
Waktu sudah semakin gelap dan monster tak kunjung berkurang. Para petualang telah mencapai batas stamina mereka. Darah dari monster mengotori baju mereka.
"Kagami, apa kau menemukannya?"
Zanir bertanya pada Kagami yang telah ia perintahkan untuk menemukan pemimpin yang mengerahkan seluruh monster. Jika pemimpin berhasil dikalahkan maka stampede akan berakhir untuk sementara.
"Maaf, gelombang sihirnya terus berubah."
Zanir menjatuhkan beberapa sambaran petir yang mendekat dan terus melihat sekeliling untuk menemukan pemimpin. Namun, hasilnya nihil. Mata sihirnya tidak bekerja dengan baik diakibatkan dia lebih memfokuskan untuk menyerang.
Zanir mendekati Sora yang sedang sibuk melindungi para petualang yang terluka.
"Sevira, bantu aku menemukan pemimpinnya. Aku tidak bisa melakukannya sambil bertarung."
(Meskipun menjengkelkan akan kulakukan.)
Sevira memfokuskan kekuatannya untuk mencari pemimpin monster dan membiarkan Sora bertarung tanpa instruksinya.
(Ketemu!)
"Sora, bisa kau urus pemimpinnya untukku? Serahkan saja mereka yang terluka padaku."
"Siap!"
Sora berlari dengan cepat menggunakan [Dash] dan mengejar pemimpin musuh.
Sora pergi ke tempat yang ditunjukan oleh Sevira. Dia berhenti di depan pemimpin monster. Makhluk besar yang memiliki tinggi 4 meter dan berkulit merah, Ogre.
Ogre itu memukul Sora dengan gerakan yang sangat cepat. Jika bukan karena reflek gerakan Sora yang bagus maka Sora sudah hancur seperti bubur.
"Meskipun tubuhnya besar, dia ini sangat cepat."
(Beginilah kekuatan monster yang sesungguhnya.)
Serangan selanjutnya datang dan dengan cepat Sora menghindarinya dengan melompat ke atas lalu menyerang belakang bagian belakang Ogre.
"Gah…!
Sora seorang bergerak dengan cepat ke sana kemari dan menyerang dari berbagai arah. Serangannya tidak memberikan dampak yang besar namun gerakan Ogre menjadi lambat karena tubuhnya yang mulai lelah.
"Akan ku akhiri."
(Akan kubantu.)
Sora berlari ke depan dan menusuk perut Ogre. Dengan sihir yang diberikan Sevira, pisau milik Sora jadi lebih tajam. untuk memberikan upah yang besar Sora mendorong pisaunya dari kanan ke kiri.
"Rasakan ini!"
Perut Ogre terpotong dan darah mengucur keluar. Ogre terjatuh dan tumbang, cahaya menghilang dari matanya. Tubuh Sora terkena percikan darah dan tubuhnya bau dengan darah.
(Sebaiknya kau mandi setelah ini, tubuhmu benar-benar bau.)
"Aku tahu. Aku juga tidak menyukainya. Baiklah, ayo kembali ke Zanir."
__ADS_1
Sora berbalik dan berjalan kembali ke tempat Zanir. Sementara itu, monster-monster mulai panik dan berbalik untuk mundur. Sihir yang manipulasi pikiran mereka menghilang.
"Biarkan mereka pergi!"
Zanir memberi perintah dan para petualang berhenti menyerang monster yang mundur. para petualangan kelelahan merosot ke tanah karena merasa lega dan mereka mulai bersorak.
"Kita menang!"
Mendengar teriakan itu mereka merasa senang dan bangga karena akhirnya mereka berhasil menghentikan stampede.
"Hidup yang mulia Zanir!"
"Hidup!"
Sora kembali dan berdiri di hadapan Zanir dengan tubuh yang penuh cipratan darah.
"Aku sudah selesai."
"Kerja bagus, Woah! Kau mengejutkanku, kenapa kau kotor sekali?"
Zanir segera menggunakan sihir dan membersihkan tubuh Sora. Baik bekas cipratan darah maupun bau darah menghilang dalam sekejap.
"Aku kelepasan, ehe."
"Ya udahlah. Ayo kembali, aku harus melapor ke kerajaan atau mereka akan membunuhku." Zanir berbalik dan menepuk tangannya sekali, suaranya bergema dan semua perhatian tertuju pada Zanir.
"Semuanya! Terima kasih atas bantuan kalian, mungkin terima kasih saja tidak akan cukup jadi kalian bisa mengambil hadiah ke Karen, Sekian!"
