
Bau darah menguasai udara, tanah dipenuhi oleh bangkai orc yang berserakan dan rerumputan dikotori oleh darah. Seorang anak laki-laki berjalan pergi dengan tangan yang berlumuran darah.
Anak itu berjalan kelelahan dan matanya mengantuk. Tubuhnya dipenuhi bau darah, pakaiannya memiliki bercak darah. Saat sesampainya di mansion, anak itu segera membersihkan dirinya dan membuat laporan kepada tuan rumah keesokan paginya.
...----------------...
2 tahun kemudian.
Di dalam kamar, hanya ada Chelsea dan Zanir saja. Chelsea tidur diatas pangkuan Zanir.
Zanir mengusap rambut Chelsea dengan lembut agar membuatnya terasa nyaman. Meskipun sebenarnya keduanya hanya pelayan dan tuan namun Chelsea ingin seperti ini selamanya.
Berduaan bersama Zanir adalah momen yang paling menyenangkan bagi Chelsea. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, tapi keduanya tidak menyadari itu. Ellie, kakak dari Chelsea terkejut begitu melihat kebersamaan mereka.
"Oh... Lihat? Siapa yang sedang bermanja pada pelayannya sendiri."
"Kakak?!" Chelsea bangun dengan cepat karena terkejut dengan kedatangan kakaknya yang secara tiba-tiba. Wajahnya memerah dan langsung melotot ke Zanir. Zanir yang sadar seolah bisa membaca wajah Chelsea yang mengatakan "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Zanir tersenyum dan mengangkat bahu seolah menjawab pertanyaan Chelsea dengan "Maaf, karena lucu saja melihatmu terkejut." Chelsea benar-benar dipermainkan oleh Zanir tapi karena sifatnya yang seperti inilah yang disukai Chelsea dari Zanir. Saat acara minum teh beberapa hari yang lalu dengan putri bangsawan lain dia bisa melihat bahwa pelayan mereka hanya bertindak seperti yang diperintahkan saja sementara Zanir kadang selalu menjahilinya yang tidak mungkin pelayan lain lakukan.
"Kenapa kakak kemari?" Chelsea bertanya selagi berpikir apa yang membuat kakaknya datang. Biasanya di saat sesuatu yang penting dia akan menemuinya seperti ini, jadi kali ini mungkin hal yang penting sedang terjadi.
"Aku datang karena ayah menyuruhku untuk memanggil Zanir."
"Aku? Baik, aku akan segera ke sana."
Ellie keluar kamar dan menutup pintunya kembali. Zanir berdiri namun Chelsea menahan Zanir dengan menarik lengan bajunya. Wajahnya menunduk sehingga Zanir tidak bisa melihat wajahnya namun ia bisa tahu bahwa ia sedang memasang ekspresi sedih.
Zanir tersenyum lembut, dia berbalik lalu segera menarik lengan Chelsea hingga kepalanya menabrak dada Zanir yang hangat. Satu tangan Zanir melingkar di pinggang Chelsea dan tangan satunya mengusap kepalanya.
Chelsea merasa nyaman dan tidak ingin momen ini berakhir begitu saja, walaupun Zanir adalah pelayannya namun ia tahu bahwa ia memiliki perasaan. Sebenarnya ia tahu identitas Zanir yang sebenarnya yang tidak pernah dikatakan oleh ayahnya atau Zanir sendiri.
Seorang anak dari selir raja. Tahun lalu ia mendengar kabar bahwa raja menyerahkan tahtanya kepada anaknya karena suatu alasan, tapi ia tahu itu pasti berhubungan dengan Zanir.
__ADS_1
Ia penasaran kenapa seorang bangsawan sepertinya mau menjadi pelayan dari bangsawan yang kastanya lebih rendah darinya.
Tapi Chelsea percaya kalau dia punya alasan untuk melakukan itu. Zanir berbicara dengan suara yang lembut dan menenangkan.
"Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku hanya harus menghadap ayahmu, setelah selesai aku akan segera kembali, oke?"
Chelsea hanya mengatakan"Ya." dengan suara kecil namun masih bisa didengar oleh Zanir sehingga ia melepaskan pelukannya dan segera menghadap ayah Chelsea.
Sudah hampir tengah malam tapi Zanir belum juga kembali. Chelsea merasa tidak nyaman dan ada perasaan aneh di dadanya, dia gelisah. Dia berharap Zanir baik-baik saja. Pintu kamar terbuka perlahan dan Chelsea sontak memanggil nama Zanir.
