
"Reiki!"
Itu adalah Akiko, dia datang dengan pakaian yang sangat imut. Aku harap ini berjalan dengan baik.
"Apa kau menunggu lama?"
"Tidak, aku juga baru saja sampai."
Aku sangat ingin sekali mengatakan itu. Sepertinya Akiko cukup gugup, aku bisa melihat dia merasa agak tidak nyaman.
"Apa ... kau tidak mau mengomentari tentang penampilanku."
Akiko yang malu-malu sangat imut! Aku merasa ingin mencubit pipinya.
"Bagaimana mengatakannya ... kau terlihat sangat imut."
"Sungguh?!"
Sepertinya dia sangat senang dengan pujianku yang amatir.
"I-Iya."
"Baiklah, kemana kita akan pergi?"
Tanganku di gandeng oleh Akiko dan berjalan-jalan mengelilingi kota. Kami menikmati waktu bersama kami. Pergi ke berbagai macam toko. Semua toko yang kami kunjungi mengatakan untuk tidak perlu membayar karena semua sudah di tanggung oleh seseorang.
Aku penasaran siapa orang yang membayar seluruh kota hanya untuk kencan kami berdua. Tapi orang yang terpikirkan olehku hanyalah Zanir.
Waktu semakin sore dan aku tak pernah menyangka bahwa waktu sudah akan berakhir saja. Kami berdua duduk di bangku dekat pantai.
Dari sini kami akan melihat matahari terbenam. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun, suasananya sedikit canggung.
Aku merasa gugup, meskipun kami sudah menghabiskan banyak waktu sebelumnya tapi mengingat hanya ada kami berdua saja membuatku sangat gugup.
"Hei, Reiki."
Akiko memanggilku dengan suara yang lembut dan matanya masih menatap ke depan.
"Apa kau tahu ... Kalau aku takut dengan laki-laki?"
"Ya, aku sudah mendengarnya."
"Begitu."
Keduanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. Hanya keheningan yang ada. Setelah jeda beberapa detik, Akiko melanjutkan perkataannya.
"Mungkin saat ini aku masih takut tapi ... Karena Zanir, aku senang bisa bersamamu."
Akiko menatap mataku dan menunjukkan senyum lembut tapi ada hal lain dibalik senyum itu.
"Aku juga senang. Aku tidak tahu apapun tentangmu apalagi tentang cinta. kau tahu..."
__ADS_1
Aku melanjutkan perkataanku setelah jeda beberapa detik.
"Bagiku, cinta dan kasih sayang sudah lama hilang. Dulu aku memiliki seorang ibu angkat, dia merawatku dan membesarkanku hingga suatu ketika sebuah tragedi mengerikan terjadi."
Mata Akiko membelalak karena terkejut. Dia yang merasa dirinya orang yang paling menderita karena telah di tipu oleh mantan pacarnya namun saat mendengar ceritaku aku yakin dia merasa bahwa ada orang diluar sana yang lebih menderita dibandingkan dirinya.
"Ibuku dan teman-temanku di bunuh. Desaku dihancurkan dan menyisakan diriku yang lemah. Hatiku terasa hampa dan dipenuhi kebencian. Kupikir selain kebencian aku tidak bisa merasa perasaan lainnya namun setelah melihatmu aku yakin kalau aku masih memiliki perasaan lainnya yang sudah lama hilang."
Akiko menarik kepalaku dengan tangan kecilnya yang lembut dan kepalaku mendarat di pangkuan Akiko.
"Akiko ... ini memalukan."
"Tidak apa-apa."
Akiko membelai kepalaku dengan cara yang luar biasa lembut.
"Aku akan membuatmu bahagia."
"Bukankah itu... Seharusnya kalimatku?"
Yah, aku malu karena Akiko memperhatikanku.
Dia terlihat sangat menawan dan manis. Situasi seperti ini tidak terpikirkan sampai sekarang.
Kami baru saja bertemu dan kupikir situasi seperti ini hanya akan terjadi setelah beberapa hari berpacaran tapi tak kusangka akan terjadi secepat ini.
Wajah Akiko mendekat, aku bisa mencium baunya yang seperti stroberi di hidungku. Baunya membuatku merasa nyaman. Matanya tertutup dan bibir kami saling bertemu.
Aku terkejut dengan apa yang sedang terjadi, untuk pertama kalinya aku berciuman dengan seorang gadis.
