Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 8


__ADS_3

**CHAPTER 8


Dua Rajawali dan Dua Cendrawasih**


Sementara itu...


Kinanti yang ditinggal pergi Permadi.... sedang asyik menikmati pemandangan di Telaga Bidadari... Dan sungguh ia sangat terpesona..!


Hmmmm....berpetualang sambil pesiar!!!, batinnya terpikat.


Musim yang sangat cocok, menghilangkan kepenatan, capai dengan berpesiar, menikmati pemandangan , air hijau kebiruan yang jernih, kesyahduan telaga.


Tengah asyik melamun dan mengagumi pemandangan indah didepannya....tiba tiba sayup sayup terdengar suara teriakan kebakaran dan suara bentakan dan beradunya senjata dari sebuah perkelahian.


Suara itu muncul dari sebuah kapal yang besar ditengah telaga. Nampak dibagian buritan kapal ada api dan asap hitam bergelung.


Kapal besar itu terbakar...bukan ...sengaja di bakar...!!


Suara ribut diburitan dari anak buah kapal yang serabutan berusaha memadamkan api.


Sedang beberapa anak buah kapal yang lain 3 orang, terlibat pertempuran...dengan seseorang berbaju kuning..langsing memakai saputangan hitam dimukanya...menyamarkan identitasnya..


Karena jarak yang tidak begitu jauh ..Kinanti bisa melihat semua kejadian itu...terketuk hatinya untuk memberikan pertolongan..


Dengan sekali loncat bayangan merahnya berkelebat berlari kearah penyewaan perahu.


Ketidak munculan Permadi menjadi terlupakan, karena yang ada di pikirannya, bagaimana secepatnya menolong orang orang di kapal besar itu.?


Setelah mendapat sewaan perahu...segera didayungnya perahu biru kecil itu menuju kapal besar secepatnya..


Dari tempatnya mendayung..jelas terlihat...anak buah kapal berhasil memadamkan api.


Syukurlah....! batinnya lega.


Yang membuatnya untuk mendayung secepatnya, adalah.pertempuran itu ..!


Ia semakin dekat...di lihatnya sosok kuning berkedok saputangan ..telah berhasil merobohkan 3 orang pengeroyoknya.


Dan kini sosok kuning itu sedang bertempur dengan pemuda yang serba biru.


Astaga...! Kinanti begitu terkejut setelah begitu dekat jarak perahu dengan kapal besar.


Tak salah lagi ia mengenali, kedua orang yang bertempur.


Yang berbaju kuning berkedok adalah Permadi sahabatnya. Pasti itu! Ia sangat mengenali bentuk tubuh dan pedang berkepala naga itu adalah milik Permadi.!


Dan ....pemuda biru itu...walaupun sudah lama kejadiannya ia masih teringat. Bahkan selalu teringat ! Karena wajah pemuda biru itu telah terpatri di ingatannya.


Bagaimana dulu, Pemuda biru itu berniat menolongnya...namun sayang..telah dihalangi oleh wanita iblis teman penjahat keji yang melarikannya.


Untung ia berhasil diselamatkan Nyi Dyah Puspa..Pemilik Bukit Mawar..dan kemudian jadi gurunya.


Yang berhasil " mengebah " pergi penjahat itu , dengan keadaan luka parah dan melarikan diri!


Sedang pemuda biru itu tidak ketahuan nasibnya..


Ee...tidak disangka..kini..ia bertemu di sini.!!


*


Tanpa banyak pertimbangan, melayanglah tubuh Kinanti keatas geladak kapal.


Akan tetapi setelah sampai diatas, ia malah kebingungan..!


Mau menolong yang mana?.


Ia melihat Permadi terdesak oleh Pemuda Biru...walaupun bertangan kosong, namun semua serangan Permadi dapat dibendungnya...


Cecaran tusukan pedang dengan jurus Pedang Teratai, kandas hanya oleh sampokan tangan yang membawa angin menderu dan berhawa panas.


Ia tidak menyangka keisengan dari rencananya terbentur oleh Pemuda Biru yang aneh ini.


Ia terkejut sekali, hanya dengan tangan kosong..kecepatan dan ketajaman serangnya dapat demikian mudah dipunahkan


Bahkan sekarang..ia malah terdesak mundur.


Sebenarnya dari ujung matanya ia telah melihat kehadiran Kinanti dikapal. Dan ia juga bisa melihat keraguan Kinanti ketika ingin menolongnya!!


" Hiaaatt....syutt..singg...! " Permadi menambah kekuatan serangan dan permainan pedangnya. Serangannya sekarang dilambari Ajian Welas Asih yang berperbawa dingin.


