
"Zanir!"
"Sora, kita harus membantunya!"
"Ya!"
Sora segera berlari menghampiri Zanir namun tanpa di sadari Chimera sudah berdiri lagi. Sora terkejut dengan luka di tangan Zanir sangat parah, kulitnya sudah rusak terbakar.
"Zanir. Tanganmu..."
"Oh, Sora. Kenapa kau di sini?"
"Aku mendengar suara ledakan jadi aku kemari. Yang lebih penting, tanganmu..."
"Ini? Tenang saja. Ini bukan masalah besar."
Luka di tangan Zanir perlahan menghilang dan tangannya kembali seperti sediakala.
"Lihat?"
"Eh..."
Sora tampak syok, sepertinya percuma saja dia khawatir.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Ah, aku sedang menjinakkan dia." Sambil menunjuk Chimera yang sedang bersiap menyerang kembali.
"Maksudnya Chimera?"
"Benar."
Semburan api mengarah pada Zanir, namun dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Api berhenti saat akan mencapai Zanir.
"Saat aku menceritakan sebuah cerita pada keponakanku dia berkata..."
("Paman, aku ingin memelihara Chimera!")
"Itu yang dia katakan jadi..."
"Memancing Chimera dan menyuruhku untuk membantu, sungguh merepotkan."
Seorang pria datang sambil mengeluh. Dia memiliki rambut cokelat yang dipotong pendek, memiliki mata merah serta mengenakan kacamata. Pakaiannya juga cukup formal. Memakai kemeja putih dan rompi cokelat serta dasi kupu-kupu.
"Kenapa kau malah mengeluh, Alis? Padahal kau sendiri yang bilang ingin mencoba artefak itu."
"Itu memang benar, tapi kau tak mengatakan akan memancingnya ke sini."
Alistair agak kesal dengan tindakan sembrono seperti ini. Karena, bagi Zanir membunuh Chimera hal yang mudah namun menyerang tanpa membunuhnya bukanlah keahlian Zanir.
Mau tidak mau Alistair harus membantunya sekalian mencoba artefaknya yang baru saja ia buat untuk mengisi waktu luang.
"Baiklah, maafkan aku. Kalau begitu, aku harus mengurusnya."
Chimera yang terjatuh sudah berdiri namun ia tidak bergerak sedikitpun. Zanir berjalan mendekatinya sambil menjetikan jari. Suara pecahan terdengar entah dari mana dan Chimera mengaum keras.
"Jangan sombong kau, Manusia."
"Dengarkan aku, kau tidak mungkin bisa membunuhku jadi menyerah lah saja."
"Kau pikir aku... Whoa!!"
__ADS_1
Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, Zanir menggunakan sihir gravitasi sehingga Chimera dilemparkan ke atas lalu terjatuh dengan keras.
"Diam dan turuti aku!"
Zanir memprovokasinya dengan memperlihatkan mata sihirnya. Matanya yang berwarna kuning bersinar dan membuat Chimera ketakutan.
"Baiklah, sesuai perintahmu."
"Baiklah, tuanmu bukanlah aku melainkan keponakanku jadi kau harus menuruti perintahnya."
"Mengerti."
Telapak tangan Zanir bersinar dan Chimera menyusut hingga berdiri di telapak tangan Zanir.
Setelah itu, Zanir dan Alistair berpamitan dan kembali ke istana. Sora merasa termotivasi untuk menjadi lebih kuat. Melihat Zanir membuat dirinya ingin sepertinya.
Meskipun dirinya tidak bisa menggunakan sihir hebat seperti Zanir tetapi setidaknya dia bisa setara dengan Zanir.
Sora menatap langit yang kini menjadi cerah dan awan hitam menghilang.
"Aku rasa jalanku masih panjang."
Di kerajaan, di taman belakang. Seorang anak perempuan sekitar 10 tahun dengan rambut perak yang tergerai sedang bermain dengan tanah dan tak jauh dari situ ada seorang wanita cantik yang memiliki rambut perak yang sama seperti anaknya, kulitnya seputih salju dan terlihat sangat muda.
"Hm? Paman kembali!"
Anak itu segera berlari ke arah Zanir begitu menyadari Zanir datang. Anak itu memeluk Zanir dengan senang.
"Kau yakin tidak melakukan sesuatu yang aneh bukan, Zanir?"
"Halo, Yuna. Jangan menatapku seperti itu."
"Aku selalu sehat. Lagi pula kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa bertambah tua ataupun mati."
