
Chapter.1. Hujan Mengguyur Bumi Awal Kisah
*Hujan belum juga berhenti
Deras sekali
Semua basah*.
*Di langit kilat dan guruh membelah langit yang gelap..sesaat menjadi terang benderang. Setelah itu gelap kembali.
Suara
kilat, suara hujan, suara angin bersahutan , berlomba, gemuruh,
bagaikan suara suara lolongan makhluk aneh dari dunia lain .
Mengerikan*!!
Tiba-tiba,
" Splassss.......Duuaaarrrr "! Suara lesatan bayangan hitam ditingkahi suara kilat diangkasa.
Bayangan itu terus meluncur deras diantara hujan dan badai kilat mengarah ke Bukit terjal di ujung Lembah Kematian.
Menuju ke sebuah gua besar.
Cahaya
kilat menerangi, tempat sosok bayangan hitam berdiri. Perawakan
tubuhnya tinggi besar. Sebelah tangannya mendekap seorang bocah kecil di
pondongannya. Tangan yang lain menggenggam tongkat hitam berkepala
naga.
Rambutnya panjang ikal, menyeramkan. Baju dan celana berwarna hitam longgar, berkibar ditiup angin.
Aneh...!
Di dalam hujan dan badai petir seperti ini, tidak nampak sama sekali bahwa sosok angker itu kebasahan.
Lembah Kematian, adalah julukan tempat itu. Kematian bisa datang kapan saja disini. Aneka sebab, aneka cara.
Hawa kematian selalu mengambang pekat di seantero lembah. Tidak ada sembarang orang berani memasukinya.
Lembah Kematian adalah tempat tinggal tokoh sesat sakti Denawa yang berjuluk Setan Berkabung.
Sosok hitam itu, masuk ke dalam goa. Dia lah Denawa si Setan Berkabung pemilik Lembah Kematian.
Chapter. 2. Padang Seribu Bunga Menjadi Saksi
*Beberapa waktu sebelumnya....
Langit mendung , kilat dan guruh berebut turun, Bau kematian dan anyir darah mendirikan bulu roma.
Padang Seribu Bunga jadi banjir darah*.
Mayat bergelimpangan dimana-mana. Mati akibat tebasan pedang, pukulan tenaga dalam. Yang luka pun tak kalah banyaknya.
Hari ini Padang Seribu Bunga yang biasanya merupakan tempat yang harum dan elok.
Hari ini jadi Padang Pembantaian.
Nafsu serakah, keinginan tamak, yang membuatnya seperti ini.
Hujan mulai merinai, bumi seolah ikut menangis. Kilat dan guruh mulai melecutkan sinar dan getarnya. Alampun mulai murka.
Diantara geliat alam yang mulai meraung mengiringi nafsu manusia yang tidak pernah mengenal puas.
Hanya ingin menguasai Pedang Pemikat Sukma, pedang mustika yang akan menjadi simbol sebagai Raja di raja di dunia persilatan.
Nyawa menjadi tidak ada harganya. Mereka seakan berlomba lomba mendapatkan pedang itu.
Pedang
yang terbuat baja tipis istimewa, lentur, dapat disimpan sebagai ikat
pinggang. Setelah dilolos dari sarungnya akan mengeluarkan warna biru
menyilaukan. Kalau diayun atau ditebaskan akan mengeluarkan suara
mengaum bergulung gulung. Laksana suara naga yang murka.....
*Di Padang Seribu Bunga..
Di antara rinai hujan yang dingin..
Di antara mayat bergelimpangan
Berdiri goyah*..
BARJA pemilik syah Pedang Pemikat Sukma.
Berdiri
bertelekan pedangnya, wajahnya muram. Rambutnya yang panjang terurai
menutupi sebagian wajahnya yang tampan. Walaupun hampir seluruh tubuhnya
penuh luka, ia teguh seolah tidak merasakan kesakitan. Hanya hatinya
sedih dan pilu.
Di sekililingnya berserakan mayat sia sia para pemaksa kehendak. Yang ingin merebut pedang miliknya.
Tubuhnya hanya sedikit
bergetar ketika ia melirik kesamping kiri tempatnya berdiri ..tidak
seberapa jauh...terbaring tubuh istrinya tercinta SERUNI ..tewas yang
menjadi korban ketamakan ...
Wajahnya pucat pias..
Ooh.....SANTIKA anaknya diam tak bergerak dalam pelukan ibunya.
Kerit kerut wajahnya
menyaksikan semuanya ini, sekokoh dan setegar apapun hatinya, melihat
kematian orang yang dikasihi dan dicintainya, tewas didepannya tanpa ia
mampu menyelamatkannya.
" Haaaaaaaaaaaa...." ia
meraung keras, tangannya memegang erat pedangnya. Mukanya menjadi
beringas, di antara hujan yang mulai menderas...
Amarah merasukinya. Yang
semula ia hanya membela diri, sekarang ia murka. Karena dengan berbagai
cara, para perebut dari golongan hitam maupun putih, baik secara
berterang dan cara licik....tujuannya adalah merebut pedangnya.
Amarah Alam
Amarah BARJA
Melebur
Membuat Padang Seribu Bunga kental oleh hawa pembunuhan.
Chapter. 3. Padang Duka Asal Rantai Dendam
Hujan semakin deras
Kilat dan guruh sambung menyambung menggetarkan.bumi.
Luka pukulan tenaga dalam yang menggetarkan dada dan isi perutnya.
Luka tusukan dan sayatan
senjata..membuatnya limbung...Luka yang takkan terselamatkan....Badan
dan anggotanya, sudah penuh peluh dan darah mengental bercampur dengan
hujan yang semakin deras.
" Hiaaaaaat....."! Pedang Pemikat Sukma, menggetar , alam menyatu. Menebarkan hawa pedang yang menggiriskan.
" Ayo, ....siapa lagi yang akan menemani anak dan istriku...
Kalian akan kukirim ke neraka ", BARJA berteriak geram....hawa pembunuhan semakin tebal.
Pengeroyoknya hatinya bergetar, yang mempunyai ilmu pas pasan hatinya ciut..mundur..menjauhi medan pertempuran...
Lain dengan yang berilmu tinggi baik dari golongan sesat maupun golongan lurus.
Ini kesempatan..kapan lagi..
Batin para pecundang, penjahat, perwujudan dari iblis sendiri..
Mempersiapkan senjatanya
Melolos senjata rahasia
Mereka merapal mantra
Merapal aji pamungkas
Mau mundur sudah terlanjur
Mau undur sudah kepalang tanggung
Batin para pendekar
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Keserakahan, ketamakan yang ditiupkan setan menggelapkan jiwa bersih mereka.
Untung disaat terakhir sebelum mereka melakukan....
Tapi sudah terlambat.
Deru tenaga dalam
Kilatan lesatan senjata
Kerdipan senjata rahasia..berdering
Semua melesat ..memusat ...ke satu titik...tubuh BAJRA
BAJRA mengayun pedang dengan sisa tenaganya, ayunan terakhir ....untuk mengadu jiwa.
" Hiiiiiiiyyyyyaaaaaa...."! Belum selesai ayunan..."
" Duaaaaaaarrrr..."!
Kilat mendahului melecut bumi...menyambar tepat ke arah BARJA..pedangnya terpental terbang...menggulung...
Dalam detik bersamaan, semua lontaran senjata, lontaran tenaga dalam, lontaran senjata rahasia
Menghantam, menancap ditubuh BARJA...Tepat bersamaan ....
Kilat
menghujam, menghantam tubuh BARJA, mementalkan pedang. mengejutkan
SANTIKA , bocah itu ternyata masih hidup. Pedang terhantam kilat
meluncur deras ke arah SANTIKA,...saat itu juga kilat mengiblat..
" Duuuuuuuaaaaaarrrr..."! dan..Srreeetttttt.....plasss....
Bayangan hitam besar menyambar pedang dan bocah SANTIKA yang tersambar kilat.
Melesat deras
Sederas hujan
Ke Barat menjauhi Padang Seribu Bunga ..
Di saat yang sama. Semua memandang ke satu arah. Hanya dalam hitungan sesaat semua benar benar berubah.
BARJA luruh
Pedang Pemikat Sukma lenyap
Bersama bocah SANTIKA.
Tubuh BARJA perlahan lahan luruh, jatuh, ke arah istrinya terbaring tewas.
Di raihnya tangan istrinya yang dingin, digenggamnya. Matanya memandang pilu ke arah lenyapnya SANTIKA anaknya.
Yang di sambar bayangan hitam. Ternyata anaknya masih hidup....
Kemudian ....
Bibirnya tersenyum tipis..masih ada harapan..anaknya masih hidup. Perlahan sinar matanya memudar...kemudian terpejam.
BARJA tewas dalam mempertahankan miliknya. Dari tangan manusia serakah dan tamak.
Tinggal mayat BARJA, SERUNI dan semua mayat tergeletak berselimut lumpur dan hujan.
Kemudian..
Semua yang hidup di padang menjadi layu dan mati.
Bilasan
badai hujan tidak mampu mencuci noda darah, noda racun, noda hawa
beracun, membunuh semua yang ada, rereumputan, pepohonan, binatang
melata, binatang yang terbang, musnah mati.
