Tiga Kehidupan

Tiga Kehidupan
Penculikan Akiko


__ADS_3

Sinar matahari pagi adalah sesuatu yang dapat menyehatkan tubuh, itulah yang dikatakan Zanir. Aku melakukan latihan yang diberikan oleh Zanir setiap pagi sebelum memulai bekerja.


"Delapan... sembilan..."


Aku melakukannya memang sedikit enggan tapi mengingat pertarungan dengan Roy, aku harus menjadi lebih kuat. Saat itu aku bahkan tidak berdaya melawannya.


"Se...ra...tuss..."


Mau tidak mau aku harus melakukannya. Aku tidak terlalu mengerti kenapa harus melakukan latihan fisik seperti ini tapi kurasa ini ada baiknya.


"Kerja bagus♪"


"Terima kasih, Akiko."


Aku mengusap keringat dengan handuk yang diberi oleh Akiko. Saat dia mendengar tentang aku akan berlatih, dia begitu semangat dan mengatakan ingin melihatku. Aku tidak yakin apa serunya melihat latihan melelahkan ini.


"Ngomong-ngomong, aku selalu penasaran. Apakah temanmu, Vivi itu... berpacaran dengan Zanir?"


"Hm? Aku tidak yakin tapi kurasa bukan. Tapi kami bertiga itu bersahabat. Saat bersama mereka aku selalu menganggap mereka seperti seorang kakak."


Meskipun begitu, mereka berdua bukankah terlalu dekat? Yah, aku tidak peduli juga. Aku hanya penasaran karena aku pernah melihat keduanya pergi bersama.


"Aku harus pergi. Maaf ya Reiki, ada sesuatu yang harus ku urus."


"Tidak masalah. Hati-hati dijalan."


Akiko pergi.


"Aku ingin tahu urusan apa yang dilakukannya..."


Aku kembali melanjutkan latihanku. Meski begitu, tubuhku rasanya akan hancur. Waktu sudah siang dan aku sudah selesai merapikan barang di toko.


"Kerja bagus, Reiki."


"Kau tidak beristirahat, Verry?"


"Jangan mengatakan seperti itu, kau seperti menganggap aku ini orang tua."


"Jelas, kau kan sudah punya anak dan istri."


"Apakah kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak ada."


Dia bisa mendengarnya?! Kupikir aku sudah berbicara dengan suara yang pelan. Tapi yah, untungnya dia tidak mendengar dengan baik.


*Kring


Bel di pintu berdering yang menandakan bahwa ada pelanggan yang datang.


"Selamat datang~"


"Apakah benar anda bernama tuan Reiki?"


Seorang ksatria datang dengan wajah yang ditutupi oleh helm besi. Dari nada suaranya jelas bahwa ada masalah yang serius.


"Itu... benar. Aku Reiki."


"Anda kami tangkap karena anda adalah tersangka atas menghilangnya nona Akiko."

__ADS_1


Apa?! Akiko... menghilang? Tunggu sebentar, bukankah tadi pagi dia masih bersamaku dan dia pergi dengan alasan memiliki urusan penting. Tapi sekarang... dia menghilang. Itu artinya...


"Tunggu sebentar, apa maksudnya Akiko menghilang?!"


"Seperti yang kau dengar. Anda adalah orang terakhir yang berinteraksi dengan nona Akiko. Jadi, ikut saya dan mohon kerjasamanya."


Sepertinya aku dianggap tersangka atas penculikan pacarku sendiri. Aku bahkan tidak punya alasan untuk melakukan itu tapi sepertinya keadaannya rumit.


Aku dengan pasrah ikut ke istana untuk ditanyai beberapa pertanyaan. Aku menjawabnya tanpa menutupi apapun.


"Kapan kau bertemu dengannya?"


"Tadi pagi."


"Apa yang dilakukannya?"


"Melihatku berolahraga."


Wajah ksatria itu tampak tak percaya. Yah, kalau aku jadi dia mungkin aku akan melakukan hal yang sama karena siapa juga yang ingin melihat orang berolahraga.


"Baiklah, lalu pertanyaan terakhir. Kemana dia setelah bersamamu?"


"Aku tidak tahu, tapi dia mengatakan bahwa ada urusan yang harus dilakukan."


"Begitu, terima kasih atas waktunya. Anda bisa kembali sekarang."


"Terima kasih."


Aku berdiri dan segera pergi. Meskipun aku sangat khawatir sekarang tapi aku percaya kalau para ksatria akan menemukan Akiko. Tapi kurasa aku harus menyelidiki kota, mungkin akan ada petunjuk tentang Akiko.