Setelah itu, dia dengan cepat membuang muka dan mulai mengatur nafas. aku pikir dia malu karena ciuman itu.
"Umm... Akiko?"
"Jadi, ini ya rasanya .... berciuman."
Akiko mengalihkan pandangannya dariku dan menyentuh bibirnya sendiri dengan jarinya, menyerap memori ciuman pertama kami.
Aku juga merasa pikiranku kosong dan aku tidak bisa memikirkan hal lain.
"Reiki, aku minta maaf .... jika kau merasa tidak nyaman."
"Tidak apa-apa .... kau tidak perlu meminta maaf."
Langit menjadi gelap dan kami melihat ke sebrang laut, matahari mulai terbenam dengan warna yang indah. Aku berharap hubungan ini bisa bertahan selamanya.
...----------------...
~Sudut pandang Zanir ~
"Sekarang, katakan dengan jujur."
Aku duduk di karpet ruang takhta, di depanku adalah raja kerajaan ini dan juga merupakan kakak tiriku. Dia marah padaku karena pembayaran tentang kencan Akiko kemarin ku serahkan pada kerajaan.
__ADS_1
Karena kerajaan memiliki kekayaan yang banyak jadi aku memanfaatkannya walaupun aku tahu uang itu untuk kepentingan negara.
"Kau tahu... Itu ..."
Aku penuh dengan keringat dingin. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku membantu orang berkencan dan memanfaatkan uang negara. Jika mereka tahu, kepalaku akan ... terpotong!
Yah, walaupun mereka mengeksekusi diriku tapi aku tidak bisa mati. Mungkin karena kontrak sehingga aku menjadi abadi. Itu tidak penting, bagaimana caraku untuk keluar dari Sini.
"Kuharap kau membuat alasan yang masuk akal."
Sungguh mengerikan, tatapan dingin mereka sungguh menakutkan.
"Karena... "
Semua menunggu jawabanku. Dengan cepat, mengambil bom asap dari [Storage] dan melemparkannya ke tanah sehingga menciptakan asap yang tebal. Aku segera memanfaatkan situasi tersebut dan pergi menggunakan teleport.
"Cih, dia lari lagi."
Aku berada di kota. Kurasa dia tidak akan mengejarku, yang lebih penting bagaimana ya hasilnya? Kuharap kencan mereka berjalan dengan baik.
Aku masuk ke toko Akiko dan berjalan ke dapur. Semua pegawai toko berisikan gadis cantik sehingga tempat ini selalu ramai. Di sana Akiko sedang melamun dan yang lainnya terlihat sibuk.
"Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga."
"Zanir?!"
Akiko terkejut dengan kedatanganku dan menjatuhkan adonan yang sejak tadi ia bentuk.
"Wah, sayang sekali. Padahal itu bisa menjadi makanan enak."
Aku menggunakan sihir waktu dan mengembalikan adonan yang ke tempat semula dengan memutar balik waktu.
"Bagaimana kencannya?"
Akiko memerah dan wajahnya sangat malu tapi terlihat dari senyumnya aku yakin terjadi sesuatu yang menarik.
"I-Itu..."
"Berhenti mengganggunya."
Kepalaku tiba-tiba dipukul dari belakang dengan nampan oleh Vivi, seorang gadis cantik yang merupakan pemilik toko ini. Dia terkadang ikut melayani pelanggan.
"Eh..."
Para gadis tertawa melihatku dan Vivi yang tampak akrab seperti biasanya.
"Daripada mengganggu Akiko, mengapa kau tidak bermain ke kamarku malam ini?"
Ucapan Vivi membuat semua gadis di dapur terkejut karena ajakan berani Vivi padaku. Meskipun hubungan dengan Vivi sebenarnya bukanlah rahasia namun dia mengatakan di waktu yang tidak tepat.
"Boleh juga. Hari ini kerajaan sedang mencariku karena suatu masalah jadi aku tidak bisa kembali sekarang."
"Lagi-lagi kau membuat masalah ya?"
__ADS_1
Aku senang Vivi mengerti diriku. Aku memesan makanan dan pergi meja makan yang kosong. Aku benar-benar lapar karena sejak pagi, aku ditangkap dan disuruh mengaku mengenai tagihan yang diberikan ke kerajaan.