THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 60


__ADS_3

Tiba juga saatnya dimana ketiga gadis remaja itu tengah berkumpul di Resto biasnya, dengan sambutan ramah dari pemiliknya yang tak lain adalah Ratu, begitu juga dengan ibu Marisa yang ikut senang melihat kedatangan mereka.


"Sepertinya ini adalah saat yang tepat" ucap Ibu Marisa menatap sekejab Kania yang mengangguk menyetujui.


"Ada apa ini?" Tanya Ratu seperti membaca sesuatu.


"Apa ada masalah Kania?" Tanya Ailina saat merasakan hal yang sama.


"Bagaiman ma?" Tanya Kania melihat ke Marisa.


"Biar mama yang menyampaikan" ucap Marisa.


Semuanya kini duduk di tempat yang sama, Ratu pun siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan, dan sepertinya hal yang sangat penting mengingat Marisa dan Kania begitu berhati-hati saat memulai.


"Sebelumnya saya minta maaf, ada masalah dengan keluarga besar saya yang ada di daerah Kalimantan, dan kami berencana untuk pamit dan pindah kesana secepatnya" ucap Marisa.


"Apa?!" Ucap semuanya terkejut hampir bersamaan.


"Tolong Mbak Marisa, mungkin bisa di jelaskan lebih detail lagi, aku tidak mengerti, padahal tenaga mbak sangat ku butuhkan disini" ucap Ratu yang masih tidak bisa menerima.


"Iya Kania, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya ini" sahut Sofia akhirnya ikut bicara.


Marisa akhirnya menjelaskan, bahwa sesungguhnya keluarga besarnya di Kalimantan mengalami musibah, di mana kakek Kania sekarang sedang sakit keras, setelah dua tahun kepergian sang nenek.


Belum lagi usaha perkebunan kelapa sawit mengalami kebangkrutan luar biasa, entah karena pengelolaan yang salah ataupun ada sesuatu yang tidak beres di sana.


Kini sang kakek tidak ada yang mau merawatnya, saudara-saudara yang dulu selalu di bantu oleh kakek Kania, justru malah menghindar setelah sang kakek tidak bisa berbuat apa-apa.


Terpaksa Marisa anak satu-satunya, harus turun tangan dan pulang mengurus segalanya.


"Lalu bagaimana kuliahmu, kamu berjanji akan kuliah di tempat yang sama denganku Kania, apalagi Ailina sudah tidak mungkin lagi kuliah di Indonesia, lalu aku bagaimana?" Ucap Sofia dengan wajah sedihnya.


"Kau ini sudah dewasa Sofia, ada telpon dan kita bisa sering Video Call kalau itu yang kamu mau, kita akan tetap menjadi sahabat" jawab Kania.


"Tapi_" ucap Sofia terhenti.


"Kebetulan ada kabar baik buat Kania, nilai sekolahnya bisa masuk di kedokteran universitas negeri yang ada di Kalimantan" ucap Marisa.


"Oh ya, benarkah?!" Jerit Sofia merasa senang dan bangga.


"Alhamdulillah" sahut Ailina, lalu memeluk Kania begitu juga dengan Sofia.


"Heh, sepertinya aku yang sangat bodoh di sini, belum mendapatkan tempat kuliah dan harus ikut tes nantinya" ucap Sofia merasa sedih dengan keadaannya sendiri.


"Sudah aku katakan, ambil saja di jurusan modeling, itu sangat cocok dengan mu Sofia" sahut Ailina.


"Aku tidak mau, bukankah kah sudah aku katakan padamu apa yang aku inginkan" jawab Sofia.

__ADS_1


"Sudah-sudah, apapun yang kau inginkan, aku selalu mendoakan yang terbaik" sahut Kania.


Sofia tersenyum bahagia, Ailina juga memberikan senyuman untuk mensupport sahabatnya, dan mereka pun meneruskan perbincangan sekaligus menerima dengan baik alasan kepergian Kania dan juga mamanya.


Waktu bergulir begitu cepat, tepatnya jam tiga sore, Ethan dan Evan menyusul keberadaan Ailina di cafe dengan melakukan sedikit perbincangan di jalan.


"Jadi kakak akan melanjutkan kuliah di Australia?" Tanya Evan.


"Hem, sesuai yang ku inginkan, dan sepertinya nilai ku bisa menembusnya" sahut Ethan.


"Aku di sini saja, sekaligus meniti karirku di dunia tarik suara, aku tidak mungkin meninggalkannya kak" ucap Evan


"Hem, aku mendukungmu, asal kamu tau batasannya, hati-hatilah" ucap Ethan.


"Siap kak, mommy dan Daddy juga mendukung ku, sekaligus aku ingin menjaga mereka biar tidak terlalu kesepian ditinggal oleh kak Ethan dan Ailina" ungkapan Evan selain melakukan karena dirinya sendiri.


"Syukurlah, aku juga berpikir begitu, Daddy dan Mommy akan nampak tegar, berusaha biasa saja saat kita tinggalkan, tapi aku bisa merasakan kesedihan dan kekhawatiran yang luar biasa, dengan adanya kamu tetap di Indonesia membuatku lega, terimakasih Ev" ucap Ethan.


"Hei, ayolah kak, tidak perlu berterima kasih padaku, aku sendiri juga senang melakukan hal itu, kalian berdua tenang saja" jawab Evan.


