
Masih dengan tubuh yang penuh dengan keringat, Ailina mendapati pesan yang masuk menggetarkan ponselnya, melihat sejenak isi pesan yang ternyata dari Sofia.
Ailina tersenyum, rupanya ketiga sahabatnya ingin memanfaatkan waktu untuk berkumpul di tengah perpisahan yang pasti akan terjadi tak lama lagi.
"Ada apa Ai?" Tanya Evan.
"Aku akan keluar sebentar habis ini kak" jawab Ailina.
"Ngumpul sama Sofia dan Kania?" tebak Evan.
"Hem, tepat sekali, kami ingin memanfaatkan waktu bersama ini sebaik-baiknya, sebentar lagi kita akan berpisah" shut Ailina.
"Hati-hatilah" sahut Evan ikut tersenyum melihat tatapan mata bahagia dari Ailina.
Ailina mengangguk, menyambar handuk untuk mengelap wajahnya lalu berjalan masuk ke Mansion setelah pamit dengan kedua orang tuanya dan juga Ethan.
Setelah hampir tiga puluh menit bersiap, Ailina segera keluar dengan berlari kecil menyusuri trotoar yang ada tak jauh dari Mansion, seperti biasanya, menunggu taksi online yang sudah dipesan.
Begitu juga dengan Sofia dan Kania yang kini sudah tiba duluan di sebuah Mall yang cukup besar, mereka bertemu di tempat janjian, nampak Ailina melambaikan tangan yang disambut oleh senyum sumringah kedua sahabatnya.
"Dari tadi?" Tanya Ailina.
"Nggak, barusan" sahut Kania.
"Kita hampir bareng nyampenya" jawab Sofia.
"Baiklah, kita jalan yuk, keliling" ucap Ailina yang kini sudah memimpin langkahnya.
Keduanya kini berjalan berdampingan, mereka bercanda sambil sesekali melihat-lihat keramaian Mall dan juga beberapa barang yang ada disana.
Sofia yang tau betul dengan semua fashion yang sedang trend saat ini, sudah mendapatkan beberapa barang, kemudian membantu Kania untuk membeli baju dan juga beberapa pernak pernik yang lucu dan terbilang masih ramah di kantong.
Begitu juga dengan Ailina, persiapan baju dan beberapa aksesoris untuk dibawanya jauh dari negaranya sebentar lagi, mengharuskan dirinya menyiapkan beberapa baju untuk empat musim ekstrim yang bisa saja terjadi disana.
"Ini baju hangat yang cocok untukmu Ai" ucap Sofia ikut kepo dan membantunya.
"Hem, bagus juga" jawab Ailina mengambil dan mencobanya.
"Ambil beberapa dulu, baru di coba, masih banyak yang bagus ini Ai" sahut Kania memberi saran.
Ailina berhenti dan menuruti keinginan kedua sahabatnya, suasana makin ramai dan menyenangkan hingga tak terasa sudah ada sepuluh baju yang harus di coba oleh Ailina.
Sementara Sofi dan Kania masih melihat-lihat baju yang ada disana, Ailina sudah masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba semua baju yang telah di bawanya.
Tak lama Ailina melakukan hal itu, karena semu baju yang di coba nampak pas, cocok dengan tubuh dan Style nya.
"Mereka benar-benar tau seleraku" gumam Ailina sambil tersenyum merapikan semua baju yang sudah di cobanya.
BRUG
"Akh!" Teriak Ailina.
"Sorry!" Ucap seseorang.
__ADS_1
"Aku yang salah, maaf!" Sahut Ailina merasa bersalah sambil memunguti baju yang berjatuhan di lantai.
Membuka pintu ruang ganti sedikit tergesa, membuat Ailina tak sengaja menabrak seseorang.
Sementara orang itu hanya terdiam dan masih berdiri menatap Ailina yang tengah bergerak cepat merapikan baju yang akan dibelinya.
Ailina segera berdiri tegak kembali, menatap lawan bicaranya yang tak sengaja di tabrak dan terjadi insiden, namun betapa terkejutnya Ailina mendapati pemandangan di depannya.
Ailina terdiam, seolah dunia berhenti berputar, matanya masih menatap lurus dan menembus mata yang kini juga tengah menatapnya dengan senyuman tipis yang hampir tak terlihat.
"Kau_" ucap lirih Ailina setelah sesaat kembali sadar.
"Kau akan pergi jauh?" Ucap seseorang itu.
Ailina memutuskan pandangannya, jantungnya terasa ingin lepas dan berdegup kencang saat menyadari ini bukan mimpi.
"Bukan urusanmu" jawab Ailina segera membalikkan badan.
"Satu bajumu tertinggal" ucapan yang membuat Ailina berbalik kembali.
Ailina melihat laki-laki itu menyodorkan baju yang dimaksud nya, alih-alih menyahut cepat bajunya untuk segera pergi, justru semua tertahan disini.
"Lepaskan!" Ucap Ailina menyadari tangan laki-laki itu sengaja menahan bajunya.
"Jadi, kemana kamu akan pergi?"
"Sudah ku bilang, bukan urusanmu!' jawab Ailina lagi masih berusaha menarik bajunya lagi.
"Katakan padaku"
"Sky!" Ailina berteriak.
