Tiga Kehidupan

Tiga Kehidupan
Masa lalu Zanir


__ADS_3

Setelah selesai mengajar, Zanir membuka pintu yang di depannya bertuliskan "Wallace" dengan keras hingga terdengar suara Dag! yang membuat telinga sakit saat mendengarnya.


"Alis! Lihat, apa yang kubawa untukmu!"


Seorang laki-laki sedang duduk di sofa sambil menyeruput kopi dengan tenang. Mata merahnya menangkap Zanir yang baru saja masuk dengan caranya seperti biasa.


"Aku harap kau membukanya lebih pelan. Katanya. "Ini sudah kesekian kalinya kau merusak pintu."


"Oh, ayolah. Jangan memikirkan hal sepele seperti itu."


Alistair menghela nafas pasrah. Mau dinasehati seperti apapun sudah pasti tidak akan di dengar olehnya. Sifatnya yang selalu seenaknya sendiri membuat Alistair kewalahan menghadapinya.


Bungkusan yang dibawa Zanir diletakkan di atas meja dan dia mengambil satu kue dari bungkusan tersebut lalu memakannya. Kaki Zanir naik ke atas meja dan punggungnya di sandarkan ke sandaran sofa.


Alistair berdiri dan menyeduhkan kopi untuk Zanir. Gelas diletakkan di atas meja dan Alistair duduk kembali sambil membaca buku yang sampulnya sudah kusam dan kotor.


"Ada apa? Tidak seperti biasanya kau tampak sedih."


"Sedih? Siapa? aku?"


"Tidak usah menyangkal. Biar aku tebak kau bermimpi tentang dia lagi bukan?"


Zanir menunduk dan senyumnya menghilang dari wajahnya. Tebakan Alistair sangat tepat. Alis sangat mengenal Zanir, sifatnya yang seperti biasanya hanyalah akting agar bisa menyembunyikan kesedihannya tentang dia.


"Aku tidak tahu harus bagaimana Alis. Aku tidak bisa menyelamatkan dia. Seandainya..." Kata katanya terpotong.


"Itu bukan salahmu. Jika kau ingin menyalahkan seseorang maka yang harus disalahkan adalah aturan dunia ini."


Zanir terdiam dan pikirannya kembali ke masa lalu. sekitar 10 tahun yang lalu, saat itu Zanir berusia 7 tahun.


"Zanir, lihat!"


Seorang gadis cantik dengan rambut perak menunjuk danau yang sangat indah. Airnya bercahaya terang walau hari sudah malam. Gadis itu berlari ke arah danau dengan senangnya.


"Chelsea, hati-hati nanti kau akan jatuh!"


Tak lama Chelsea tersandung dan jatuh ke dalam danau. Itu tidak dalam jadi dia tidak tenggelam namun seluruh pakaiannya basah.

__ADS_1


"Chelsea!"


Zanir berlari untuk menolongnya namun saat sudah dekat dengan danau, cipratan air mengenai wajah Zanir sehingga dia kebasahan.


"Haha... Kena kau!"


Chelsea tampak senang setelah berhasil membuat Zanir basah.


"Awas kau ya!"


"Kya..!"


Zanir membalas dengan mencipratkan air namun Chelsea berlari untuk menghindari serangan. Keduanya bermain air sehingga mereka lupa bahwa waktu sudah berlalu lama dan sekarang sudah tengah malam.


"Chelsea, kurasa kita harus segera kemana atau orang-orang di rumah akan sadar kalau kita keluar rumah."


Chelsea tampak kecewa karena kesenangannya harus berakhir begitu saja namun dia tidak ingin Zanir dimarahi oleh ayahnya karena sudah mengikuti sikap egoisnya. Dengan kecewa ia terpaksa harus kembali.


"Baiklah..."


Zanir berpegangan tangan dan dengan sihir teleportasi mereka kembali ke mansion. Mereka segera berganti pakaian yang basah dengan pakaian tidur mereka.


Setelah berganti pakaian dia mencari Zanir di rumah dan mungkin saja ia akan menemukannya. Dia berdiam di depan pintu ruang kerja ayahnya, mendengar suara ayah sedang berbicara. Chelsea menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengar pembicaraan ayahnya.


"Memang benar, dengan kekuatanmu masalah ini sangatlah mudah untuk diselesaikan. Tapi, itu bukan ide yang bagus untuk pergi sendirian."


