Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 9


__ADS_3

**CHAPTER 9


Badai Datang dari Timur**


Kabar itu menggegerkan Negeri Asoka. Baik dari Golongan Putih maupun dari Golongan Hitam menjadi kebat kebit hatinya.


Memang Denawa Setan Berkabung adalah Datuk Sesat dari Barat yang masih tersisa.


Datuk yang tersisa, setelah terjadinya geger Pedang Pemikat Sukma.


Datuk Utara Bajak Laut Bogar, Datuk Timur Viruya dan Datuk Selatan Minarti, semua tewas ditangan Santika si Pendekar Biru.


Walaupun sebagai Datuk Sesat Barat, sebenarnya Denawa berada diwilayah golongan abu abu. Tidak sesat sepenuhnya.


Hanya cara menghadapi para penjahat yang tidak ada ampun, sekali ketemu langsung dibabat habis. Nyawa pasti melayang!


Yang membuatnya sangat ditakuti.


Dari semua Datuk ataupun, jago jago dari Golongan Putih dan Golongan hitam. Denawa si Setan Berkabung, mempunyai kepandaian yang paling tinggi. Merupakan Jagoan Nomor Satu didunia persilatan kala itu.


Ilmu kesaktian yang tertinggi, penjagal penjahat, dan sekarang menjadi penjahat pemetik bunga.


Dapat dibayangkan betapa mengerikan!


*


Teror itu bergerak sedemikan cepat. Seolah olah Denawa ada diberbagai tempat.


Hitungannya hanya hampir setiap minggu.


Setiap korban jatuh!


Anehnya dari tempat yang berbeda beda.


*


Langit memerah diatas Telaga Bidadari


Beburungan berbondong bondong terbang ke arah Utara


Mengikuti arah angin yang bertiup dingin.


Terbang laju seakan menjauhi datangnya badai.


Pagi belumlah genap. Matahari masih samar menebar sinar. Akan tetapi warna langit begitu ganjil.!


Ada kesibukan dipalka kapal.


Nampak disana ada , Pangeran Ludiro, Santika, Kinanti dan Paramitha..sarapan pagi belumlah disajikan akan tetapi....


Tampak cemas dan serba salah wajah Santika..dengan sedikit tergesa ...


" Sahabatku Ludiro. Saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan.


Maaf, tidak bisa berlama lama menemanimu menikmati keindahan Telaga Bidadari ini," dengan perasaan tidak enak, Santika harus berpamitan kepada Ludiro.


Semua yang hadir terkejut.! Tidak mengira bahwa pertemuan itu akan segera berakhir.


Kinanti terdiam, namun dihatinya muncul berbagai pertanyaan. Dan lagi selama dikapalpun..belum ada kesempatan untuk berbincang berdua dengan Santika.


Setiap pertemuan, tidak pernah ada percakapan yang khusus. Karena harinya selalu tidak merasa nyaman, ada Paramitha yang selalu mengikutinya.


Hanya lewat bertukar senyum dan bertukar tatap mata untuk mengisyaratkan perasaan hatinya.!


Paramitha pun juga sangat terkejut mendengar apa yang di katakan Santika.


Sebelum dibertanya, mengapa Santika harus pergi, Ludiro sudah mendahuluinya...


" Santika, mengapa buru buru. Belum juga habis rasa rinduku padamu...apalagi disini juga ada Kinanti dan Paramitha..kita bisa bercengkerama bersama..mempererat tali persahabatan kita...,"? tanya Ludiro dengan hati hati.


Santika, sebenarnya didalam posisi yang sangat sulit. Namun dengan berbesar hati ia akan mengungkap siapa sejatinya dirinya.


Karena ia tidak ingin persahabatannya akan ternoda dengan syak wasangka dan kesalahpahaman.!


" Ludiro, Kinanti dan Paramitha. Kalian pasti telah mendengar berita yang menghebohkan diluaran itu. Aku mendengar dari petugas dapur Ludiro yang pulang belanja dari pasar.


