Tiga Kehidupan

Tiga Kehidupan
Pertemuan


__ADS_3

Sora berhasil mengumpulkan semua tanaman yang diperintahkan. Tapi sesuatu yang aneh terjadi, instingnya mengatakan ada sesuatu yang berbahaya disekitarnya.


Dia melihat sekeliling namun tidak ada apapun yang mencurigakan. Tapi nalurinya tetap mengatakan adanya bahaya. Tiba-tiba nalurinya mengatakan untuk melompat, saat ia melakukannya, sebuah akar keluar dan hampir menarik kaki Sora.


"Apa itu?"


"Wah! Gerakan yang bagus."


Seseorang dengan jubah hitam bertepuk tangan. Ia sama sekali tidak menyadari hawa keberadaan orang itu. Hawa keberadaannya seolah menyatu dengan alam.


"Siapa kau?"


"Aku bukan orang yang mencurigakan."


Sora sama sekali tidak mengerti dengan orang itu. Dia memiliki aura yang mengerikan dan juga menakutkan.


"Apa maumu?"


"Aku hanya datang untuk menyapamu."


"Hah? Menyapa? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalmu."


Orang Itu menyeringai. Suara datang ke kepala Sora, ia tahu suara siapa yang ada di kepalanya.


"Hati-hati Sora. Dalam hal kemampuan kau mungkin lebih unggul tapi sepertinya dia memiliki rencana buruk."


Sora mengigit bibirnya. Setelah diberitahu seperti itu dia tidak bisa bertindak gegabah.


"Baiklah, Sora kawaragi. Sampai bertemu lagi."


Pria itu menghilang begitu saja, dia seperti angin, datang dengan tiba-tiba dan pergi begitu saja dalam sekejap.


...****************...


"Kurasa mereka yang dimaksud."


Zanir sampai di taman bunga dan menemukan party yang membutuhkan seorang Healer. Party itu terdiri dari satu pria dengan pedang di pinggangnya dan ada dua gadis sedang berpelukan dengan pria tersebut.


Meskipun terlihat seperti itu, party itu memiliki komposisi yang baik. Pria itu adalah seorang Swordman. Lalu gadis di kanannya seorang Mage dan gadis satunya lagi Archer.


"Kurasa ini akan menjadi menyenangkan."


Zanir melepas lencana rank S miliknya yang terpasang di dadanya dan menyimpannya di saku celananya lalu menggunakan kacamata sihir yang membuatnya tidak dikenali orang lain. Saat mendekati mereka dan menyapanya, mereka menjadi tidak senang dan menatap dingin Zanir.


"Apakah benar kalian membutuhkan seorang Healer?"


Kedua gadis itu tidak menyukai Zanir dan menatapnya dengan tatapan seolah melihat serangga.


"Huh, pria lemah ini seorang Healer?


"Kurasa dia hanya orang tidak berguna."


"Ayolah, kalian berdua jangan seperti itu."


Zanir menyeringai dan menyukai mereka. Reaksi yang diberikan oleh mereka sesuai dengan perkiraannya. Mereka tidak mengenali Zanir. Memang benar bahwa Zanir terkenal sebagai petualang Rank S tapi sekarang ia menyamar dan mengganti identitasnya sebagai Dion si penyembuh.


"Maafkan mereka berdua ya, kawan."


"Tidak apa-apa, bukan masalah besar."

__ADS_1


"Mohon bantuannya ya."


"Ya, mohon bantuannya."


Keduanya berjabat tangan. Dari cara berjabat tangan Zanir bisa mengetahui bahwa dia sama tidak menyukainya seperti kedua gadis itu. Meskipun dia menyembunyikan dengan senyuman namun ia bisa mengetahui sifat aslinya dengan cepat.


Mereka pergi menuju ke hutan terlarang untuk penjelajah. Satu demi satu monster berdatangan setelah mereka berempat memasuki hutan.


Mereka bisa bertahan hingga sejauh ini namun, sekarang mereka kesulitan dengan Golem penjaga. Mereka hendak memasuki sebuah dungeon di dalam hutan itu namun patung yang berdiri di ke dua sisi pintu masuk segera bergerak dan menyerang mereka. Luka yang diterima oleh mereka berhasil di sembuhkan dengan cepat oleh Dion dan terus melakukan serangan namun serangan mereka sama sekali tidak memberikan dampak pada kedua Golem penjaga itu.


"Oi Dion! Berikan aku heal!"


"M-Maaf manaku sedikit."


"CK, tidak berguna."


Pria Swordman itu melompat mundur ketika tangan Golem penjaga menyerang dari atas. Meskipun lukanya tidak besar namun itu mengurangi pergerakannya. Sang gadis penyihir sudah berlutut di tanah kerena sangat lelah, dia terus menggunakan sihirnya sehingga mananya benar-benar hampir kosong.


Gadis pemanah melepaskan anak panah terakhirnya. Panah itu meledak ketika mengenai lengan golem itu, namun Golem itu tetap tidak terluka dan segera meluncurkan serangannya pada pria Swordman.


Pria itu sudah kelelahan dan tidak sanggup berdiri. Dia terlempar hingga membentur ke pohon. Pohon yang di kenainya tumbang dan menimpa tubuh pria itu.


"Dion! Kenapa diam saja? Cepat sembuhkan mereka!" Teriak sang gadis pemanah.