Hampir saja Ailina terjatuh saat Sky dengan sengaja melepaskan bajunya dengan tiba-tiba, namun tentu saja tak akan membiarkan tubuh Ailina membentur lantai begitu saja.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sky sambil tersenyum dan masih memegangi baju salah satu baju yang di bawa Ailina untuk menahan tubuhnya.
"Lepas!" Ucap Ailina.
Sky tersenyum, lalu melepaskan perlahan setelah memastikan posisi Ailina sudah sempurna untuk berdiri kembali.
Sementara Ailina sibuk merapikan dirinya sendiri, lalu segera menoleh untuk memprotes apa yang dilakuan Sky, namun_
"Bre-ng-sek, selalu saja hilang begitu saja" ucap Ailina celingukan menatap sekitar, berharap tau kemana arah kepergian Sky yang tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi.
"Ada apa Ai?" Tanya Sofia mengejutkan Ailina.
Ailina hanya menarik nafas panjang, lalu mengajak kedua sahabatnya untuk menyelesaikan pembayaran di kasir, walaupun hati dan pikirannya masih tertuju pada sosok laki-laki yang menghadirkan benci dan perasaan tak menentu.
*
*
Memastikan tak ada seorangpun yang mengikuti, Sky kembali masuk ke dalam sebuah tempat persembunyian yang beberapa hari sudah di tempati.
__ADS_1
"Apa Tuan muda baik-baik saja?" Sambutan sang Paman mengejutkan dirinya.
"Paman, membuatku kaget saja" sahut Sky yang kini sudah menuju meja besar dan meletakkan semua bahan makanan yang di belinya.
"Apa yang terjadi, sepertinya Tuan muda semangat sekali hari ini" ucap Sang Paman yang sudah mengambil satu persatu barang tangan ada diatas meja untuk di tata.
"Tidak ada paman, seperti biasanya saja" ucap Sky yang sebenarnya sudah berapa kali keluar dengan penyamaran yang ketat menutupi wajahnya menggunakan masker dan kaca mata hitamnya
"Kenapa sepertinya anda berbohong kali ini" sahut sang paman membuat Sky hanya tersenyum.
"Aku bertemu dengan_"
"Gadis itu lagi?" Sang Paman memotong pembicaraan.
"Hem" jawab Sky lalu berjalan membantu membereskan sisa barang.
"Sudah aku peringatkan Tuan, jangan sampai melibatkan gadis itu, kalau anda tidak ingin terjadi apapun dengannya"
"Aku tau batasanku paman" jawab Sky.
"Syukurlah, belum saatnya anda mengurusi perasaan, masih banyak tugas penting yang harus anda selesaikan nantinya"
"Aku tau" jawab Sky terdiam dengan kesedihan yang dalam.
"Maaf Tuan Sky, saya tidak bisa membantu lebih banyak lagi, seharusnya aku bisa mencegah sebelum Mommy anda berada dalam genggamannya"
Sky masih terdiam, hanya menatap sekejab sang paman, saat mendengar kata Mommy nya membuat hatinya berdenyut sakit dan khawatir akan keadaanya.
"Kita harus bersabar, saya pastikan mereka tidak berani menyentuh Mommy anda sampai hari ini" ucap sang Paman lagi.
"Hem, aku tau, karena masih ada kakek disana, tapi aku khawatir mereka diam-diam melakukan sesuatu yang tidak di ketahui kakek sama sekali" jawab Sky.
"Apa perlu saya sendiri yang menerobos mereka dan menyampaikan semuanya ke kakek anda tuan?"
"Jangan konyol paman, sebelum paman bisa melakukan itu, mereka akan memeng-gal kepala paman" sahut Sky cepat.
"Nyawa saya tidak ada artinya tuan, saya rela melakukan apapun walaupun kehilangan nyawa sekalipun"
"Kehilangan nyawa tanpa ada gunanya, itu Sama saja dengan bunuh diri, percuma paman, jangan berpikir yang tidak-tidak, kita harus bersabar dan mencari kekuatan untuk menyusun rencana yang matang" ucap Sky.
"Maaf Tuan, saya hanya tidak tega melihat penderitaan anda" jawab Sang Paman.
"Aku tidak apa-apa, harus kuat menghadapi ini semua, sebaiknya aku beristirahat dulu di kamar, luka dalam di tubuhku masih kadang terasa" ucap Sky yang kemudian meninggalkan tempatnya untuk beristirahat.
Sang Paman terdiam, melihat langkah Sky sampai menghilang di balik pintu kamar, lalu duduk dan mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
"Bisakah kita bertemu?, Ada yang ingin aku bicarakan, ini penting" ucap sang Paman.
"Baik, paman bisa ke rumah atau tempat kerjaku saja" jawaban seseorang.
"Aku tidak bisa Raka, Paman tidak bisa berjalan bebas diluaran sana"
"Oo iya, aku lupa, baiklah paman, biar aku jemput di tempat paman menunggu nantinya, tapi berjanjilah, ceritakan semuanya, jangan membuatku penasaran dan khawatir yang tak beralasan, itu sangat menyebalkan!" Protes sang keponakan yang tak lain adalah Raka.
__ADS_1
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.
Bersambung.