Berita tentang Datuk Setan Berkabung Denawa,"? ditatapnya satu persatu wajah mereka. Tapi mereka semua tidak memberikan reaksi atas pertanyaan Santika. Mereka seakan serempak menunggu lanjutan ucapan Santika.


Santika menghela napas panjang menahan gejolak perasaanya. Tidak bisa tidak, ia harus menjelaskan semuanya. Apapun yang terjadi.,!


Kabar itu menjalar bagai wabah. Yang paling terkejut adalah Santika si Pendekar Biru.


Santika adalah murid tunggal Denawa, dan ilmu Bianglala Pengejar Roh adalah ilmu yang sama dan telah diwariskan kepadanya.Dan dia tahu betapa dahsyat ilmu itu. !


Dan ia ngeri jika membayangkan, apa yang akan terjadi selanjutnya .


Dan ia harus bertindak cepat!


" Ludiro dan semuanya, tahukah kalian sebenarnya,


Si Setan Berkabung Denawa adalah guruku!


Yang menjadi berita menghebohkan adalah kejahatan yang dilakukan guruku,"! lanjutnya Santika dan...


" Aku tidak percaya, bahwa semua itu yang melakukan adalah Guruku, Denawa.


Oleh karena itu, aku berpamitan untuk segera menyelidiki dan mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi. Aku akan membersihkan nama baik guruku,"! Santika gagal membendung emosinya.


Mata nya nampak merah tajam. Ada letupan dan bara kemarahan dimatanya. Tangannya mengepal kuat dan menggigil.!


Semua hanya bungkam dalam keterkejutan. Tidak percaya dengan berita dan kenyataan yang disampaikan Santika.


Ludiro dalam diamnya, memahami, apa yang terjadi dengan perasaan sahabatnya. Guru yang harusnya dijunjung tinggi, dihormati dan dipatuhi.


Guru yang menjadi sumber bakti, setelah Tuhan dan orang tua.


Dengan kejadian ini, seakan semua kewajiban dan kebaktian yang seharusnya diperuntukkan kepadanya hilang musnah.


Karena, telah dihina, dihujat, dimaki, disumpah serapahi, oleh orang yang mendengar berita itu.


Dan guru itu adalah Denawa, guru sahabatnya Santika.


Ia merasakan kesedihan dan kegusaran Santika.


Ia maklum, dan ia tidak perduli akan apapun dan siapapun Guru Santika. Karena ia yakin Santika sahabatnya adalah seorang pendekar muda yang telah teruji akan sikap dan tindakannya.


*


Kinanti demikan juga, ia terkejut mendengar semua perkataan Santika. Akan tetapi ia percaya apapun yang telah dikatakan orang, pasti bukan yang terjadi.


Itu adalah kesalahpahaman atau lebih tepatnya fitnah.!


Ingin Kinanti segera menghibur kegalauan dan kemasgulan Santika.


*


Paramitha, mendengar perkataan Santika sangat terkejut. Akan tetapi ia juga meyakini. Apa yang telah dilakukan Pamannya Ludiro dengan bersahabat dengan Santika adalah yang menjadi dasar bahwa Santika adalah benar benar seorang pendekar muda!.


Ia prihatin atas kejadian yang menimpa Santika.


*


Setelah lama terdiam dengan pikiran masing masing.


" Santika, silahkan kamu melakukan penyelidikanmu. Aku akan membantumu dengan mengirim orang orang kepercayaanku untuk menyelidiki semua kejadian ini.


Jangan sungkan untuk menghubungiku...jika kau butuh pertolonganku.


Aku dan Paramitha akan kembali keibukota..siapa tahu aku bisa melakukan sesuatu yang bisa membantumu," Ludiro sebenarnya menangkap ketidak setujuan dari Paramitha.


