
Aku membuka mataku karena sinar matahari yang masuk lewat jendela. Rasa lelahku menghilang. Hari ini adalah hari libur.
Verry mengatakan agar aku cuti sehari. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti ini. Aku memutuskan untuk pergi berkeliling kota dan mungkin aku menemukan sesuatu.
Saat mengelilingi kota, aku menemukan sebuah tempat yang membuatku tertarik. Tempatnya tidak besar namun banyak sekali pelanggan yang ada di sana. Aku masuk ke dalam dan di sambut oleh seorang pelayan wanita dengan rambut biru.
"Selamat datang, Tuan!"
Wajahnya sangat manis dan aroma parfumnya sangat harum. Aku bisa merasakan detak jantungku berdetak lebih cepat.
"Untuk yang berapa orang?"
"Eh ... Satu saja."
"Baik, saya antar ke meja anda."
Aku mengikuti pelayan itu, entah kenapa aku sangat gugup. Aku tidak paham dengan perasaan yang kurasakan sekarang. Seandainya ada seseorang yang bisa aku tanyakan.
"Baik, ini menunya."
Aku dengan gugup memilih dan memesan makanan. Tanpa sadar, aku terus memperhatikannya.
"Hei, nak. Apa kau menyukai Akiko?"
Seseorang tiba-tiba berbicara padaku. aku sangat kaget saat ia mengatakan itu. Ia seorang kakek tua biasa yang duduk di belakangku.
"Ah ... itu ..."
"Ahahaha. Kau punya mata yang bagus. Aku menyukaimu anak muda."
Kakek tua ini tampak senang dan rasanya dia orang yang baik.
"Mau kuberitahu sesuatu yang hebat?"
Dia berbisik padaku dengan serius. Aku penasaran, sepertinya ini sesuatu yang penting.
"Sebenarnya ..."
"Eh?!"
Aku berteriak dan semua menatapku. Aku tersenyum canggung dan meminta maaf. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Kakek tua ini ternyata adalah kakeknya Akiko?! Aku benar-benar malu. Aku menatap cucunya terang-terangan di depan kakeknya.
"Kau terkejut bukan? Yah ... Aku tidak marah padamu. Akiko adalah gadis yang baik tapi dia pernah di khianati oleh mantan pacarnya. Dia seorang petualang dan berpacaran dengan Akiko hanya untuk memanfaatkannya."
Sungguh pria brengsek! Aku tidak percaya dia berani melakukan hal bodoh seperti itu. Tak lama pesananku sudah datang. Akiko tampak marah setelah meletakkan pesananku di atas meja.
"Kakek, apa yang sedang kau lakukan? Sudah kubilang jangan mengganggu pelanggan."
"Dari mana aku mengganggu? Aku hanya mengobrol dengannya. Dia anak muda yang hebat, kau tahu?"
"Ah, begitu."
Akiko pergi begitu saja dengan acuh.
__ADS_1
"Maafkan dia. Bukan bermaksud jahat tapi dia sedikit membenci laki-laki."
"Um ... Apakah laki-laki, maksudku mantan pacarnya sekarang masih ..."
"Oh, tenang saja. Dia sudah mati. Kau tahu, di negara ini ada seorang ksatria sihir bernama Zanir. Dia orang yang hebat, menghentikan perang, menciptakan perdamaian dan melindungi negara ini. Meskipun begitu, dia orang yang sangat baik dan seluruh warga menyukainya. Saat mendengar Akiko dimanfaatkan oleh laki-laki itu, Zanir membunuhnya dan mengancam seluruh keluarga dan kerabatnya."
Sungguh cerita yang mengerikan. Tapi ... Apakah orang bernama White Zanir ini sungguh orang yang hebat? Setiap kali aku mendengar cerita tentangnya, aku selalu merasa kagum.
"Lihat? Orang yang dibicarakan datang."
Aku melihat ke arah pintu masuk dan melihat seorang pria yang seumuran denganku. Mata kuning, rambut hitam serta memakai kemeja putih dan blazer yang dipakaikan di pundak.
"Yo, pak tua."
Dia orang yang sangat riang.
"Oh, Zanir."
"Boleh aku duduk di sini?"
"Ah t-tentu."
Aku jadi gagap, apa mungkin karena dia orang terkenal jadi aku seperti ini.
"Akiko! Aku pesan seperti biasa!"
"Dimengerti!"
