THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 36


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, kini Kania dan juga Mamanya sudah berpindah ke tempat yang membuat mereka lebih nyaman, walaupun sangat sederhana.


"Ternyata Rumah peninggalan nenek nyaman juga ya ma, walaupun bangunannya banyak yang masih Kuno" ucap Kania.


"Justru di sini masih sangat terasa suasana masa kecil mama dulu, menyenangkan" sahut Marisa dengan senyum bahagia sambil menggerakkan tangan melakukan pekerjaannya, yaitu menyiapkan beberapa pesanan makanan dari Resto Ratu yang kini sudah kontrak kerjasama.


"Alhamdulillah Ma, disini sangat tenang"


"Iya, tapi mama minta maaf, jarak sekolahmu sedikit lebih jauh, dan hanya sepeda motor bekas yang bisa mama belikan untukmu sayang" ucap Marisa merasa tidak bisa membahagiakan anaknya.


"Hei, ayolah Ma, sepeda motor itu masih sangat bagus dan keren di kalangan remaja, tentu aku suka dan tak masalah memakainya" sahut Kania dan kini sudah bersiap untuk berangkat.


Marisa tersenyum lega melihat Kania nampak begitu senang, lalu dirinya segera bersiap untuk ikut dengan putrinya menuju Resto yang kini menjadi tempat kerjanya dengan gaji yang lumayan.


Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di Resto yang nampak masih begitu sepi.


"Mama semangat ya, ini hari pertama bekerja, tunjukkan kalau mama jago dan bisa diandalkan" ucap Kania memberikan support.


Tak lama setelah itu, datang sosok wanita cantik dengan pakaian modis, sopan dan menutup auratnya, setelah mengucap salam, keduanya saling berjabat tangan.


"Selamat datang dan semoga betah kerja disini" sapa Ratu dengan ramah.


"Iya nyonya, terimakasih sudah menerima saya" jawab Marisa penuh hormat.


"Sudah membawa pesanan masakan yang saya minta Bu Marisa?' tanya Ratu mengingatkan.


"Tentu saja, semua sudah siap Nyonya"


"Bu Marisa bisa memanggilku Ratu saja, apalagi saya lebih muda dari anda, tidak enak rasanya kalau anda memanggil saya Nyonya, karena kita di tempat ini adalah partner kerja" ucap Ratu merasa tak enak hati.


"Tapi, anda pemilik Resto sedangkan saya_"


"Kita disini sama-sama saling bekerja sama Bu Marisa, tenang saja, kita santai tapi serius okey?" Ucap Ratu yang kini sudah membawa Marisa masuk ke dalam Restonya.


Sementara Kania kini sudah berpamitan untuk kembali ke jalanan menuju ke sekolahnya, dan tiba di sana sedikit lebih pagi dari biasanya.


Kania tersenyum saat melihat jam di tangannya, lalu melipat jas hujan dan menyimpannya di jok sepeda motornya.


"Lumayan, jadi lebih pagi sampai sekolah" ucap lirih Kania berbicara dengan dirinya sendiri.


Tak berselang lama, Kania melihat Evan turun dari Taksi, namun seketika Kania terkejut melihat wajah yang menyembul dari jendela Taksi dan tersenyum, lalu melambaikan tangan ke Evan sebelum akhirnya pergi melanjutkan perjalanan.


"Bukankah itu Ailina?" Ucap lirih Kania ditengah keterkejutannya.


Dengan langkah cepat Kania segera menghadang Evan hingga membuatnya kaget.


"Astaga, apa yang kamu lakukan Kania?" Ucap Evan terheran.


"Tadi siapa?" Tanya Kania.


Evan masih sulit mencerna kata-kata Kania, hingga mengerutkan kening dan menoleh ke belakang sejenak.


"Tadi yang mana maksudmu, aku dari tadi berjalan sendirian" sahut Evan kini melanjutkan langkahnya.


"Tunggu Ev, maksudku yang berada di dalam taksi bersamamu, siapa wanita itu?!" Seru Kania membuat beberapa siswa yang ada disekitarnya langsung melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Bisa volume bicaramu di kendalikan sedikit?, Bikin salah paham orang lain saja" sahut Evan mulai tak nyaman.


"Okey sorry, tapi siapa yang bersamamu di Taksi tadi, bisa tidak kamu segera menjawab dan tidak membuatku menunggu" sahut Kania tak sabar.


"Ck, itu bukan urusanmu" jawab Evan tetap berjalan dengan tenang.


"Tapi dia temanku!" Seru Kania lagi.


"My God, pelan kan suaramu, kau ini seolah membuat stigma kalau aku ini sedang berse-ling-kuh!" Ucap Evan mulai ikutan kesal.


"Bodoh amat, gadis yang ada di Taksi bersamamu itu temanku, namanya Ailina, memang dia sangat cantik, tak ada yang bisa mengingkari itu, mata birunya juga sangat indah dan dia begitu sem_"


"Cukup, kau terlalu cerewet dan aku pusing mendengarnya, pergilah ke kelas mu dan jangan mengikuti ku, okey?" Sahut Evan menghentikan ocehan Kania.


"Tidak bisa, katakan dengan jujur, kalian pasangan?" Tanya Kania.


"Pasangan apa maksudmu?"


"Kau ini bodoh apa pura-pura bodoh?!" Ucap Kania.


"Aku memang tidak mengerti apa maksud dari ucapan mu, mungkin karena pertanyaanmu yang terlalu bodoh" sahut Evan cuek.


"Apa?!, Kau!" Teriak Kania makin kesal.


"Sudahlah, dia lebih dari pasangan, bisa dibilang kami sehidup semati selama ini, Puas?!" Sebuah Pernyataan yang membuat Kania terkejut dan tak menyangka sama sekali.