Hujan deras, badai kilat menjadi saksi,
Padang Seribu Bunga sirna menjadi Padang Duka
Perlahan hawa pembunuhan, hawa kematian menguap hilang.
Suara hujan dan deru kilat menjadi nyanyian duka.
Chapter.4. Keajaiban Pembawa Petaka
.
Didalam Gua di Lembah Kematian.
DENAWA tidak habis pikir, melihat tubuh bocah yang diselamatkannya.
Si
bocah terluka oleh awan pukulan beracun MINARTI Bidadari Selaksa Racun.
Salah satu datuk sesat yang berasal dari Selatan. Dengan ilmu pukulan
beracunnya Awan Merah Pencabut Nyawa,
Ia masih kuat bertahan
walaupun keracunan hebat. Di tambah.hantaman kilat yang menghanguskan
tubuh dan pakaiannya. Rambutnyapun sampai habis terbakar.
DENAWA menotok 12 jalan
darah penting di tubuh bocah. Memasukan pil hitam anti racun PIL PEREBUT
SUKMA miliknya yang mukzizat untuk menyelamatkan bocah malang itu.
Ia heran atas keadaan
bocah yang tergeletak diatas bebatuan.gua didepannya. Seluruh badannya
hitam kemerahan..ada cahaya berpedar dan menimbulkan sengatan kejut
ketika disentuhnya.
" Ha ..ha..ha..ha..bocah aneh
..bocah aneh , Bocah Ajaib..,"
ketawanya senang.
" Akan aku jadikan dia pewarisku..ha..ha..ha...", suaranya keras menggelegar menggentarkan seantero gua.
Chapter.5. Kuntum Bunga Dari Selatan
10 tahun telah lewat...
Laut selatan nan indah
mendebarkan. Dari ujung tebing terjal penuh padas karang dan bebatuan.
Terbentang pasir putih yang luas hingga keujung pantai. Tempat ombak
pecah berdebur. Menyeret air keatas pasir keperakan dan menyeretnya
kembali kelaut.
Angin panas pantai jatuh sejuk di rasa, saat angin liar menerbangkan daun nyiur Sederetaan pohon nyiur yang melambai lambai..
Harmoni alam yang indah..
Seindah tarian pedang gadis yang meliuk lembut menyisiri angin, berlatih lincah, lembut, menderu, ganas, silih berganti.
Tarian pedang yang menimbulkan hawa pedang ganas..dibalik kelembutan ada mengintai jurus jurus yang mematikan.
Tubuhnya indah, kulitnya kuning langsat cermerlang. Tangan dan kakinya lembut, halus, cekatan menusuk, menebas, menangkis.
Kaki mungilnya meloncat, melinting, menyapu, menendang.
Semua
indah, semua cantik, secantik wajahnya. Muka lonjong putih bersih. Alis
hitam tipis bak semut beriring. Hidung kecil mancung, pas dengan
matanya yang besar bulat dan bibir merah penuh yang basah. Rambutnya
panjang terurai memakai pita merah muda, ketika bergerak bergerai ditiup
angin.
CEMPAKA gadis cantik berlatih tarian pedang dengan merapal jurus TARIAN BIDADARI MAUT.
CEMPAKA mempercepat
gerakannya bersilat. Tubuhnya mengabur menjadi bayangan merah
muda...terdengar deru bak gelombang laut selatan bergulung gulung..suara
bercuitan dari gulungan sinar pedang....terus bergerak...
" Syyuuuutt....ser..ser..ser..ser..",! Puluhan jarum rahasia berkeredep meluncur ke arah CEMPAKA...
"...ting...ting..ting....plass..pes
....",!
semua jarum rahasia itu tidak mampu menembus bayang merah muda itu
Ada
yang luruh karena berbentur dengan badan pedang. ada yang
terpental,..ada yang hancur oleh hawa pedang dan tenaga dalam CEMPAKA.
" Ha..ha..ha..ha...,"
ada tawa manis terdengar bersama kesiur angin , sosok bayangan merah
berkelebat dan berdiri tidak jauh dari CEMPAKA.
" Ah....guru...mengganggu saja", rengek manja CEMPAKA sambil menghentikan latihannya.
Dua wanita sama sama cantik. Murid dan gurunya.
MINARTI Datuk dari Selatan adalah guru CEMPAKA.
Chapter.6. Kemunculan Mesin Pembunuh
AKILA sebuah kota kecil di pinggiran Laut Utara. Cukup ramai, karena kota ini adalah kota pelabuhan penting di Kerajaan ASOKA.
Sore itu... di sebuah rumah makan..
Yang bersih dan bisa di
bilang terlengkap di kota Akila. Rumah makan SELERA RAYA...sore itu
cukup ramai. Hampir semua meja terisi.
Hanya ada hal yang tidak
biasa, yang menyebabkan orang banyak yang mencuri pandang, melirik...ke
arah seorang pemuda aneh yang duduk di dekat jendela sebelah Utara
menghadap jalan.
Pemuda aneh itu sedang
menikmati makanannya. Sewadah nasi hangat, lalapan dan sepotong dada
ayam bakar. Di depannya ada sebumbung besar air teh.
Asyik makan sambil melihat pemandangan jalanan yang ramai diluar.
Pemuda Aneh, bukan tidak
merasa, kalau jadi pusat perhatian. Ia acuh saja. Sudah sering ia
menerima perlakuan seperti itu, disepanjang perjalannya.
Pemuda itu berwajah
tampan dan jantan. Rambutnya lurus panjang sampai pundak. Alis matanya
tebal berbentuk sepasang golok. Serasi sekali dengan hidungnya yang
mancung. Matanya bersinar berkilat, bentuk dagu dan bibirnya bagus.
Yang paling aneh dan
jadi pusat perhatian orang adalah SEMUA , bagian tubuhnya dan rambutnya
kecuali mata dan giginya berwarna BIRU.
Pakaiannya pun dan seruling yang terselip di pinggangnya berwarna biru pula.
SERBA BIRU....PEMUDA BIRU.
7. Sang Naga Dan Sang Rajawali
Sementara itu...
Di sudut yang lain. ada
seorang pemuda yang sangat tampan. Pakaiannya ringkas tersarung pedang
dipunggungnya. Berkali kali ia melihat kearah PEMUDA BIRU, kelihatan
penasaran sekali.
Dan tidak lama kemudian ia menghampiri ke arah...
" Kisanak,...boleh aku duduk disini."? PEMUDA TAMPAN itu langsung duduk di depan PEMUDA BIRU.
PEMUDA BIRU tersenyum
tipis, lalu melanjutkan makan dan minum dengan asyiknya. Tidak
memperhatikan lagi ke arah PEMUDA TAMPAN yang memandangnya kesal, karena
di acuhkan.
" Huuuh....,' dengusnya kesal mewakilkan perasaam hatinya.
Tiba tiba..
Ada keributan didepan
pintu rumah makan. Seorang berandalan bertubuh besar berteriak teriak
memaksa masuk, tetapi dihalangi dua orang petugas keamanan.
Melihat keributan itu, orang orang yang sedang makan, langsung berserabutan keluar.
Tinggal dua pengunjung saja yang masih didalam . PEMUDA BIRU dan PEMUDA TAMPAN.
Mendengar keributan itu.KI JAYA pemilik rumah makan, terbirit birit keluar.
" Maaf...BAGOL...jangan
membuat keributan disini," cegah KI JAYA tidak mau menderita
kerugian.lagi, akibat ulah BAGOL berandal pemabuk di kota ini. Tapi...
BAGOL berhasil masuk
rumah makan, lolos dari hadangan penjaga dan KI JAYA. Selain bertubuh
dan bertenaga besar, ia juga bisa ilmu silat.
" Hai...siapkan makanan
yang enak. Bruukk...,"! teriak nya ke arah KI JAYA sambil duduk dan
menggebrak meja. BAGOL kebetulan memilih duduk di dekat meja ke dua
pemuda itu.
PEMUDA TAMPAN merasa
terganggu, dikeluarkan sebuah kipas dari balik baju nya..di goyang
goyangkan ke arah BAGOL, seolah olah mengusir lalat yang mengganggu.
PEMUDA BIRU tak bergeming, tetap asyik menyantap makanannya.
BAGOL marah...
Melihat kelakuan PEMUDA TAMPAN..
" Haiii...kurang ajar...syurr
.syurrr..," di sambit kan semangkok kuah sayur yang baru datang ke arah PEMUDA TAMPAN.
Mangkok berdesing, meluncur tanpa tumpah. Lumayan juga gebrakan si BAGOL. Akan tetapi ia kecelik.....
Tanpa melihat kearah luncuran mangkok...dikibaskan kipas nya kearah mangkok...
Mangkok tertahan di
udara, terus berputar,..semakin kencang..kuah tidak tumpah, malah
perlahan ..nampak asap tipis mengepul di mangkok tersebut.
BAGOL terkejut, ada
segelombang tenaga panas..meluruk ke arahnya..tanpa dapat ditahan dan
ditangkis..langsung menghantam dada besarnya.
