THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 45


__ADS_3

Ketiga gadis remaja telah berkumpul di sebuah Resto yang nampak ramai di siang itu.


"Akhirnya kita bisa berkumpul kembali setelah hampir dua minggu aku tidak bisa menemui kalian" ucap Sofia begitu senang.


"Aku tahu, Nona model Sofia yang sangat cantik ini sedang sibuk bekerja karena namanya sudah melambung tinggi" jawab Kania.


"Bukan seperti itu, hanya saja jadwal kerjaku benar-benar padat, kalian tahu sendiri kan, saat ini aku tidak ingin menggantungkan hidupku kepada keluarga ku lagi" Sofia menjelaskan.


"Kami tahu akan hal itu, hanya saja aku peringatkan padamu Sofia, dunia model yang kamu geluti cukup berbahaya, berhati-hatilah, dan yang paling penting adalah jaga kesehatan mu" ucap Ailina.


"Terima kasih, asal kalian selalu mendukung ku, aku sangat bahagia, saat ini hanya kalian berdua yang aku punya" ucap Sofia dengan senyum yang sempurna.


"Ingat juga Sofia, sebentar lagi akan ada ujian kelulusan, pendidikan juga sangat penting selain karir modelmu, ingat cita-citamu kan?" Kania berkata.


"Tentu saja, aku sudah mengatur jadwal dan memberitahukan kepada manajerku, satu bulan sebelum menghadapi ujian akhir Aku tidak ingin menerima job apapun, semua waktu aku gunakan untuk belajar dengan baik" jawab Sofia.


Perbincangan itu berhenti saat Marisa kini telah tersenyum mendatangi mereka sambil membawa makanan dan minuman yang telah dipesan.


"Mama sekalian ikut makan siang kita saja" ajak Kania.


"Tidak perlu sayang, Mama sudah makan siang tadi, lihatlah pesanan dari pelanggan masih begitu banyak yang belum terselesaikan" jawab Marisa.


"Terima kasih Ibu Marisa" ucap Ailina dan juga Sofia


"Sama-sama sayang, selamat makan siang, ibu tinggal dulu ya?" Jawab Marisa.


Seperti yang dibilang oleh Marissa, siang itu di resto memang begitu banyak orang yang datang untuk memesan makan siang, bahkan tanpa mereka sadari sudah ada orang yang mengamati diam-diam.


"Besok malam acara itu akan berlangsung bukan?" Suara seorang laki-laki memulai pembicaraan sambil mengawasi Sofia.


"Iya benar sekali, dan bukankah tema yang akan kita bawa di sana sesuai dengan rencana kita?" tanya Boy.


"Tentu saja, dan tubuh Sofia pasti akan sangat indah saat memakainya" jawab rekan bisnis Boy yang tak lain adalah seorang desainer.


"Pastinya, aku sudah tidak sabar lagi melihat gadis itu tampil di atas catwalk" jawab Boy.


"Tapi apa mungkin dia akan mau melakukannya, Aku hanya takut akan terjadi sebuah tragedi di luar dugaan mu"


"Justru itu yang aku tunggu" ucap Boy dengan senyum misterinya.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Akan ada dua keuntungan, dia harus menerima, itu berarti akan ada orang-orang yang menawar tubuhnya padaku, jika dia menolak akan ada kejutan besar setelah itu" jawab Boy.


"Kau benar-benar licik Boy"


"Ayolah, bukankah dunia bisnis kita mengharuskan otak kita lebih cepat bekerja, ya walaupun dengan resiko yang cukup besar tentunya, tapi aku tidak peduli, asalkan uang mengalir ke rekeningku dan semua masalah hidupku akan selesai" ucap Boy.


"Aku tahu, untuk itu kau masih saja menempel dengan model murahan itu dan kau jadikan mesin pencetak uangmu, dasar!"


"Kau tahu sendiri kan, Sarah memang cantik, tapi dia terlalu bodoh, bahkan untuk menyadari bahwa aku hanya mempereratnya saja dia tidak bisa, selain itu, tubuhnya masih lumayan nikmat untuk pelampiasan hasrat ku" Boy menjelaskan dengan senyum miringnya.


Kedua laki-laki itu tertawa, seperti yang diinginkan, tak lama kemudian hidangan datang dan keduanya segera bersantap siang.


*


*


Malam yang membuat Sofia terlihat sibuk mempersiapkan sesuatu di kamarnya.


"Oh my_, Aku lelah sekali, tapi bagaimanapun aku harus menjalaninya, sebentar lagi aku akan libur panjang menyambut ujian akhir, semangatlah Sofia" ucap lirih Sofia menyemangati dirinya sendiri.


