
Untuk pertama kalinya, aku terkagum dengan Akiko.
"Hei, Reiki. Jangan melamun saja atau aku akan menghabiskan semua daging ini sendirian."
Yah, itu karena bukan hanya dia pandai memasak, tapi juga porsi makannya yang besar. Beberapa saat yang lalu, saat kami berencana menangkap kelinci dengan memasang jebakan, salah satu jebakan berhasil membunuh beruang dan Akiko segera membedahnya. Karena itulah, kami memakan daging beruang sambil menunggu jebakan yang dibuat oleh Akiko. Tidak hanya membuat jebakan, dia juga memasak dan telah menghabiskan tujuh porsi. Aku penasaran kemana semua makanan itu masuk dengan tubuh kecilnya.
"Baik, tapi berapa lama lagi kita harus menunggu?"
"Kau harus bersabar. Ini adalah cara paling efektif untuk menangkap kelinci."
"Tapi bukankah kita bisa mencari lalu membunuhnya?"
"Tidak semudah itu. Dengar, kelinci itu sangat lincah dan sulit untuk mengejarnya. Membuat perangkap lalu menunggu mereka termakan jebakannya adalah cara yang paling efektif."
Memang benar ini adalah cara paling efektif namun sangat membosankan kalau harus terus menunggu. Meskipun begitu, aku terkejut kalau Akiko dapat berpikir seperti ini, walaupun dia hanya seorang pelayan di restoran.
"Tapi dari mana kau tahu membuat jebakan?"
"Ah, itu, Zanir yang mengajarinya padaku. Dulu saat ada tikus di restoran, Zanir mengajari kami semua membuat jebakan untuk menangkapnya."
Jadi begitu. Tapi aku masih tidak percaya kalau orang yang selalu bertindak seenak jidat itu bisa berbuat seperti itu.
"Baiklah, mari kita lihat jebakannya."
Kami datang ke tempat jebakan itu dipasang dan siapa yang menyangka bahwa ada sekitar dua puluh kelinci yang terkena jebakan. Ini bahkan baru saja satu jam setelah jebakan itu dipasang tapi sudah ada sebanyak ini yang terkena jebakan.
"Mereka banyak sekali."
"Yah, ini sudah cukup. Kita harus segera kembali dan melaporkannya."
Kami kembali ke guild dan melaporkan hasil tangkapan kami. Kami mendapatkan sepuluh koin perak sebagai hadiah sesuai dengan yang di janjikan.
"Lho? Rei dan Akiko, kalian ada di sini?"
Aku menoleh ke arah suara yang memanggil itu, itu adalah Sora dan Sevira. Cukup mengejutkan bisa bertemu dengan mereka.
"Sora! Tidak kusangka akan bertemu dengan kalian."
"Yah, cukup mengejutkan bisa bertemu kalian lagi setelah satu tahun sejak kejadian itu."
Apa?
"Tunggu, satu tahun?!"
Tidak, tidak. Ada apa ini? Bukannya baru saja beberapa jam yang lalu setelah terkena sinar aneh itu.
Sepertinya kalian bingung. Bagaimana kalau kita bicara di rumah."
__ADS_1
"Kau benar. Kita bicara di rumah saja dan aku yakin Zanir punya penjelasan tentang ini."
"Zanir juga ada di sini?!"
"Ya, aku yakin dia sedang tidur sekarang."
Setelah itu, kami dibawa ke rumah. Meskipun mereka menyebutnya sebagai rumah, tapi ini adalah mansion.
"Besarnya!"
"Ini hadiah dari raja untuk Zanir karena telah menyelamatkan tuan putri dan Duke."
Aku hingga sulit untuk berkata-kata. Semuanya terlalu mewah bagiku. Kami masuk ke ruang tamu dan menemukan Zanir sedang tertidur pulas di sofa yang empuk bersama dua gadis cantik yang tidak kukenal.
"Selamat datang, apa ada tamu?"
"Ya, maaf tuan putri karena sudah mengganggu waktunya."
"Tidak apa-apa, silahkan duduk."
"Duduklah, aku akan membuatkan teh untuk kalian."
Siapa kedua gadis cantik ini? Apa mungkin mereka adalah putri raja dan putri Duke yang dikatakan oleh Sora.
"Jadi... kemana saja kalian selama ini?"