" Buukk....Heekk...," suaranya jelas terdengar. Ketika mangkok panas itu berbalik cepat menghantam dadanya.
BAGOL berjingkrak kepanasan, muka dan dadanya terpercik kuah panas .....
" Adoooo.....panasssss....," berjingkrak seperti monyet menginjak duri.
BAGOL marah . Di sambarnya Golok Besar yang tadi di bawanya dan di letakkan di atas meja.
" Babo..babo..bocah
bagus..mencari..mati,"! BAGOL menyerbu ke arah PEMUDA TAMPAN, di
lancarkan tiga empat sabetan golok, ..... Suara golok menderu...selain
tenaganya besar, ia juga mempunyai tenaga dalam yang lumayan untuk
ukuran keroco lain atau orang biasa.
PEMUDA TAMPAN hanya mengobat abitkan kipas besarnya, namun semua serangan BAGOL dapat di bendung dan di musnahkan.
Angin kipas membentengi tubuh nya. Kemudian sekali gerakan dorongan lembut...
" Gubrrakkkk.......," tubuh besar BAGOL terbang ..kemudian jatuh menimpa meja di mana tadi ia berniat makan.
Nasi, lauk, minuman, berloncatan dan..byurrr..menimpa kepalanya.
Untung saja PEMUDA TAMPAN tidak menurunkan tangan jahat.
Hanya memberi hajaran, jatuh bangun pada BAGOL si pemabuk.
KI JAYA , melihat perkelahian tersebut...menjadi terkejut. Ia menyadari siapa sebenarnya PEMUDA TAMPAN tersebut.
Dengan tergopoh gopoh, ia berlari kearah perkelahian tersebut, mencegah BAGOL untuk melanjutkan perkelahian itu.
" Ampun..ampun PANGERAN LUDIRO,"! sembahnya ketakutan.
PEMUDA TAMPAN ternyata PANGERAN LUDIRO, adik bungsu RAJA BENGALA penguasa negeri ASOKA.
Pangeran yang suka mengembara. Terkenal akan kepandaiannya bersyair dan bersilat memainkan kipas dan pedang.
Pangeran yang baik hati dan bijaksana. Seperti Kakak pertamanya BAGINDA BENGALA.
" Sudah.. KI...tidak
usah banyak peradatan....beritahu si pemabuk itu. Kalau masih berani
membuat rusuh...petugas keamanan kerajaan akan menangkapnya," suaranya
lembut dan tegas.
KI JAYA segera menyuruh BAGOL untuk pergi.
BAGOL terkejut melihat semua itu, tanpa berkutik ia segera menyingkir cepat cepat dari tempat sial itu.
Dan...
" Terima kasih....Pangeran atas pertolongannya," suara seseorang dari balik bahu PANGERAN LUDIRO....
" Ah...tidak perlu sungkan ki sanak, sudah menjadi tugas ku menjaga keamanan negeri ASOKA," Pangeran berbalik dan
mendapati PEMUDA BIRU menyembah hormat padanya.
" Hamba SANTIKA... tidak
kenal tingginya langit, sudah berlaku tidak sopan dan kurang ajar
kepada pangeran. Maaf...beribu maaf," soja SANTIKA dalam dalam.
" Hmmmm....., kamu harus dapat hukuman karena berani tidak sopan kepada pangeran," PANGERAN LUDIRO kemudian memberi perintah.
" Mulai saat ini..kamu harus jadi sahabatku. Ha...ha...ha...ha..,"
Naga dan Rajawali bertemu, Sang Naga dan Sang Rajawali menjadi sahabat.
.
Chapter.8. Sang Pewaris Berhutang Nyawa
Setelah sepuluh tahun..
Datuk sesat DENAWA, mewariskan semua ilmumya kepada murid tunggalnya.
Seorang bocah yang diselamatkan dari geger rimba persilatan di Lembah Seribu Bunga.
Si bocah terluka oleh awan pukulan beracun dan sambaran kilat yang mengenai seluruh tubuhnya.
Bukannya tewas, si bocah
malah berhasil selamat. Dan mendapatkan keajaiban. Racun ganas
ditubuhnya menjadi tawar karena sengatan panas yang luar biasa akibat
sambaran kilat.
Hampir tiga bulan lamanya, DENAWA, merawat dengan telaten bocah ajaib yang sudah ia pilih menjadi pewarisnya.
Si bocah pulih seperti sediakala.
Dan berubah warna fisiknya menjadi serba biru, kecuali gigi, dan matanya.
DENAWA si SETAN
BERKABUNG penghuni Lembah Kematian, dengan kejahatan dan kekejian yang
tiada tara, telah malang melintang di rimba persilatan menebar
malapetaka dan teror.
Melukai, membunuh, seperti membunuh nyamuk saja.
Hanya karena sebab sepele atau bisa tanpa sebab, nyawa akan melayang sia sia.
Selama sepuluh tahun
digembleng oleh DENAWA, si bocah mempunyai kemampuan menyerap semua ilmu
__ADS_1
silat dan semua ajian dahsyat milik gurunya.
Dan.....
Si bocah ajaib itu, sekarang menjadi pemuda yang luar biasa ilmu silatnya. Ahli racun, senjata rahasia dan ahli silat pedang.
Mempunyai tenaga dalam beraliran sesat warisan gurunya, dan tenaga dalam mukzizat akibat bercampurnya racun dan panasnya kilat.
Gabungan yang mengerikan!!
Menjadi pemuda yang tampan, mempunyai pandangan mata dan senyum yang misterius.
Pewaris ilmu datuk sesat dan Pewaris Pedang Pemikat Sukma.
Ia adalah PEMUDA BIRU yang bernama SANTIKA.
Ia muncul .......
Akankah menjadi Anugerah atau Malapetaka ?
Karena, di hatinya ada dendam berdarah...
Pewaris syah Pedang Pemikat Sukma, anak BARJA
Muncul untuk menuntut balas.?
Chapter.9. Mawar Liar Mempesona
Di sebuah sungai.....di sebelah timur jauh
"Aih...jangan.....Aduhh....ya.....jadi
basah semua ini. Kalian semua nakal, iseng....hi..hi..hi," di tepisnya
semua cipratan air dari teman temannya. Air yang memercik dan
berlompatan menimpa wajahnya yang cantik.
Sepagi ini KALI GANGGA sudah ramai oleh celoteh dan canda gadis gadis DUSUN CALI.
Pagi yang masih ranum
Sisa embun masih bergelantung mesra di ujung dedaunan
Aroma rumpun basah terasa sedap
Angin bertiup sepoi nakal mempermainkan anak rambut gadis gadis dusun yang asyik mencuci..
Beburungan bernyanyi bersahutan menampilkan latar belakang irama harmoni magis
Suara alam yang melenakan
Di selingi teriakan dan jeritan manja ... Membuat pagi semakin indah.
" Ahh....kalian semua
jahat, beraninya keroyokan," KINANTI gadis anak kepala dusun yang
cantik, sepagi ini telah basah wajah dan badannya.
Wajahnya lonjong cantik,
dari dahi dan tarikan dagunya, pas nampak indah. Matanya bulat indah.
Bulu matanya lentik di naungi alis yang melengkung manis bak semut
beriring. Hidungnya mancung mungil. Bibirnya kecil manis dan selalu
tersenyum. Setiap kali tersenyum, bola matanya akan berbinar
binar....dagu nya ah...amboi..sukar dikata.
KINANTI kembang dusun CALI anak kepala dusun KI CEMANI.
Mawar liar nan cantik yang selalu bermandikan embun.
Chapter. 10. Menyisir Masa Lalu Membakar Kesumat
Sebelum pengembaraan....
" SANTIKA.......sudah sepuluh tahun, kau ku didik menjadi pewarisku," di suatu pagi yang dingin. DENAWA memanggil SANTIKA.
" Semua ilmuku sudah kuajarkan. Juga ajian andalan ku Bianglala Pengejar Roh yang berupa tenaga dalam berperbawa panas.
Dan jurus pedang sebagai
ilmu terakhir yang khusus kuciptakan untukmu yaitu Jurus BAYANGAN
PEDANG PENCABUT NYAWA. Ilmu ini akan lebih dahsyat jika kamu memakai
pedang, bukan memakai seruling seperti yang biasa kamu lakukan untuk
berlatih," belum habis berbicara DENAWA dengan kecepatan kilat melolos
pedang yang selama ini melingkar dipinggangnya.
Suara mengaung seperti
naga marah dan cahaya biru menyilaukan berpendar. Gulungan sinar dan
hawa pembunuhan mencuat ketika DENAWA memainkan jurus BAYANGAN PEDANG
PENCABUT NYAWA..
Gerakannya semula perlahan dan lembut, angin pedang dan suara pedang mencicit dan mengaung. Semakin lama semakin cepat..
Lalu...pedang ditangannya menghilang, menyisakan bayangan biru bergulung gulung.
Dahsyat....bayangan naga biru besar sedang mengamuk
SANTIKA terpesona menyaksikan kehebatan dan kesaktian gurunya.
Angin tenaga dalam keluar dari ujung pedang, terasa dingin menusuk.
