
CHAPTER 32
Baginda Raja Mangkat
Kembali mundur sejenak...
Usaha penculikan berjalan lancar malah sangat lancar. Apa yang dikhawatirkan Restu Bumi gurunya, ternyata meleset sama sekali. Buntaran tidak menemui sedikitpun halangan.
Sempat terbersit dalam pikirannya, " ada yang aneh dengan pengejarnya"
Namun semua tidak menganggu pikirannya lebih dalam, karena tugas utamanya dengan 5 orang pembantunya adalah untuk menculik Raja Asoka saja.
Dan, itu sudah berhasil mulus.
Dari sisi kanan karang terjal yang tersembunyi karena terhalang gugusan karang laut yang tajam dan besar, ternyata ada sebuah ceruk berpasir tempat perahu kecil bisa mendarat.
Buntaran segera memberi isyarat dengan teriakkan seperti jeritan camar pantai yang suaranya menggema dan terpantul ke pos penjagaan pintu rahasia.
Tidak begitu lama terdengar suara dinding karang berderak membuka.
Luar biasa, pintu rahasia terbuka yang menampakkan undakan batu karang yang tersusun melingkar menuju atas benteng.
Kedatangan Buntaran sudah ditunggu oleh Restu Bumi, Gojala, Gojali dan Dewi Wilis.
" Segera turunkan tawanan itu!" perintah Restu Bumi cepat.
Raja Asoka ternyata ditotok untuk menghilangkan kesadarannya. Kemudian dibungkus baju luar yang panjang dan dipanggul secara bergantian selama pelarian.
Restu Bumi memandang kasihan kepada bekas muridnya. Ya Raja Baruna adalah murid Restu Bumi saat menjadi Guru Negara Asoka dengan nama Hrastu Bhumi. ( Baca : Pendekar Jari Sakti )
Wajahnya tampan pucat, badan layu karena selalu bersenang-senang dan mengumbar hawa nafsu.
Raja Baruna, dilepaskan totokannya. Sebentar kemudian mengeliat sadar.
" Aku, ada di mana? Pengawal?," teriaknya bingung. Mata nyalang memandang ke sekitar yang asing baginya. Dinding batu karang yang kusam, dan wajah-wajah asing yang tidak dikenalnya. Matanya menatap takut.
" Ha... Ha... Haa... Ha... ," suara tawa bersahutan pecah dari wajah-wajah asing itu.
Baruna berusaha bangkit dan ingin berlari, namun... lututnya lemas... dan, ia terjatuh lagi.
Baruna kembali menatap wajah-wajah itu, semakin mengingat semakin pusing kepalanya.
Restu Bumi tertawa puas melihat bekas muridnya tidak mengenali lagi. " Tibalah pembalasanku, atas segala sakit hati kepada Bengala, ayahmu dan semua pendekar yang menghancurkan mimpi-mimpiku," batinnya geram.
" Aku akan bumihanguskan Asoka, sampai rata dengan tanah dan baru puas rasanya hatiku," teriak batinnya marah oleh dendam.
" Buntaran, bawa dan masukan ke " istana " nya dan layani sebaik-baiknya sesuai rencana. Haa... ha... ha... ," gelak tawa Restu Bumi keras memantul didinding benteng yang kusam.
*
Raja Baruna dimasukan ke dalam istana yang berupa ruangan kusam dingin segi empat yang luas dan bersekat kaca kusam namun masih dapat menampilkan pemandangan di dalamnya.
Ruangan yang dingin dengan jendela batu berlubang kecil yang membuat angin pantai dan angin malam yang dingin keluar masuk dengan leluasa. Tanpa jendela, hanya ada dua pintu besi yang berat dan berderit ketika dibuka.
Di ruangan sebelah kanan, ada sebuah tilam melapis tempat tidur batu dan sebuah meja batu lebar di sampingnya, tempat tubuh lunglai Raja Baruna tidur.
Di ruang sebelah kiri, ada meja kursi dan tempat tidur yang lebih nyaman dari ruang Raja Baruna.
Istana ini, sebenarnya adalah ruang siksaan batin buat si Raja Muda Baruna.
Semua kebutuhan fisik makan dan minum di sediakan. Tumpah ruah malah.
Namun semua kesenangan yang biasa Raja Baruna nikmati di gemerlap dan kemewahan istananya hanya bisa dilihat, didengar tanpa bisa ia menikmati sama sekali.
