
Tak kalah heboh beberapa waktu yang lalu, rupanya Evan terlalu bersemangat hingga melakukan teleportasi dan mendarat di atap tertinggi Rumah Sakit, beruntung ada petugas keamanan yang kebetulan muncul sesaat kemudian untuk melakukan patroli.
"My God, hampir saja!" Batin Evan yang kini sudah ikut berlari di samping Kania yang sudah berada di atas tempat tidur pasien yang di dorong menuju ruang Gawat Darurat.
"Tuan Evan sebaiknya tunggu disini, biar kami yang menanganinya" ucap kepala ruangan gawat darurat yang tentu saja sangat mengenal Evan, Karena Rumah Sakit Elite yang dituju adalah salah satu Rumah Sakit milik kedua orangtuanya.
"Okey, tolong lakukan yang terbaik" sahut Evan.
"Tentu saja" ucap sang Dokter dan langsung masuk kembali untuk melakukan tindakan.
Tak lama kemudian, muncullah Ailina dan juga Kirana yang berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Bagaimana keadaan Kania?" Tanya Ailina.
"Masih di tangani" jawab Evan dengan baju yang berlumuran da-rah.
"My God, ganti bajumu Ev, itu sangat mengerikan" ucap Kirana yang mau tak mau akhirnya meminta bantuan suaminya yang tadinya masih membuatnya jengkel.
Alfaro segera berbalik menuju mobilnya, lalu membawa baju atasannya untuk di berikan ke Evan, sementara Ailina kini tengah duduk bersama dengan Kirana yang memeluknya.
"Bagaimana ada, seorang ayah bisa setega ini pada anaknya" ucap Kirana lirih dan tak mengerti sama sekali.
"Apa tidak sebaiknya ini di proses hukum saja, perbuatan ini sudah masuk dalam tindakan kriminal" sahut Alfaro.
"Tapi apa kita punya buktinya?" Tanya Kirana.
Sejenak semua terdiam, hingga kemudian Ailina teringat akan sesuatu.
"Aku rasa inilah saatnya" ucap Ailina membuat Kirana dan Alfaro saling pandang.
"Maksudnya?" Tanya Alfaro.
"Aku punya bukti ini Uncle" Ailina menyerahkan rekaman yang sempat di buat beberapa waktu yang lalu.
Alfaro segera mengambil handphone Ailina dan mengamati dengan serius video yang tengah di putarnya.
"Done, ini lebih dari cukup untuk membuat Ba-ji-ngan itu merasakan akibatnya" ucap Alfaro.
Ailina dan Kirana tersenyum senang, Alfaro segera menghubungi orang kepercayaannya untuk memproses semua itu.
Hampir 3 jam, Kania berada dalam penanganan yang berlanjut dengan operasi di kepalanya, dan saat dokter membuka pintu untuk memberikan kabar, rupanya Ethan sudah membawa Marisa dan Sofia berada di sana.
"Operasi berhasil dengan baik, Nona Kania wanita yang tangguh dan tak mudah menyerah"
"Alhamdulillah" semuanya mengucapkan rasa syukur hampir bersamaan.
"Tapi untuk sementara, Nona Kania akan di rawat di ruang ICU sampai kesadarannya kembali dengan baik" lanjut dokter memberikan penjelasan.
"Terimakasih Dokter, saya akan mengikuti semua prosesnya, asal Anak saya selamat" sahut Marisa dengan Air mata yang tertahan.
Kirana, Ailina dan Sofia menguatkan, sementara Alfaro, Ethan dan Evan bisa bernafas dengan lega.
"Tidak sia-sia aku tadi hampir saja jatuh dari atap gedung" ucap Evan membuat Ethan mengerutkan keningnya.
"Memangnya kamu tidak bisa mengendalikan kekuatan teleportasi mu?" Tanya Ethan setelah memastikan keadaan aman.
__ADS_1
"Hehe, aku lama tak melatihnya kak, Sorry"
"Ck, kau ini" sahut Ethan.
"Maklum kak, tau sendiri Daddy Alex masih menyegel sebagian kekuatan kita kan?"
"Hem, bayangkan kalau tidak tersegel, bisa-bisa kau mendarat di atas pesawat yang sedang terbang" sahut Ethan serius, tapi justru membuat Evan dan Alfaro tertawa.
*
*
Alena dan Edward sangar terkejut mendapatkan berita tentang apa yang tengah terjadi pada ketiga anaknya, namun juga merasa lega karena mereka bisa diandalkan, tapi tetap saja Alena tidak tega dan menitipkan mereka ke Kirana dan Alfaro yang masih berada di Indonesia.
Sementara itu, Ratu juga sangat terkejut mendengar kabar tentang Kania, dirinya segera bergegas menuju ke Rumah Sakit bersama dengan Kaisar.
"Ya Tuhan, kalian tidak apa-apa?" Tanya Ratu setelah menemukan Marisa dan mengucapkan rasa prihatinnya.
"Kami baik-baik saja Ma" jawab Ethan.
"Syukurlah, aku kesal sekali mendengar hal ini, harusnya kemaren, aku buat pisau ku menancap di otot besar kakinya biar lumpuh sekalian" ucap Ratu yang nampak emosi.
"Ish, kak ratu ke-jam juga" sahut Kirana.
"Beruntung kakakmu mencegah ku" jawab Ratu sambil melengos.
"Istrimu semakin mengerikan Kai" sahut Alfaro.