SANTIKA yang berada beberapa depa dari gurunya saja, merasa dingin, dan beberapa kali dadanya tergetar.
Tidak hanya pedang yang
menghilang, bahkan sosok DENAWA yang tinggi besar pun menghilang. Hanya
tinggal bayangan hitam dan biru yang saling bergulung, merandek,
menyisip, melenting, melayang terbang,..dan.....Tap...!
DENAWA menghentikan permainan pedangnya.
" SANTIKA,.. ini jurus
aku ciptakan untukmu. Berperbawa panas, karena tenaga dalamku berunsur
panas. Akan tetapi jika kamu yang memainkan jurus ini, akan lebih
dahsyat..
Kamu memiliki tenaga dalam gabungan panas dan dingin.
Dan inilah pedang yang jadi rebutan kala itu. Yang menewaskan kedua orang tuamu.
Pedang ini adalah PEDANG PEMIKAT SUKMA," diserahkan pedang itu kepada SANTIKA.
" Kamu adalah pewaris
syah pedang ini. Dan tuntutlah balas kematian orang tuamu. Angkat namamu
setinggi tingginya. Jangan permalukan aku SETAN BERKABUNG,..kuasai
rimba persilatan jadilah DATUK NOMOR SATU. Baru puaslah
hatiku....hua..ha..ha..ha..ha.
," tawa DENAWA menggetarkan Lembah Kematian.
" Sekarang....Pergi dan temukan masa lalumu, dan balaslah dendammu.
Mulailah langkah pencarianmu di Padang Seribu Bunga. Aku sudah muak dengan hiruk pikuk dunia. Aku akan bersemedi disini."
Masih jelas terdengar
dan terbayang pesan DENAWA gurunya. Seakan baru kemarin saja. Padahal
sudah hampir tiga bulan ia keluar dari Lembah Kematian. Menyirap kabar,
menyelidik, menyisir masa lalunya. Ia hanya tahu, ia pewaris syah PEDANG
PEMIKAT SUKMA yang kini melilit dipinggangnya.
Dan pemilik pedang sebelumnya adalah ayah kandungnya.
Semua itu berawal dari geger rimba persilatan di Padang Seribu Bunga.
Pengembaraan telah dimulai, ia meyakinkan dirinya bahwa,
Rimba persilatan akan kembali GEGER karena kemunculannya.
Chapter.11. Negeri Asoka Jaya
Sebuah negeri yang aman dan tentram bernama ASOKA. Rakyat makmur dan sejahtera.
ASOKA di pimpin oleh Raja BENGALA yang adil dan bijaksana. Raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya.
Raja BARDARMA mempunyai
tiga putera. Dua putera yaitu BENGALA, dan BANARA, lahir dari permaisuri
KANDYA. Satu putera lagi dari selir kinasih raja CYANAXI bernama
LUDIRO.
Ketiga pangeran mempunyai keahlian dan ketrampilan khusus yang berbeda beda. Sesuai bakat dan minat masing masing.
BENGALA sebagai putera mahkota cenderung tertarik kepada ilmu ilmu pemerintahan.
Dan tata kelola sebuah negara.
Adiknya BANARA lebih muda 10 tahun, lebih tertarik dengan ilmu perang, ilmu silat dan kesaktian.
Sedang LUDIRO yang termuda, lebih tertarik dengan seni dan sastra. Ilmu kesaktian dan gemar mengembara.
Oleh sebab itu, ketika Raja BARDARMA wafat.
BENGALA putera mahkota diangkat menjadi raja.
BANARA sebagai Panglima Perang.
Dan LUDIRO putera bungsu tetap mengembara, berburu guru, berburu ilmu.
Negeri ASOKA tetap jaya karena Raja BENGALA mempunyai kebijaksanaan dan keadilan
seperti raja terdahulu..
Di ASOKA...
Negeri, Rakyat, aman dan damai. Keamanan yang terjamin dari gangguan apapun juga. Tentara kerajaan berfungsi dengan baik
Displin dan tegas. Bertindak tanpa pandang bulu.
Apalagi sepak terjang para pendekar dimanapun ia berada, yang selalu membela kebenaran dan keadilan.
Negeri bahu membahu dengan rakyatnya. Kejahatan dapat ditekan.
Chapter. 12. Dendam Kesumat Mulai Bergetar
SANTIKA keluar LEMBAH KEMATIAN setelah.mendapat pesan dari gurunya. Tempat yang ditujunya adalah PADANG SERIBU BUNGA.
Padang seluas pandang...lengang,..sepi...hanya angin panas meniup lalu.
Tidak ada kehidupan.
Semua mati. Hanya di tengah padang ada gundukan tanah dan batu yang luas..
Di sudut terjauh ada sisa sebatang golok baja tertancap di atas batu besar pipih.
SANTIKA menatap nanar. Di batu tersebut terukir tulisan dari goresan sebatang pedang. Sangat jelas.
" BARJA DAN ISTRINYA "
Kuburan bertanda paling
ujung adalah kuburan kedua orang tuanya. Dan gundukan yang luas itu
adalah kuburan masal, korban kesia sian geger Pedang Pemikat Sukma.
SANTIKA berlutut di
depan kuburan. Disentuhnya PEDANG PEMIKAT SUKMA yang ada dipinggangnya.
Sumber malapetaka yang menimpa orang tuanya.
Tidak ada airmata.
Tidak ada keluhan apapun. Hanya kedua tangan birunya perlahan berpendar
berubah warna menjadi merah..ia sekuat tenaga menahan gejolak hatinya.
Syuut...tiba tiba
tangannya terangkat keatas, serangkum cahaya merah biru menderu ke
angkasa ....lontaran tenaga dalamnya menyibak udara gersang di Padang
Duka kini namanya..meledak dan bergemuruh...seperti suara kilat di hari
tanpa hujan.
Setelah suara gelegar dahsyat surut. SANTIKA berdiri
gontai berjalan meninggalkan PADANG DUKA.
Dendam membara di dadanya
Chapter.13. Tunggulah Badai Akan Segera Datang!
SANTIKA melanjutkan perjalannya, menyerap kabar, menyesap cerita, menyaring berita di setiap perjalanannya.
Semuanya di simpan.baik.baik dihati dan pikirannya..
Geger Padang Seribu Bunga melibatkan semua golongan
Tidak hanya Datuk Sesat, Penjahat bahkan Para Pendekar banyak yang tergiur memiliki Pedang Pemikat Sukma.
Mereka mempunyai tempat tinggal atau markas yang jauh dari ibukota kerajaan.
Di hutan hutan, di gunung, di lembah, di seberang laut, dan tempat tempat yang angker lainnya.
Ada Empat Perguruan besar, tempat munculnya para pendekar.
PERGURUAN RAJAWALI EMAS yang ada di lereng GUNUNG WILIS ketuanya YADARA
PEGURUAN MAWAR MERAH yang ada di LEMBAH MAWAR ketuanya DYAH PUSPA.
PERGURUAN MACAN PUTIH
yang ada di HUTAN BARON ketuanya SARDULO
PERGURUAN GAJAH HOYA
yang ada di DANAU MINAI ketuanya GOMPALA
Dibarat di LEMBAH KEMATIAN tinggallah DATUK BARAT, DENAWA si SETAN BERKABUNG.
Diutara di PULAU TENGKORAK tinggallah DATUK UTARA, BOGAR si PEROMPAK LENGAN BAJA.
Ditimur di GUNUNG BOTAK tinggallah DATUK TIMUR, VIRUYA si DEWI MAUT PESOLEK CINTA
Diselatan di PANTAI SELATAN, tinggallah. MINARTI si BIDADARI SELAKSA RACUN.
Negeri ASOKA yang aman,
membuat mereka tidak berani melakukan kejahatan, di tempat tempat yang
masih dalam pantauan Tentara Kerajaan.
Sekali turun gunung bersama, saat geger di PADANG SERIBU BUNGA merebutkan PEDANG PEMIKAT SUKMA.
Semua informasi dikumpulkannya dan disimpan dalam mengalir dalam darah bermuara dendam.
Sebelum melakukan aksinya SANTIKA bertemu dan ditolong oleh PANGERAN LUDIRO dari Negeri ASOKA...
Saling mengikat persahabatan, namun kemudian saling berpisah. Untuk meneruskan petualangan masing masing.
Chapter.14. Geger Mengawang Di Langit Asoka
Geger rimba persilatan, telah dimulai...
Satu persatu, baik pendekar ataupun penjahat ditemukan tewas menggenaskan. Tubuhnya terbakar terkena pukulan beracun.
Pembunuhan terjadi
sangat cepat. Sosok bayangan hitam dengan kepandaian tinggi, bergebrak
tidak begitu banyak memakai jurus, hanya dengan pukulan tangannya saja,
Pembunuhan terjadi secara acak.
Hari ini salah seorang pendekar yang tewas, besok bisa jadi seorang penjahat yang tewas.
Apalagi tersiar kabar
bahwa semua korban tewas mengenaskan itu, ada sangkut pautnya dengan
tragedi perebutan PEDANG PEMIKAT SUKMA.