Itulah gunanya kaca bersekat dan meja kursi serta tempat tidur yang lebih nyaman.
Restu Bumi benar-benar dendam, membuat Baruna terpukul mentalnya, hancur sehancurnya.
Ia hanya bisa melihat pemandangan yang menggoda hasratnya dengan mata terbelalak, jakun yang naik turun, ludah berceceran menahan keinginan dan nafsu yang terus dikipas-kipasi.
Dari seberang kaca, Baruna bisa melihat dan mendengar, para penggila pesta yang bermabuk-mabukan, menari, menyanyi. Wanita-wanita cantik yang hampir telanjang meliuk menari, bahkan yang lebih luar biasa, mereka berpesta sex di sana dengan bebas dan tanpa malu-malu. Seakan mereka tidak tahu bahwa sekat itu terbuat dari kaca. Dan akibat semua yang mereka lakukan adalah siksa dan pukulan batin dari Baruna.
Raja Muda yang mempunyai hasrat tak pernah padam akan sex dan wanita.
Yang mempunyai kemampuan untuk minum anggur sampai mabuk setiap malam di Istananya.
Kini, ia hanya bisa melihat, mendengar, teriakan, dan desah suara yang tenggelam dalam gejolak nafsu yang memabukkan.
Semua itu membakar jiwanya, semua itu menghanguskan hatinya, ia hanya merintih, menjerit, mengerang, menahan semua gejolak nafsu keinginan yang tak tersalurkan.
Hanya dengan hitungan hari " dikurung " semangat hidup Raja Baruna padam sudah.
Makan, minum sudah tidak mau lagi, hanya mampu merintih dan mengerang, menggapai kaca buram yang menyiksa batinnya.
*
Santika, Lingga dan Ganesha terus memanjat naik, berpencar menuju atas benteng.
Dari bawah mereka bisa melihat penjaga yang bertugas di atas benteng.
Santika dari sebelah kiri, Lingga bagian tengah dan Ganesha sebelah kanan dari sisi dinding benteng tempat perahu mereka mendarat.
Di bibir benteng dengan kesaktiannya dan ilmu meringan tubuhnya Naga Terbang Meniti Awan dan tolakan dari Seruling Baja Birunya yang menekan dinding benteng, membuatnya melenting dengan cepat memberikan totokan kepada penjaga yang kurang cepat bereaksi melihat berkelebatnya sosok birunya.
Penjaga itu melorot dari tempat bersandarnya dalam keadaan pingsan.
*
Lingga tanpa kesulitan menggunakan kekuatan Jurus Jari Saktinya merayap di dinding benteng dengan cepat. Sebelum meloncat melewati pagar benteng, totokan jari saktinya melesat cepat membuat pingsan penjaga di tubir benteng yang diawasinya.
__ADS_1
*
Ganesha dengan cara yang hampir mirip ayahnya berhasil melewati pagar benteng dan menggunakan ilmu sihirnya, seruling berubah ujud menjadi kelelawar besar yang terbang kemudian menggigit tengkuk penjaga di sisi kanan.
*
Santika, Lingga dan Ganesha hampir bersamaan waktunya tiba di atas benteng.
Ternyata keadaan benteng di atas sangat muram. Hanya beberapa lampu gantung di setiap pos penjagaan yang berkelinting bunyi ditiup angin laut yang membuat cahaya terangnya meliuk-liuk mengenaskan.
Hanya itu, tidak ada penjaga yang lain.
Yang membuat heran, di tengah benteng ada bangunan persegi yang penuh siraman cahaya penerang dan lamat-lamat terdengar suara musik yang hilang timbul dibawa angin.
Bertiga sepakat mendekati bangunan itu dengan hati-hati. Semakin dekat semakin aneh suara yang terdengar. Ada suara tawa, ada denting suara beradunya cawan. Suara laki-laki dan suara perempuan saling tindih hilang timbul membuat semakin penasaran.
Ada penjaga di setiap sudut, tapi anehnya di masing-masing tangannya tergenggam cawan anggur, dan nampak mereka semua sudah terjerat dan mabuk.
Dengan mudah mereka dibereskan satu persatu. Tanpa suara dan tanpa perlawanan.
Ada dua pintu yang kiri dan kanan.
