Tiga Kehidupan

Tiga Kehidupan
Labirin


__ADS_3

Setelah latihan harian saya di pagi hari, saya pergi ke toko untuk bekerja.


"Reiki, akhirnya kamu datang juga."


"Apa yang kamu butuhkan, Verry?"


"Kita kehabisan beberapa bahan untuk ramuan. Biasanya aku memesannya dari kota sebelah, tapi ada masalah."


"Jadi, kamu ingin aku pergi ke kota?"


"Bukan, aku ingin kamu pergi ke labirin untuk mendapatkan beberapa bahan seperti kacang biru, sisik ular, dan lain-lain."


"Namun, apakah tidak diperlukan izin dari guild petualang untuk masuk ke dalam labirin?"


"Oleh karena itu, aku meminta bantuanmu. Bukankah kamu memiliki teman petualang?"


"Baiklah, aku akan pergi."


Dengan enggan saya menerima kertas yang berisi bahan-bahan yang diperlukan. Meskipun saya harus menyewa petualang, setidaknya saya berharap dia memberikan uang untuk biaya sewa. Aku ingin menggunakan uang saya untuk membeli perhiasan untuk Akiko, namun sekarang harus dipakai untuk menyewa.


Saya sampai di guild petualang dan menyampaikan permintaan ke resepsionis. Saya memberikan 30 koin tembaga sebagai imbalan dan juga membayar untuk mengajukan permintaan.


"Silakan tunggu hingga ada petualang yang menerima permintaan Anda."


Saya duduk di kursi kosong dan menunggu. Saya berharap seorang petualang segera menerima permintaan saya.


"Sora, apakah kamu ingin mengambil misi?"


Saya melihat Sora sedang berbicara dengan resepsionis. Dia tampak bersemangat hari ini atau hanya perasaan saya saja?


"Baiklah, saya terima."


"Kalau begitu, ini…"


Dia mendekat dan menyapa saya.


"Hai, Rei. Jadi, kamu yang ingin masuk ke labirin?"


"Ya, ada beberapa bahan yang harus saya dapatkan."


"Baiklah, Ayo pergi!"


"Mengapa kamu senang sekali?"


"Kamu tidak mengerti. Labirin adalah tempat spesial bagi petualang seperti saya, ini adalah yang disebut 'romantis'!"


"Saya tidak mengerti, namun sepertinya bagus untukmu."


"Ehem, kalau begitu mari pergi."


Saya pergi ke labirin bersama Sora sebagai pengawal.


"Jadi, ini labirin?"


Saya kagum dengan pintu masuk labirin yang kuno namun mewah. Ini seperti pintu masuk untuk raksasa. Ukurannya sangat besar dan tinggi.


Bahkan pintu sebesar ini tidak memerlukan kekuatan besar untuk dibuka. Yang perlu dilakukan hanyalah mendorongnya.


"Kita sudah di dalam, sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Pertama, kita harus mencari tikus perunggu untuk mendapatkan kacang biru."


"Oke, kalau begitu."


Saat kami berjalan, Sora berhasil mengalahkan beberapa monster yang datang. Aku tidak tahu apa yang membuatnya senang, tetapi kekuatannya sangat kuat. Dia dengan mudah menghabisi monster dengan satu tebasan pisau.

__ADS_1


"Sora, sepertinya monster itu yang kita cari."


"Siap."


Ketika tikus dengan kulit seperti perunggu melihat Sora, ia segera melarikan diri. Tikus itu sangat gesit, tetapi Sora mengejarnya seperti tidak ada masalah.


"Hei, tunggu! Kamu mau kemana?"


Aku berlari mengejar Sora yang sudah menjauh untuk mengejar tikus perunggu. Aku berada di perempatan dan tidak tahu jalan mana yang harus diambil Sora.


"Inilah yang kamu cari."


"Woah! Kamu mengejutkanku. Sudah sejak kapan kamu sampai di sana? Dan apa ini?"


"Tadi kamu bilang butuh kacang biru? Aku sudah membawakan sekantung penuh. Apa kamu masih memerlukan lagi?"


"Tidak, ini sudah lebih dari cukup."


"Baiklah, jadi selanjutnya apa yang harus kita lakukan?"


"Ayo pertama-tama kita mencari dan memburu monster tanpa henti."


Sora tampak sangat antusias sejak awal. Entah kenapa, aku merasa bahwa sifatnya mirip dengan Zanir.


"Baiklah, kita sudah mendapatkan semua bahannya."


"Benar sekali. Ayo pulang."


Namun, selang beberapa saat, tiba-tiba terdengar getaran yang sangat kuat.


"Ini apa? Gempa?"


"Bukan, ini..."


Sebelum aku dapat menyadarinya, sudah ada tangan besar yang mengarah padaku. Aku membuka mataku dan sepertinya tubuhku masih utuh.


"Apa yang telah terjadi?"


"Tidak kamu lihat? Tiga Golem sudah mengepung kita."


"Tetapi mengapa ada Golem?"