Pemuda biru aneh itu masih tetap melayaninya dengan tangan kosong..dan terus mendesak Permadi.


Di pinggir gelanggang, nampaknya Kinanti sudah mengambil keputusan. Di lolosnya selendang jingganya..dan...


" Berhenti....!" sebuah bayangan putih berkelebat ketengah tengah pertempuran. Memisahkan keduanya...


Ditengah pertempuran itu telah berdiri , pemuda gagah tampan berbaju putih longar, didada kirinya tersulam gambar Rajawali Emas.


Ia adalah Pangeran Ludiro, yang


menengahi pertempuran.


Kipas emasnya terbuka menangkis pedang berkepala naga. Matanya yang bersorot tajam menatap Permadi lekat.


Keajaiban terjadi....


" Ah..paman...maafkan aku.,"!


Permadi dimata Kinanti adalah pemuda tampan yang lucu berubah bertingkah seperti gadis manja, suara dan tingkahnya menjadi gadis remaja.


Kinanti menjadi terpana..dan kebingungan! ..


Apalagi ketika tatapan matanya bergeser ....


Ahhh...Pemuda Biru..sedang menatapnya, terkejut..!!


Belum sempat berkata,..dilihatnya Permadi melepas kedok saputangannya..dan..melepas ikatan rambut yang menyembunyikan rambut panjang indahnya.


Ooh...Kinanti menjadi terpesona..setelah melihat rambutnya terurai, betapa cantik jelitanya Permadi..ee...bukan..?


" Dasar, anak nakal. Bertingkah aneh aneh saja. Pakai..membakar kapal paman juga,!" tegur nya kepada keponakannya. Lanjutnya,..


" Untung saja, kapalnya cepat ditangani...dan yang lebih bahaya..kenapa harus bertempur dengan sahabat paman,?"


Paramitha bergelayut manja dilengan Ludiro, meluluhkan kekesalannya paman mudanya.


" Ayo, Paramitha jangan kurang ajar, minta maaf sama Santika sahabat paman,"!! perintahnya kepada Paramitha.


Sedangan Kinanti..?

__ADS_1


Ooh...namanya Paramitha..


Ooh..namanya Santika..batin Kinanti mendengar semuanya.


Paramitha menatap Santika dengan kagum dan terpesona!


Sedangkan Santika seperti biasa tanpa senyum menatap balik.


Perasaannya agak terganggu dengan gadis cantik berpakain merah yang sekilas tadi melihat ke arahnya.


" Pam..Pa....ah.!...kakak Santika, maafkan aku ya. Aku panggil kakak saja ya. Namaku Paramitha, pasti kakak umurnya tidak beda jauh denganku, khan?," ucap lincah Paramitha menutupi kegugupannya sendiri!


Pangeran Ludiro hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya.


Sedang Santika mengangguk dan tersenyum tipis, menyambut permintaan maaf Paramitha.


" Oya,..paman, ...kenalkan itu..sahabatku paman. Kakak Kinanti dan mintakan maafku, kepadanya paman. Takutnya ia marah padaku," tunjuknya kearah Kinanti yang baru tersadar, sessungguhnya, siapa mereka berdua.


" Oo...maafkan keponakanku, nona Kinanti, apapun yang telah dilakukannya, aku Ludiro..mohon kebesaran hatimu, untuk memaafkanya.


Memang tingkahnya selalu aneh aneh saja,"! Pangeran Ludiro memohon maaf kepada Kinanti.


Kinanti benar benar salah tingkah sekarang.


Awas nanti ya..ternyata selama ini aku dibohonginya, ancamnya dalam hati.


Dan ternyata ini adalah keluarga kerajaan Asoka.


Pangeran Ludiro dan keponakanya Paramitha puteri Panglima Banara.


Ia teringat cerita ayahnya sebagai Kepala Dusun, mengenai siapa siapa petinggi kerajaan Asoka.


" Oh....maafkan hamba Paduka dan Tuan Puteri, yang telah berani dengan lancang datang tanpa di undang," sembah segera sambil menekuk lutut untuk bersimpuh..


" Hai...jangan sungkan begitu !Ayo ....berdiri. !


Sahabat keponakanku, adalah sahabatku juga. Lagi pula usia kita semua, pasti tidak terpaut jauh. Hanya karena garis keturunan saja, Paramitha, memanggilku Paman, nona Kinanti," cegahnya cepat melihat Kinanti akan berlutut dan menyembah.


Kemudian ujarnya ramah..


" Nona Kinanti perkenalkan juga, sahabat terbaikku Santika," sambil menoleh ke arah Santika.


Santika dan Kinanti, saling berhadapan...ternyata mereka berdua sama sama masih mengenali.


