
Sora melempar pisaunya ke depan dan berhasil dihindari oleh Roy. Sora bergerak cepat menggunakan [Dash] ke belakang Roy dan memukulnya. Namun, Roy menahan pukul Sora dengan lengan kiri dan tangan satunya mengarah pada kepala Sora.
Sora memiringkan kepalanya dan berhasil menghindari pukulan Roy, tanpa melepaskan kesempatan Sora menggunakan skill [High jump] dan berada di atas Roy. Menggunakan skill [Steal] untuk mengambil pisaunya dan melemparkannya dari atas hingga mengenai kaki Roy dan tertancap di tanah.
Sora turun dan menendang wajah Roy dari udara dan membuatnya jatuh ke tanah dan pingsan. Sora mendarat dan tubuhnya sedikit lelah karena menggunakan banyak tenaga.
"Kau tidak apa-apa, Rei?"
Sora berjalan mendekati Reiki yang terluka. Reiki berdiri dengan bantuan Akiko dan Verry dan membawanya ke dalam toko namun serangan datang dan menghancurkan pintu toko.
Sora menoleh, melihat robot berzirah putih muncul dan baru saja melempar cahaya panas.
"Ice Arrow!"
terdengar suara seseorang dan panah yang terbuat dari es menghancurkan beberapa robot berzirah putih. terkejut dengan serangan itu mereka melihat ke atas dan menemukan seorang anak sekitar berusia 10 tahun melayang di udara.
Dia memiliki rambut hitam dan mata merah. Rambutnya diikat dengan kuncir kuda tinggi yang jatuh sampai ke lutut. Dia membawa tongkat sihir yang di ujungnya terdapat bola kristal merah. Robot yang lainnya berdatangan dan mulai menyerang Reiki dan yang lainnya.
"Absorb."
Dari tempat lain dan serangan para robot berbelok ke arah suara itu dan berbalik ke robot tersebut. Reiki dan yang lainnya menoleh ke arah suara itu. kali ini seorang anak yang berumur 10 tahun dengan rambut perak dan poninya yang berantakan dibelah ke arah sisi kanan wajahnya. Di tangannya ada tongkat sihir yang di ujungnya terdapat bola kristal biru.
"Pangeran Lucas! Pangeran Eigero!"
Verry, Vivi dan Akiko terkejut datangnya dua orang anak yang dikenal dengan sebutan "Naga kembar" yang merupakan penyihir kuat yang diakui negara.
"Kalian kenal mereka?"
Sora bertanya-tanya dengan dua anak itu, dia juga bisa menebak kalau keduanya adalah seorang pangeran setelah ketiganya menyebutkan nama mereka.
"Mereka adalah adik dari Zanir."
Sora dan Reiki terkejut dengan fakta tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa Zanir memiliki adik.
"Kenapa kalian masih di sini? Apakah kalian sudah bosan hidup."
"Luc, kau tidak boleh dingin begitu."
Lucas turun dan mendarat berdiri di depan mereka dan Eigero berjalan dan berdiri di sebelah Lucas.
__ADS_1
"Ah, pangeran. Terima kasih telah menolong kami."
"Tidak perlu berterima kasih. Karena kakak sedang ada urusan di luar kota kami terpaksa harus turun tangan."
"Wah! Tidak kusangka aku bisa melihat Kak Celes dalam mode naga."
"Ei, kenapa kau malah senang? Seharusnya kau tahu kalau Kak Celes sedang dihipnotis."
"Aku tahu. Tapi, tidak setiap hari kita bisa melihat dia dalam mode naga."
Keduanya tidak terkejut dengan kehadiran naga. Namun, di saat keduanya sedang memikirkan cara melepaskan hipnotis yang ada pada Celestial, Roy mencabut pisau di kakinya dan melemparkannya pada Lucas. Eigero yang sadar dengan cepat menangkap pisau itu sebelum mengenai Lucas. Tatapan keduanya menjadi tajam.
"Kau pikir bisa melukai Lucas dengan serangan lemah ini?"
Eigero melemparkannya kembali dan tertancap di pahanya Roy dengan mulus.
"Tunggu!'
Ketiganya menoleh ke asal suara itu. Reiki berdiri dan berjalan selangkah.
