
"Bisakah kau tidak melakukan itu? Kau terdengar seperti penjahat sekarang." Sevira tampak tidak senang dengan Zanir.
"Hei, kurasa kau harus melihat ini."
Sevira melompat dari kepala Sora dan berubah menjadi gadis cantik dengan rambut cokelat panjang. Sama seperti Zanir. Sevira menyentuh telapak tangan Reiki dan tubuhnya tiba-tiba bersinar.
"Apa?! Ini..."
Sevira sangat terkejut membuat Sora dan Reiki bertanya-tanya apa yang membuat mereka berekspresi seperti itu.
"Sungguh tidak terduga..."
"Hei, ada apa sebenarnya?"
Sora penasaran dan bertanya. Ekspresi yang dibuat oleh mereka berdua menjadi pertanyaan besar.
"Reiki adalah seorang dewa sama seperti kami." Jawab Sevira.
Sora dan Reiki sangat terkejut mendengar fakta yang diucapkan oleh Sevira.
"Eh? Apa...!?"
"Sekarang itu menjelaskan sihir merah yang kau gunakan waktu itu."
"Meskipun begitu..., aku tidak tahu bagaimana cara mengaktifkan kekuatan ini."
Reiki menunduk dan merasa cemas. Kekuatannya tidak pernah ia ketahui dan menjawab pertanyaan tentang ucapan Roy. Sekarang, dia tahu kalau dirinya dewa tapi dia tidak lebih dari orang lemah.
"Kalau begitu ikuti aku. Aku punya cara agar kau bisa menggunakan kekuatan itu."
Reiki mengikuti Zanir dari belakang. Dia berjalan ke dekat jurang yang tidak jauh dari tempat mereka.
Zanir berbalik dan mulai menjelaskan tentang kekuatan yang dimiliki oleh Reiki.
"Aku akan sedikit menjelaskan tentang dewa Ashura. Ashura adalah setengah dewa. Dia memiliki enam lengan dan memiliki kekuatan yang sangat besar. Dulu dia hanya seorang manusia biasa yang menyukai perang dan pertarungan namun karena dia selalu bermandikan dengan darah, ia menjadi sosok yang mengerikan. Dia selalu bereinkarnasi saat menjelang kematiannya dan sekarang ia bereinkarnasi menjadi dirimu."
Reiki menelan ludahnya karena mendengar cerita menakutkan itu. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia takut akan dirinya sendiri. Zanir melanjutkan penjelasannya.
"Kekuatannya mampu menghentikan perang seorang diri. Itulah mengapa dia dijuluki sebagai dewa perang."
__ADS_1
"Apa ini ada hubungannya dengan latihan kita?"
"Tentu saja. Baik kekuatan fisik, pertahanan dan lainnya yang sangat kuat adalah bukti dia dipanggil dewa. Kau yang sekarang belum memahami kekuatan itu. Untuk itu aku menjelaskan agar kau sedikit memahami kekuatan ini agar mudah kau kendalikan."
Semua penjelasan panjang itu membuat orang mengantuk namun, tidak untuk Reiki. Dia mendengarkan dengan baik dan sedikit memahami maksud Zanir.
"Sekarang kau lihat ke dalam jurang itu."
Zanir menunjuk jurang yang ada di dekat mereka. Reiki melihat ke bawah. Hanya kegelapan yang dapat ia lihat, ia tidak bisa melihat dasar dan ia juga yakin kalau ini sangat dalam, jika ia jatuh kemungkinan ia akan mati dalam sekejap.
"Kekuatan Ashura adalah mampu mengendalikan kekuatannya jadi aku ingin kau menggunakan itu untuk..."
Zanir berbicara dan Reiki mendengarkannya tanpa menoleh. Saat Zanir berhenti di kalimat yang seharusnya penting. Saat Reiki akan menoleh, dia merasakan sesuatu yang keras di punggungnya.
"Merangkak keluar dari dalam sana."
Zanir sudah mendorong Reiki dengan kakinya dan ia terjatuh ke jurang yang dalam dan gelap.
"Eh? Eh?!!!! Yang benar saja!!!"
...----------------...
"Woah!!!"
Ini adalah jurang yang dalam, jika aku tidak melakukan sesuatu maka aku akan mati. Aku menutup mata dan fokus agar kekuatan yang aku gunakan waktu itu kembali tapi berapa kali pun aku mencoba hasilnya nihil.
