
"Gunakan ini, tujuanmu adalah "Inti hitam" dan jangan sampai gagal."
"Baik, serahkan saja padaku."
Roy memberikan jam tangan pada bawahannya. Itu adalah artefak yang dapat berpindah dimensi. Setelah menerima jam dari Roy, dia segera pergi meninggalkannya dan melaksanakan tugasnya.
...----------------...
Sekarang adalah hari libur dan aku berencana untuk kencan berdua dengan Akiko tapi...
"Seperti yang diharapkan dari pantai, banyak sekali gadis cantik."
"Sora, bagaimana penampilanku?"
"Ya, kau sangat cantik dengan pakaian renang itu."
Kami justru datang ke pantai berlima. Aku, Sora, Zanir, Akiko dan Sevira. Aku justru terkejut bahwa rubah kecil yang selalu menempel di atas kepala Sora adalah gadis cantik.
Meskipun begitu, yang mengejutkanku adalah Zanir yang tiba-tiba datang sambil membawa pakaian renang lalu mengajak kami ke laut. Yang terburuknya dia... mengancam kami dari pada mengajak. Dia mengatakan kalau dia akan memenggal kepala kami jika tidak mau ikut dan akhirnya kami terpaksa ikut.
"Ngomong-ngomong nir, kenapa kau membawa tas sebesar itu?"
"Aku senang kau bertanya, Sora. Ini adalah tas sihir. Aku meminjamnya dari Alis."
"""Pasti dia mengambilnya tanpa izin.""" Pikir kami semua.
"Tada! Ini dia, bola Voli!"
"Jadi kau mengancam- maksudnya mengajak kami hanya untuk bermain?"
"Tentu saja. Yah, anggap saja sebagai latihan fisik juga."
Setelah membuat jaring pembatas kami membentuk tim yang beranggotakan dua orang. Ini pertarungan antara perempuan dan laki-laki. Aku satu tim dengan Sora dan lawan kami adalah Akiko dan Sevira. Sementara Zanir berdiam di pinggir lapangan sebagai wasit.
"Baiklah, mulai!"
Servis pertama dimulai dari Sevira. Peraturannya boleh menggunakan sihir tapi harus ke bolanya atau diri sendiri jika lain dari itu maka akan dianggap curang. Kurasa jika hanya melompat dan memukul maka aku bisa melakukannya.
Setiap kali bola datang, aku mengoper pada Sora. Dia menggunakan skillnya dan melompat sangat tinggi lalu memukul ke musuh.
"Yeah! Nice shoot."
Kami berhasil mendapatkan poin. Aku tidak tahu mengapa kita malah menjadi bermain voli tapi ini menyenangkan. Selagi kami berempat bermain, Zanir menghilang entah kemana.
"Oi Rei, jangan melamun!"
Aku langsung tersadar dari lamunan dan bola datang menghantam wajahku dengan keras hingga meninggalkan bekas di wajah.
"Aduh!"
__ADS_1
"Kan udah dibilang jangan melamun."
Sora mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri. Sesaat kemudian kami terkejut. Ada perasaan mengerikan yang membuat kami merinding.
"Menghindar!"
Tiba-tiba tangan muncul dari bawah dan hampir memotong tangan kami berdua.
"Sora, kamu tidak apa-apa?"
"Ya, berhati-hatilah. Sepertinya musuh mengincar kita."
"Kemana si Zanir di saat seperti ini!?"
Aku mengeluh karena orang itu tiba-tiba saja menghilang bagaikan hantu.
Sinar panas datang dan hampir mengenai Akiko dan Sevira tapi mereka berhasil menghindarinya. Namun, serangan yang meleset itu mengenai pasir dan menciptakan lubang yang besar.
"Rei, kita harus melindungi mereka!"
"Aku mengerti!"
Kami segera berlari dengan cepat dan Aku segera melindungi Akiko dengan memeluknya begitu juga dengan Sora yang memeluk Sevira.
Sinar panas datang itu datang lagi namun kali ini berbeda. Sinar itu langsung meledak di hadapan kami dan menyilaukan mata yang membuat kami buta.
Aku membuka mataku secara perlahan dan saat aku sadar aku berada di tempat lain. Aku tidak mengenal tempat ini dan aku tidak menemukan Sora, Sevira maupun Zanir.
