
Ethan menitipkan Sofia ke salah satu petugas hotel, meminta tolong untuk menjaga dan mengawasi kepadanya, tentunya dengan memberikan tips yang tidak sedikit.
"Kita pulang kak?" Tanya Evan.
"Ini hampir tengah malam, dan Ailina sendirinya di Mansion, Sofia juga sudah tertidur" jawab Ethan yang kemudian melangkahkan kaki keluar setelah melihat keadaan Sofia yang tengah tertidur pulas.
Evan mengikuti dari belakang, dan akhirnya menyusul langkah Ethan masuk kedalam lif,
"Siapa yang tega menjebak teman kakak itu?" Tanya Evan tak habis pikir.
"Entahlah, Dunia Model dan selebriti sepertimu itu memang sangat rawan, berhati-hatilah, itu salah satu alasan orang tua kita dulu pernah menentang mu" jawab Ethan.
"Aku tau kak, dan untuk itu aku akan berusaha tidak terjerumus dalam arus yang salah" ucap Evan.
"Hem, aku percaya padamu" sahut Ethan.
Evan tersenyum, ketenangan dan kehangatan saudara kembarnya selalu bisa membuatnya kuat dalam menjalani masalah apapun terutama dalam dunia hiburan yang paling banyak membawa godaan.
Tak butuh waktu lama hingga tiba di Mansion, dan benar saja, Ailina sudah berdiri dengan tatapan matanya yang begitu tajam. Evan hanya tersenyum dan tentu saja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda adiknya.
"Sorry, kami bersenang-senang dulu, disana banyak wanita se-ksi dan cantik, benar kan kak Ethan?" Ucap Evan membuat kemarahan Ailina naik ke ubun-ubun.
"Kalian!" Teriak Ailina menerjang keduanya.
Ethan tersenyum, lalu secepat kilat menyambar wajah Ailina dan menatap kedua mata biru indahnya, tanpa harus menjelaskan apapun, kini Ailina mampu melihat kejadian yang telah dialami kedua kakaknya sesaat yang lalu.
"Apa kau sudah mengerti?" Tanya Ethan.
"My God, untung kalian menyelamatkan Sofia" ucap Ailina terkejut.
"Oh.. come on kak, ini tidak seru, kenapa kakak membuka kekuatan pikiran ke Ailina, menyebalkan!" Protes Evan yang terbaru saja gagal menjalankan misinya untuk menggoda Ailina.
Ailina terkekeh dan meninju lengan Evan, lalu Evan menyambar tangan Ailina dan di bawa diatas sofa.
"Kak lepas, jangan mulai ya!" Ucap Ailina.
"Kalian jangan berisik, ini sudah malam, dan kau Evan, hentikan ulahmu!" Tegur Ethan yang tak ingin terjadi kegaduhan di tengah malam.
Keduanya segera duduk dengan tenang kembali, Ailina beranjak dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Tunggu, jadi kamu mengenal wanita ini Ai?" Tanya Evan yang baru menyadari sesuatu.
"Hem, tentu saja, dia bahkan pernah mencari ku, kami berteman dan dia gadis yang baik, usia kita juga sepantaran, hanya saja, sepertinya ada masalah dengan keluarganya, entahlah, aku tak seberapa memahami" jawab Ailina.
"Wow, amazing, ternyata kalian saling kenal?" Tanya Evan.
"Dan dia mengira aku kekasih Ailina" sahut Ethan dari belakang.
"What!!" Ucap Evan dan Ailina bersamaan.
"Sofia melihat kita pernah satu taksi Ai, saat mengantarku duluan ke sekolah kemaren" Ethan menjelaskan.
"Oh my_, lalu kakak bilang apa?" Ucap Ailina.
__ADS_1
"Aku bilang kau lebih dari kekasih, kalian adalah orang tersayang ku, dan aku tidak butuh kekasih saat ini, ayo kita tidur!" Jawab Ethan dan melangkah mendahului kedua adiknya masuk ke dalam kamar.
"Dasar kak Ethan, kenapa bilang begitu, harusnya bilang saja kita saudara!" Teriak Ailina protes.
"Diam, percuma saja teriak, kak Ethan tidak akan dengar, kamar kita kan kedap suara, sudahlah, kita istirahat saja, atau kamu mau istirahat di samping ku?" Evan tersenyum aneh menggoda Ailina.
"Dasar kakak tak ber akhlaq!" Sahut Ailina dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Evan tertawa, selalu saja kekesalan Ailina membuatnya bahagia, sebuah hiburan yang sangat menyenangkan melihat wajah judes Ailina yang dimatanya tampak bertambah cantik saja.
*
*
Pagi menjelang, Sofia berada di rumahnya sejak subuh setelah keluar dari hotel, entah kenapa tubuhnya merasa lebih segar seperti tidak terjadi apapun setelah di rawat oleh Ethan di kamar hotel itu.
"Kau pulang jam berapa?" Tanya sang papa.
"Tadi subuh Pa" jawab Sofia yang kini sudah berada di meja makan bersama dengan yg lainnya.
"Menurutmu itu benar, kau masih SMA!" Ucap Prasetyo.
"Ada insiden, dan mengharuskan ku tidur di hotel lebih dulu, karena tak mungkin berjalan pulang" sahut Sofia.
Prasetyo terkejut dan memicingkan matanya, seolah curiga dengan hal buruk yang telah di perbuat Sofia.
"Kau mabuk?" Tanya Prasetyo.
"Lalu?"
