
Sebuah bangunan besar berdiri dengan tegak. Itu adalah istana raja iblis yang sudah lama di tinggalkan. Namun awan hitam yang selalu berkumpul di atas istana kini bergemuruh setelah ratusan tahun menandakan sang raja telah bangun dari tidur panjangnya.
"Aku memujimu karena telah mendapatkan kembali Giga Lancer milik-ku."
"Terima kasih. Bukankah sudah saatnya untuk kita menyerang, raja Belial."
"Jangan terburu-buru, Yukihide."
Setelah percakapan singkat itu, Belial berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju jendela. Dia menatap langit gelap yang sambil menyeringai.
"Untuk menjadi pemenang kau harus sungguh-sungguh menginginkannya maka dari itu persiapan sangatlah penting."
Belial mengangkat tombak besar yang mirip dengan barbel, yaitu Giga Lancer ke atas. Cahaya keluar dari ujung tombak dan sedetik kemudian tanah mulai bergetar. Dari dalam tanah muncul mayat hidup yang tak terhitung jumlahnya dan segera berlutut pada Belial.
"Waktu untuk pemusnahan telah di mulai!"
Belial tertawa dengan keras hingga suaranya menggema di seluruh istana. Yukihide yang melihatnya dari belakang tersenyum melihat ribuan mayat hidup yang siap untuk menyerang.
...****************...
...Sudut pandang White Zanir...
"Tch, padahal aku sedang terburu-buru tapi kalian ini benar-benar mengganggu."
Aku sangat kesal karena saat ini ada beberapa orang yang mengaku sebagai malaikat sedang menghalangiku. Pertemuannya dengan mereka adalah bencana.
Aku harus menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengurus mereka. Kita kembali ke beberapa waktu yang lalu saat aku sedang bermain di pantai.
Dari pinggir lapangan aku menonton permainan voli antara Iki dan Sora melawan Sevira dan Akiko. Sebagai penonton aku akan mengatakan kalau mereka membosankan. Mengapa? Karena cara bermain mereka benar-benar biasa. Yah, aku tidak menyalahkan mereka bagaimanapun akulah yang memaksa mereka.
Sebelumnya Verry mengatakan bahwa Iki bekerja agak berlebihan dan memintaku untuk membantunya. Meskipun harus memaksanya aku ingin membuatnya bersantai.
"Hah... aku mulai bosan."
Aku mendesah tanpa sadar. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang jadi aku berdiri dan berjalan-jalan untuk mencari suasana baru.
"Wow!"
Tak lama aku melihat gadis yang sangat cantik jadi aku segera mengejarnya dan menggodanya.
"Hei cantik."
Saat aku menyapanya dia tampak tidak senang dengan kehadiranku. Yah, ini adalah reaksi normal dan membuatku semakin ingin menggodanya.
"Apa kau sendiri? Mau aku temani?"
Gadis itu mundur karena takut padaku. Meskipun dia ketakutan tapi wajahnya tetap imut.
__ADS_1
"Hei, siapa kau?"
Tiba-tiba suara yang berat terdengar dari belakangku dan aku pun menoleh. Aku cukup terkejut karena orang yang sangat kekar dan berkulit gelap berdiri di belakangku dengan tatapan marah.
"Anda siapa?" Tanyaku dengan santai.
"Harusnya itu pertanyaanku! Aku kakaknya."
"Ah, begitu ya. Adikmu sangat cantik jadi aku—"
Belum sempat aku selesai bicara, sebuah pukulan keras mengenai wajahku. Aku tidak merasakan sakit atau apapun karena bagiku serangannya tidak lebih seperti gigitan semut.
"Apa!?"
"Kau tahu. Tidak baik memukul seseorang saat orang itu sedang berbicara."
Pria kekar itu terkejut dan panik karena pukulannya tidak berefek apapun. Aku bahkan tidak bergerak, tidak terluka, tidak terjadi apapun padaku karena serangan kecil itu.
"Aku ini orang yang sangat baik hati, tidak sombong dan suka membantu. Maka dari itu—"
Lagi. Pria itu kini melakukan pukulan beruntun padaku tanpa henti. Pukulannya tidak berasa apapun padaku jadi aku akan membiarkannya hingga ia lelah. Setelah memakan banyak waktu dia pingsan karena terlalu lelah.