Pewaris Pedang Pemikat Sukma telah muncul. Memburu dan menebarkan ancaman, untuk menuntaskan dendam pemiliknya.
Langit mendung di negeri ASOKA.
Chapter. 15. Pagi Berselimut Kematian
" Duuuaaarr..Duuuuaaaarrr.."!
Ledakan dari benturan dua tenaga dalam mengoyak pagi yang masih berselimut embun.
Beburungan terkejut terbang berserabutan.
Cahaya merah biru bertemu cahaya putih, meledak diudara, menimbulkan asap beracun diudara , pekat.
Perlahan menipis , menipis. kemudian hilang di tiup angin lalu.
Di tengah arena berdiri
tegak, sosok misterius berpakaian serba hitam longgar. Pakaiannya
berkibar ditiup angin pagi yang dingin. Yang terlihat hanya sepasang
matanya yang tajam rawan, berkilat misterius. Kedua tangannya masih
terlihat mengepulkan asap kemerahan dan kebiruan.
Berdiri angker.
Menggiriskan, karena disekelilingnya tergeletak puluhan mayat, anggota
PEROMPAK LENGAN BAJA,.yang mati mengenaskan karena tidak memahami
tingginya langit. Yang penting bersetia, akhirnya seperti laron laron
yang mati membentur api yang memikat mereka.
PULAU TENGKORAK menjadi ajang pembantaian.
BOGAR si datuk sesat dari Utara, tertegun, setelah.menyadari adu tenaga dalam tadi membuat lengan kirinya kesemutan.
Sebagai seorang datuk, ia merasa
malu..dan gusar, apalagi melihat anak buahnya mati, berserakan.
" Hai....tunjukan siapa dirimu," geramnya sambil merapal ajian SETAN NERAKA melalui lengan bajanya.
" Agar mayatmu, menjadi mayat bernama," semua badan BOGAR
bergetar, ajian nya dirapal tujuh bagian.
Sosok hitam didepannya, diam tanpa menyaut, di turunkan kuda kudanya, bersiap untuk menyambut kemurkaan BOGAR..
Matanya
nampak berkilat, pakaiannya berkibaran ditiup angin menandakan himpunan
tenaga dalam yang meningkat. BIANGLALA PENGEJAR ROH disiapkan......
"
Hiaaatttttt......"!!!.deru lontaran tenaga merah membara melejit kearah
sosok misterius, tanpa basa basi sinar merah biru bergulung bagai
bianglala meluncur deras memapaki..
" Buuummmm...."! terjadi ledakan dahsyat. Udara pagi nan sejuk menjadi panas membakar.
Sosok hitam hanya bergeser setindak kuda kudanya
Tidak sedikitpun terluka.
BOGAR
terkejut, dua tindak ia bergeser mundur. Dada kirinya sedikit panas dan
nyeri. Pukulan sosok misterius berhasil menembus pertahanannya.
BOGAR merasa, bahwa tenaga dalam dan ajiannya kalah setingkat dengan lawannya.
" Ayo,..keluarkan
senjatamu....,,", tantang BOGAR geram. Sambil melolos Golok Baja besar
ditangan kanannya. Menyiapkan jurus NAGA MERAH MURKA, dan lengan bajanya
disaluri tenaga dal penuh SETAN NERAKA.
Hawa pembunuhan dan hawa kematian menguar tajam.
Akan tetapi BOGAR menjadi terkejut , sebelum ia sempat melancarkan serangan..
Di lihat dan didengarnya...
Warna biru menyilaukan dan suara naga marah, keluar dari pakaian sosok misterius.
" PEDANG PEMIKAT SUKMA, " serunya tercekat.
Sesaat kosentrasinya buyar. Namun ketika cahaya pedang meledak diangkasa ia kembali tersadar.
Buntut geger rebutan PEDANG PEMIKAT SUKMA, BOGAR menyadari buah perbuatannya.
Langit berubah warna
merah biru, cahaya kilat berloncatan,.bergulung gulung membentuk sosok
naga raksasa murka, mengaung, mendecit, memusat ke BOGAR yang tergetar.
Hari ini, ia harus mengadu jiwa. Dikeluarkan segala kemampuan
dan
kesaktiaannya. Golok besar ditangan kanan penuh dengan ajian NAGA MERAH
MURKA langan bajanya diisi dengan SETAN NERAKA, sinar merah putih
bertemu diudara dengsn sinar biru
Saling mengejar, saling membelit, saling mendorong, saling mematahkan.
Denting
pedang beradu dengan golok, mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Angin
dan hawa maut menyungkup, beberapa pertemuan jurus dan ajian, membuat
BOGAR terdesak mundur. Udara beracun keluar dari tangan sosok
hitam,mengganggu kosentrasi dan daya tahan tubuhnya.
Sosok hitam terus meningkatkan serangannya, hingga suatu ketika,
"
Hiatttt.....," gulungan tenaga sepenuhnya melesat dari PEDANG PEMIKAT
SUKMA dan ajian BIANGLALA PENGEJAR ROH menghantam BOGAR yang sudah
terdesak dan terluka.
"
Blaaaammm.......Aaaaaaaahh,"! Benturan tenaga dalam dahsyat membuat
tubuh BOGAR terlempar bagai layang layang putus. Diam tak berkutik lagi.
Hawa pembunuhan menyusut, perlahan menghilang.
Sosok hitam meninggalkan PULAU TENGKORAK.
Ayah dan ibu..ini tanda baktiku
Chapter. 16. Seruling Pembius Dan Suara Teriakan
Pagi..begitu ranum..
SANTIKA larut dalam
permainan serulingnya. Dituangkan semua rasa dan perasaannya. Menyatu
dengan harmoni alam dusun kecil di sisi bukit.
SANTIKA sebenarnya merasakan pertentangan bathin dihatinya.
Sepak terjangnya selama ini, mengejar musuh musuhnya membuat gundah hatinya.
SANTIKA sebagai turunan BARJA seorang pendekar sejati, tetap mengalir darah pendekar ditubuhnya.
Walaupun
sepuluh tahun, digembleng dan hidup bersama dengan DENAWA tidak
mempengaruhi kepribadian aslinya. Hanya demi bakti kepada kedua orang
tuanya nya lah yang membuatnya melakukan semua ini
Suara serulingnya
menyusup jauh masuk ke dusun CALI...menarik perhatian, serombongan gadis
dusun yang sedang bercengkrama, setelah mandi dan mencuci.
KINANTI kembang dusun CALI anak kepala dusun KI CEMANI.
Bersama teman temannya, merasa mendengar suara seruling misterius itu.
" Ayo,...Sri...Yanti...," ajaknya kepada teman temannya. Sambil bergegas menuju arah suara seruling.
" Jangan...KINAN,"! cegah YANTI ketakutan. Karena di bukit bukit itu adalah tempat larangan bagi warga dusun itu.
Belum beberapa jauh KINANTI berlari, tiba tiba munculnya sepasang, laki laki dan perempuan dari sebuah bukit kecil.
" Ha....ha...ha..ada
kelinci mungil yang cantik, " ujar BAGUS HANDOKO laki laki usia 40 tahun
yang tampan. Wajahnya berbinar binar melihat KINANTI. Sedangkan wanita
cantik yang berusia 38 tahunan berdiri acuh disampingnya adalah
VIRUYA si DEWI MAUT PESOLEK CINTA.
Mereka berdua adalah sepasang kekasih. Entah angin apa yang membawa mereka menghabiskan 3 malam panjang di bukit ini.
DATUK TIMUR VIRUYA DEWI MAUT PESOLEK CINTA bersama BAGUS HANDOKO TAMPAN SAKTI .
Mereka adalah sepasang manusia iblis yang dikendalikan nafsu birahi, mengejar kepuasan, dengan siapa saja yang diingini.
Bisa
dengan cara dirayu, diculik, disiksa, tidak perduli apapun, yang
penting nafsu bejat mereka terpenuhi. Para korban akan dibunuhnya,
setelah mereka puas.
Malang bagi KINANTI, bertemu mereka.
" Aih..sini cah manis,
kemari bersama kakang", BAGUS HANDOKO mengulurkan tangannya yang halus,
dengan senyum memikat di mukanya yang tampan.
KINANTI terkejut melihat
kemunculan dua orang itu. Perasaan tidak enak merayapi hatinya. Ia
berusaha menengok kebelakang, akan tetapi , teman temannya sudah tidak
kelihatan.
" BAGUS, ternyata belum puas juga setelah 3 hari didalam pelukanku,"! sindir VIRUYA sambil tertawa genit.
Melihat tingkah laku kedua orang itu, KINANTI menjadi ketakutan.
BAGUS HANDOKO menyerbu kearahnya, bagi harimau melihat kelinci.
"Toooollllllooooong.....,,tooolllooong,"! KINANTI berteriak sekuat kuatnya sambil berlari menjauhi BAGUS HANDOKO.
Teriakan minta tolong itu menyadarkan SANTIKA yang tidak berada jauh dari bukit itu
Tubuhnya lantas berkelebat cepat kearah teriakan itu..
Chapter. 17. Ketidaksengajaan Yang Membawa Maut
" Tunggu.....lepaskan gadis itu," teriak SANTIKA marah.