"Baru saja tiba beberapa jam yang lalu."
"Apa? Aku di sini sudah dua tahun, kau tahu."
Ini benar-benar aneh. Bagaimana mungkin bisa seperti itu?
"Mudah saja. Karena sistem waktu tidak berfungsi."
"Zanir, kau sudah bangun?"
"Ya, aku mengantuk sekali karena mengurus banyak hal."
Ada yang aneh, biasanya ada aura menyenangkan yang keluar seperti bunga yang berjatuhan dari Zanir, tapi dia berbeda sekarang, dia seperti orang lain. Aura yang dikeluarkan bagaikan bulu gagak yang berjatuhan.
"Aku tahu kenapa kau melihatku seperti itu. Aku bukan Zanir yang kalian kenal."
"Bagaimana maksudnya?"
"Maksudnya, dia ini bukan Zanir dari dunia kita tapi dari dunia ini. Namanya pun berbeda."
"Beda? Jelas-jelas namanya Zanir," kataku.
__ADS_1
"Aku sudah mendengarnya dari Sora tapi namaku bukan White Zanir tapi Dark Zanir."
Apaan tuh? Cuma beda nama depan doang. Wajahnya sama dan tidak ada yang berbeda.
"Kita kesampingkan dulu tentangku, mari kita lanjutkan topik kedatangan kalian."
Setelah mendengar penjelasan dari Zanir dan Sora, aku paham situasinya. Jadi cahaya itu berasal dari seseorang yang mengincar kami, namun karena Zanir ada di sana, mereka memilih untuk mengirim kami ke dimensi lain sehingga dia tidak mengganggu.
Satu tahun yang lalu, Sora bertemu orang yang merupakan pelakunya. Dia menyebut dirinya sebagai Yukihide. Dia juga mengatakan tentang Inti hitam atau semacamnya.
"Orang itu sangat kuat tapi dia langsung lari saat hampir kalah olehku."
Setelah semua informasi itu, tetap tidak berguna karena si Yukihide ini tidak menampakkan dirinya lagi setelah kalah dari Sora dan yang lebih penting lagi, Inti hitam apaan?
"Yukihide? Entah kenapa rasanya pernah mendengar nama itu..."
Akiko bergumam dengan suara yang kecil, tapi semua tetap dapat mendengar suaranya dan menoleh padanya.
"Kau tahu sesuatu Akiko?"
"Eh? Ah, sebentar. Aku ingat! Dia adalah bangsawan yang dihancurkan oleh Zanir."
"Aku?"
"Itu Zanir kami. Yukihide adalah anak yang sombong dan selalu menggunakan kekuasaannya untuk melakukan apa yang dia mau. Saat itu dia mengeluh tentang makanan di toko kecil karena rasanya tidak enak, lalu dia menghancurkan toko itu dan memperkosa anak dan istrinya."
"Sungguh kejam."
"Sampah."
Para gadis langsung melontarkan ejekan saat mendengar cerita itu.
"Itu adalah toko kesukaan Zanir dan saat tahu akan hal itu, Zanir menggunakan posisinya sebagai pangeran dan mencabut posisi mereka sebagai bangsawan serta menghancurkan seluruh wilayahnya dalam satu hari."
Itu cerita yang mengerikan. Tapi siapa sangka Zanir akan melakukan hal gila itu.
"Sepertinya diri lainku ini lebih menakutkan dari kedengarannya," ucap Zanir, diikuti oleh anggukan kedua putrinya yang menyetujui pernyataan tersebut.
"Yah, dia adalah orang yang melakukan apa pun yang ia suka."
"Iblis berwujud manusia."
"Orang yang menyeramkan," tambah kami semuanya memberikan komentar tentang Zanir. Kami tidak membencinya, hanya saja dia lebih menakutkan dibandingkan raja iblis itu sendiri.
"Entah mengapa aku memahami perasaan diri lainku. Jika aku berada di posisinya, seharusnya aku juga membunuh Yukihide."
Itu benar. Jika Zanir menghancurkan wilayah bangsawan, seharusnya banyak nyawa yang melayang karena ulahnya, termasuk nyawa Yukihide. Mengapa ia masih hidup dan mengincar kami? Tunggu, mungkin serangan itu ditujukan untuk Zanir, bukan kami.
__ADS_1