" Ayo, Paramitha segera kemasi kebutuhanmu. Hari ini juga, kita kembali ke ibukota," ucapnya tegas sehingga Paramitha segan untuk membantahnya.

__ADS_1


Masih ada waktu panjang pikirnya. Nanti suatu saat masih bisa bertemu dengan Santika.


" Ludiro dan Paramitha, sekalian juga, aku mohon pamit. Aku harus meneruskan perjalananku. Untuk menengok orang tua dan kembali ke Perguruan dulu.


Maaf, Perguruanku berpenghuni wanita semua.


Aku khawatir, ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi disana. Walaupun disana masih ada Guruku Nyi Dyah Puspa.


Semakin banyak tenaga, tentunya akan lebih baik," Kinanti berpamitan kepada Ludiro dan Paramitha. Kepada Santika, pamitnya,


" Santika aku turut perihatin atas kejadian yang menimpamu. Aku juga akan membantu sekuat tenaga membuka tabir peristiwa ini. Aku juga mohon pamit," Kinanti memandang tepat dimanik mata Santika.


Dua pasang mata saling memandang tajam. Saling menjajaki, saling menjenguk isi hati yang paling dalam. Mata Santika berbinar, dan senyum tipisnya muncul , sekejap. Namun Kinanti berhasil menangkap perubahan itu.


Dan walaupun tanpa ada sepatah kata dari Santika, Kinanti sudah memahami semuanya.


" Nah kebetulan kalau begitu. Kalian bisa meninggalkan Telaga Bidadari bersama sama. Kalian bisa memakai perahu yang sudah aku siapkan," Ludiro memberikan usul, yang secara tidak langsung, menguntungkan mereka berdua.


*


Tidak beberapa lama meluncurlah sebuah perahu warna kuning membelah kebeningan Telaga Bidadari.


Nampak Santika dan Kinanti disana. !


Dengan kayuhan dayung dua orang pembantu Ludiro, melaju meninggalkan Kapal Besar semakin jauh menepi ke ujung Telaga.


" Paramitha, kamu lihat...! Serasi sekali ya. Santika dan Kinanti," ujar Ludiro kepada Paramitha, dengan mata berbinar. Ia tidak menyadari bahwa ucapannya, melukai perasaan Paramitha.!


Paramitha memandang perahu kuning itu semakin menjauh.


Membawa cintanya, meninggalkan luka dihatinya.


Ludiro, ternyata tidak memiliki perasaan khusus kepada Kinanti. Malahan dirinya lah yang terjebak didalam perasaan sendiri.


Langit masih tampak membiru.


Angin bertiup menjadi hangat.


Keramaian Telaga sudah mulai muncul.


Namun, Paramitha merasakan hatinya sunyi.!


*


Perahu kuning kembali kekapal besar. Dengan cepat memotong alur air yang beriak di Telaga Bidadari. Semakin ketengah, meninggalkan sepasang muda mudi yang tegak kikuk mengikuti arah perginya!


" Ehem...." bunyi dehem Santika memecah kekakuan dan keheningan suasana.


Santika memandang lekat lekat ke arah Kinanti yang menengok lembut, mata saling tatap..


Telaga Bidadari terasa begitu indah..


Angin sepoi mempermainkan anak rambut Kinanti..


Mata yang bening berkejap penuh pesona


Santika terjebak dalam keindahan yang memabukkan..


Tanpa kata


Tanpa bahasa


Hanya tatap mata saling bicara..


Bagaikan tertarik besi sembrani..


Mereka berdua saling melangkah mendekat..!


Kemudian...


Santika merengkuh bahu Kinanti yang segera bersandar didadanya.


Telaga Bidadari sebagai saksi, berpadunya dua hati.. ternyata saling mencinta..!


Muncullah sepasang pendekar...


Pendekar Muda Mudi...akan tetapi pasangannya kali ini..adalah


Santika dan Kinanti..