Santika, masuk mengambil pintu kiri dengan hati-hati
Lingga, masuk memilih pintu kanan dengan hati-hati pula.
Sedangkan Ganesha berjaga di depan bangunan yang penuh suara tertawa, dan suara aneh mirip rintihan dan desahan yang seumur-umur Ganesha belum pernah mendengarnya.
*
Restu Bumi dengan kambratnya mengawasi semua kejadian dari tempat tersembunyi. Senyum kemenangan tersungging dari bibirnya.
Dibiarkan saja, penyantron menyusup tanpa rintangan berarti.
Itulah tujuannya, bukan menjebak, akan tetapi malah memberikan kesempatan penyantron itu berhasil melakukan misinya.
Misi selesai bagai mereka. Namun menjadi awal bergerak, atau alasan melakukan serangan balasan.
*
Santika terkejut setelah melewati pintu sebelah kiri. Pemandangan tidak senonoh membuat wajahnya jengah menahan malu.
Tidak hanya sepasang, namun lebih. Mereka sudah tercerabut urat malunya semua.
Berpesta, menari, menyanyi, menenggak minuman keras, anggur yang keras dan yang lebih mengerikan mereka berhubungan sex, beramai-ramai, tanpa selembar benangpun, saling pagut, saling gelut tanpa ada rasa malu, bertingkah seperti binatang.
Santika menjadi jengah, membuang pandang ke arah kanan, menangkap sekat kaca buram dengan bayangan manusia yang menyandar bagian mukanya menempel kaca penyekat, badannya kurus, rambutnya panjang tak terawat menyeramkan.
Santika hanya mengibaskan kedua tangannya melepaskan ajian Kasih Pemutus Duka, semua yang ada di sana lelaki dan perempuan, hampir semua dalam keadaan mabuk, dilanda angin panas bagaikan lesatan meteor, membuat mereka mengejang, tersentak dan hilang kesadaran.
Setelah itu, Santika berbalik, dan berkelebat cepat keluar pintu dari ruangan yang memjijikkan!
*
Semula ia tidak melihat ada sosok kurus berambut tak karuan seperti orang gila menyandar di kaca sekat sebelah kiri. Kalau saja ia tidak mendengar suara dekur dan tarikan nafas yang keluar tersengal-sengal, Lingga akan kecolongan dan segera meninggalkan tempat itu.
Untung saja suara dekuran itu cukup membuat Lingga berpaling dan betapa terkejutnya ia.
Lelaki itu adalah junjungannya Baginda Baruna, yang ia kenali dari pakaian kebesarannya yang sudah sobek di sana-sini karena cakaran dan rengutan kedua tangannya sendiri.
Nafsu begitu menggoda dan menyiksa, tubuhnya terasa terbakar dan menggerogoti fisiknya.
Secepat kilat Lingga melesat ke arah Raja Baruna, menyambar dan memondongnya dan secepat kilat melesat keluar pintu melakukan penyelamatan!
*
Restu Bumi melihat Santika keluar dari ruangan sebelah kiri, saat itulah ia memberikan tanda bagi Buntaran untuk merintangi usaha penyelamatan itu.
Tangan terangkat ke atas, dan suara berdengung bagai lebah muncul tiba-tiba dengan obor api di tangannya. Membanjiri benteng mengepung Santika dan Ganesha. Pasukan penjaga benteng bagaikan laron-laron yang terjun ke perapian.
Hanya dengan sampokan dan dorongan tangan yang mengeluarkan tenaga dalam panas mampu membuat mereka tersapu bagaikan rumput kering, berjatuhan benar-benar terluka, maupun yang sengaja menjatuhkan diri pura-pura pingsan. Sesuai perintah dari Restu Bumi mengepung bukan untuk bertempur sungguh-sungguh.
Ganesha mengeluarkan seruling gadingnya, dilambari tenaga dalam Bianglala Pemikat Sukma, serulingnya mengeluarkan suara mengaung tinggi, kemudian menderu seperti badai topan di lautan yang membuat pengeroyoknya terkejut dan tersibak berpelantingan tidak kuat menahan suara lengkingan suara seruling.
Belum selesai serangan suara seruling mengaung, melesatlah Lingga dengan membopong sosok dalam bungkusan kain tilam di atas pundaknya.
