
"Lepaskan Ai, aku tidak apa-apa, dia tidak sampai menyentuhku" ucap Sofia yang masih berada diatas tempat tidur dengan baju yang hampir semua terlepas.
Ailina luluh, memejamkan matanya sekejab dan laki-laki itupun jatuh tak sadarkan diri dengan luka dalam yang cukup mengerikan.
Ailina segera menyambar selimut untuk menutupi tubuh Sofia, lalu memeluknya dengan erat.
Sementara Evan maju dan menghampiri laki-laki itu untuk memastikan nyawanya masih ada di dalam raganya.
"Oh my_, syukur lah dia masih hidup" ucap lirih Evan merasa lega.
Ailina memberikan bantuan tenaga pemulih nya untuk mengeluarkan racun dalam tubuh Sofia, lalu Evan segera membantu menggendong Sofia untuk di bawa keluar dan memasukkan ke dalam mobil.
"Aku akan membawa Sofia dan Kania ke rumah sakit!" Teriak Evan yang sudah memakai Mobil Sofia dan melesat pergi.
Ailina hanya menatap Ethan di tengah-tengah kekacauan yang terjadi di lantai bawah, Ethan seketika bisa melihat apa yang sudah terjadi dengan Ailina lewat mata batinnya.
Dengan langkah cepat, Ethan menghampiri dan memeluk Ailina dengan erat.
"Aku hampir saja membunuhnya kak" ucap Ailina.
"Tidak apa-apa, orang itu masih hidup, jangan khawatir" ucap Ethan menenangkan Ailina dan beberapa kali mengusap dan mencium kepalanya.
Ethan membawa Ailina keluar dari rumah mewah yang sudah berantakan itu, keadaan kembali sunyi, hanya terlihat beberapa orang yang sudah tergeletak tak sadarkan diri, termasuk Boy dan juga Sarah.
"Sebentar lagi pihak berwajib akan datang, aku sudah melaporkan semuanya, dan mereka akan mendapatkan hukumannya" ucap Ethan sambil terus melangkah pergi, dan tak lama sebuah mobil mewah menjemput mereka dan membawa pergi menyusul Evan.
Setelah memastikan Sofia dan Kania mendapatkan perawatan yang baik di Rumah Sakit, ketiga saudara kembar itu pun segera memutuskan untuk kembali ke Mansion tepat jam dua malam.
Ceklek
"Mom?"
"Dad?"
Ucap ketiga nya sangat terkejut melihat kedua orang tuanya rupanya sudah terjaga.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya Alena mendekat dan memeluk ketiga anak kembarnya.
"Maaf Mom, kita_" ucap Ethan terpotong.
"Tidak perlu kalian jelaskan, kami bersyukur kalian pulang dengan keadaan baik-baik saja" sahut Edward dengan senyuman lega.
"Maaf Dad" ucap lirih Ailina.
"Kami bangga dengan kalian, tetaplah saling menjaga satu sama lain, menolong sesama itu sudah kewajiban kita, tapi tetap ingatlah keselamatan diri sendiri okey?" Sahut sang Mommy.
__ADS_1
Ketiganya mengangguk, dan mereka semua berpelukan.
"Bagaimana kalau malam ini kita tidur bersama, rasanya sudah lama sekali kita tidak melakukan hal itu" ucap Alena.
"Iya, maaf Deddy dan Mommy sering meninggalkan kalian untuk perjalanan bisnis" sahut Edward.
"Kami tidak pernah mempermasalahkan itu dad, sungguh, kami tau kalau mommy Daddy melakukan semua itu untuk kita juga" jawab Ethan dengan bijak.
Ketiganya segera beranjak untuk membersihkan diri, lalu berkumpul kembali di kamar megah milik kedua orang tuanya untuk tidur bersama dan bercerita sambil sesekali melempar candaan hingga membuat suasana malam yang hampir saja pagi itu terlihat hidup.
Seperti yang biasa terjadi, setelah melakukan kegiatan ibadah bersama, semuanya akhirnya tertidur kembali di tempat yang sama.
Beberapa asisten rumah tangga yang ingin membersihkan kamar majikannya terkejut melihat pemandangan yang sungguh membahagiakan.
Nampak kehangatan keluarga itu begitu kuat saling mengikat, tidur bersama tak beraturan dan terlihat lucu namun juga menyenangkan membuat para asisten rumah tangga tak berani mengusik.
*
*
Sementara itu, pagi yang seharusnya hangat dan menentramkan, tidak lagi dirasakan oleh papa Sofia, kabar mengejutkan akan kejadian di rumah mewah yang hampir saja mencelakai putrinya membuatnya langsung terbang kembali ke Jakarta.
"Keterlaluan!" Teriak papa Sofia saat mengetahui semua kenyataan dari keterangan pihak berwajib tentang kejadian yang sesungguhnya.
"Aku mohon, maafkan Sarah sayang" ucap sang istri.
"Tapi sayang, bagaimana pun Sarah juga sudah kamu anggap anak kamu sendiri bukan, dia juga sangat menyayangi mu"
"Omong kosong!, Aku akan membuat perhitungan dengannya, jangan harap dia bisa terbebas dari hukuman!" Teriak papa Sofia dengan amarahnya.