"Kau ini, tunjukkan rasa hormatmu, kami kakakmu" sahut Kaisar menunjukkan posisinya.
Hingga membuat kedua wanita tanpa berkedip mengamati.
"Apa ibu Marisa merasakan apa yang saya pikirkan juga?" Tanya Sofia.
"Iya, mereka sebenarnya siapa?" Sahut Marisa yang juga masih mencari-cari jawabannya.
"Bahkan Dokter-dokter penting di rumah sakit Elite ini begitu menaruh hormat, walaupun itu kepada Ailina, Ethan dan temannya itu" ucap Sofia masih berusaha berpikir keras.
"Ibu tidak mengenal semua laki-laki yang ada di sana, kecuali Tuan Kaisar dan satu pemuda yang sudah pernah menolong ibu waktu itu, kalau tidak salah dia Evan yang keponakan Tuan Kaisar" sahut Marisa.
"Saya juga hanya mengenal Ethan yang kebetulan satu sekolah dengan saya Bu" ucap Sofia yang masih terus mengamati.
Sofia semakin tak enak hati saat melihat Ailina berada di depan Ethan dan tak sengaja melihat Ethan membenarkan hijab Ailina, begitu juga dengan satu laki-laki lagi yang tak lain adalah Evan yang terkadang memegang tangan Ailina saat bercerita.
"Apa yang di lakukan Ailina, kampungan dan sok cantik saja, tapi dia memang cantik sih" batin Sofia.
"Ish, apa yang sudah ku pikirkan sih, lagi pula Ethan juga bukan siapa-siapa, terserah" Sofia berbicara lirih.
"Ada apa Sofia?" Tanya Marisa sayup-sayup mendengar gumaman gadis yang ada disebelahnya.
Sofia menoleh dan hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepala menandakan dirinya aman-aman saja.
Tak lama kemudian, semua pamit untuk pulang, disaat itulah Ratu mengenalkan semuanya, tentunya dengan tetap merahasiakan keluarga besarnya.
"Aku akan tinggal disini dulu" ucap Ailina.
__ADS_1
"Baiklah sayang, jangan pulang terlalu malam," pesan Kirana sebelum pergi.
"Hubungi aku lagi Ai, biar aku yang menyusulnya nanti" ucap Ethan yang kemudian mendapat anggukan dari Ailina.
Sofia masih terdiam, dan menatap Ailina dengan sorot menelisik.
"Kamu kenapa?, Menatapku sampai seperti itu" ucap Ailina.
"Tidak ada, dan itu bukan urusanku" jawab Sofia seperti tidak peduli.
"Kau itu kenapa, kalau kamu lelah, sebaiknya pulang saja dulu, biar aku dan Bu Marisa bersamaku disini" ucap Ailina.
"Kamu mengusirku?" Saut Sofia yang membuat Ailina terkejut.
"Kamu tidak sedang datang bulan kan Sof?" Sahut Ailina yang masih keheranan.
"Itu tidak penting"
"Bagiku penting, Karena kamu sepertinya sedang labil, dan kesal yang tidak jelas" sahut Ailina dengan santai.
"Kamu yang tidak mengerti perasaan temannya sendiri!" Ucap Sofia agak sedikit keras.
"Penting ya kita bertengkar disini, sementara Kania sedang memperjuangkan hidupnya?" Sahut Ailina dan membuat Sofia langsung terdiam.
Sofia lalu berdiri dan berpamitan pada Marisa, "Saya pulang dulu Bu, besok saya akan kan kesini lagi" ucap Sofia dan tentu saja membuat Ailina semakin tak mengerti dengan sikap Sofia.
"Aku antar sampai ke depan" sahut Ailina sebelum Sofia melanjutkan langkahnya.
"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri" jawab Sofia lalu melangkahkan kakinya begitu saja tanpa menoleh ke Ailina.
"Oh my God, ada apa sebenarnya dengan Sofia, apa aku berbuat salah?" Batin Ailina merasa bingung sendiri.
"Sabar Nak Ailina, mungkin Sofia hanya terlalu lelah saja" sahut Marisa menenangkan kegundahan Ailina.
"Iya Bu" jawab Ailina lalu duduk kembali.
Marisa kini tengah berbincang dan sesekali melihat keadaan Kania yang di perbolehkan melihat hanya dari jendela kaca besar saja, itupun hanya beberapa menit, karena Kania membutuhkan perawatan yang intensif.
Hingga di saat jam menunjukkan pukul 11 malam, Ailin memutuskan untuk pulang menaiki Taksi, tanpa harus merepotkan kakaknya.
Ailina segera berpamitan, lalu berjalan keluar area Rumah Sakit untuk melihat kedatangan Taksi Online yang sudah di pesannya, namun dirinya sangat terkejut disaat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melesat di hadapannya dan berhenti mendadak di depan IGD.
"lakukan pertolongan cepat!" Teriak dua orang ber jas hitam seperti seorang bodyguard.
Lalu keduanya mengangkat sosok laki-laki ke atas tempat tidur yang sudah di dorong oleh petugas IGD untuk mendekat.
Ailina melihat semuanya, dan seketika membelalakkan mata di saat wajah penuh darah dengan mata terpejam terlihat dengan jelas di matanya.
"DIA_!" Ucap Ailina.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Yuk segera mampir ke channel YouTube : SINHO Channel/ SINHO NOVEL untuk mendapat cerita-cerita seru di sana.
Bersambung.
__ADS_1