Baru kali ini , Santika tersenyum samar menyambut perkenalan itu..sedang Kinanti..hanya sebentar menatap mata biru Santika..dan hatinya berdebar!!


" Klepakkk..syuttt,"! perbincangan terpotong dengan munculnya Rajawali emas pembawa pesan. Hinggap manis ditangan kanan Pangeran Ludiro.


Diambil surat yang dibawa oleh Rajawali..dibaca dan Inti isinya adalah..


Hrastu Bhumi ....


Di bulan ke 9 yang akan datang


mengundang semua tokoh rimba persilatan merayakan ulang tahunnya...


( Tidak berselang dalam waktu yang lama, pesanan undangan itu tersebar ke seluruh Negri Asoka. Semua golongan di rimba persilatan mendapat undangan itu.! ).


*


Setelah membaca pesan itu..


Sekarang....semua masuk ke kapal ..dan..beristirahatlah dulu!!," tawarnya ramah.


*


Setelah berada didalam kamar yang sama. Kinanti langsung saja menyerang Paramitha....


" Dasar, anak nakal....berani benar kamu membohongi kakakmu ini," Kinanti melebarkan matanya kearah Paramitha. Wajahnya terlihat gemas sekali.


Paramitha, langsung saja meloncat keatas pembaringan dan bersembunyi dibalik bantal.


Kemudian tertawa cekikikan. Membuat Kinanti semakin gemas..


Tubuh rampingnya berkelebat menyerbu kearah Paramitha bersembunyi.


Untuk selanjutnya terjadi perang bantal diantara mereka. Bantal dan guling..berterbangan


Dua pendekar wanita muda yang sepak terjangnya, membuat para penjahat ciut nyalinya..bercanda..kembali seperti waktu kanak kanak saja layaknya. Saling menggoda, saling mengelitik, kejar kejaran ?


Lupa sudah jurus dan ajian yang hebat hebat..


Sepanjang siang, hingga mereka kelelahan...kemudian tidur terlentang diam diam...melamun!


Angin diluar mendesau..


Telaga Bidadari semakin ramai diluar....matahari bergeser ketengah...


" Kak..Kinanti...? ," suara Paramitha memecah kesunyian.


Kinanti hanya melirik dari ujung matanya. Menunggu lanjutan ucapan Paramitha.


"Paman Ludiro tampan dan gagah ya? Cocok ya, dengan Kakak yang cantik,?" Paramitha menatap wajahnya lurus lurus, berusaha menjenguk isi hatinya yang paling dalam.


Kinanti sangat terkejut, mendengar keterus terangan dari Paramitha. Ternyata apa yang terjadi di Kapal Besar ini, bukan disengaja....semua peristiwa itu sudah diatur!, atau setidaknya sudah diarahkan kepada...pertemuan antara Ludiro dan dirinya.!


Benar benar cerdik Paramitha ini.


Kinanti tidak bisa menyangkal....benar ..Ludiro...adalah pemuda yang tampan dan gagah , seorang pangeran pula.


Wanita manapun akan dengan mudah jatuh hati dengan pangeran ini.!


Namun Kinanti tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.


Hatinya tetap condong kepada Santika..akan tetapi mendengar kelanjutan..ucapan Paramitha,...


" Kalau Santika ...e...tampan juga ya...,?" katannya pelan dan ekspresi melamun. Terlihat sangat mendamba..


Akan tetapi perkataan lembut itu, bagi Kinanti bagai suara petir di tengah bolong.


Tidak terasa pias menjalari selembar wajah Kinanti..untung Paramirtha tidak memperhatikan...karena sibuk..berkhayal sendiri. Senyum ...senyum sendiri..


Suasana siang terasa semakin gerah..bagi Kinanti..hari hari kedepan akan terasa berat..


*


Malam itu..


Bulan sudah purnama benar

__ADS_1


Kelepak beburungan malam


Sesekali melintas ingin tahu.


Udara yang sejuk ditingkahi


Petikan harpa melenakan


Membuai terbang ke awan!


Ada pesta rupanya..


Panggung yang cukup luas berhias warna warni bertambah semarak dengan berbagai suguhan acara yang menarik.


Suguhan musik, membaca syair maupun pantun, tarian tradisional negeri Asoka. Semua dilakukan oleh seniwan seniwati yang muda , cantik, tampan pilihan dari negeri Asoka.


Nampak dikursi kehormatan, Pangeran Ludiro yang berpakaian putih terlihat tampan dan cerah.


Sebelah kanannya, Santika yang serba biru memandang ke tengah panggung.