Melihat seorang gadis ketakutan, meronta ronta dalam dekapan laki laki tampan.
' Ee..ee..bocah aneh,
jangan ikut campur urusan BAGUS HANDOKO, Ayo, enyah....,!" usir BAGUS
HANDOKO merasa kesenangannya terganggu.
Tiga orang itu terkejut melihat penampilan SANTIKA yang serba biru.
KINANTI semakin ketakutan, ia hanya bisa meronta dan menangis.
" Hai, ...bocah aneh....tampan juga rupanya dirimu....hi..hi..hi..., BAGUS ini bagianku ya.
Sana pergi yang jauh...hi..hi..hi...,"! usir VIRUYA dengan genitnya. Di hadangnya SANTIKA dengan gaya memikat.
SANTIKA terkejut melihat
VIRUYA DATUK TIMUR yang diburunya. Karena terlalu memusatkan perhatiaan
untuk menyelamatkan gadis itu. Tanpa menyadari kehadiran VIRUYA disitu.
Pucuk di cinta ulam tiba. Sekali tepuk dua lalat mati. VIRUYA bisa menunggu, ini dulu...
SANTIKA melejit ke arah
BAGUS HANDOKO melancarkan serangan melalui tusukan dan totokan seruling
birunya dengan merapal ajian SUKMA MEMIKAT.
Suara serulingnya
mengaung, menggetarkan jantung. Dari ujung seruling keluar tenaga dalam
menyerang bagian vital dari BAGUS HANDOKO.
BAGUS HANDOKO kelabakan, terpaksa melepaskan KINANTI yang sudah ditotoknya jatuh terperosok disemak,
Dengan sebat melayani
serangan SANTIKA, dilolosnya sepasang pedang pendek miliknya. Serangan
SANTIKA dibendung dengan paduan gerakan pedang kembar andalannya dan
rapalan jurus KILAT KEMBAR MEMBELAH BUMI.
Ujung seruling, dan bilah
pedang beradu..berdenting, mendesing, saling menebas, menangkis,
menotok, membelah. Hawa pedang kembar bergulung gulung.
SANTIKA menangkis ceceran pedang dan tenaga dalam yang membungkus serangan BAGUS HANDOKO.
SANTIKA melejit mundur,
mengatur kuda kuda dan merapal ajian BIANGLALA PENGEJAR ROH miliknya.
Tangan kirinya berubah merah kebiruan.
Seruling birunya digetarkan,
membawa serangan yang kuat kearah BAGUS HANDOKO, BAGUS HANDOKO terdesak,
sinar bianglala menerobos KILAT KEMBAR MEMBELAH BUMI..
"Duuaaaar..,Buummmm....Aaah," Teriak BAGUS HANDOKO kesakitan, bahunya terkena sambaran pukulan SANTIKA.
__ADS_1
Ia mundur gugup, dan berteriak," VIRUYA,.. jangan diam saja. Bantu aku,"!
BAGUS HANDOKO memutar ketat pedang kembar nya. Berusaha menghalau serangan SANTIKA yang datang bak air bah.
" Hai, bocah tampan,
ternyata kamu punya kemampuan boleh juga,' VIRUYA melolos cemeti
andalannya dan memotong arah serangan SANTIKA.
Cemeti berusaha
membelit seruling SANTIKA, bertemunya seruling dan cemeti menimbulkan
suara ledakan. Dengan gerakan cepat dan rapalan jurus yang mengandung
racun LABA LABA HIJAU, udara beracun menguar mendesak SANTIKA mundur.
Keadaan ini menyelamatkan BAGUS HANDOKO dari keadaan yang lebih membahayakan.
BAGUS HANDOKO segera
menyelamatkan diri, melompat tinggi menjauhi arena pertempuran. Bergegas
menyambar KINANTI yang tertotok di semak. Secepat kilat ia melarikan
diri ....
Di detik yang sama ..
SANTIKA merasa sangat terkejut, melihat kejadian ini.
BAGUS HANDOKO kabur, membawa gadis itu. Ia menyesal tidak berhasil menyelamatkannya.
Dengan rasa kemarahan yang memuncak, dihadapinya VIRUYA yang masih memandang genit kepadanya, sambil terus menyerang SANTIKA.
" Huaaahh.......terimalah seranganku", SANTIKA menggembor keras, menyelipkan
seruling birunya, dan disaat itu juga dilolosnya PEDANG PEMIKAT SUKMA dari balik pakaiannya.
Suara pedang mengaung
bak naga marah, kiblatan warna biru berpendar membawa hawa pedang dingin
yang menggiriskan. Menyungkup, arena pertempuran.
SANTIKA mengetatkan kuda
kudanya, langsung dirapalnya ajian BIANGLALA PENGEJAR ROH, tanpa
memperhatikan lagi, rasa terkejut dari DATUK TIMUR VIRUYA DEWI PESOLEK
CINTA..
Terpengarah melihat pedang yang dulu ia buru. Sedang mengancam dirinya,
Pedang dibawa oleh Pemuda biru aneh ini.
" VIRUYA, ini adalah
saat pembalasan. Hiaaaaaattttt....,"/PEDANG PEMIKAT SUKMA mendesing,
membelah udara, pijar merah biru mengejar gerakan Cemeti VIRUYA. Aroma
udara beracun berbaur, Racun laba laba hijau, bertemu dengan racun dan
kilat yang pernah menghantam tubuh SANTIKA dulu.
VIRUYA tidak gentar akan
serangan SANTIKA dan cecaran pedang sakti tersebut. Pakaiannya tiba
tiba nampak menggetar, tangan kiri dan tangan yang memegang cemiti,
berubah warna dari hijau ke warna merah. Tingkat ajian beracunnya di
rapal sampai batas tertinggi. Sangat berbahaya dan mematikan. VIRUYA
yang cantik dan binal, tapi mengerikan. Sehingga tidak sia sia dirinya,
menjadi salah satu datuk sesat di negeri ASOKA.
Tapi hari ini adalah hari penentuan nasibnya. Pemuda biru aneh itu sudah tidak bisa ditawar lagi. Akan menggadu jiwa dengannya.
Pemburu untuk menuntaskan dendam berdarah, yang telah mencabut nyawa para musuhnya. Termasuk dirinya.
Ia tidak bisa lagi mundur.
Ketika ia melihat PEDANG
PEMIKAT SUKMA menebar cahaya biru kemerahan membelah angkasa dengan
rapalan ajian BIANGLALA PENGEJAR ROH, ia papaki dengan ajian yang tak
kalah ganas.
Racun laba laba, bertemu
dengan racun milik SANTIKA, Udara beracun membumbung dan mengabutkan
arena pertempuran yang dahsyat. Pedang dan cemeti, beradu, suaranya
berdenting, saling.lilit, saling totok, saling tarik menarik, mencari
celah sekecil apapun untuk menyarangkan serangan ataupun pukulan
mematikan.
Bukit kecil didekat dusun Cali, menjadi porak poranda akibat pertempuran itu.
Tempat yang semula indah dipandang mata, menjadi neraka kematian.
Udara penuh racun, tumbuhan mati, tersambar angin pukulan, pohon pohon tumbang, terkena pukukan yang lolos sasaran.
Pagi sudah mulai.meninggalkan serinya, perlahan merangkak menuju siang......
VIRUYA sudah kedodoran melayani serangan yang tidak pernah mengendur...berlapis lapis...bergelombang tidak pernah putus....
Hingga dilihatnya
SANTIKA meloncat tinggi berputar bagai gasing. Hilang sosok tubuhnya,
hilang kiblat pedangnya...pedar merah biru dan cahaya berkilatan menderu
.....memusat...ke arah VIRUYA , panas, menyakitkan...
Cesssss.....berubah dingin menggigilkan ketika ujung PEDANG PEMIKAT SUKMA menyentuh saja uluhatinya....
Ia tidak sempat berteriak, karena isi dadanya tergetar. Panas menyengat....seketika dingin membekukan...
Tubuhnya terbang, bagai layang layang putus...nyawanya melayang.
SANTIKA berdiri diatas kuda kudanya yang sedikit goyah. Pertarungan yang sangat melelahkan ia rasakan.
PEDANG PEMIKAT SUKMA sudah kembali tersimpan dibalik pakaian birunya.
Ayah, ibu, untukmu semua ini.
Pagi, makin meninggi,....
Desa Cali....kembali tenang.
Perlahan SANTIKA lenyap di teriknya siang.
Lalu....
Sebentar lagi, akan jadi keributan..
KINANTI kembang dusun Cali telah
menghilang....
Chapter. 18. Kumbang Mesum Terjerat Pesona Maut Kembang
BAGUS HANDOKO melarikan
KINANTI tanpa memperdulikan luka di bahu kanannya. Dipondongnya tubuh
langsing KINANTI dengan senang menuju ke arah timur. Tiba disebuah bukit
dan berpadang indah.
Indah dan harum mempesona penuh aneka warna bunga mawar.
" Ha
...ha...ha...pengantin cantikku, kita telah berada di surga rupanya.