Hmm, aku merasakan sesuatu yang lembut ditanganku.
"Bisakah kau melepaskan tanganmu dari dadaku?"
"Uwah...! Maafkan aku!"
Aku benar-benar tidak sengaja. Bagaimana ini... Jika Zanir tahu tentang ini aku pasti akan di bunuh.
"Itu... Aku tidak marah."
Oh, dia benar-benar baik!
"Hanya saja... sedikit terkejut."
Sungguh, aku mendapatkan seorang Dewi yang baik hati! Wajahnya yang merah karena malu sangat imut!
"Ngomong-ngomong kita dimana?"
"Mungkin hanya dugaanku saja tapi sepertinya kita terlempar ke dimensi lain."
Kalau yang dikatakan oleh Akiko benar kemungkinan besar Sora dan Sevira juga ada di tempat lain.
__ADS_1
"Baiklah, untuk sekarang kita temukan informasi terlebih dahulu."
Entah kenapa aku merasa lebih bodoh. Bahkan di tempat yang tidak dikenal Akiko dapat berpikir tenang dan memikirkan rencana ke depan.
"Kau hebat ya. Bisa berpikir jernih di situasi seperti ini."
"Itu karena dulu saat berlatih dengan Zanir dia selalu memberikan mimpi buruk dengan sihirnya dan pikiran yang tenang adalah kunci untuk lepas dari mimpi itu."
Sadis juga tuh orang ternyata. Tidak, dia memang iblis tanpa hati. Dia melakukan metode pelatihan yang unik. Memang benar menggunakan mimpi untuk melatih pikiran tapi itu juga dapat merusak jiwa seseorang.
"Sepertinya ada kota di depan sana. Pertama kita mulai dari sana terlebih dahulu."
Seperti yang dikatakan oleh Akiko, ada kota yang tidak jauh dari tempat kami berada sekarang. Kami berdua berjalan ke arah kota tersebut. Jika di perhatikan lebih baik lagi kota ini tampak seperti tempat kami.
Semuanya sangat mirip dan sama namun ada perasaan asing dengan tempat ini. Tempat pertama yang kami tuju saat berada di kota adalah guild petualang. Ada beberapa alasan mengapa kami ke tempat ini, alasan pertamanya adalah kami butuh uang.
Jika kami memiliki uang maka kita akan bisa memesan kamar untuk beristirahat. Semua di urus oleh Akiko dengan baik, aku hanya diam melihat saja. Setelah Akiko mendaftarkan kami berdua, akhirnya kami resmi menjadi petualang rank F.
"Ayo, kita ambil misi pertama kita."
"Ya."
Aku mengikuti Akiko dari belakang menuju papan misi. Di sana banyak sekali misi yang ditempel. Saat Akiko sibuk mencari misi, beberapa orang menyebalkan datang pada kami.
"Hei, nona cantik. Apa kau ingin kami bantu Carikan misi yang tepat?"
"Benarkah? Terima kasih."
"Tidak perlu sungkan."
Pria menyebalkan itu mengambil salah satu kertas di papan dan memberikannya pada Akiko.
"Ini misi perburuan kelinci. Kalian adalah pemula jadi itu misi yang cocok dan juga bayarannya lumayan besar."
Pria itu menjelaskan dengan wajah seram.
"Kau baik sekali. Terima kasih atas sarannya."
"Oh, hampir lupa. Ingat jika kalian merasa dalam bahaya cepatlah lari. Akan jadi masalah jika kalian mati begitu saja."
Setelah memberikan penjelasan kepada kami, Akiko menerima misi itu dan meminta persetujuan dari resepsionis. Kami pergi ke hutan yang merupakan habitat kelinci yang kami cari.
"Kenapa kau menerimanya? Dia seperti orang jahat."
"Jangan menilai seseorang dari luarnya. Mungkin dia terlihat seperti itu tapi dia orang yang sangat baik."
"Kenapa kau bisa percaya begitu saja? bukankah kau takut pada laki-laki?"
"Aku memang takut tapi aku bisa membedakan mana orang yang berniat buruk dan tidak. Lagipula, Zanir pernah mengatakan padaku untuk tidak langsung menyimpulkan seseorang tanpa tahu niat yang sebenarnya."
__ADS_1
Untuk kali ini saja aku merasa Zanir ternyata orang yang bijak.