
Chelsea ketakutan karena lebih banyak pria yang datang menghampirinya. Angin yang besar berkumpul di telapak tangannya dan serangannya di arahkan ke tanah sehingga menciptakan debu yang mengepul sehingga menghalangi pandangan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Chelsea segera berlari lagi namun dia tersandung batu sehingga ia tersungkur ke tanah.
Darah mengalir dari sikunya. Kakinya gemetaran yang membuatnya sulit berjalan. Saat ia melihat bayangan para pria tadi dari kejauhan, mereka berhasil mengejar Chelsea.
Chelsea semakin takut dan menutup matanya, bayangan Zanir terlintas di kepalanya.
"Zanir!"
Zanir melompat dan menendang wajah seseorang hingga terpental dan kepalanya membentur ke tembok. Namun, dia tiba-tiba mendengar suara teriakan yang sangat tidak asing baginya.
Suara yang membuatnya selama ini menjadi tempatnya untuk pulang. Dengan segera, ia berlari ke arah suara teriakan itu. Meskipun asalnya cukup jauh namun itu bukanlah halangan untuknya pergi.
Zanir sampai di sebuah gang sempit yang sangat gelap dan bau. Meskipun ada sedikit cahaya dari lampu yang mulai redup, Zanir melihat sosok yang dia kenal di tengah gang.
"Chelsea!"
Zanir berlari dan menghampirinya. Diangkat kepalanya dan membaringkannya di paha Zanir. Ia mulai memperhatikan penampilan Chelsea yang berantakan. Matanya yang sedikit bengkak, sikunya yang penuh darah, rambut indahnya menjadi kotor dan berantakan serta pakaian yang sudah compang camping.
Chelsea dengan gemetaran memegang pipinya dengan kedua tangannya. Mata mereka saling menatap.
"Z...Zanir..."
"Aku disini."
"Akhir...nya... aku mene...mukan...mu..."
Air mata Zanir jatuh dan membasahi wajah Chelsea.
"Maaf, maaf. Karena sudah meninggalkanmu. Aku mohon bertahanlah, aku akan mengobatimu jadi kumohon bertahanlah."
"Tidak ... perlu ... aku punya ... permintaan..."
"Katakan! Apapun akan kulakukan untukmu!"
Chelsea tersenyum dan menarik wajahnya sehingga telinga Zanir dekat dengan bibirnya Chelsea.
"Aku ingin ... dunia ... damai..."
Hanya kalimat itu yang diucapkannya dan Chelsea menghembuskan nafas terakhirnya. Zanir yang sudah mengetahuinya segera memeluknya dan menangis sekeras-kerasnya.
"Aku harap aku punya kekuatan!"
Zanir berteriak dan tiba-tiba asap hitam mengelilingi dirinya. Asap itu membentuk sosok yang menakutkan. Dia mengenakan jubah hitam dan wajahnya tidak dapat dilihat. Tidak kaki yang menapak pada tanah, dia melayang layaknya hantu.
__ADS_1
"Apa kau ingin kekuatan, nak?"
"Siapa... kau?"
Zanir tidak bisa menebak siapa sosok yang ada dihadapannya, dia awalnya ragu untuk bertanya karena sosok itu membawa sabit besar.
"Aku adalah dewa kematian. Jika kau menginginkan kekuatan maka aku akan memberikannya padamu."
Zanir hanya menelan ludahnya sendiri. Dia takut namun dirinya merasa harus menerima tawarannya tersebut. Setelah pikirannya terus beradu pendapat, akhirnya ia mendapatkan jawabannya.
"Ya, aku menginginkannya!"
"Baiklah, tapi harganya tidak murah."
"Tidak masalah!"
"Kalau begitu. Sebagai bayaran maka aku akan mengambil usiamu dengan kata lain kau aku kutuk."
Asap hitam masuk ke dalam tubuh Zanir dan menghilang. Kekuatan yang sangat besar mengalir di dalam tubuh Zanir.
"Dari sana!"
Teriak seorang pria, suara langkah kaki yang cepat yang memberitahukan Zanir bahwa ada beberapa orang sedang berlari ke arahnya.