"Tunggu sebentar Kak, aku sudah siap, sebaiknya Kak Bianca berangkat dulu, aku akan membawa mobilku sendiri" jawab Sofia di sambungan ponselnya.


"Oke sayang, Jangan sampai telat, Aku berangkat duluan" ucap Bianca sebelum melesat pergi ke tempat acara.


Seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya, Sofia segera mengirim pesan kepada kedua sahabatnya, berpamitan dan meminta doa agar acara berjalan lancar.


Senyum manis Sofia segera mengembang saat pesan yang dikirim ke dua orang sahabatnya sudah mendapat balasan.


Lalu dirinya segera pergi dengan bersemangat dan tak lupa berpamitan dengan sang papa, kondisi keluarga Sofia saat ini sudah mulai berubah, di mana sang Papa mulai menghargai dirinya karena mengetahui karir yang ditekuninya sudah membuahkan hasil.


Sofia tidak peduli, yang dia pikirkan hanya sikap papanya yang sudah mulai berubah dan membuatnya senang, sementara sikap kakak dan ibu tirinya tidak dia pedulikan sama sekali.


"Hati-hatilah" pesan sang papa.


"Baik Pa, Sofia berangkat dulu, mungkin akan pulang tengah malam" pamit Sofia.


"Papa mengerti, pelayan yang ada di rumah sudah papa kasih tahu"

__ADS_1


"Baiklah aku berangkat dulu" ucap Sofia melambaikan tangan dan mengucap salam walaupun terkadang papanya tidak peduli akan hal itu.


Maklum saja keluarga Sofia begitu jauh dari agama, beruntung Sofia menemukan sahabat seperti Ailina dan juga Kania, dari merekalah Sofia kini mulai belajar menata dirinya dengan baik dan mengenal Tuhannya, bahkan ibadah 5 waktu sudah tidak pernah dia tinggalkan lagi.


Perjalanan 15 menit telah membawa Sofia berada di tempat yang sudah ramai dipenuhi dengan orang, Bianca segera menyambut kedatangan Sofia dan membawanya ke ruangan yang telah disediakan.


"Mana gaunku?" Tanya Sofia.


Sebuah gaun yang sangat indah sudah dipersiapkan untuknya, saya tersenyum kemudian Bianca dan beberapa orang yang sudah ditunjuk membantu Sofia memakainya.


"Seperti yang aku duga, Kau sangat cantik malam ini sayang" ucap Bianca tersenyum puas.


"Apa hanya gaun ini yang aku kenakan di atas catwalk?" Tanya Sofia.


"Sepertinya akan ada dua sesi, hanya saja entah kenapa satu gaun lagi belum dikirimkan ke sini, tenang saja, aku akan mengurusnya baby" Bianca dengan mengeringkan sebelah matanya.


"Baiklah Kak Bianca, semua aku percaya kan padamu, dan sepertinya sudah saatnya aku berada di atas sana" sahut Sofia.


"Oke, tunjukkan siapa dirimu sayang" ucap Bianca memberikan semangat.


"Tentu saja" jawab Sofia.


Panggilan peringatan kepada semua model untuk segera berkumpul dan memulai acara, Sofia dibantu oleh Bianca segera berjalan menuju tempatnya.


Seperti biasa, di acara itu Sofia harus bertemu dengan sang kakak yaitu Sarah, hanya saja kini keadaan berbalik tidak seperti dulu, karena Sofia akan berada di urutan 5 besar model yang tengah bersinar.


Sementara Sarah harus menerima keadaannya sekarang, di mana Dirinya berada jauh di bawah Sofia, hingga jenis baju dan juga penempatan urutan dirinya tampil sangat berbeda dengan Sofia.


Acara segera berlangsung, kini Sofia sudah menunjukkan kemampuannya, sorak-sorai terdengar sangat meriah, lalu kemudian iringan musik mulai mengiringi langkah para model yang ada di atas catwalk.


Hingga detik berlangsung, penampilan pertama telah dipersembahkan oleh Sofia dengan sempurna, rasa puas dari desainer yang sudah mempersembahkan gaun untuk Sofia nampak sekali disana.


"Saatnya penampilan kedua" ucap Bianca yang sudah menyambut kedatangan Sofia dan membantu mengganti gaun yang baru saja ditampilkan.


Sofia masih menunggu, dan sesaat kemudian melihat ada sesuatu yang tidak beres di mana Bianca tengah berteriak dan emosi dengan seseorang yang ada di ruangan sebelah.


"Ada apa kak?" Tanya Sofia.


"Mereka benar-benar Bre-ng-sek!" Teriak Bianca begitu Emosi.

__ADS_1


"Maksud kakak?" Tanya Sofia mulai cemas.


__ADS_2