Ayahnya terdengar khawatir dan ia tidak yakin masalah apa yang dia bicarakan.


"Tuan, jika kita menggunakan pasukan kecil maka orang-orang tidak hanya akan curiga tapi juga akan terjadi kepanikan."


Suara yang didengar Chelsea selanjutnya adalah suara Zanir. Dia ternyata sedang bersama ayahnya namun ia penasaran apa yang sedang keduanya bicarakan, keduanya terdengar sangat serius.


"Baiklah. Tapi berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali dengan selamat."


"Tentu."


Keduanya selesai bicara dan Zanir segera meninggalkan ruangan. Saat pintu terbuka kedua mata mereka bertemu. Chelsea sangat terkejut sehingga dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Suaranya tidak mau keluar dari tenggorokannya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa, tuan putri?"


Chelsea melihat Zanir mengulurkan tangannya dan sikapnya berubah, dia kembali menjadi seorang pelayan seperti biasanya. Jika hanya ada mereka berdua Zanir akan memanggilnya dengan nama namun jika ada orang lain maka dia akan bersikap seperti pelayan.


Chelsea menerima uluran tangan itu dan berdiri dengan hati-hati. Dia ingin bertanya tentang apa yang ia bicarakan dengan ayahnya namun sepertinya dia tidak berniat memberitahunya karena ayah pasti menyuruh untuk merahasiakannya.


"Ya, aku baik-baik saja."


"Apakah nona lapar? Aku akan segera membuatkan sarapan."


Zanir mengandeng tangan Chelsea dan membawanya ke meja makan. Setelah beberapa menit di dapur Zanir kembali dengan membawa piring di tangannya.


"Ini dia."


Setelah menyajikannya diatas meja. Chelsea menyantap omerice buatan Zanir dengan lahap. Dia tampak senang dengan makanan buatan Zanir. Rasanya membuatnya tenang dan nyaman.


"Apakah kau sibuk? Aku ingin ingin berduaan denganmu."


Chelsea tampak sedih namun Zanir menyadari kalau dia pasti mendengar pembicaraannya dengan ayahnya. Memang tidak bisa dihindari tapi demi dirinya juga Zanir harus melindungi banyak orang.


"Jangan khawatir, setelah aku kembali dari tugasku kita akan bermain seharian. aku juga akan menuruti semua keinginanmu, Chelsea."


"Sungguh?!" Chelsea berdiri dengan semangat dan matanya berbinar-binar. Dia tidak sabar untuk saat itu tiba. Zanir tersenyum dan tanpa sadar mengelus kepala Chelsea.


"Ya. Tapi tolong jaga Lucas dan Eigero untukku saat aku tidak ada, mungkin mereka akan menangis jika aku tidak ada."


"Tapi... Sepertinya mereka lebih menyukaimu daripada diriku." Chelsea tampak kecewa. Kedua adik kembar Zanir selalu menangis jika melihat kakaknya diambil.


Meskipun mereka masih anak berusia 2 tahun tapi mereka seperti sudah mengerti kalau kakaknya diambil dari mereka. Chelsea merasa sedih karena Zanir lebih mementingkan adiknya daripada dirinya namun bukan berarti dia membencinya justru karena sifatnya yang sangat peduli dengan adiknya yang menjadikan daya tarik Zanir.


...----------------...


Segerombolan orc berjalan di dalam hutan. Tubuh mereka sangat besar dan terlihat seperti raksasa. Saat mereka berjalan membuat bumi bergetar dan menimbulkan suara yang keras. Para orc melihat jalan keluar hutan namun mereka terpental ke belakang begitu mereka mencoba keluar hutan.


Sebuah penghalang tak terlihat menghalangi jalan mereka. Satu persatu orc di paling belakang tumbang dengan sayatan pada leher mereka. Orc yang lain berbalik saat mendengar suara gedebuk yang keras.


Diatas pohon seorang anak kecil berpakaian seperti pelayan berdiri dengan beberapa pedang yang terbuat dari petir melayang di punggungnya. Para orc berjalan dan mencoba menumbangkan pohon tersebut.

__ADS_1


Orc yang paling dekat terjatuh dengan leher yang terpotong akibat pedang petir yang terbang ke arahnya dengan cepat. Satu persatu orc yang mendekati jatuh dengan luka yang sama.


"Kuharap kalian lebih menghiburku, orc rendahan."


__ADS_2