...----------------...


"Sepertinya bukan dia pelakunya, tuan Zanir."


"Ya, dilihat dari perilakunya sudah jelas. Yang lebih penting, siapa orang yang menculik Akiko?"


"Tidak ada petunjuk lain yang bisa kita dapatkan."


"Jika motifnya karena uang maka itu mustahil karena keluarganya tidak memiliki harta sebanyak itu."


"Aku pikir dia memiliki dendam dan melakukan penculikan terhadapnya."


"Kalau memang seperti itu, aku merasa dia dan keluarganya tidak memiliki musuh."


"Bukan seperti itu, orang tadi adalah pacarnya bukan? Saat ibukota di serang dia bertarung dengan seseorang yang ia kenal."


"Jadi maksudnya..."


"Seperti yang tuan pikiran. Si penculik memiliki dendam pada orang tadi dan menjadikan nona Akiko sebagai sandra."


Mata Zanir membelalak terkejut. Jika motif musuh adalah itu maka semuanya masuk akal. Tapi Zanir tetap merasa aneh.


"Baiklah, terus selidiki. Aku akan pergi mengajar ke akademi."


"Siap, yang mulia."


...----------------...


"Uh... dimana ini...?"

__ADS_1


Aku membuka mataku secara perlahan dan saat aku sadar tidak tahu dimana ini. Kepalaku sangat sakit dan rasanya seperti dipukul.


"Selamat pagi."


Aku terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba menyapaku dan wajahnya sangat dekat. Aku bisa melihat telinga bulu di atas kepalanya.


"Reiki?"


"Sayang sekali aku bukan dia. Namaku adalah Roy."


Dia mirip sekali dengan Reiki. Hm? Tanganku terikat? Bahkan kakiku juga? Tunggu, apa dia menculikku?


"Tenang saja, tujuanku adalah Reiki."


"Apa yang mau kau lakukan?!"


"Hmm... membunuhnya, kurasa?"


"Kau akan menyesalinya. Dia bersama Zanir! Dia pasti akan membunuhmu!"


Plak!


Tamparan keras di wajahku. Rasanya sakit sekali, aku ingin pulang.


"Memang benar, kalau iblis itu bersamanya. Tapi tenang saja, bukan berarti aku tidak bisa menyingkirkannya."


Aku tidak tahu apa mau orang ini. Aku yakin Reiki akan datang, aku percaya itu.


"Sudah saatnya aku pergi. Jaga dirimu baik-baik yah.... nona."


Dia pergi meninggalkan ruangan. Aku tidak bisa menemukan apapun untuk melepaskan ikatan ini. Apakah aku harus tetap diam di sini?


"Aduh."


Aku seperti menginjak sesuatu yang tajam di kakiku. Aku bergeser dengan pelan dan menemukan sebuah pisau kecil. Sepertinya si Roy tadi tidak sengaja menjatuhkannya. Aku meraih pisau itu dan melepaskan diri dari ikatan.


"Aku bebas. Tapi tidak ada apapun di sini, baik jendela ataupun jalan keluar selain pintu ini."


Aku tidak menemukan apapun. Meskipun aku hanya seorang pelayan biasa dan bukan orang hebat tapi aku memiliki Zanir sebagai sahabatku, berkatnya aku jadi lebih percaya diri dan setiap nasehatnya selalu aku dengarkan.


Aku mungkin lemah tapi bukan berarti aku tidak bisa melawan. Zanir mengajariku sihir yang berguna dan cocok untuk orang sepertiku.


Aku membuat bayangan diriku. Aku langsung kehabisan sihir jadi aku sangat lelah sekarang. Aku mengikat tali pada bayangan diriku dan aku mencari jalan keluar, ini adalah rencana yang sempurna.


"Aku serahkan padamu, diriku."


"Ya, serahkan padaku."


Aku segera bersembunyi setelah mengikat pada diriku yang lain. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Roy sudah kembali. Aku memanfaatkan kesempatan yang ada dan pergi ke luar pintu selagi masih terbuka.


"Hm? Apakah tadi ada yang keluar?"


Dia penasaran! Sekarang dia mendekat. Sial, apa yang harus kulakukan sekarang?


"Ada apa? Kau takut kalau itu pacarku yang datang?"


"Oh... meskipun kau terikat seperti ini kau masih bisa melawan ya."


Syukurlah, diriku yang lain menarik perhatiannya dan aku bisa lari dari sini. Yang tadi itu hampir saja.

__ADS_1


__ADS_2