Bahu membahu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan..dimanapun mereka berada..!


Berpetualang bersama, untuk mengungkap kebenaran..


Apakah  Denawa si Setan Berkabung yang menjadi sumber malapetaka selama ini?


Bersambung......


Diujung Barat Laut Negeri Asoka


Beberapa bulan sebelumnya...


Perguruan Bhumi Langit sudah nampak berhias dan bersiap siap. Walaupun undangan itu masih tiga bulan lagi. Namun surat undangan sudah semua disebar!.


Ditengah lapangan tidak jauh dari tempat tinggal Ketua perguruan, telah dibangun, panggung segi lima yang sangat besar.


Panggung itu tepat berada disisi kanan Tempat tinggal Ketua Hrstu Bhumi, yang megah seperti sebuah istana kecil yang indah.


Disebelah kirinya, terdapat bangunan seperti biara, yang kegunanya adalah tempat peribadatan Hrastu Bhumi dan anak muridnya.


Ada kesibukan dari pagi sampai malam.


Semua keperluan penyambutan dan acara utama. Sudah dipersiapkan matang matang.


Seperti malam ini.


Perguruan Bhumi Langit, seperti pasar malam saja. Penuh oleh cahaya warna warni, lentera dan lampion. Yang menghiasi dan menerangi setiap sudut perguruan.


Perguruan tampak terang benderang. !


Penjagaan berlapis disiapkan dari pintu gerbang hingga kesekitar istana kecil itu. Bergilir dan bersiaga.


Malam semakin merambat naik.


Suara desau angin, dan udara yang dingin menyelimuti Perguruan Bhumi Langit.!


Penjagaan tetap berlangsung teratur dan ketat.


Namun bersamaan terdengar lolongan anjing yang menyayat, berkelebatlah dua bayangan hitam, meloncati dinding tembok tanpa suara.


Berloncatan diatas genting bangunan yang berderet menyambung hingga tepat menuju istana kecil nan mewah itu.


Para penjaga tidak menyadari pergerakan dua bayangan itu. Yang menandakan bahwa kedua sosok hitam itu, yang satu tinggi besar dan satunya kurus bongkok memiliki ilmu meringankan tubuh dan kesaktian yang tinggi.


*


Hrastu Bhumi masih belum tidur.


Duduk diruang kerjanya yang mewah. Perabotan kayu berukir yang indah. Kursi besar berjok beludru warna merah darah dan sentuhan warna kuning keemasan pliturannya.!


Kini ia duduk dengan gaya dikursi itu.


Diatas meja terdapat satu tempat anggur berbahan porselen indah dan sepiring besar buah buahan.


Ia sangat memanjakan dirinya sendiri. Menikmati kehidupan yang serba mewah dan nyaman.


Beda sama sekali di tempat asalnya Negeri Tanpa Langit.


Ia disana sebagai orang buruan pemerintah!


Disini ditempat pelariannya Negeri Asoka. Ia malah mendapatkan kehormatan dan kemuliaan. Karena kesaktian dan kedekatannya dengan Panglima perang Negeri Asoka. Banara.

__ADS_1


Namun, karena sifat aslinya yang rakus. Dan ingin selalu menjadi yang paling hebat.


Semua yang telah dicapainya itu tidak memenuhi memuaskan seleranya.


Ia harus bisa menjadi jago nomor satu!.


Dan malam ini, ia sedang memetakan kekuatannya.


Mengukur dan meneliti, Perguruan, atau tokoh baik golongan putih maupun golongan hitam mana, yang akan menjadi saingan terberatnya dalam perebutan jagoan nomor satu.!


Semua akan dilaksanakan dalam pertarungan terselebung didalam acara ulang tahunnya, nanti!


Semua data sudah lengkap, yang diperoleh dari anak muridnya yang disebar sebagai mata mata.


Tokoh golongan tua, perguruan terkemuka, datuk sesat, gembong penjahat...semua di undangannya.