Semuanya terharu, mereka sejak awal mereka tidak mengharapkan hadiah justru pertarungan besar-besaran ini adalah hadiah bagi mereka. Tapi ini menyangkut reputasi Zanir sebagai pangeran.
Sora kembali ke penginapan dan secara tidak sengaja menemukan Reiki yang sedang duduk di bangku taman kota bersama Akiko. Kisah tentang mereka berpacaran sudah diketahui banyak orang karena bantuan Zanir.
Keduanya tampak cocok dan sangat mesra. Sora bisa melihat bunga-bunga di sekitar mereka. Mereka saling menyuapi es krim dengan senangnya.
"Wow, mereka sangat cocok ya."
"Benar kan? Aku tidak pernah salah dalam menilai seseorang."
"… … …"
"Mau kue?"
"Waaaahhh!"
Sora syok dan terkejut saat Zanir ada di sebelahnya. Sora tidak menyadari kehadiran Zanir sedikitpun.
"Kenapa kau tiba-tiba berteriak"Waaaahhh!" gitu."
"Tidak, tidak. Sejak kapan kau ada di sini?"
"Baru saja."
"……"
__ADS_1
Kupikir aku akan mati. Pikir Sora. Sora benar-benar terkejut dan jantungnya hampir saja copot. Bisa berada di dekatnya tanpa disadari oleh orang lain terkesan Zanir seperti hantu.
"Bagaimana pendapat kalian?"
(Jadi kau juga minta pendapatku?)
"Tentu saja. Kau juga seorang wanita jadi aku juga membutuhkan pendapatmu."
"Mereka lebih terlihat seperti pengantin baru dibandingkan dengan pacaran."
(Benar sekali. Dan juga si gadis Akiko itu tampaknya sangat malu tapi dia bisa menutupi rasa malunya itu dengan baik.)
Zanir mengintip sekali lagi ke Reiki dan Akiko.
"Tetapi... di luar dugaan. Mereka tetap bisa santai walaupun baru saja ada serangan."
"Kau benar."
"Yah, masa bodoh. Jika mereka bahagia maka aku juga bahagia. Nah, aku harus pergi. Sampai jumpa!"
Zanir menghilang begitu saja. Dia bagaikan angin yang besar berhembus.
"Kita juga harus segera pulang."
Sora pergi meninggalkan mereka yang masih asyik berduaan.
...----------------...
Aku menyuapi es krim ke mulut Akiko. Entah kenapa ia sangat imut sehingga rasanya aku ingin mencubit pipinya. Tapi jika aku melakukan itu sepertinya dia akan marah jadi aku menahan perasaan ini.
Meskipun begitu, rasanya aku mendengar suara benturan yang sangat keras tapi aku tidak menemukan apapun jadi kurasa itu mungkin perasaanku saja.
"Ada apa? Kau melamun seperti itu?"
"Ah, tidak ada."
"Fufu, benarkah? Apa kau memikirkan hal mesum tentangku?"
"Bodoh! Tentu saja tidak! Yah... sedikit..."
Akiko tampak senang menggodaku seperti ini. Meskipun begitu aku tidak membencinya...
"Reiki... m.e.s.u.m♥"
Ahh! Dia sangat imut!!! Aku tidak percaya bahwa aku memiliki pacar cantik seperti ini. Dia menyuapiku lagi es krim dan ini adalah sendok terakhir.
"Baiklah, sudah saatnya aku kembali bekerja atau Vivi akan marah."
"Begitu ya. Sampai jumpa."
Akiko meninggalkanku dan mulai kembali bekerja. Meskipun waktu sudah hampir malam tapi dia masih tetap bekerja. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri karena Akiko sangat pekerja keras. Aku juga berdiri dan harus segera kembali, aku yakin Verry sedang khawatir padaku.
Dalam perjalanan aku melihat empat orang keren. Melihat dari penampilannya saja sudah jelas mereka adalah petualang. Dimulai dari sebelah kanan. Orang yang memiliki rambut merah yang disisir ke belakang tampak sangat ceria dan di sebelah kirinya ada pria berkacamata dengan rambut biru lalu di sebelahnya lagi ada dua orang kembar.
__ADS_1
Aku tidak percaya ternyata ada orang kembar dan dilihat dari manapun mereka seperti seumuran denganku. Mereka tampak seperti orang terkenal karena setiap kali wanita melintas mereka sangat senang dan meminta berjabat tangan.
Aku menghilangkan fokus pada mereka dan segera kembali pulang.