
...Sudut pandang Zanir...
"Aku mengerti tentang situasinya, tapi... apakah dia benar-benar dibutuhkan?"
Saat ini Arc sedang melakukan rapat dengan raja dari dua kerajaan lainnya menggunakan kristal komunikasi. Itu adalah artefak yang memiliki kemampuan seperti video call di kehidupanku sebelumnya.
"Jika yang dikatakannya itu benar maka ini masalah besar dan dia mungkin akan di butuhkan."
"Tapi kudengar dia memiliki sifat yang buruk."
Apa yang mereka bahas? Itu adalah karena monster bernama Nuebris muncul. Itu adalah burung raksasa yang memiliki kekuatan yang setara dengan naga dan di katakan hanya Raul sang penjaga yang bisa menyegel Nuebris dan mereka berencana meminta bantuannya namun karena sifatnya yang buruk mereka meragukan.
"Begini saja, kita akan berbicara tapi jika kondisinya tidak memungkinkan maka kita bisa meminta Zanir melakukannya."
Oi, Oi, Oi. aku memang bisa menyegelnya tapi aku tidak mau melakukannya karena itu merepotkan. Jangan melihatku seperti aku ini bisa melakukan apa saja, Arc sialan!
"Benar juga, dia bisa melakukan itu."
"Kalau memang seperti itu maka bukan masalah."
Setelah itu layar mati dan rapat sudah selesai. Ah, meskipun aku hanya melihat saja tapi ini melelahkan. Aku ingin segera pergi ke rumah bordil dan bersenang-senang.
"Hei, Zanir. Bantu aku mengurus masalah ini, jika kau tidak membantu maka kau tidak diizinkan untuk pergi ke rumah bordil."
"Apa?! Kenapa?! Kau kan raja!"
"Justru karena aku raja makanya aku bisa memerintahmu sesuka hatiku."
"Cih, baiklah yang mulia."
"Jangan berdecak dan menunjukkan kekesalanmu."
Aku memang tidak bisa menolak sang raja. Sejujurnya akulah yang seharusnya menjadi raja tapi bagiku kebebasanku akan dibatasi dan itu menyebalkan sehingga aku menyerahkan posisi raja kepada kakak tiriku, Arc.
Aku mendapatkan posisi sebagai penyihir kerajaan dan aku adalah orang yang memiliki otoritas tertinggi kedua setelah raja. Setelah mengeksekusi ayahku, aku dan kakak mengubah sistem kerajaan ini walaupun beberapa bangsawan menolaknya. Untungnya aku bisa meyakinkan bangsawan yang menolak perubahan kebijakan.
"Kau mau ke mana? Pekerjaannya belum selesai."
"Capek ah, kerja lembur gk selesai-selesai. Aku juga mau main, bosan di sini terus."
"Setidaknya cari pacar sana jangan terus bermain dengan pelacur terus."
"Suka-suka dong. Lagian selain dia aku tidak mau."
"Berhenti seperti itu!"
Arc mendobrak meja dan marah padaku, hingga beberapa penjaga dan pelayan berdatangan. Aku tahu dia marah karena peduli denganku tapi aku hanya mencintai satu orang saja.
__ADS_1
"Aku tahu kau mencintai dia tapi lihatlah kenyataan!! Dia... sudah tidak ada!"
"Memangnya kau tahu apa?! Saat masih kecil, aku harus lari bersama kedua adikku dan ibuku mengorbankan dirinya agar kami selamat dari para naga! Lalu aku harus kehilangan Chelsea di depan mataku, apa kau tahu bagaimana rasanya itu?!"
Semuanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. Itu adalah kenangan pahit yang pernah ku alami. Aku tidak bermaksud jahat tapi aku tidak suka saat dia memaksaku untuk mencari pasangan. Bagiku, satu-satunya wanita yang aku nikahi hanya Chelsea dan tidak ada yang lain.
"Maaf jika aku tiba-tiba marah. Tapi, kumohon jangan paksa aku."
"Aku mengerti. Maaf karena tidak memahami perasaanmu."
"Tidak apa-apa."
Kami pada akhirnya berbaikan dan saling memeluk. Ini bukan pertama kalinya kami bertengkar tapi kami selalu berbaikan setelah itu.
...----------------...
Sebuah mansion di siapkan untuk pertemuan dengan Raul sang penjaga. Ini juga dihadiri oleh beberapa bangsawan sebagai saksi dan ada tiga raja dari tiga kerajaan besar seperti Arc dari kerajaan Aquostria, Dominic dari kerajaan Terrarius dan Dalbert dari kerajaan Vensard yang mengajukan kerjasama untuk menyegel Nuebris.