Ada agenda terselebung yang masih tersembunyi, dan hanya dirinyalah yang tahu.


Tujuan yang lebih besar..!


Dari semua data yang telah masuk..ia berhasil mengambil kesimpulan. Yang akan menjadi pesaing utamanya adalah Datuk sesat dari Barat.


Denawa si Setan Berkabung.


Yang menduduki jagoan nomor satu..saat ini..


Dari sumber dan data yang diperolehnya, si Denawa ini..dengan watak dan sepak terjangnya, ia yakin, Denawa pasti tidak mau bersekutu dengannya.


Karena selain ingin menjadi jagoan nomor satu, ia juga mempunyai tujuan lain untuk memilih dan mencari siapapun yang menguntungkan untuk dijadikan sekutunya.


Walaupun dalam keadaan sibuk dengan rencana besar yang mengisi pikiriannya, namun kewaspadaanya tidak berkurang.


Dengan kekuatan dan kesaktiannya, gerakan dan suara sekecil apapun tidak akan lolos dari pantauannya. Ia sangat kesal kepada para penjaganya..yang begitu sembrono dan tidak mampu!


" Siapa...yang berani mati ..menyantroni kediamanku,..?" tegurnya dengan suara menggeledek. Dikibaskan kedua tangannya yang besar. Terlontar serangkum tenaga dahsyat meluruk keatas genting..diatas kepalanya. Ajian Bara Dewa andalannya dirapal sebagian.


Hebatnya pukulan itu tidak menghancurkan genting istananya, akan tetapi angin tenaga pukulan itu bisa lolos menghantam kearah dua orang yang berada diatasnya.


" Ha..ha...ha...hebat..hebat...bukan main_! " terdengar sahutan suara dari atas...belum hilang suara itu bergema...syuttt...dua bayangan hitam itu telah melayang turun sambil menghindari pukulan jarak jauh Hrastu Bhumi.


Mendarat tanpa suara di depan Hrastu Bhumi yang telah berdiri siap siaga dari kursinya.


Melayang dari atas ketengah Ruangan Kerjanya yang memang dibiarkan terbuka...tanpa atap...


Jalan yang sengaja ia buat untuk keperluannya, tanpa harus melalui pintu...tinggal meloncat berkelebat...lenyap menuju ketujuan.


Dan betapa murkanya Hrastu Bhumi mengetahui dua orang itu berani mati masuk keistananya melalui " pintu khusus" nya.


Satu orang tua bongkok bertongkat kepala ular hitam, berpakaian hitam dan berjubah hitam. Yang satunya berperawakan tinggi besar dan tampan berpakaian hitam dan berjubah hitam pula.


Mukanya yang merah berkerut..matanya melotot besar!..dua penyusup ini bisa masuk ke istanannya berarti mempunyai kesaktian yang tinggi.


Dirapalnya ajian Bara Dewa nya, tiga bagian..siap dilontarkan!


" Eiitt....tunggu dulu..Tuan!..Jangan terburu nafsu. Memang kedatang kami tidak diundang. Tapi...kami datang menawarkan kerjasama," Si tua bongkok dengan cepat..melintangkan tongkatnya..


" Hua ha..ha..ha..Mau kerjasama? ...Hua..ha..ha...apakah pantas..!", Hrastu meneruskan ayunan tangannya..angin panas melabrak kedepan..kearah Si Tua Bongkok...pukulan belum sampai.. Si pemuda tampan..segera melompat memapaki sambil berseru..


" Hiaat.!!...aku saja guru..meminta pengajaran Tuan Guru Negara ," diluruskan kedua tangannya..segera berwarna kemerahan..merapal ajian Segara Geni, dan meluncur....angin panas dengan angin panas lainnya bertemu.


" Blaar....,"!!


Dua tenaga panas bertemu. Hrastu merasakan bahwa pukulan lawannya tidak boleh dipandang enteng.