"Ada yang sengaja memberiku obat dan membuat ku hampir saja celaka" jawab Sofia dengan menatap Sarah yang sedang berada di depannya.
"Jangan menuduh sembarangan, bisa saja itu karena kau tidak kuat dengan efek minuman yang kau cicipi" sahut Sarah seolah berusaha untuk menghilangkan kecurigaan Sofia.
"Oh ya, kenapa hanya aku yang tidak kuat dengan minuman itu, sedangkan disana banyak orang yang juga menikmatinya, apa itu tidak terlalu aneh?" Sahut Sofia yang semakin yakin kalau itu adalah perbuatan kakaknya.
"Hei, kenapa seolah kau menuduhku?" Ucap Sarah lantang.
"Aku tidak pernah menuduh, tapi biasanya sang pelaku akan merasa sensitif saat ada orang yang mengetahui jalan akal busuknya" sahut Sofia.
"Kau_!" Teriak Sarah.
"CUKUP!" Sahut Prasetyo.
Dan keributan itu segera terhenti, Sofia melanjutkan makannya lagi tanpa memperdulikan tatapan tajam dari kakak dan Mama tirinya.
Sedangkan Sarah begitu terpancing amarah atas sikap yang diberikan oleh Sofia, hingga beranjak dan meninggalkan meja makan begitu saja, disusul oleh mamanya yang juga menghentikan sarapan paginya.
"Semuanya susah diatur!" Ucap Prasetyo seketika mood nya menjadi kacau.
Sofia masih terus menikmati sarapan pagi, tanpa peduli disana hanya tinggal ayahnya saja, justru itu lebih melegakan baginya.
"Aku berangkat sekolah dulu pa" ucap Sofia, lalu segera pergi.
__ADS_1
Sofia segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap, Sarah ternyata sudah ada di belakang Sofia, lalu mendorong tubuh Sofia hingga terhempas dan menendang perut serta lengannya hingga memar.
"Hentikan kak, kau menyakitiku!" Teriak Sofia yang lagi-lagi tidak bisa melawan.
"Itu Hukumanmu yang sudah berani melawanku, bre-ng-sek!" Teriak Sarah menendang kembali lengan Sofia yang sedang melindungi wajahnya.
Setelah kejadian itu, Sarah merasa puas dan segera keluar kamar dengan senyum miringnya.
Sementara Sofia bersusah payah bangun bersiap diri kembali, lalu kini berada di pinggir jalan menunggu kedatangan taksi online yang telah di pesan dengan nyeri di bagian tubuhnya yang masih dia rasakan.
Tak lama kemudian, Sofia dikejutkan dengan sosok wanita cantik yang sudah menyembulkan wajahnya dari jendela kaca mobil Taksi yang mendekati.
"Sofia!, Masuklah, kita berangkat bersama!" Teriakan sosok gadis yang tak lain adalah Ailina, tentu saja Sofia sangat terkejut tapi Juga merasa senang.
"Ailina, terimakasih sudah mau berbagi taksi denganku" ucap Sofia segera berlari masuk.
"Tidak masalah, besok bisa ikut denganku?" Tanya Ailina saat Taksi sudah mulai berjalan ke tujuan.
"Apa?!" Ucap Sofia tak percaya.
"Kau mengajakku?" Tanya Sofia dengan senyum lebarnya.
"Hem, besok hari libur, kita jalan-jalan sebentar tak ada salahnya bukan?" Sahut Ailina.
"Kemana?" Tanya Sofia bersemangat.
"Nanti saja aku jelaskan lagi, besok bertemu di resto biasa aku kunjungi, okey?" Ucap Ailina sebelum akhirnya Sofia harus turun dan bejalan meneruskan langkahnya masuk ke dalam sekolah.
"Sofia tunggu!" Teriak Ailina.
"Ada apa?!" Tanya Sofia membalikkan badan kembali.
"Obati lukamu, jangan dibiarkan saja!" Teriak Ailina sambil tersenyum.
Sofia terkejut, hanya mematung dan mera-ba luka ditubuhnya, dirinya sudah begitu rupa berusaha menyembunyikan luka di tubuhnya, dan ternyata Ailina mengetahuinya.
Keduanya saling melambaikan tangan sebelum akhirnya benar-benar berpisah, dan hari itu begitu banyak gosip di luar sana membicarakan tentang Sofia yang banyak di ketahui media, tentu saja itu ulah seseorang yang sudah direncanakan.
Tidak bisa berada dalam kelasnya, Sofia kini telah di panggil keruangan khusus di sekolahnya, tepatnya bersama dengan guru pembimbing untuk anak-anak yang bermasalah.
"Sebaiknya kamu berhati-hati Sofia, namamu sebagai siswa disini juga membawa dampak nama baik sekolah" ucap sang guru.
"Tapi semua itu tidak benar Bu, saya mengikuti pesta itu karena sebuah undangan dan mereka membawa saya seperti itu dengan paksa, bukan sedang berpesta" ucap Sofia berusaha membela dirinya yang tidak bersalah.
"Ibu tau, tapi foto yang beredar begitu vul-gar, dan pakaian yang kau kenakan juga, maaf, ibu rasa itu kurang pantas"
Sofia hanya terdiam, sungguh dirinya mulai mengerti siapa dalang di balik semua ini saat sebuah pesan masuk ke dalam handphonenya.
"Baik Bu, saya akan membenahi diri" ucap Sofia.
Jangan lupa HADIAH,VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.
__ADS_1