"Kau ini. Jika kakakku, Chelsea masih hidup dia mungkin akan memaksamu beristirahat."
"Pastinya."
"Paman!"
Yui kesal karena sejak tadi ia di abaikan dan malah berbicara dengan ibunya. Dia berharap pamannya akan bermain lagi dengannya.
"Ya? Ah, maafkan aku. Ada apa?"
"Hmph!"
Yui menyilangkan kedua tangannya dan mengembungkan pipinya. Dia kesal dengan pamannya.
"Ayolah! Jangan marah sama paman. Kalo gitu, paman tidak jadi memberi hadiah untuk Yui."
"Eh?!" Yui segera memeluk dan menangis sambil meminta maaf.
"Maaf paman! Yui tidak akan marah deh. Yui akan jadi anak yang baik."
Yuna hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka. Meskipun ada sedikit rasa cemburu karena Yui lebih senang bersama Zanir ketimbang bersama ibunya.
"Bercanda~"
Yui kesal dan memukul-mukul pamannya kerena kesal telah dijahili oleh pamannya.
"Baiklah, ini dia!"
__ADS_1
Cahaya kecil melompat dari telapak tangan Zanir dan mulai membesar. Chimera muncul di depan mereka.
Chimera berlutut dan tampak jinak. Tidak ada niat membunuh ataupun semacamnya. Yuna terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa.
"Z-Zanir. Apa maksudnya ini?"
"Wah! ini kan... Chimera!"
"Tepat! Paman menangkapnya untuk menjadi teman dan penjaganya Yui saat paman tidak ada."
"Kau lagi-lagi melakukan hal gila."
"Yah... Karena Yui sangat imut jadi aku tidak tahan untuk mengabulkan permintaannya."
Zanir berjongkok agar tingginya setara dengan Yui.
"Sekarang, gunakan skill tame yang pernah paman ajarkan."
"Baik."
Yui mengarahkan telapak tangannya dan lingkungan sihir terbentuk di telapak tangannya. Biasanya penyihir harus merapal mantra namun Zanir tidak pernah mengajarkan itu kepada Yui. Dia menyuruh Yui untuk membayangkan sebuah cara kerja sihir dan sihir akan aktif dengan sendirinya.
Lingkaran sihir terbentuk di dahi kepala singa. Chimera akhirnya menjadi familiarnya Yui berkat ajaran Zanir.
Chimera berubah menjadi seukuran dengan Yui. Dia tampak patuh dan sangat penurut. Setiap kali Yui mengatakan sesuatu, Chimera tidak bisa melawannya.
"Kenapa kau tidak beri nama untuknya."
"Eh? Kalau begitu..."
Yui menutup matanya dan fokus memikirkan sebuah nama.
"Hebira! Namanya Hebira!"
Chimera bersinar dan tidak berubah. Zanir mengecek dengan mata sihirnya, dia tahu sekarang kapasitas sihir Chimera meningkat bahkan kekuatan Yui meningkat tanpa ia sadari.
"Sekarang, biarkan dia beristirahat."
Hebira masuk ke dalam bayangan Yui. Dia menyatu dengan bayangannya Yui.
"Dengan begini, Yui akan aman." Pikir Zanir.
Dengan satu hentakan kaki. taman belakang berubah menjadi padang rumput yang dipenuhi oleh bunga yang berwarna warni. Aroma wangi bunga tersebar di sekitar.
"Paman, ini sangat cantik."
"Bermainlah sepuasmu."
Yui berlarian dengan riang dan gembira melihat bunga-bunga yang cantik.
"Kau selalu saja memanjakan Yui ya."
Yuna berdiri di sebelah Zanir sambil melihat Yui yang berlarian.
"Yah, anggap saja ini sebagai penembusan dosaku."
Ekspresi Yuna menjadi sedih karena Zanir terus memikirkan kejadian itu dan terus mengalahkan dirinya sendiri. Meskipun demikian, dia tidak bisa seperti kakaknya untuk menasehati Zanir.
Menurut Yuna, selain kakaknya, tidak ada orang lain yang bisa mengubah cara berpikir Zanir.
Kakaknya adalah seorang putri yang sangat cantik dan juga orang yang selalu berpikir tentang perdamaian. Menurut cerita ayahnya, kakaknya, Chelsea. Ia orang yang membenci perang dan perselisihan, itulah sebabnya Yuna yang belum pernah bertemu kakaknya yakin kalau kakaknya adalah orang yang berhati lembut.
__ADS_1