Si Tampan pun merasakan hal yang sama, meskipun hanya sebagian tenaga pukulan yang dilontarkan, namun ia rasakan begitu dahsyat....


Kuda kudanya masih kokoh tidak tergempur..hanya jubah hitam nya..yang terbang terkena angin pukulan.


" Ha..ha..ha..boleh juga...boleh juga..Terimalah ini.....Hrrrrggghghhh...! ," Hrastu Bhumi merapal ajian Gerengan Beruang Salju Memgagetkan Srigala.... serangan suara yang menerobos telinga dan mengguncangkan jantung.


Nampaknya dua sosok hitam itu, sudah mempersiapkan diri menghadapi Hrastu Bhumi.


Melihat serangan suara tidak mempengaruhi keduanya. Hrastu Bhumi segera melakukan serangan lanjutan.


Tubuhnya yang tinggi besar melenting terbang dari kursi , tangannya terbentang seperti gerakan burung raksasa mementang sayap..melancarkan pukulan dari jurus Tapak Mega Merah...segulung tenaga panas yang lebih besar muncul dari kedua tapak tangannya yang berwarna merah darah...tidak tanggung tanggung, melabrak si Bongkok dan Si Tampan..


" Hati hati Bagus..,.," teriak Si Bongkok memperingatkan datangnya serangan yang bergelombang....


Si Bongkok menangkis pukulan itu, keras lawan keras..panas lawan panas..Ajian Segara Geni yang lebih tinggi dikeluarkan untuk memapaki Tapak Mega Merah....tidak ada jurus..hanya beradunya tenaga dalam yang dahsyat. Kembali terdengar ledakan dan teriakan.


" Duaarrr..... Ahhh...!, " Ledakan asap merah mengepul akibat beradunya tenaga dalam.


Si Tampan Bagus tidak berani ayal, berteriak keras, menghindar sinar merah panas yang mengarah padanya. Menghindar lebih aman, daripada beradu yang akan merugikannya. Tubuhnya menghindar kesamping..empat langkah kekiri..pukulan Tapak Mega Merah...lolos melaju menghantam tiang marmer besar. " Dhuaaar.!! bergoyang seperti terkena gempa bumi.


Ada bekas telapak tangan berwarna merah sedalam satu ruas jari di tiang bagai sebuah stempel.!


Si Tampan Bagus..leletkan lidah, bergedik ngeri..untung saja ia menghindar.


Disisi lain Si Bongkok tergetar kuda kudanya, bergeser setengah tapak kaki, melesek amblas dilantai marmer. Wajahnya nampak terkejut. Tidak disangkanya, Hrastu Bhumi begitu sakti!


Melakukan dua pukulan sekaligus, dengan dua sasaran yang berbeda,berarti Hrastu Bhumi membagi tenaga pukulannya. Itupun tidak mengurangi kehebatan pukulannya. Hebat bukan main!.


Dan kedudukannya, biasa biasa saja...tidak mengalami guncangan akibat tangkisan Si Bongkok...malahan ia tertawa bergelak...


" Hua..ha..ha..ha,! Tidak mengecewakan...Ayo...mari duduk sini, kita rundingkan, apakah yang akan menjadi kesepakatan kita !," tawarnya, diantara suara tawanya yang jumawa. Hrastu Bhumi merasa cukup menguji, calon sekutunya.


Tangannya yang besar bertepuk tangan.


Segera, dari sebuah pintu yang berada di belakang tempatnya duduk ..muncul dua orang..wanita muda sebagai pelayan , satu orang membawa satu guci besar terbuat dari porselen berisi anggur merah dan satunya lagi membawa senampan peralatan minum yang terbuat dari kristal merah pula.


Dua pelayan itu masih muda, berparas cantik dan bertubuh padat menggairahkan. Pakaian berwarna merah muda tipis menggoda!