"Apa?!, Jadi kalian ini_"


"Terserah kau mengartikan bagaimana, jangan mengikuti ku lagi, mengerti?" Ucap Evan.


"Bagus, silahkan pergi" ucap Evan yang kini menghadang Kania yang hampir saja ikut masuk ke dalam kelasnya.


"Sorry, Okey, by!" Sahut Kania langsung membalikkan badan melangkah pergi menjauh dan menuju kelasnya sendiri.


"Dasar gadis aneh!" Ucap Evan ikut kesal.


*


*


Sementara hari mulai merangkak naik, keadaan sudah tidak gerimis lagi, dan di jam makan siang yang hampir tiba, Resto milik Ratu yang kini menyediakan menu beragam, mulai tampak ramai.


"Alhamdulilah, banyak yang datang" ucap Marisa yang kini sudah di kejar waktu untuk menyiapkan makan siang salah satu pelanggan.


"Bagaimana Bu, semua sudah siap kan?" Tanya Ratu dengan senyuman.


"Tentu saja sudah, saya sudah menyiapkan semua racikan bumbu dari rumah, tinggal melanjutkan masak sebentar saja" jawab Marisa.


"Bagus, ayo kita berkeringat melayani semua tamu yang datang" seru Ratu dengan penuh semangat.


Marisa tersenyum melihat bagaimana Ratu berlaku hangat kepada semua pegawainya baik yang tua maupun yang muda, terasa sekali suasana kekeluargaan yang membuat semuanya merasa nyaman saat bekerja.


Ditengah kesibukan yang dilakukan, nampak seorang laki-laki berjalan masuk bersama seorang wanita dengan mesra dan bergandengan tangan, pemandangan yang sangat indah mungkin bagi sebagian orang yang mengira mereka adalah pasangan.


Tapi tidak dengan Marisa yang kini tengah terpaku menatap laki-laki itu yang tak lain adalah suaminya.

__ADS_1


"Mas Dika?" Ucap lirih Marisa tak percaya kalau saa ini diminum berani mengumbar kemesraan dengan wanita lain di tempat umum, padahal statusnya masih sah sebagai suaminya.


"Ada apa Bu Marisa?, Anda kurang sehat?" Tanya Ratu yang kebetulan lewat dan berpapasan.


"Oh tidak, maaf, akan aku bantu" ucap Marisa kemudian ikut membawa keluar masakan yang sudah siap di santap oleh pelanggan.


Tidak diduga sama sekali, justru kini Marisa harus menguatkan hati, karena salah satu pesanan yang kebetulan dipegangnya adalah pesanan dari meja yang di tempati oleh suaminya.


"Silahkan Tuan, Nyonya, selamat menikmati" ucap Marisa dengan profesional.


"Kau!" Laki-laki itu sangat terkejut melihat orang yang dicari-carinya ternyata ada didepan mata, bukan untuk diajak berbaikan tentunya, tapi soal harta warisan yang sedang di inginkan.


Marisa ikut terkejut di saat suaminya tiba-tiba saja menyambar lengannya dan menyeretnya ke taman yang tak jauh dari sana.


"Lepaskan mas!" Teriak Marisa saat merasakan tangannya begitu sakit.


"Ikut aku pulang sekarang juga, dan tanda tangani semua surat alih kuasa yang dulu pernah aku katakan, setelah itu kau boleh pergi sesuka hatimu kemana pun"


"Tidak, apa mas sudah gila, rumah dan tanah itu warisan terakhir yang tersisa dari ibuku, mana mungkin aku memberikannya pada Mas"


PLAK


"Ahk!" Teriak Marisa memegangi pipinya yang mendapatkan tamparan keras hingga membekas.


"Berani sekarang kau padaku ha!" Teriak Dika.


"Aku sudah memberikan sebagian besar harta warisanku pada Mas, dan sekarang hanya tinggal ini yang aku miliki, kalau Mas menginginkannya juga, kami akan tinggal dimana?!" Ucap Marisa dengan mata yang sudah basah.


"Itu bukan urusanku, sekarang juga ikut aku!" Bentak Dika semakin murka dan memaksa Marisa hingga terseret beberapa langkah.


"Lepaskan mas, aku tidak mau, dan kita berce-rai saja!" Ucap Marisa kali ini dengan berani.


"Apa kau bilang?"


"Kita berce-rai!, aku yang akan mengurusnya" ucap Marisa dengan pasti.


"Hahaha, dasar wanita tak tau diri, beraninya kau mengancam ku dengan perceraian, ingat baik-baik, aku tidak akan pernah menceraikan mu jika apa yang aku inginkan belum aku dapatkan, mengerti?!" Dika tertawa menghina, lalu tangannya dengan enteng menyambar rambut Marisa dan menyeretnya keluar menuju tempat parkir.


BRAK.


Tubuh Dika tiba-tiba saja terjungkal, rupanya ada seseorang yang dengan sengaja memukulnya hingga genggaman di rambut istrinya terlepas.


"Ba-ng-sat, siapa kamu berani ikut campur urusanku!" Teriak Dika penuh emosi.


Perkelahian pun terjadi, Dika menyerang dengan brutal memakai kemampuan bela dirinya yang memang sebelumnya sering di gunakan untuk bertarung di Ring dan juga untuk menghajar anak dan istrinya.


"Hentikan!, Jangan membuat keributan disini!" Teriak Ratu.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Yuk segera mampir ke channel YouTube : SINHO Channel/ SINHO NOVEL untuk mendapat cerita-cerita seru di sana.


Novel ACCIDENT IN LOVE juga masih terus On Going Lo, jangan lupa baca juga disana ya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2