Sebelah kiri Pangeran Ludiro, ....kursinya kosong...., dan disamping terlihat Kinanti dengan pakaian merahnya nampak cantik dan anggun.


Acara puncak sudah mulai. Ditandai dengan bunyi genderang perang..


Munculah Paramitha yang berpakaian biru muda..melakukan tarian pedang.


Gerakannya lincah, lemas, indah..mengikuti irama genderang.


Cantik bagaikan bidadari!


Gerakan indah, memikat, kadang luwes lembut, kadang cepat dan lincah. Gerakan tepat dan cepat,


Pakaian yang dikenakan karena angin pukulan dan angin pedang seperti tertiup tiup, melambai..semakin indah...


Bagaikan bidadari biru bersayap menari pedang.


Sambil bersilat senyum dan mata beberapa kali melirik kearah Santika. Kinanti jelas sekali melihat semua yang dilakukan Paramitha.


Dengan diam diam pandangnya dialihkan kearah Santika.


Wajahnya yang tampan biru kelihatan lebih aneh dan memukau..tatapan lurus ke arah Paramitha yang sedang beraksi.


Bukan tatapan kagum, akan kecantikan dan daya pikat Paramitha, namun sebagai ahli silat gerakan dan kecepatan itulah yang menjadi perhatian utamanya.


Kinanti selalu memperhatikan Paramitha dan Santika...tapi...seperti merasa ada yang memperhatikan Santika menoleh kearah Kinanti.


Dua tatap mata bertaut..hati saling berdesir..tanpa ucapan kata, hanya bicara lewat mata.


Hingar bingar, suara meriah, suara pengiring tarian, dan sekilas tatapan antara Santika dan Kinanti, tidak lepas dari mata jeli nan bening milik Paramitha...matanya berkerjap kecewa...!!


*


Malam perjamuan telah usai.


Pangeran Ludiro dan Santika masih duduk digeladak kapal menikmati sisa malam yang bergulir..2 Naga muda perkasa


Duduk dalam sinar rembulan raya.


Puteri Paramitha dan Kinanti pura pura tidur diam diam dalam lamunan masing masing..2 Cendrawasih


berbaring dalam resah..


Malam semakin larut


Telaga bidadari semakin hening


Cuma beberapa kali..kelepak burung malam melintas


Desir angin dan kericik air telaga..nan syahdu!!


Bersambung....


Mendung Mulai Berarak


Mendung berarak dibawa angin


Dari timur membawa petaka


Asoka terguncang..!


Bagai api yang membakar


Bagi bara yang terus menyala


Asoka adalah arah api dan bara yang terus berhembus liar


Kemeriahan akibat Undangan yang disebar oleh Hrastu Bhumi ketua perguruan Bhumi Langit..yang mengundang semua tokoh rimba persilatan untuk hadir diulang tahunnya. Menuai berbagai tanggapan.


Dari golongan hitam, banyak yang bersemangat dengan harapan, inilah kesempatan mereka untuk bersekutu dengan Hrastu Bhumi yang tersohor sakti dan berpengaruh.


Selain ia sebagai Ketua perguruan juga sebagai Guru Negara Negeri Asoka. Siapa tahu bisa membonceng kemuliaan dan kekuasaan.


Namun bagai tokoh tokoh golongan putih, sudah bisa membaca, bahwa undangan itu, pasti ada maksud dibaliknya.


Apalagi, melihat sepak terjang Perguruan Bhumi Langit dan sikap Ketuanya yang sombong dan jumawa. Merasa seakan yang paling sakti dan hendak menguasai semua perguruan untuk tunduk kepadanya.!


Berita undangan itu yang semula menjadi bahan perbincangan dikalangan rimba persilatan, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.


Tiba tiba saja menjadi sirap, perlahan hilang, tak berbekas! Tertutup oleh berita yang mengejutkan.


Kabar berhembus semula dari Timur.


Perlahan tidak menunggu hitungan lama, merembet ke semua wilayah Negeri Asoka.


Pembunuhan para penjahat, rampok dan bandit tanpa pandang bulu! Pembunuhan berantai.


Yang semuanya terbunuh terkena pukulan Bianglala Pengejar Roh ilmu khas dari Denawa si Setan Berkabung.


Yang lebih mencengangkan, pembunuhan itu tidak hanya menyasar para penjahat, akan tetapi para wanita, tua maupun muda, banyak yang terampas kehormatannya, ataupun mati terbunuh setelah ternoda!!


Berita itu adalah....


Setan Berkabung Pemetik Bunga!


Betapa dahsyat berita itu. Mendengar nama Setan Berkabung saja sudah ngeri, rontok nyali, apalagi gelaran Pemetik Bunga?


Oh..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2