Si Bongkok dan Si Tampan, tidak menyia nyiakan pemandangan itu. Dengan rakus dilahapnya..wajah cantik dan tubuh yang menantang itu.!


" Aku Joko Angkoro dan ini muridku Bagus Handoko. Ingin mengajukan tawaran kerjasama. Untung saja.. dengan kemurahan hati Tuan Guru..nyawa kami, tidak melayang dengan sia sia. Ha ha ha...ha," tawanya keras dan lantang..sambil duduk bersebrangan dengan Hrastu Bhumi.


Joko Angkoro adalah seorang tokoh sesat berwajah tampan dikala mudanya, karena ia mendapat julukan Penjahat Pemetik Bunga. Kini wajahnya kelihatan tua dan bongkok punggungnya.


Sedang muridnya adalah Si Tampan Sakti Bagus Handoko, yang mempunyai watak dan tabiat tidak jauh dari gurunya. Setali tiga uang.!


" Tuan Guru, langsung saja pembicaraan kita. Aku tahu bahwa kau menyebar undangan hanya sebagai kedok belaka, bukan. Kamu mempunyai tujuan untuk menguasai rimba persilatan?," Joko Angkoro tanpa basa basi mengutarakan pandangannya.


" Dan yang menjadi ganjalanmu adalah Si Denawa Setan Berkabung. Jago nomor satu di Negeri Asoka ini. Aku yakin, kau tidak akan kalah menghadapinya. !," Hrastu Bhumi sangat terkejut mendengar penuturan Joko Angkoro, yang berhasil menebak secara tepat apa yang ada dipikirannya. Cerdik juga orang i ni batinnya.


Hrastu Bhumi, hanya diam tanpa menyahut..ia ingin menjajagi sampai dimana?..dan apa maksud sebenarnya dari Guru dan murid itu.


" Tuan Guru, aku mengajukan kerjasama. Tentunya, kau tahu apa yang menjadi imbalannya," lanjut Joko Angkoro.


" Hmmm...apa yang kau tawarkan, dan apakah pantas menjadi sekutuku..he..he..he," suara besar dan tawa Hrastu Bhumi memantul dikeseluruhan ruangan.


" Aku telah mengumpulkan, para tokoh persilatan..golongan hitam tentunya..dari daerah paling timur sampai ke barat ini! Semua siap mendukung rencanamu. Dan yang perlu kau tahu..Si Denawa itu adalah musuh bebuyutannku. !


Yang menyebabkan aku cacat seperti ini.


Berarti tujuan kita adalah sama, bukan?," Joko Angkoro menyelesaikan ucapannya, kemudian menyambar sebuah cangkir yang berisi anggur merah yang telah disuguhkan tuan rumah.


" Ha..ha..ha...ha...cocok..cocok," wajah Hrastu Bhumi sumringah mendengar semuanya. Sudah terlintas gambar besar diotaknya. Persekutuan yang sangat menguntungkan, putusnya.


Setelah disepakati, persekutuan itu. Joko Angkoro dan Bagus Handoko, di jamu bagaikan tamu agung. Yang dilayani khusus dua pelayan cantik dan seksi yang selalu bergantian menuangkan anggur, dengan membawa aroma tubuh mereka yang menggairahkan!


" Mantini dan Seroja, malam ini kalian harus melayani tuan tuan ini sebaik baiknya. Dan aku, persilahkan Tuan tuan untuk beristirahat, karena ku lihat kalian berdua sudah mabuk.


Ha..ha..ha..ha..," Hrastu Bhumi melepas kedua tamunya beristirahat dengan senyum puas. Apalagi dalam perundingan tadi, tercapai kesepakatan, dan sebuah cara untuk menghadapi Denawa Setan Berkabung!


Malam itu Hrastu Bhumi tetap terjaga untuk mantapkan rencananya.


Bulan bulat muncul.


Bayangan awan hitam berarak membayangi


Sebentar lagi akan terjadi petaka..!

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2