"Apa yang harus kulakukan?!!! Aku akan mati!!!"
Aku tidak bisa berpikir jernih dan aku sangat panik. Aku tidak ingin mati tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin mati karena aku belum menikah dan memiliki anak. Aku tidak ingin mati di usiaku yang masih muda ini.
"Merangkak keluar dari dalam sana."
Ucapan Zanir terukir di kepalaku tapi aku tidak tahu bagaimana cara merangkak keluar dari sini.
"Kekuatan Ashura adalah mengendalikan kekuatannya."
Kata-kata itu membuatku sedikit tenang dan aku menarik nafas panjang. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal lain dan fokus mencari solusi. aku menutup mata dan mulai berkonsentrasi.
Seketika aku merasakan kekuatanku meningkat dan seperti ada kekuatan yang besar yang mengalir di tubuhku. aku mendekati tembok jurang dan menendangnya. Aku melompat ke atas dan terus melakukan hal sama sehingga aku berhasil mendekati puncak. Namun, kakiku tergelincir dan aku kembali jatuh. Aku merasa jatuh lebih cepat dari sebelumnya. Pikiranku kacau dan tanpa kusadari aku sudah berada di dasar jurang.
__ADS_1
Aku tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba jatuh lebih cepat dan bahkan aku merasa tubuhku terasa berat saat itu. Aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku dan aku rasa ada beberapa tulang di tubuhku patah. Aku menatap ke atas dan tidak bisa melihat langit, seperti ada kabut yang menghalangi pandanganku ke atas jurang.
"Sialan. Aku akan membunuhnya saat sampai di puncak."
Aku kesal dengan Zanir. Dia mendorongku dan membuatku terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam ini, dia seperti ingin membunuhku. Aku yakin dia tidak sedang mencoba membunuhku tapi dia sudah sangat keterlaluan. Untungnya aku hanya terluka dan nyawaku masih ada.
"Sekarang, bagaimana caraku untuk keluar dari sini."
Aku duduk dan beristirahat sebentar sambil memikirkan cara keluar dari tempat mengerikan ini. Aku tidak bisa memikirkan cara yang bagus.
Tuk, tuk
Aku mendengar sesuatu sedang mematuk. Suaranya terdengar seperti ada yang sedang menggigit tulang. Aku berjalan mendekati suara itu. Mataku sekarang sudah terbiasa dengan kegelapan ini dan aku bisa melihat dengan cukup jelas.
Suaranya semakin jelas begitu aku mendekatinya. Aku berusaha tidak membuat suara. saat semakin dekat aku menginjak sesuatu sehingga suara ketukan itu menghilang. Aku menutup wajahku karena ada sekawanan burung yang menyerang wajahku dan mereka pergi terbang.
Aku bisa melihat tulang berserakan di tanah. Ada bau darah dan bercampur darah bau yang sangat tidak enak. Bau ini menusuk hidungku. Aku yakin kalau itu adalah monster yang mirip dengan harimau atau singa. Ukurannya cukup besar dan merasa dia sudah mati sekitar beberapa tahun yang lalu.
"Ugh... Ini semakin menjijikan."
Saat itu juga aku muntah karena benar-benar tidak tahan dengan baunya yang menyengat. Aku u selesai muntah namun rasa mual ini masih terasa. Aku melihat ke tulang itu dan seketika sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalaku.
"Meskipun aku tidak suka tapi ini adalah cara yang bisa aku pikirkan."
Aku mengambil tulang yang mirip seperti taring dan mencabutnya. Dengan sekuat tenaga aku menancapkan tulang itu ke tembok dan mendaki ke atas. Ini memang membutuhkan waktu yang lama tapi aku akhirnya berhasil mencapai puncak.
"Kau masih hidup, Rei?"
"Ya."
nafasku terengah-engah dan aku sangat lelah.
"Hoi, apa kau mendaki dengan benda menjijikan itu?"
Zanir menatapku dengan jijik. Dia berjalan mendekat padaku yang telentang di tanah karena sangat kelelahan.
"Ya... Begitulah."
"Bukan begini cara yang dimaksud!"
__ADS_1
Dia menendangku dan aku kembali terjatuh ke dalam jurang.
"Jangan lagi!!"