Dalam pertemuan ini juga sang raja hanya boleh membawa satu penjaga sebagai keamanan. Kebetulan Zanir adalah orang yang pergi bersama Arc lalu raja Dominic bersama sang Valkrie terkuat di kerjaan Terrarius yaitu Louise dan raja Dalbert bersama sang saint yang merupakan orang suci dan memiliki status yang setara dengan Duke di kerajaan Vensard,
"Aku hanya ingin bertanya saja, apakah kalian berdua datang sendiri?" Tanya Arc pada dua raja lainnya.
"Aku bersama Louis." Ucap Dominic.
"Aku juga bersama Elena." Kata Dalbert.
Kedua melihat ke sebelah mereka namun yang seharusnya penjaga mereka bersama tapi sekarang tiba-tiba menghilang.
""Eh? Kemana dia pergi?""
"Sudahlah, mungkin mereka pergi ke toilet."
Raul datang dan menyapa ketiga raja. Setelah pembicaraan yang panjang, Raul belum memutuskan untuk membantu. Sambil menunggu ketiga penjaga raja, mereka memberi waktu untuk Raul segera memutuskan.
"Kya!!"
"Apa yang terjadi?!"
Para bangsawan terkejut dan segera melihat asal suara itu, ketiga raja berdiri dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Di sana Raul masih duduk tenang di sofa dan ada pelayan wanita yang menangisi abu di lantai.
"Tuan Raul, apa maksudnya ini?" Tanya Arc dengan kesal.
"Hm? Aku hanya meminta wanita itu untuk bermain denganku tapi pelayan pria itu mengganggu jadi aku membakarnya."
Arc dan raja lainnya sangat marah. Mereka bisa saja menghukumnya dan menjadi masalah politik tapi saat ini mereka membutuhkan kekuatannya untuk menyelamatkan dunia.
"Maaf yang mulia, saya terlambat." Kata Louise.
__ADS_1
"Raja, saya kembali." Kata Elena.
"Yo, Arc. Aku terlalu bersemangat tadi jadi lupa waktu.... loh? apa yang terjadi?"
Zanir, Louise dan Elena kembali yang entah dari mana. Saat mereka datang semuanya dalam kondisi hening namun Zanir segera menyadari apa yang terjadi. Zanir mendekati pelayan wanita yang sedang menangis.
"Kau tidak apa-apa? Wanita cantik sepertimu tidak boleh menangis."
Zanir menghapus air matanya dari wajahnya. Dengan satu tetesan darah yang keluar dari jarinya jatuh di atas abu itu.
"Heh, aku tidak tahu siapa kau. Tapi orang itu sudah mati, apapun yang kau lakukan percuma saja."
Zanir mengabaikan ucapannya dan abu itu mulai membentuk menjadi manusia, seorang pelayan laki-laki yang pingsan.
"Hei Arc. Apa dia yang melakukan ini?"
"Ya, dia yang melakukannya."
"Begitu ya."
Zanir berdiri dan berdiam di depan Raul.
"Hebat juga kau. Bagaimana kalau kau menjadi bawahanku saja?"
"Kau Raul sang penjaga bukan? Bolehkah aku berjabat tangan denganmu?"
"Oh, apa kau penggemarku? Tentu saja."
Keduanya berjabat tangan namun cengkeraman Zanir semakin kuat.
"Ah! Sakit, sakit, sakit. Tanganku!"
Dalam sekejap tangan Raul meledak hancur dan darah mengotori lantainya.
"Ah! Tanganku! Apa yang kau lakukan, brengsek?!"
"Bagaimana rasanya? Apakah enak?"
Cahaya bersinar dari mata Zanir dan tangan satunya hancur, kedua kakinya meledak hingga menyisakan tubuh dan kepalanya saja.
"Ah! Maafkan aku! Ah!"
"Maaf? Kau pikir setelah membunuh orang kejahatanmu akan bersih jika kau minta maaf?"
Zanir menjetikan jarinya dan tubuhnya kembali seperti semula tapi rasa sakit sebelumnya masih bisa ia rasakan.
"Kudengar kau belum memutuskan untuk membantu, bukan? Maka aku ingin mendengarkan alasanmu."
__ADS_1
Zanir mulai memutuskan jari Raul satu persatu seperti mencabut bunga.