawab Ailina yang membuat Sofia terdiam menelaah perkataannya.


"Kok begitu?" Tanya Sofia yang kini sudah berada dikamar nya bersama dengan Kania dan Ailina.


"Aku harap begitu, bagaimana pun manusia diciptakan untuk membawa kebaikan, dan jika ada yang tidak baik, tentunya sang Pencipta tidak akan tinggal diam bukan?" Ucap Ailina terus berjalan berkeliling melihat kamar Sofia.


"Ai?" Ucap Sofia tertegun melihat sosok Ailina.


"Ya?" Sahut Ailina yang masih belum menyadari wajah serius Sofia sedang menatapnya.


"Aku sangat iri padamu" ucap Sofia membuat Ailina menghentikan langkah dan berbalik menatap nya.


"Maksudmu mu?" Tanya Ailina tak mengerti.


"Kamu sangat sempurna di mataku, bahkan cara berpikir mu begitu sederhana tapi penuh makna, aku ingin sekali mempunyai orang tua dan keluarga seperti mu" ucap Sofia.


"Iya, pastinya kamu sangat bahagia dan tak kekurangan apapun bukan?, Lihatlah aku, hanya dunia model yang aku punya, keluarga, ilmu agama dan kebahagiaan jauh dari hidupku" jawab Sofia kini menunduk.


Ailina tersenyum, lalu memeluk Sofia.


"Kamu hanya tidak pandai bersyukur saja, jadi tidak bisa melihat betapa limpahan berkah dan kebahagiaan ada di sekitarmu" ucap Ailina.


DEG.


Satu kalimat yang membuat Sofia sangat terkejut mendengarnya.


"Tapi Ai_"


"Dengar baik-baik, tidak perlu kita menatap kelebihan orang lain kalau hanya untuk membuat kita merasa sangat kekurangan, itu cara setan berbisik dan merusak hati, menjauhkan kita dari rasa syukur kepada sang Pencipta" ucap Ailina.


Sofia terdiam, memikirkan setiap perkataan Ailina, begitu juga dengan Kania yang semakin kagum akan sosok Ailina.


"Banyak makna setiap ucapan yang kamu berikan Ailina, terimakasih" sahut Kania yang sedari tadi masih terdiam dan mengamati saja.


"Alhamdulillah, aku hanya ingin pertemanan ini tidak sia-sia, dan tentu saja membawa hal yang lebih positif di setiap harinya" jawab Ailina yang kini sudah duduk dipinggiran tempat tidur Sofia.


Tak berapa lama, terdengar suara alarm dari handphone Ailina, itu pertanda waktunya untuk menunaikan ibadahnya, Ketiganya segera bersuci dan menunaikan ibadah bersama.


"Kita pulang dulu, dan hati-hatilah selama dirumah, apalagi tidak ada orang Tua mu" pesan Ailina sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah mewah Sofia bersama dengan Kania.

__ADS_1


*


*


Sementara itu, Sarah yang baru saja datang, tersenyum penuh misteri saat berpapasan dengan Sofia di tangga yang sama.


"Tunggu!" Ucap Sarah yang melihat Sofia berlalu begitu saja.


"Ada apa?" Tanya Sofia.


"Aku akan mengadakan pesta malam ini, di rumah ini tentunya, dan aku harap tidak melihatmu terganggu dengan suara bising nya" ucap Sarah.


"Terserah, asal jangan berani di lantai atas kalau tidak ingin aku membuyarkan pestamu" jawab Sofia lalu segera masuk ke dalam kamar.


Rupanya Sarah tidak berbohong, sekitar pukul sembilan malam, pesta sudah di mulai, beruntung kamar Sofia telah dilengkapi dengan peredam, hingga suara alunan musik dan juga tawa mereka semua tidak terdengar oleh sofia.


Terlihat Sarah menyambut kedatangan kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Boy.


"Apa semua berjalan sesuai rencana?" Tanya Roy setengah berbisik.


"Iya, semua sudah aku persiapkan" jawab Sarah.


Tepat jam sebelas malam, disaat Sofia benar-benar kehausan, lalu kemudian berjalan keluar dari kamar sambil menutupi telinganya yang merasa begitu bising dengan suara musik di pesta yang ada di lantai bawah.


"Benar-benar bikin pusing!" Umpat Sofia.


Baru saja dirinya tengah berpikir bagaimana cara untuk mengambil minum di dapur tanpa melewati pesta itu, dirinya dikejutkan dengan adanya air minum dalam botol yang sudah ada di atas meja tak jauh dari kamarnya.


"Oh my God, beruntung sekali ada air minum disini, tapi milik siapa ya, melihat botolnya seperti yang biasa ada di dalam lemari es rumah" ucap lirih Sofia bicara sendiri.


Disaat yang bersamaan, seorang asisten rumah tangga tengah lewat, tentu saja Sofia yang sudah tak bisa menahan haus lagi, segera menanyakan.


"Itu air yang disiapkan untuk Nona Sofia, tadi Nona Sarah yang menyuruh menyiapkan disana nona, agar nona Sofia tidak perlu ke lantai bawah yang sedang ramai orang saat ini"


"Oh, syukurlah kalau begitu, mungkin Kak Sarah tidak ingin aku mengganggu pestanya" sahut Sofia segera ngambil air putih yang ada dalam botol itu.


Berada didalam kamar, Sofia segera meminum air untuk mengatasi dahaganya, lalu kembali merebahkan dirinya karena malam semakin larut.


Beberapa menit kemudian, Sofia dikejutkan dengan sesuatu yang dirasa lain dalam dirinya, tubuhnya mulai berkeringat dingin dan ada rasa pusing hingga tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas.


"Ada apa ini?" Tanya nya dalam hati.


Sofia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, segera meraih handphone yang tak jauh darinya dengan sekuat tenaga karena jari jemarinya pun mulai susah digerakkan.


Di saat dirinya berhasil menekan nomor Salah satu sahabatnya, muncul seseorang dari arah pintu dan membuat dirinya kaget.


"Kau!" Ucap Sofia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ada langkah dengan senyuman lebar kini terus mendekati Sofia yang sudah tidak bisa menggerakkan badannya.


Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya ya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2