Tiga Kehidupan

Tiga Kehidupan
Melawan Hellzard


__ADS_3

Roy kelelahan dan nafasnya terengah-engah sementara Reiki yang penuh luka tetap berdiri dan masih mempertahankan posisi bertarungnya.


"Sudah selesai?"


"Tidak kusangka kau mempelajari seni bela diri. Boleh juga, Reiki."


Roy memukul ke depan untuk menyerang wajah Reiki namun berhasil ditangkap oleh Reiki dan membantingnya ke tanah. Dalam kesempatan itu, Reiki memukul ke bawah tepat di depan wajah Roy.


Roy yang menyadari akan serangan itu berguling ke samping dan berhasil menghindari serangan Reiki. Tanahnya menjadi retak terkena pukulan Reiki. tendangan samping dari Roy mengarah pada Reiki tapi berhasil di hindari dengan mudah. Tendangannya sangat cepat tapi tidak dapat menipu mata Reiki.


Pukulan datang dan mengenai perut Roy dengan kuat. Dia memuntahkan darah dari mulut dan terpental hingga menabrak pohon di belakangnya.


"Aku tidak seperti dulu lagi, Roy."


"Heh... hebat juga. Kalau begitu aku sampai di sini saja."


Roy melempar bola kecil ke tanah dan asap mengepul di sekelilingnya. Saat asap mulai menghilang, Roy sudah tidak terlihat di manapun.


"Kabur ya. Kalau begitu, aku harus segera pergi dan menyelamatkan Akiko."


...----------------...


...Sudut pandang Zanir...


"Tidak kusangka tempat sebagus ini ditinggalkan."


"Apa matamu rusak, Alis? Kau bilang tembok kotor dan bau ini bagus? Perlukah aku memperbaiki matamu itu dengan sihirku."


"Kau tidak mengerti nilainya karena itu kau mengatakan hal seperti itu!"


"Itu cuma tembok!"


"Tapi dia bernilai tinggi!"


Saat keduanya masih bertengkar, mereka merasakan getaran yang kuat.


"Apa ini? Gempa?"


"Sepertinya dia mulai menetas."


"Kita harus cepat dan pergi dari sini."


"Ya."


Aku berjalan lebih cepat dan menemukan Akiko yang berada di dalam kurungan dan diikat.


"Akiko!"


"Zanir!"


Dia menangis dan senang saat melihatku datang menyelematkan dia. Aku melebarkan jeruji besi dengan tangan kosong agar bisa mengeluarkan Akiko.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ya, hanya luka kecil."


Setelah mengeluarkan dari penjara, aku melepaskan tali yang mengikatnya. Aku juga bisa melihat bekas tamparan di wajahnya, jadi aku segera menggunakan sihir penyembuhan padanya.


"Getarannya semakin kuat, kita harus segera keluar."

__ADS_1


"Ya."


Aku menggendong Akiko di punggungku dan berlari secepat mungkin karena langit-langit mulai berjatuhan.


"Oi, Alis! Awas, diatasmu!"


Aku segera menarik kerah pakaian Alis ke belakang. Jika aku telat sedikit saja mungkin dia sudah tertimpa oleh langit-langit.


"Kau menyelamatkanku. Sekarang bagaimana? Satu-satunya jalan sudah tertutup."


"Tenang saja. Kita masih ada dia kan?"


Suara ledakan benturan keras terdengar. Itu bukan dari serangan sihir atau pengeboman massal tapi dari pukulan seseorang.


"Siapa yang kau maksud? Apakah ada orang lain selain kalian berdua?"


"Benar, sayang. Pacarmu yang baik hati sedang menuju ke sini."


"Reiki ada disini?!"


Puing-puing yang menghalangi jalan kami hancur oleh sesuatu yang kuat. Berkat sihir pertahananku jadi kami tidak terluka akibat dampak dari serangan itu.


"Apa kalian baik-baik saja?"


Reiki datang di waktu yang tepat.


"Ya, kami berhasil menyelamatkan tuan putrimu."


Aku menurunkan Akiko dan dia segera memeluk Reiki dengan gembira.


"Terima kasih sudah datang, Reiki."


"Ya, maaf karena aku datang terlambat."


"Apa itu?"


"Ini? Hanya kamera. Artefak yang dibuat oleh Alis."


"Hei, darimana kau mendapatkan itu? Aku belum selesai menyempurnakannya."


"Tenanglah, aku pinjam sebentar."


"Katakan itu sebelum mengambilnya tanpa izin."