"Oi, kakak. Kalau kau tidur di situ maka kau sakit lho."
Pria itu tidak merespon. Dia sepertinya benar-benar lelah.
"Y-Ya!?"
Aku cukup sakit hati karena kata pertama yang keluar adalah keterkejutan dan ketakutan, aku bisa mengetahuinya dari nada suaranya.
"Tenang jangan takut seperti itu. Tadinya aku hanya ingin kau menemaniku berjalan-jalan tapi sepertinya aku malah membuat kekacauan jadi maafkan aku."
Aku membungkuk 90 derajat dan meminta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuat orang yang lain pingsan tapi karena sudah terjadi maka biarlah terjadi. Aku berbalik dan menggunakan sihir air untuk membangunkan sang kakak dengan menjatuhkan air di wajahnya.
"Mmh— Wah! dimana? Siapa?"
"Selamat pagi, kak."
"Hii!!"
Sang kakak ketakutan setelah melihat wajahku. Apa aku seseram itu sampai harus berteriak histeris. Aku tidak mempedulikannya dan berjongkok di dekatnya.
"Jangan takut begitu. Aku sungguh minta maaf karena menakutimu. Hm?"
Aku tidak merasakan hawa keberadaan Sora dan yang lainnya! Aku segera berlari dengan cepat untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Saat aku sampai tidak ada siapapun di tempat. Aku menggunakan mata sihirku dan aku melihat jejak sihir orang lain. Ini bukan milik Sevira ataupun Sora, Iki tidak mungkin bisa menggunakan sihir seperti ini dan Akiko... Sejak awal energi sihirnya sedikit jadi itu mustahil. Bukan hanya itu, jejaknya menghilang di tempat.
__ADS_1
Kalau mereka di culik maka seharusnya ada jejak kaki atau jejak sihir orang lain tapi aku tidak menemukannya. Yang anehnya kenapa aku tidak menyadari mereka di serang?
"Jadi begitu..."
Aku menemukan jawabannya. Kesimpulannya musuh berhasil lolos dari mata sihirku dan menyerang Sora dan yang lainnya. Jejak sihir Sora tidak kemanapun yang artinya mereka di lempar ke dimensi lain. Alasan mereka lolos dari mata sihir milikku kemungkinan mereka menggunakan artefak. Semuanya sangat masuk akal.
"Sungguh cerdik."
Tanpa sadar aku tersenyum tipis. Aku tidak percaya ada orang yang berhasil mengelabui diriku. Dia sepertinya menganggapku sebagai ancaman sehingga dia berhati-hati dalam bertindak.
Aku segera mengirim telepati kepada seluruh anggota Ultra Force.
{Semuanya, situasi darurat.}
Setelah mengatakan itu aku segera pergi ke guild petualang untuk melakukan pertemuan dengan anggota Ultra Force lain. Dengan sihir teleportasi aku berhasil sampai di guild dalam hitungan detik.
"Katakan keadaannya." (Kagami)
"Apa ada musuh baru?" (Glen)
"Sepertinya terjadi hal buruk." (Jean)
"Kuharap bukan seperti yang kupikirkan. (Jun)
Para anggota sudah berkumpul dan siap melakukan rapat. Selain kami berlima tidak ada petualang lainnya tapi masih menyisakan guild master dan resepsionis, Karen.
"Musuh berhasil mengelabui diriku."
Saat aku mengatakan ini mereka semua terkejut dan mata mereka melotot. Bahkan Kagami yang terkenal dengan ketenangannya berdiri dan seperti siap untuk bertarung.
"Hal yang mustahil." (Jean)
"Ini lebih buruk dari yang kupikirkan." (Jun)
"Ceritakan lebih jelas." (Kagami)
"Akhirnya ada orang idiot yang berani menantangmu." (Glen)
Aku menjelaskan dengan kalimat yang lebih singkat dan kata yang mudah untuk dipahami. Mereka mendengarkan dengan baik.
"Tch, orang idiot." (Glen)
"Kurasa kita tidak bisa membuang-buang waktu. Ayo pergi." (Kagami)
"Kita harus segera menolong mereka." (Jean)
"Benar kata kakakku." (Jun)
__ADS_1
"Aku akan membuat alasan dan menutup mulut agar tidak membuat kepanikan." Ucap Guild master yang sejak tadi diam saja.