Ha..ha...ha..," BAGUS HANDOKO tertawa senang sambil meletakkan tubuh
KINANTI diatas rumpun hijau yang tebal.
Pandangannya, liar dan
buas, melihat KINANTI yang terbaring tidak perdaya. Birahinya semakin
meningkat. Didekati KINANTI dengan tubuh gemetar oleh nafsu...liurnya
berceceran..
Setindak...demi setindak...prahara hebat datang didepan mata.....KINANTI pasrah memejamkan mata....
Didengarnya nafas memburu BAGUS HANDOKO menyentuh permukaan wajahnya....
Satu...dua...tiga...detik kemudian...
"Syutt...dukkk...plasss......aaaahhhh," yang terdengar adalah suara
lengkingan kesakitan BAGUS HANDOKO dan terpental tubuhnya menbentur
pohon cemara tak jauh dari tempat itu...
Ternyata di saat yang
genting....sebuah selendang warna merah memukul telak bahu BAGUS HANDOKO
yang terluka dan selanjutnya membelit dan melontarkan tubuhnya ke
udara.
Karena dirinya sudah dikuasai nafsu, serangan itu tidak mampu dihindarinya.
Dan..
Di depannya telah berdiri sosok wanita cantik bak bidadari.
Berpakaian serba putih terbuat dari sutera indah melambai. Kontras dengan hiasan rambut dan selendang merah yang dipakainya.
Wanita cantik itu adalah DYAH PUSPA pemilik LEMBAH MAWAR .
" Ha...ha..manis...kamu
ingin juga ikut berpesta ya....Ayo..kemari ...ke pelukan kakang,"
bukannya segera sadar, BAGUS HANDOKO malah semakin keblinger.
DYAH PUSPA sangat marah mendengar ucapan cabul dari BAGUS HANDOKO.
" Tutup mulut busukmu, manusia cabul," !
dilecutkan selendang merahnya menyerang lebih gencar ke arah BAGUS HANDOKO.
BAGUS HANDOKO
mengeluarkan pedang kembarnya. Merapal ajian KILAT KEMBAR MEMBELAH BUMI.
Walau sudah terluka serangan masih cukup kuat.
Akan tetapi BAGUS HANDOKO salah mengira. Bukan musuh sembarangan saja yang kini dihadapinya.
" Manusia cabul, kamu mau mengotori tempatku. Rasakan ini....tarrr....tarr....taarr...cuss.
Cusss, ........pletak......Duaar.....Ahhhh..," selendang merah meledak di angkasa.
Tenaga dalam bergulung
bak kitiran menerjang BAGUS HANDOKO telak, tangkisannya tak mampu
menghalau serangan itu. Dan juga dari telunjuk kiri yang indah meluncur
sinar kemerahan membongkar benteng pedang kembar.
Jurus TARIAN MERAH NAN
HARUM dan ajian MAWAR MERAH MURKA , sekali lagi tubuh BAGUS HANDOKO
terhantam terbang dengan luka yang lebih parah.
Dadanya kena totokan jarak jauh, dan selendang merah berhasil mematahkan salah satu pedang kembarnya.
Terus tak berhenti menghantam dadanya.
Keluar darah dari sudut bibirnya. Lukanya semakin parah. Ia dengan susah payah
harus pergi dari tempat ini secepatnya.
" Enyah, kau dari tempat
ini. Jangan sampai, aku mencabut selembar jiwamu yang cabul itu," !
usir DYAH PUSPA sambil memutar selendang merah, siap melancarkan
serangan lanjutan.
Dengan terseok seok BAGUS HANDOKO meninggalkan tempat petaka bagi dirinya.
Menjauh sejauh jauhnya dengan segunung dendam dihatinya.
BUKIT MAWAR kembali
penuh pesona. Suara beburungan yang riang, kupu kupu cantik
berterbangan, mengantar KINANTI menyongsong kehidupan baru, di bukit
itu.
Chapter.19. Angin Kematian Bertiup Ke Selatan
Sementara itu...
"
Hiaat...hiattt...sret..srett..," senjata jarum beracun dilontarkan
dengan cepat menuju ke arah seorang pemuda tampan yang dengan tangkas
menangkis dan mengibas dengan sebatang kipas ditangan kanannya.
Pemuda itu adalah LUDIRO , PANGERAN LUDIRO, merasa begitu terkejut, niatnya menolong, dibalasi dengan serangan yang mematikan.
" Ni..sanak...tunggu...Ni sanak...," teriaknya sambil terus melayani serangan gadis cantik berbaju merah muda ini.
CEMPAKA gadis cantik murid dari MINARTI Datuk dari Selatan .
Tanpa sengaja PANGERAN
LUDIRO bertemu CEMPAKA. Ia mencoba menolong CEMPAKA dari penjahat
penjahat pasar yang mengganggu. Bukannya mendapatkan balasan rasa terima
kasih, malahan ia dituduh dalang dari semua keributan itu.
LUDIRO menyisip dan
menyirap kabar munculnya pewaris syah PEDANG PEMIKAT SUKMA yang memburu
musuh musuhnya untuk membalas dendam. Walaupun ia tahu itu urusan
pribadi, tapi kejadian ini, juga meresahkan kententraman dan kedamaian
Negeri Asoka pula.
Ia selalu mengejar kemanapun arah larinya, lingkaran balas dendam, akan tetapi ia selalu terlambat.
Mereka yang diburu sudah tewas.
Dan ia tidak tahu siapa yang membunuhnya.
Hingga kesinilah arah kakinya melangkah dan...aih..
Chapter. 20. Buah Keserakahan
" Dasar..pemuda
ceriwis...apa mau mu? Bukan mereka itu begundal begundalmu. Kulihat
mereka ketakutan melihat kedatanganmu," tunjuknya gemas, membuat CEMPAKA
semakin cantik saja di mata LUDIRO.
CEMPAKA terus berlari di kejar LUDIRO. ada perasaan tidak tenang, mengganduli hatinya. Ia harus cepat pulang ke Pantai Selatan..
Sementara itu di Pantai Selatan..
Senja mulai bergelayut
di ujung ujung jari nyiur...Udara yang seharus hangat melenakan ternyata
terasa panas membakar. Burung burung laut yang biasa nya bermain di
pucuk pucuk ombak...telah dari tadi menjerit kalang kabut, terbang
berserabutan menjauhi tempat itu.
Dari jauh sudah terdengar bunyi benturan, ledakan, dari arah pantai.
Langit merah saga, biru menderu, bergulung gulung. Dari sela sela itu ada ledakan cahaya kilat menyambar nyambar.
Alam yang murka?
Tidak ?
Senja yang permai
berubah jadi lingkaran bara panas, karena ulah dua sosok hitam dan
merah, yang sedang melakukan penentuan pertempuran tingkat tinggi.
Saling berloncatan, berterbangan, beradu, membentur, terpisah. Dan saling maju kembali berulang.
Suara denting, kesiur,
PEDANG PEMIKAT SUKMA saling memotong, menebas, menusuk, menangkis dengan
PEDANG BIDADARI MERAH....saling mengalahkan..
Semua senjata rahasia
MINARTI telah habis di keluarkan, semua sia sia....karena gelombang
serangan itu...bagai nyamuk yang memasuki bara api.....AJIAN BAYANGAN
PEDANG MENGEJAR ROH...,sangat mengerikan..Di antara bayangan yang terus
berputar mengurung MINARTI, terlontar tenaga dalam beracun yang keluar
dari tangan SANTIKA, merah, biru, panas, dingin, beraroma racun seperti
miliknya akan tetapi lebih kuat. Rapalan jurus TARIAN BIDADARI MAUT
andalannya yang membuat namanya terkenal sebagai DATUK SELATAN, yang
entah berapa ratus nyawa lenyap, tanpa menyadari, apa
kesalahannya,.....oleh kekejamannya.
Saat keduanya terpisah..
Dan memperbaiki kuda kuda masing masing...
Rembulan muda ranum menggantung di atas laut yang berombak tinggi saling mengalahkan...Rembang petang mulai turun....
Gemboran keras terdengar dan teriakan kesakitan ....
Ketika sekali lagi, bola merah biru bertemu dengan bola merah di udara...hanya sepersekian detik.....
" Blaaar....," suara keras beradu diudara....seperti sengatan kejut kilat..saling hantam...saling menggena.......
" Guru......," terik
CEMPAKA melihat tubuh MINARTI terpental kalah adu tenaga dan jatuh
terjerembab di air pantai yang hitam. Pakaian merahnya terbakar.....Di
buru dan segera dipondongnya guru yang di cintainya....
Mata nya nyalang, menatap tajam sosok hitam, yang juga telah terbakar..pakaiannya ..sehingga..terlihat sosok aslinya....
Ada kilatan dendam di hatinya..
LUDIRO yang datang
berikutnya juga tertegun.....ketika ia mengenali....sebenarnya yang
menjadi pewaris syah PEDANG PEMIKAT SUKMA adalah....
" Ternyata...KAU......,," suaranya tertelan oleh kenyataan yang tidak pernah di sangkanya....
Di saat bersamaan....CEMPAKA berkelebat cepat memondong tubuh gurunya, menghilang ke arah pantai...