"Aku berterima kasih pada kalian. Tapi, yang dia incar adalah aku. Kalian bawa mereka, biarkan orang ini aku yang mengurusnya."
"Baiklah, kami mengerti."
Keduanya berlari ke sekitar Sora dan yang lainnya. Sihir keluar dari tongkat mereka dan semua kecuali Reiki terbang ke udara.
"Kami serahkan padamu."
Mereka pergi walaupun Akiko tampak tidak ingin ada pergi.
...----------------...
Setelah Sora dan yang lainnya pergi, akhirnya aku sendirian.
"Maaf membuatmu menunggu, Roy."
"Kuharap kau tidak membuatku kecewa, titisan dewa Ashura."
Aku berlari dan menendang lurus ke depan tapi berhasil dihindari dan kakinya ditangkap oleh Roy. Aku kehilangan keseimbangan namun satu kaki yang lainnya menendang tanah sehingga aku berputar dan kaki menendang kepalanya.
__ADS_1
Serangan tersebut berhasil di tangkis dan Roy yang sudah memegang kedua kaki milikku dan melempar diriku. Roy menarik pisau yang tertancap di pahanya dan membuangnya.
Aku kesakitan akibat benturan keras namun aku masih bisa berdiri dan saat amarahku memuncak, sesuatu berwarna merah seperti sihir menyelimuti diriku seperti sebelumnya.
Aku merasakan kekuatan yang besar bahkan luka-lukaku tidak terasa sakit sedikitpun namun aku tidak terlalu memikirkannya dan menerjang ke depan. Berkat Roy yang terluka dia tidak bisa banyak membuat gerakan. Aku memukul tepat di wajahnya.
"Raaah!"
Roy terpental dan membentur ke beberapa bangunan. Bangunan-bangunan itu roboh. Seketika tubuhku merasakan sakit yang luar biasa. Kurasa ini adalah efek samping dari kekuatan yang besar ini.
Roy melompat dan menyerangku. Aku yang masih kesakitan dipukul dan ditendang oleh Roy beberapa kali dengan penuh kekuatan. Aku terus berusaha menahan rasa sakit dan melindungi wajahku dengan lengan tapi itu tidak membuatku lebih baik.
"Apa cuma segini kemampuanmu?!"
Roy terus memukul tanpa henti meskipun darah terus keluar dari luka-lukanya tapi itu tidak membuatnya menjadi halangan. Pukulan demi pukulan rasanya kekuatan miliknya terus bertambah, entah kenapa setiap pukulannya semakin berat.
"Masih belum!"
Aku mencoba melawan namun setiap seranganku tidak memiliki tenaga dan Roy menghindar dengan mudah dan menyerang balik.
Aku tidak bisa melawan dengan kekuatan seperti ini. Roy menendang perutku dan aku terpental jauh hingga memuntahkan darah. Aku benar-benar kesulitan.
Boom!
Aku bisa mendengar suara ledakan dimana-mana. Satu demi satu kota penuh dengan ledakan. Aku yakin pihak kerajaan sedang melindungi kota namun aku yakin kota sedang dalam keadaan sangat kacau.
"Kau pikir bisa beristirahat?"
Roy melompat dan menyerangku. Untungnya aku mengerahkan seluruh tenaga dan menghindari pukulannya. Aku menendang perutnya saat ada celah dan berlari untuk menjaga jarak.
Dalam kondisi seperti aku tidak akan bisa menang. Bahkan Roy yang sejak tadi terluka sekarang sudah sembuh total. Kurasa itu adalah kemampuan yang dimiliki oleh Roy.
Roy memukul dan aku menghindar ke samping. Kali ini tendangan dari samping aku melompatinya. Aku berhasil menghindari semua serangan yang datang.
Aku mengatur nafasku yang mulai tidak stabil. Kekuatan yang sebelumnya kembali lagi. Aku tidak tahu bagaimana cara mengaktifkan kekuatan ini namun aku harus memanfaatkannya dengan baik.
Roy memukul lurus ke depan dan aku menghentikannya dengan pukulan milikku. Saat pukulan kami beradu, aku tidak merasakan sakit tapi pukulannya benar-benar berat. Aku menyundul kepalaku dan membuat hidung Roy berdarah dan jatuh ke tanah.
"Guh.... boleh juga."
__ADS_1
"Gw gak akan kalah!"