Saat aku masih berdebat dengan Alis seperti biasa. Sosok raksasa muncul. Besarnya seperti gedung 7 lantai. Dia memiliki wajah tengkorak dan memiliki dua tanduk yang menjulang ke belakang kepala.


"Berani sekali kalian mengganggu waktu tidurku."


Reiki dan Akiko ketakutan hingga tak bisa berkata-kata. Alis seperti biasanya, dia terkagum dengan sosok monster itu. Aku yakin ia sedang memikirkan tentang artefak yang bagus menggunakan kulit Hellzard.


"Berisik."


Aku membentuk tangan seperti pistol dan mengarahkannya pada Hellzard lalu cahaya putih memadat di ujung jari telunjukku dan menembakkannya ke depan hingga Hellzard hancur begitu saja setelah mengenai [Holy shoot] milikku.


"Sudah kuduga dia lebih lemah dari yang kupikirkan."


Reiki melihatku dengan kaget dan mulutnya terbuka lebar. Sementara Akiko dan Alis tersenyum canggung saat melihatku dan mengatakan "Seperti yang harapkan dari Zanir." dengan menghela nafas.


"Apa? Aku hanya memurnikannya "

__ADS_1


"Iya, iya. Kita harus kembali. Oh, tunggu sebentar."


Alis mendekati tempat Hellzard muncul dan mengambil sampel darah Hellzard.


"Untuk apa itu?"


"Aku membutuhkannya untuk memperkuat pedangmu."


"Ooh! Apakah hampir selesai?"


"Ya, mungkin dengan darah ini, pedangmu dapat menahan kekuatanmu dan tidak hancur seperti ya terakhir kali."


Aku minta maaf tentang itu. Terakhir kali aku menggunakan pedang dari Alis sekitar sebulan yang lalu. aku hanya ingin menguji kekuatannya saja namun pedang itu langsung meleleh setelah aku menyalurkan sedikit sihir pada pedangnya.


"Baguslah kalau begitu, aku menantikan pedang baruku."


Kami akhirnya kembali ke kota dan bertemu Vivi. Dia sangat senang dan memeluk sahabatnya dengan wajah penuh air mata. Aku merasa mereka terlihat seperti ibu-anak dibandingkan sahabat.


"Syukurlah kau baik-baik saja."


"Maafkan aku, Vivi."


"Haruskah aku ikut berbahagia juga?!"


Aku memeluk keduanya. Daripada sahabat aku menganggap mereka seperti keluargaku sendiri.


"Sekarang aku mempercayai Akiko padamu, Reiki. Jujur saja aku masih belum sepenuhnya percaya denganmu tapi setidaknya untuk saat ini aku memaafkanmu."


"Terima kasih."


Vivi sekarang seperti ibu yang sedang memberi restu pada menantunya. Aku juga tidak sembarangan memberikan Akiko begitu saja pada Reiki, saat bertemu dengannya aku melihat masa depan dengan mata sihirku bahwa Reiki rela mengorbankan dirinya demi Akiko saat melawan musuh yang kuat. Itu adalah masa depan terburuk dari semua kemungkinan yang ada. Meskipun di masa depan lainnya, Reiki dan Akiko tetap bersama karena itu aku memberikan Akiko padanya.


"Baiklah, aku harus mengurus sesuatu."


Aku pergi bersama Alis dan meninggalkan mereka. Kuharap kedamaian ini terus berlanjut.


...----------------...


...Sudut pandang Sora...


"Aku bosan..."


(Mau bagaimana lagi, guild petualang diliburkan karena pertempuran melelahkan waktu itu.)


Aku saat ini sedang berbaring di tempat tidur dengan bosan. Aku tidak tahu hal yang bisa dilakukan saat libur. Kuharap aku bisa segera melakukan quest dan mendapatkan uang.


(Hei, sayang. Apa kau tidak mau bermain denganku?)


Sevira berubah menjadi sosok gadis dan duduk di atasku.


"Main? Permainan apa yang kau punya?"


(Permainan p.r.i.a-w.a.n.i.t.a.)


"Apakah itu seperti yang kupikirkan?"


(Benar sayang.)


Sevira menciumku dengan bibirnya yang lembut. Aku bisa merasakan lidahnya di dalam mulutku.

__ADS_1


"Fuah... Fufu. Aku tidak akan membiarkanmu tidur."


Dan aku tidak percaya bahwa seorang Dewi sepertinya membuat wajah seperti itu.


__ADS_2