Zanir melihat ke salah satu bayangan yang mendekat dan ia seketika jatuh begitu saja. Teman-temannya berhenti dan melihat kondisi rekannya. Setelah itu
Zanir menggendong Chelsea di punggungnya. Ternyata para pria itu sudah berada didekatnya.
"Kau tidak akan bisa lari lagi, bocah."
Saat Zanir melotot pada mereka, dalam sekejap mereka berteriak kesakitan dan terjatuh ke tanah. Saat hendak ingin memastikan apa yang terjadi. Sang dewa menjawab pertanyaannya.
"Mereka baik-baik saja. Aku mengambil sedikit daya hidup mereka."
Namun, jawaban itu tidak disukai oleh Zanir dan membentaknya. "Apa yang kau lakukan?! Ambil seluruh hidup mereka!" Katanya.
Sang dewa merasa bahwa Zanir adalah orang yang cukup menarik sehingga dia menuruti kata-katanya.
Setelah membawa Chelsea ke kediamannya dan memakamkannya. Zanir hendak mengakhiri hidupnya karena gagal melindungi Chelsea namun dihentikan oleh ayah Chelsea.
Menurut ayah Chelsea, apa yang terjadi bukanlah salah Zanir, itu karena yang menyuruh Zanir pergi adalah dirinya dan dia juga tidak mengawasi Chelsea. Itu seharusnya salah dirinya karena sudah gagal menjadi ayah.
Sudah beberapa hari sejak Zanir melakukan eksperimen. Dia sudah mendapatkan kekuatan dari dewa kematian. Kekuatan sihir yang melimpah, mana yang tak terbatas, serta dapat membuat sihir hanya dengan membayangkannya.
__ADS_1
...----------------...
"Nir..."
Suara seseorang memanggilnya.
"Oi!"
Zanir terkejut dengan teriakan itu dan menjatuhkan cangkir di tangannya.
"Ya ampun. Tenangkan dirimu, kalau kau seperti ini terus apa yang akan diucapkannya padamu nanti dari alam sana."
Zanir hanya termenung dan menatap kosong ke cangkir yang pecah.
"Dengar. Kau itu pahlawan yang berhasil menyatukan seluruh dunia. Orang yang berhasil menghilangkan diskriminasi, penggelapan uang, serta orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan."
Mata Zanir mulai bercahaya setelah mendengar kata-kata Alistair.
"Kau harus bangga. Kau adalah orang pertama yang berani melakukan hal gila seperti itu."
Zanir kembali ke dirinya dan menatap Alistair. Mata biru Zanir menembus mata merah milik Alistair.
"Alis... Kau..."
"Berhenti bersedih, itu menjijikan."
Zanir melompat dan mencoba memeluk Alistair namun Alistair sudah mengantisipasi hal seperti ini dengan memegang panci ditangannya dan wajah Zanir menabrak panci tersebut.
"Aduh! Kenapa kau melakukan itu?!"
"Sudah kubilang itu menjijikan apalagi ingusmu keluar seperti itu."
Setelah kembali ceria Zanir segera meninggalkan ruangan Alistair dan kembali ke kelas karena sudah jadwalnya mengajar.
Alistair menghela nafas panjang melihat ruangannya. Pintu yang sudah terlepas, kaca yang hancur dan pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
Dengan artefak 'Time Ring' yang berhasil Alistair buat saat sedang bosan. Sebuah cincin yang terbuat dari perak dan diatasnya terdapat batu sihir, batu itu bersinar dan membentuk sebuah lingkaran sihir yang terbentuk dari tulisan kuno dan dia mengembalikan semua posisi ke bentuk semula dengan memutar ulang waktu.
Semuanya terjadi dengan cepat dan ternyata ada kekurangan dari artefak tersebut yaitu itu hanya dapat digunakan sekali saja. Setelah selesai artefak itu membatu lalu hancur menjadi butiran pasir.
"Kurasa benda ini tidak lebih dari sampah tapi setidaknya bisa memperbaiki masalah yang dibuat oleh manusia tak berakhlak itu." Gumamnya.
Zanir yang sedang mengajar di kelas tiba-tiba bersin saat sedang menerangkan materi.
__ADS_1
"Kupikir guru tidak bisa sakit." Kata seorang murid.
"Aku juga manusia tahu." Jawab Zanir dengan sedikit jengkel.