Ethan tersenyum, merangkul Evan sejenak sebelum akhirnya tiba di cafe dan segera turun masuk ke dalam, suasana bertambah ramai sebelum akhirnya semua berpamitan untuk pulang ke tempatnya masing-masing.


*


*


Satu bulan berlalu, saatnya Kania berpisah dengan kota Jakarta beserta semua kenangan yang ada didalamnya, dan yang terberat saat ini adalah harus jauh dari kedua sahabatnya.


"Oh my God, nafasku hampir habis" ucap Sofia.


Ailina tertawa, lalu ikut berhenti dan mengatur nafasnya sendiri, setelah itu mereka berdua berjalan beriringan mendekati rumah Kania yang napak kosong karena semua sudah diangkut di atas truk ekspedisi yang akan ikut ke Kalimantan.


"Alhamdulillah, kalian sudah datang, terima kasih ya" ucap Kania langsung memeluk kedua sahabatnya.


"Jaga diri kalian" ucap Kania lagi dan membuat Sofia dan Ailina saling pandang dan tertawa.


"Harusnya itu kata-kata ku untuk mu Kania, Dasar!" Ucap Ailina.


"Kamu yang harus hati-hati disana, jaga diri Baik-baik, jangan lupa menghubungi kami apapun yang terjadi, okey?" Sahut Sofia.


Perpisahan itu pun menyisakan kesedihan, namun apa boleh buat, semua harus terjadi karena keadaan dan cita-cita masing-masing yang harus di wujudkan, mereka sadari dan syukuri dengan tetap menjalani apa yang memang seharusnya.


Kania kini sudah pergi, tinggal Ailina dan Sofia yang duduk di sebuah tempat makan dengan pikirannya sendiri-sendiri.


"Sebentar lagi kamu juga pergi Ai" ucap Sofia.


Ailina hanya melirik sebentar setelah memasukkan suapan terakhir makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Sudah, jangan di bahas lagi, kamu nanti akan bertemu teman-teman baru yang pasti akan mengasikkan, jangan khawatir" ucap Ailina.


"Heh, jadi kamu gak sedih pisah dengan ku?" Tanya Sofia.


"Bukan begitu, sedih itu pasti, tapi jangan gunakan itu untuk alasan kita gagal menggapai cita-cita, itu namanya konyol" ucap Ailina.


"Iya sih, sudahlah, Ayo kita pulang, tiga hari lagi kamu sudah harus berangkat kan?" Tanya Sofia memastikan.


"Hem, kamu wajib mengantarku ke bandara, jangan sampai lupa" Ailina memperingatkan.


"Iya, mana mungkin aku lupa" sahut Sofia.


Ailina tersenyum, lalu beranjak setelah Sofia menghabiskan makanannya, pergi ke kasir untuk membayar, dan pulang karena nampak senja mulai menghampiri.


Tiba di Mansion, Ailina di kejutkan dengan keadaan ruangan belakang, dihiasi beberapa lampu dan bunga yang sangat indah, sepertinya akan ada acara spesial yang akan di gelar.


"Kak, ada apa?" Tanya Ailina saat Evan muncul di depannya.


"Apanya?" Tanya Evan yang masih belum nyambung.


"Ish, itu!" Tunjuk Ailina.


"Oh, nanti malam kita makan bersama, besok kak Ethan berangkat, dan kamu dua hari lagi juga berangkat, mommy mau memberikan makan malam terindah sebelum satu persatu dari kalian pergi" jawab Evan.


Ailina hanya tersenyum, entah harus senang atau bersedih, dan Evan pun memeluknya dengan erat.


"Aku akan jauh dari wanita tercantik ku" ucap Evan lirih.


"Kak, jangan semakin membuatku sedih" teriak Ailina tak terima.


"Maaf, ya sudah pergilah mandi" ucap Evan melepaskan pelukannya.


Ailina tersenyum kembali, lalu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri setelah seharian melakukan aktifitas di luar.


Tiba saatnya makan makan malam, semua nampak bahagia, Saling melempar canda dan tertawa bersama, Edward dan Alena berusaha menguatkan hati untuk tidak bersedih di hadapan anak-anaknya.


Semua pesan dan wejangan penting sudah di utarakan, sebagai orang tua tentunya tidak ingin hal buruk apapun terjadi selama anak-anaknya pergi jauh menuntut ilmu untuk menggapai cita-citanya.


Semua saling berpelukan, sungguh malam yang sangat sendu, namun kebahagiaan terasa sangat nyata di tengah-tengah kekhawatiran perpisahan yang pasti akan terjadi esok hari.


Beberapa asisten rumah tangga yang melihat hal itu merasa terharu, tak terasa mereka meneteskan air mata kesedihan saat harus menerima berkurangnya dua anggota keluarga yang akan mereka layani dengan sepenuh hati.


Begitu juga para pengawal, mereka menunduk dan menarik nafas berat, merasakan kesedihan mendapati kenyataan dua tuan muda saatnya meninggalkan rumah walaupun hanya untuk beberapa tahun saja.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.


Telah Hadir kembali Karya NOVEL TERBARU dengan Judul BLUE EYES, Yuk buruan mampir.

__ADS_1


\= T A M A T \=


Terimakasih untuk para pembaca, dan akan hadir kembali kisah Novel selanjutnya yang akan lebih seru lagi, tentang perjalanan hidup putri klan terkuat yaitu AILINA.


__ADS_2