"Baiklah, kalau kamu melakukan hal itu, aku akan meninggalkanmu" ancam mama Sarah berharap suaminya luluh seperti biasanya.
"Dengan senang hati" jawaban yang sama sekali tidak di duga.
Papa Sofia segera masuk ke dalam kamarnya, membuang semua benda milik istrinya dan menyuruhnya untuk keluar dari rumah mewah yang masih dalam keadaan berantakan karena kejadian semalam.
"Apa?!, Kamu benar-benar mengusirku?"
"Iya, dan segera keluar dari rumahku, proses cerai akan segera aku urus, harta yang sudah kamu dapatkan silahkan kau nikmati, tapi jangan harap kembali ke sisiku lagi!" Teriak Papa Sofia lalu pergi begitu saja menuju ke Rumah sakit.
Mama Sarah sangat terkejut, tak percaya dengan apa yang sudah terjadi, bahkan beberapa penjaga suruhan suaminya sudah menyeretnya keluar.
Begitu juga yang terjadi dengan Sarah dan Boy yang akhirnya harus mendekam di penjara, semua tuntutan hukum yang berat tentunya sudah menunggunya.
Sarah terus menangis, sedangkan mamanya kini kebingungan mencari pertolongan, dengan harta yang tak seberapa di dapat dari suaminya, rasanya tidak mungkin untuk menyewa pengacara terkenal seperti biasanya.
__ADS_1
Dan mereka semua berakhir dengan pasrah, menerima keadaan yang tidak mungkin lagi untuk diubah.
Tiga hari berlalu, Sofia kini tengah mendapatkan perawatan untuk memulihkan dirinya dari obat yang sudah merusak tubuhnya.
"Apa benar dari yang aku dengar, Papa sudah memutuskan hubungan dengan mereka?" Tanya Sofia yang tengah duduk diatas tempat tidur Rumah Sakit.
"Benar sayang, Papa sudah merasa lega" jawab sang Papa.
Sofia tersenyum, Tak ada pertanyaan lagi karena dirinya yakin Papanya pasti mengambil keputusan yang terbaik, hanya rasa syukur yang dia ucapkan dalam hatinya karena doa-doanya selama ini terjawab sudah.
Tak lama setelah perbincangan hangat itu, datang Kania bersama dengan mamanya, mereka saling berpelukan dan menyapa, moment itu di gunakan dengan baik oleh orang tua masing-masing untuk saling mengenal.
"Sepertinya mama mu cocok juga kalau bersanding dengan Papa, bagaimana kalau kita jadi saudara?" Celetuk Sofia membuat Kania seketika melotot ke arahnya.
"Hahaha, memangnya kenapa?" Ucap Sofia lagi.
"Memangnya kamu siap menjadi adikku?" Sahut Kania dengan senyum miringnya.
"Tidak bisa, aku lah yang akan jadi kakakmu" jawab Sofia tak mau kalah.
"Jelas aku lah, lahirku lebih dulu darimu, dan aku akan menjadi kakak yang cukup melelahkan buatmu" ucap Kania.
"Baiklah, aku kalah dalam hal ini, tapi sepertinya kamu akan lebih ke-jam dari Sarah" jawab Sofia.
"Hahaha" keduanya tertawa cukup keras, hingga mendapat peringatan dari orang tua mereka masing-masing.
Disaat itulah muncul Ailina bersama dengan kedua saudara dan juga kedua orang tuanya yang menggunakan kaca mata hitam untuk menyamarkan diri, karena tidak ingin terjadi kehebohan saat memasuki Rumah sakit yang sebenarnya adalah milik keluarga mereka.
Baru kali ini baik Kania maupun Sofia bisa berjumpa langsung dengan kedua orang tua sahabatnya, begitu juga dengan orang tua mereka.
"Maaf kami baru bisa berkenalan dengan Tuan Prasetyo" ucap Edward setelah memperkenalkan diri.
"Oh, saya juga tuan Edward, saya benar-benar tidak menyangka kalau teman anak saya adalah salah satu cucu dari keluarga besar Nugraha, ini sangat mengejutkan saya" jawab Prasetyo merasa gugup.
Begitu juga dengan Marisa ibu Kania, bahkan dirinya tak menyangka akan kecantikan Alena yang selama ini hanya didengar lewat kabar berita saja, belum lagi ke ramah-tamahannya yang membuat Marisa benar-benar begitu mengagumi.
"Maaf ibu Marisa, saya tidak bisa berbuat banyak akan pertemanan mereka, tapi saya bersyukur mereka semua gadis yang sangat baik, saya menitipkan Ailina juga pada anda, saya ucapkan terimakasih, kalau salah silahkan ditegur" ucap Alena.
"Oh tidak, Nak Ailina sangat baik, bahkan sangat melindungi anak saya dan juga Sofia, justru saya yang sangat berterima kasih karena nak Ailina mau berteman dengan kami yang hanya orang biasa ini" jawab Marisa dengan penuh hormat.
"Kami juga orang biasa Bu Marisa, sama saja dengan yang lainnya" Jawab Alena merendah dan tidak Ingin diperlakukan berbeda.
Keadaan di ruangan itu kini berubah kembali hangat dan tidak menegangkan seperti sebelum-sebelumnya. Evan dan Ethan pun ikut bergabung berbincang dengan Ailina, Sofia dan Kania.
jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.
__ADS_1
Bersambung.