"Kayaknya kita sudah dekat dengan pintu bos lantai pertama. Mereka sepertinya adalah penjaga."


"Lalu, bagaimana kita dapat lolos dari sini?"


"Tenang saja. Hancurkan saja maka semuanya akan selesai."


Sangat enak rasanya berbicara begitu saja.


Kami segera berpencar saat serangan Golem datang. Kekuatannya tak main-main, lantai langsung berlubang setelah terkena tinjunya.


"Rei, bantu aku jika kau ingin selamat!"


"Apa!?"


Sementara aku merasa jengkel, mengeluh tak akan mengubah keadaan saat ini. Aku memanggil [Ashura energi] yang merupakan sebutan untuk kekuatanku. Aura berwarna oranye melingkupi kedua tanganku dan kuhantamkan ke kaki kanan Golem.


Kaki itu hancur dan Golem itu kehilangan keseimbangannya sebelum akhirnya terjatuh. Ku-lompat dan menyerang bagian dadanya. Golem itu meledak dengan satu pukulanku. Beruntunglah Sora menyelamatkanku sebelumnya atau aku sudah mati sekarang.


Kulihat Sora bertahan berdiri di atas salah satu pundak Golem sementara Golem lain memukulnya. Sora segera berpindah ke atas kepala Golem lainnya sebelum pukulan itu mengenainya. Satu Golem terhempas akibat pukulannya yang keras.


"Wah, apakah temanmu baik-baik saja?"


Golem itu memukulkan kepalanya ke tembok untuk menyingsirkan Sora. Namun, Sora menghindari pukulan itu dengan melompat turun sebelum mengenai tembok. Kepala Golem itu tersangkut dan kesusahan hendak melepaskannya.

__ADS_1


"Haha, sepertinya kepalamu tersangkut ya?"


Sora melemparkan pisaunya. Beberapa pisau terpacak di pantat Golem itu dan kemudian meledak. Puing-puing tembok pun menimpanya dan Golem itu tak lagi dapat digerakan.


"Fiuh, gampang banget."


"Kalau kau bisa mengalahkannya, kenapa kau meminta tolong?"


"Ada masalah?"


Ugh...entah mengapa aku ingin memukul wajahnya, tapi aku menahannya agar tak terpancing emosi. Kami segera berjalan keluar labirin dan melaporkannya ke guild. Setelah itu, kami berpisah dan aku kembali ke toko.


"Verry, aku sudah kembali!"


"Oh, Reiki. Bagaimana kabarmu?"


"Aku sudah menyelesaikan pesananmu."


"Haha, aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Nah, ini untukmu."


"Apa ini?"


"Roti lapis buatan istriku. Kau pasti lelah, kan?"


"Terima kasih."


Sesatu gigitan saja, rasanya meleleh di mulut. Rasanya yang manis ini memang seperti madu, namun ada rasa gurih dari telurnya. Ini sangat enak.


"Bagaimana rasanya? Enak, kan? Istriku memang sangat pandai memasak."


Rasa lelahku tiba-tiba hilang. Seakan-akan aku minum ramuan penghilang lelah. Aku menyantap roti lapis dan merasa kenyang sekali.


"Kamu bisa beristirahat sekarang. Terima kasih atas kerja kerasmu," ujar seseorang.


Aku pun kembali ke kamar dan beristirahat. Perutku sudah kenyang dan aku merasa mengantuk.


...


"Aku sangat lelah," keluh Sora sambil melemparkan dirinya ke tempat tidur.


"Ternyata kamu tertarik dengan labirin," kata Sevira.


"Tentang apa?" tanya Sora.


"Labirin," jawab Sevira.


"Oh, ya itu..."


"Apa yang membuatmu tertarik? Kan labirin itu hanya sarang monster," ujar Sevira.


"Aku merasa ingatanku yang dulu kembali," ucap Sora.


"Benarkah? Padahal aku sudah menghapus ingatanmu dengan benar," ucap Sevira.


"Aku tidak tahu pasti, tapi dulunya aku sangat suka petualangan. Labirin bukan hanya sarang monster, tetapi juga menyimpan banyak harta. Selain itu, tempat itu juga bisa menjadi arena latihan yang bagus," jawab Sora.


"Memang benar. Tapi, kamu seharusnya tidak seantusias itu kan?" tanya Sevira.


"Aku merasa romantisme di sana!" seru Sora.


"Romantis? Aku tidak mengerti," kata Sevira.


"Iya! Bayangkan saja, saat melawan monster di sana ada seorang gadis cantik yang sedang diserang. Kemudian dia meminta pertolongan dan aku datang dengan cepat. Kemudian aku berkata, 'Aku akan menyelamatkanmu.' Setelah itu, kami saling jatuh cinta..." kata Sora sambil membayangkan situasi itu.


"Stop! Apa-apaan itu? Itu hanya terjadi di cerita fiksi," bantah Sevira.

__ADS_1


"Ayo bayangkan dulu," pinta Sora.


Setelah itu, Sevira merasa harus menghapus ingatan Sora kembali.


__ADS_2