Dion menyeringai dan tertawa akan kelakuan mereka. Padahal dia sudah tahu kalau mereka tidak bisa melakukan penjelajahan ini dengan sifat yang seperti itu. Tapi, melihat kekalahan mereka karena rasa sombong mereka itu membuat hati Dion sangat senang.


Dia mengeluarkan pisau dari kantong kecil di pinggangnya lalu sebuah tulisan kuno yang ada di bilah itu bercahaya. Cahaya putih seperti menelan kegelapan di sekitarnya. Cahaya itu membentuk menjadi bilah pedang.


Dion bergerak dengan sangat cepat hingga tidak bisa diikuti oleh mata. Seketika Dion ada di beelakang kedua golem itu dan dalam hitungan detik Golem itu hancur menjadi beberapa bagian.


"Aku sudah bilang, mana milikku habis nona."


Kacamata sihir yang dipakai Dion terjatuh dan gadis pemanah itu tahu siapa Dion sebenarnya.


...****************...


"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu tuan pelanggan?"


"Aku ingin membeli 5 kue kering."


"Tentu."


Reiki segera memasukkan kue kering ke dalam kantong kecil dan memberikan pada pelanggan tersebut saat pelanggan itu memberikan uang padanya.


"Sepertinya kau tidak perlu bantuanku."


"Haha... Aku baik-baik saja. Baiklah, aku akan membersihkan ruang belakang."


"Padahal kalau kau mau, kau bisa beristirahat sekali-kali."


"Tidak apa-apa. Ini bukan masalah besar lagipula ini juga termasuk latihanku."


"Baiklah, jangan memaksakan diri ya."


"Oke."


Reiki segera memberikan ruang belakang. Dimulai dari menyapu, memberikan jendela, merapikan alat-alat yang ada hingga membersihkan langit langit ruangan yang sudah di penuhi jaring laba-laba.


Verri tersenyum melihat Reiki yang begitu semangat dalam menjalani tugasnya. Dia tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha keras padahal ia tahu bahwa bayarannya tidaklah seberapa.

__ADS_1


"Aku akan mengirim pesanan potion ini ke guild petualang jadi bisakah kau menjaga..."


"Biarkan aku saja yang melakukannya."


Reiki melompat dari atas dan mendarat dengan baik. Dia sangat senang ketika melakukan sesuatu yang baru. Jujur saja, membiarkan Reiki melakukan segalanya membuat Verri merasa bersalah karena ia terkesan seperti bos yang hanya memerintah saja namun dia tidak tahan dengan wajah ambisius Reiki. Jadi ia terpaksa harus membiarkan Reiki melakukannya.


"B-baiklah. Ini surat yang harus kau berikan pada mereka dan potionnya ada di sana."


Reiki dengan semangat menerima surat itu lalu mengambil box yang berisikan Potion di dalamnya. Dia segera pergi ke guild petualang dan mendekati meja resepsionis.


"Aku mengantarkan kiriman potion."


"Terima kasih sudah mengantarkannya. Hm? Aku baru pertama kali melihatmu, apa kau karyawan baru?"


"Ah ya. Namaku Reiki."


"Begitu rupanya. Aku Karen, senang bertemu denganmu Reiki."


Saat Karen tersenyum seketika dada Reiki seperti tertusuk dia merasa senang bisa melihat senyuman yang sangat manis. Namun, tak lama seorang datang dengan membawa karung besar.


Ketika karung itu diletakkan atas meja Resepsionis, Karen sangat terkejut sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku sudah mengumpulkan semua tanaman obatnya."


"Anu... Sora, apa kau mengumpulkan semua ini sendirian?"


"Hm? Ya, tadinya aku pikir bisa membawa lebih banyak lagi. Tapi apa segini cukup?"


"Tentu saja. Baiklah, aku akan menghitungnya. Tunggu sebentar ya. Ah, dan Reiki aku akan membayarnya nanti setelah aku menghitung ini jadi mohon tunggu sebentar lagi."


"Ya, tidak apa-apa."


Sora melihat Reiki dan begitu juga sebaliknya. Mereka saling menatap dengan penuh rasa penasaran.


"Apakah kau dari ras Serigala? Kudengar ras serigala sudah lama punah tapi tidak kusangka akan bertemu dengan salah satunya."


"Ya. Aku juga tidak menyangka akan bertemu ras rubah yang katanya selalu menutup diri."


"Apa kau seorang penjaga toko?"


"Ya. Dan kau?"


"Aku petualang sekarang. Walaupun baru hari ini aku mendaftar."


Karen datang dan memberikan sejumlah uang di kantong kecil kepada Sora.


"Baik, ini imbalan mu, Sora dan ini uangnya, terima kasih sudah mengantarkannya ya, Reiki."


"Ah ya. Oh, ini surat dari Verri."


"Baik, terima kasih atas bantuannya."


Keduanya pergi keluar bersama dan berdiri di depan pintu guild.


"Aku akan lewat sini untuk mencari penginapan."


"Oh, aku akan ke jalan sebaliknya untuk kembali ke toko."


"Hampir lupa. Namaku Sora, Sora kawaragi."

__ADS_1


"Aku Reiki. Reiki Ashura, salam kenal."


Keduanya berjabat tangan lalu pergi ke arah berlawanan untuk tujuan mereka masing-masing.


__ADS_2