Sedang SANTIKA dengan senyum rawan, mengangguk sekilas dan berkelebat cepat menghilang ke arah Barat....
LUDIRO, tertegun, menatap senja yang benar benar telah hilang...
Gelap
telah menghiasi pantai selatan...tinggal sesekali terdengar suara anak
ombak yang memukuli pantai...dan jerit anak camar yang lupa pulang...
Chapter. 21. Selimut Tabir Terbuka Sudah
Pagi masih berembun
PERGURUAN RAJAWALI EMAS
yang ada di lereng GUNUNG WILIS sudah hiruk pikuk oleh kekacauan. Karena
kedatangan pemuda aneh SANTIKA secara berterang.
Ia sudah berdiri tegak
memasang kuda kuda didepan pintu perguruan. Rambutnya yang panjang
berkibar ditiup angin. Pakaian biru longgarnyapun..melambai lambai
diterpa angin gunung Wilis yang terasa dingin.
Wajahnya angker.
Kedua tangannya memegang erat PEDANG PEMIKAT SUKMA yang ditancapkan didepan kakinya berdiri.
Hawa pembunuhan menggumpal. Dia tidak banyak bicara, tapi setiap orang maklum apa yang ada dibalik kedatangannya.
Ia mencari murid ke 4 ,
TEGAR PRAKOSO dari perguruan Rajawali Emas ini. Ia tidak habis pikir,
mengapa di tempatnya lahirnya para pendekar. Muncul orang yang masih
mengejar keserakahan. Mengaku pendekar, tapi tindak tanduknya masih
ditunggangi nafsu.
Pagi yang begitu indahnya, tak mampu menghapus kegentingan suasana.
Para murid perguruan
telah berkumpul membuat benteng hidup untuk melindungi perguruan.
Barisan tangan kosong, barisan bersenjata, telah bersiap. Hanya tinggal
menunggu komando saja.
SANTIKA tak bergeming, ia hanya memandang sekilas, dan tetap berdiri menunggu.
Dari arah pintu
perguruan, perlahan muncul sosok yang agung. Lelaki berusia 70 tahun
namun masih terlihat tegap dan gagah. Wajahnya berwibawa, Pakaiannya
longgar berwarna keemasan. Ada gambar rajawali emas di dada kirinya.
YADARA
ketua Perguruan Rajawali Emas. Rambutnya yang putih panjang dengan ikat
kepala warna biru, kumis dan janggut yang putih membuat penampilannya
semakin agung.
Langkahnya ringan, dikawal anak muridnya.
Perlahan bagai rajawali jantan, tegak berdiri didepan SANTIKA.
" Ananda....angin apa
yang membawamu mengunjungi tempat kami yang tenang ini," sapa YADARA
lembut, sambil memberikan penghormatan layaknya kepada tamu.
Mendapat sambutan yang
diluar dugaan ini, SANTIKA terpaksa menggangguk sekilas. Setidaknya, ia
menghormati tokoh tua dihadapannya.
" Maafkan kedatangan
saya Ketua. Saya SANTIKA. Datang mencari TEGAR PRAKOSO untuk meminta
pertanggung jawaban ," tegas SANTIKA mengungkapkam maksudnya.
Ki YADARA nampak menarik nafas panjang, wajahnya yang agung tersenyum lembut.
"SANTIKA,..... aku paham akan maksud kedatanganmu. Kamu juga harus tahu asal muasal pedang tersebut.
Pedang diberikan oleh Pamandamu GANTARA, sebagai murid dan senjata yang berjodoh dengan BAJRA.
BAJRA adalah murid luar perguruan ini. Berarti masih terhitung saudara seperguruannya sendiri.
Tapi rasa iri hati yang besar dan kepicikan berpikir membuat ia terbakar nafsu untuk menguasai PEDANG PEMIKAT SUKMA milik
ayahmu.
Ia yang mengatur para pendekar dan para tokoh sesat, untuk mengeroyoknya di Padang Seribu Bunga.
Namun sejak selesainya, geger rebutan PEDANG PEMIKAT SUKMA dan dengan tewasnya Ayah dan Ibumu.
TEGAR PRAKOSO kembali keperguruan dengan menderita rasa penyesalan yang sangat dalam.
Telah sepuluh tahun
lamanya, ia tinggal diruang PENYESALAN DIRI, Menghukum dirinya, untuk
tidak muncul didunia luar, Mohon ampun kepada ayah ibumu, leluhur dan
Tuhan atas dosa dosanya., "
Gelombang perasaan mengaduk aduk hati SANTIKA, mendengar penjelasaan Ki YADARA.
Namun tujuannya telah bulat , ia harus membuat perhitungan.
" Ki YADARA, dengan
tidak mengurangi rasa hormat. Ijinkan saya menjemput selembar nyawanya,"
SANTIKA merapal ajian BAYANGAN PEDANG PENCABUT NYAWA dengan pengerahan
tenaga dalam tertinggi.
PEDANG PEMIKAT SUKMA
bergetar ditangannya, udara di sekitar Gunung Wilis tiba tiba berubah
mendung menyuram. Loncatan kilat tiba tiba muncul membelah angkasa,
berkumpul, memusat, ditempat SANTIKA berdiri , membuat latar belakang
merah, biru, angin panas yang mengerikan.
Ki YADARA terkejut masih semuda ini, SANTIKA mempunyai tenaga dalam yang begitu dahsyat.
Ia yang berdiri masih terpaut beberapa depa darinya, pakaiannya terasa terbang melambai terdorong putaran tenaga dalam.
Ia merasa sedih, tunas
muda yang hebat ini, sayang jika harus terus tersesat jalan. Dimabukan
oleh bara dendam. Padahal SANTIKA bisa dihitung sebagai cucu murid
sendiri.
Datang ingin menuntut balas...
Chapter. 22. Kasih Pemutus Duka Diantara Bayangan Pedang
Pada saat yang teramat genting..
Terdengar suara yang menyusup jelas diantara deru gelombang rapalan ajian SANTIKA.
" Guru.....tunggu...aku yang harus bertanggung jawab," suara selesai bergema.
Sosok kurus sederhana, berpakaian putih bersih, berwajah tampan berdiri tegak didepan SANTIKA sambil merentangkan tangan.
" Mari ananda, lanjutkan niatmu," serunya kepada SANTIKA.
TEGAR PRAKOSO tersenyum teduh ketika serangan SANTIKA meluruk ke arah tubuhnya.
Tanpa bergeming,
diterimanya tusukan PEDANG PEMIKAT SUKMA, SANTIKA menjadi terkejut,
jurus andalannya BAYANGAN PEDANG PENGEJAR ROH,..seakan memasuki gumpalan
kapas yang lembut melenakan.
Gelombang ajiannya pun seakan sirap ditelan cahaya putih yang membungkus tubuh TEGAR PRAKOSO.
Kemanapun BAYANGAN PEDANG PENCABUT NYAWA meluncur, mendorong, memapas, tubuh berselimut cahaya putih menempel ketat.
Dalam penyesalan dirinya, ternyata Tuhan memberikan anugerah ilmu yang diberi nama
KASIH PEMUTUS DUKA , yang ia gunakan menghadapi terjangan ganas SANTIKA..
Hingga pada saatnya tiba....terdengar suara yang lembut keluar dari bibir yang tersenyum....
" Guru...ijinkan aku
menghentikan semua ini,.....hiaaaatttttt, " terdengar teriakan tinggi
TEGAR PRAKOSO, memapaki serangan SANTIKA, terjadi ledakan besar di udara
cahaya putih berpendar.....PEDANG PEMIKAT SUKMA tepat menusuk belikat
TEGAR PRAKOSO, diterima bahkan ditariknya berputar membungkus tubuh
kurusnya, menjepit ketat....
Kemudian mengeluarkan cahaya putih yang
menyilaukan langit pegunungan Wilis....kemudian meledak di
angkasa...bagai meteor putih menghantam bumi.
Tubuh SANTIKA tersentak kemudian terpelanting terpapar arus gelombang ledakan itu.
PEDANG PEMIKAT SUKMA musnah bersama tubuh kurus TEGAR PRAKOSO...
Ki YADARA menangkap tubuh SANTIKA yang melayang ketanah, cahaya putih yang perpendar masih menyelimuti tubuhnya.
Dengan kewaskitaannya Ki YADARA mampu memahami semua yang terjadi.
Sebenarnya SANTIKA sudah
kalah ilmu dan tenaga, akan tetapi jika tidak di ambil cara seperti itu
oleh TEGAR PRAKOSO. Geger lanjutan PEDANG PEMIKAT SUKMA tidak akan
berujung.
Dengan kasih sayangnya
kepada generasi penerus, ia rela menggorbankan dirinya menjadi " SARUNG
ABADI "dari PEDANG PEMIKAT SUKMA. Musnah bersama, menghilang ke langit
kesumba.
Lalu..
SANTIKA di biarkan terbaring istirahat diatas rumput lembut di pelataran Perguruan Rajawali Emas.
*Senja meluruh dari Gunung Wilis
Merona indah dilangit sebentar sirap*.
__ADS_1
TAMAT.
Bekasi, 9 Juli 2017