Berbeda dengan yang lainnya, orang ini memesan dengan cara berteriak. Dia ini kurasa orang yang cukup unik.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Wajah Zanir menjadi serius. Ada apa? Apakah dia marah? Dia melihat ke arah Akiko dan aku secara bergantian.
"Siapa namamu?"
"Ah benar, aku juga belum tahu namamu."
Sepertinya dia marah? Apakah dia akan membunuhku karena mendekati Akiko?
"R-Reiki. Reiki Ashura."
"Iki ... apa kau serius?!"
Eh? ada apa? Kenapa? Mengapa orang ini senang?
"Yah ... Karena seseorang, Akiko jadi takut dengan laki-laki. Aku mencari orang untuk menghilangkan rasa takutnya tapi hasilnya nihil."
Zanir terlihat sedih, apakah sesulit itu menemukan seorang pasangan.
"Tapi setidaknya berkat anda, sudah berusaha membantu Akiko."
"Ah ... Santai saja."
Pesanan Zanir sudah datang dan dia menyantapnya dengan nikmat. Setelah selesai makan, dia menghabiskan satu botol alkohol dalam satu tegukan.
"Ah nikmat!!"
__ADS_1
Dia kini sudah menghabiskan puluhan botol alkohol. Biasanya orang akan mabuk tapi dia masih terus menghabiskan banyak sekali alkohol. Aku jadi penasaran kemana semua perginya alkohol itu.
"Baiklah, Iki. Apa kau serius ingin bersama Akiko?"
Wajah Zanir sangat dekat dan mata serius namun aku bisa mencium bau alkohol darinya.
"Y-Ya, tentu saja. Jika itu memungkinkan."
"Baiklah, aku akan mengatakan padanya jadi siang nanti kau bisa berkencan dengannya."
Apa? Dia bisa melakukan itu? Tapi apa ini tidak apa-apa?
"Dengar. Selanjutnya adalah tergantung dirimu."
Dia terlihat lebih seperti mengancam daripada membantu. Dia berdiri dan menuju ke arah dapur namun dia mengatakan "Pastikan kau memakai pakaian yang bagus." sebelum pergi meninggalkan kami.
"Kau beruntung ya. Cucuku itu sangat baik jadi pastikan untuk melindunginya."
Kakek itu berdiri dan dia menoleh padaku.
"Kuharap kencanmu menyenangkan. Aku akan menunggu kabar baiknya."
Kakek itu juga pergi dan hanya meninggalkan aku sendirian. Aku juga sudah menghabiskan makananku jadi lebih baik aku mencari pakaian untuk kencanku nanti siang.
Aku menyimpan uang dibawah piring dan meninggalkan toko. Meskipun aku berniat membeli pakaian tapi aku tidak tahu pakaian seperti apa yang cocok untuk kencan.
Aku pergi ke toko dan mungkin saja Verry bisa membantuku dalam hal ini. Aku berjalan dan menemukan Verry yang sedang mengobrol dengan seorang gadis di depan toko.
Sepertinya mereka sudah selesai mengobrol dan Verry menyadari diriku yang melihatnya dari kejauhan.
"Ada apa Reiki? Kau tampak kebingungan."
"Kau tahu ya? Sebenarnya..."
Setelah aku mengatakannya pada Verry. Dia tidak tertawa melainkan wajahnya sangat serius seperti memiliki masalah besar.
"Kurasa aku memiliki beberapa pakaian di ruanganku yang mungkin saja cocok untukmu."
Verry masuk ke dalam toko dan aku mengikutinya dari belakang.
"Yang tadi itu siapa?"
"Maksudmu gadis yang tadi?"
Aku mengangguk.
"Dia istriku."
Aku benar-benar syok. Tidak kusangka Verry sudah berkeluarga. Kupikir dia jomblo sepertiku.
"Kau pasti terkejut. Yah ... Aku bisa menikah dengannya berkat Zanir. Dia membantuku yang seorang pemalu berdekatan dengan istriku."
Ternyata Zanir suka membantu banyak orang. Pantas saja orang-orang menyukainya dan menghormatinya.
Verry masih sibuk mencari pakaian yang cocok untukku namun dia masih belum menemukannya.
Setelah beberapa lama mengacak-acak lemarinya, akhirnya dia menemukannya.
__ADS_1
"Ini dia! Kurasa ini sangat cocok untukmu."