"Zanir?!" Namun yang ada di pintu bukan Zanir melainkan kedua adiknya Zanir. Yang membuka dengan meraih gagang pintu adalah Eigero sementara yang mendorong pintunya adalah Lucas.
"Kak Chel, apakah kakak ada disini?" Lucas berlari kecil sambil menanyakan kakaknya namun Chelsea tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk kedua anak kecil ini.
Ia sendiri tidak mengetahui kemana Zanir pergi dan ia saat ini sedang mencemaskannya, sama seperti mereka berdua.
"Kakak kalian sedang merawat tanaman jadi dia akan segera kembali."
"Semalam ini?" Ucap Eigero yang berdiri di samping Lucas sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, aku juga khawatir tapi tenang saja. Aku akan menjemputnya jadi kalian tidur saja dulu."
Lucas dan Eigero saling menatap lalu kembali ke Chelsea. "Tapi kakak berjanji akan membacakan dongeng untuk kami sebelum tidur."
Chelsea kesal karena ia tidak tahu apa yang ayahnya perintahkan sehingga Zanir belum kembali, ia segera mengambil lonceng di dekatnya dan membunyikannya.
Tak lama kemudian, seorang wanita maid datang dan membungkuk dengan hormat.
"Untuk saat ini, kalian kembali ke kamar kalian dan pelayan akan membacakan dongeng untuk kalian. Tolong bawa mereka dan bacakan dongeng untuk mereka."
Maid itu mengiyakan dan Lucas dan Eigero merasa sedih karena tidak bisa mendengar dongeng seru dari kakaknya tapi mereka percaya kalau kakak sedang bekerja untuk mereka berdua sehingga mereka mau tidak mau harus menurut.
Keduanya kembali ke kamar mereka sambil dibantu maid dan Chelsea pergi untuk menemui ayahnya.
__ADS_1
Pintu ruang kerja ayahnya di ketuk dan ayahnya mengatakan "Masuk." dari balik pintu. Saat pintu terbuka, ia melihat ayahnya masih mengurus dokumen di mejanya dengan serius.
"Ayah." Dipanggilnya sang ayah dengan nada lembut. Ayahnya berhenti menulis seolah tahu apa yang ingin di tanyakan anaknya.
"Kembalilah nak, kalau kau mencari Zanir, dia sedang aku suruh untuk tugas penting."
"Tapi... Ini sudah malam! Katakan kemana Zanir pergi?!"
"Tidur saja. Dia akan kembali sebentar lagi."
Chelsea menggigit bibirnya karena kesal dan keluar dari ruangan ayahnya lalu membanting pintu dengan keras. Ayahnya hanya menghela nafas pasrah melihat anaknya yang sedang khawatir.
Diam-diam Chelsea berlari kecil di lorong menuju pintu keluar. Dia yakin kalau Zanir ada di kota dan dia harus menemuinya agar dia segera pulang.
Jauh di kegelapan kota. Seorang pria berlari dengan tergesa-gesa dan wajahnya dibasahi keringat dingin. Bayangan hitam dengan mata biru berjalan dengan santai di belakang pria tersebut. Pria itu terus berlari tanpa menoleh kebelakang.
Namun ia berhenti karena di depannya adalah jalan buntu. Pria itu berbalik sambil berteriak "Hii!" dengan keras.
"Tolong! Ampuni aku."
Sesaat kemudian kepala pria tersebut terlepas dari lehernya. dan darah keluar hingga tanah berubah warna menjadi seperti darah.
Bayangan itu melihat ke langit lalu menghilang dengan cepat seolah dia tidak ada.
Chelsea melihat sekeliling untuk mencari Zanir namun kemanapun ia melihat hanya jalan kosong yang disinari lampu jalan.
Dia terjatuh karena menabrak sesuatu yang keras. Saat ia melihat ke depan, seorang pria bertubuh tinggi berdiri seolah dia seperti tembok yang kokoh.
Pria itu tersenyum sehingga membuat Chelsea ketakutan. Pikirannya mengatakan dia harus lari darinya.
Dia melempar pasir ke wajah pria itu dan segera berlari sekencang mungkin. Chelsea terus berlari namun pria itu segera menangkap Chelsea.
"Lepaskan aku!" Angin berkumpul dan melemparkan pria itu jauh ke langit.
__ADS_1
Chelsea menggunakan kesempatan itu untuk lari dan segera menemukan Zanir namun dia bertemu beberapa pria yang sepertinya teman pria sebelumnya.
"Wah, wah. Sepertinya kita mendapatkan mangsa yang bagus."