" Hiaa... Hiaaa... lepaskan.... Serang...!" teriakan dengan tenaga dalam dibarengi dengan bayangan yang berloncatan dipimpin oleh Buntaran.
Mengepung Santika, Lingga dan Ganesha.
Ganesha dari ujung matanya berhasil mengenali pengepungnya yaitu pemuda asing yang pernah bertempur dengan Kemala Ayu adiknya, yang kemudian bersekutu dengan 5 orang lainnya, saat itu ia hampir ketahuan mencuri dengar dari atas pohon. Untung kekuatan sihirnya mampu mengubah wujudnya menjadi monyet besar.
Oo... Ternyata inilah penculiknya itu.
Buntaran mencegat Ganesha. Dengan ajian Bara Neraka tingkat tiga, ia mengejutkan kedudukan Ganesha yang merasa ada angin panas menderu ke arahnya.
Sekali lagi seruling gadingnya diputar, tenaga dingin yang keluar mampu memadamkan kejutan sengatan panas tadi. Ajian Bianglala Pemikat Sukma dilepas tiga bagian.
Santika dikeroyok tiga orang yang tinggi tegap berpakaian ringkas, yang melakukkan serangan gabungan yang tertata rapi.
Silih berganti mengincar titik maut ditubuhnya, pelipis, ulu hati dan bawah pusarnya.
Santika mempergunakan ajian Naga Terbang Meniti Awan, sambil memutar seruling baja birunya, akibatnya Bianglala Pengejar Roh yang melesat dari lubang serulingnya mampu membuyarkan ke tiga sasaran yang mematikan tadi, ia melihat pengeroyoknya membuat jarak, tidak mau mengadu senjatanya.
Dari ujung matanya ia melihat pasukan datang seperti gerombolan semut, merangsek maju, apalagi ia melihat Lingga yang membopong Raja, menghalangi gerakannya untuk menyapu bersih pengepungnya, Jari Sakti Menusuk Rembulan dilepas membawa perbawa dingin yang melanda pengeroyoknya tumbang disengat hawa dingin yang memutus aliran darahnya sesaat. Bagian tubuh yang terkena merasa kesemutan dan mati rasa. Hanya sepesekian bagian tenaga dalam yang ia lepaskan untuk menghadapi pasukan yang hanya taat perintah ini. Lingga tidak mau membunuh hanya membuat mereka kaku atau pingsan saja.
Namun yang depan tumbang, yang belakang merangsek datang.
Mau tidak mau kalau ini terjadi terus, terpaksa banyak nyawa yang akan melayang.
__ADS_1
Belum habis berfikir, terdengar kiriman suara jarak jauh dari Ganesha.
" Paman Lingga dan Ayah, lekas selamatkan Raja. Aku mencoba menahannya dulu," suara jernih Ganesha mendorong Lingga dan Santika segera melakukan usaha penyelamatan untuk melenting tinggi meninggalkan benteng, meluncur menggunakan ajian Walet Merah dan Naga Terbang Menunggang Awan, meluncur berpencar menuruni benteng dengan cepat.
Sampai di bawah deretan karang, dengan sigap mencari pecahan papan kapal yang terdampar dan melontarkan ke arah laut bersama tubuh mereka yang melayang terbang mengikuti arah lemparan.
Papan jatuh di laut mengapung di atas ombak dan tubuh melayang itu tepat mendarat di potongan papan itu yang digunakan sebagai pengganti perahu meluncur cepat meninggalkan Benteng menuju ke seberang samudera. Negeri Asoka menyelamatkan Raja Baruna!
*
Ganesha yang membuka jalan darah, diserang oleh ratusan pasukan benteng, dengan cepat ia merapal sihirnya Bayangan Seruling Seribu Ujud.
Terjadi ledakkan dan bayangan terang menyergap mata pengeroyoknya, serangan mereka mengantung dalam rasa terkejut, tiba-tiba mereka melihat sebuah Naga besar berwarna kuning meliuk menyerang mereka dengan lengkingan dan bola api yang keluar dari mulutnya sangat mengerikan.
Buntaran merasa tidak asing dengan jurus ini, ia tahu bahwa pemuda itu mempergunakan sihir untuk melawan mereka.
Karena perintah Restu Bumi hanya merintangi dan bukan menangkap, ia tidak berusaha melawan sihir itu dengan kekuatan sihirnya juga. Ia melihat dengan jelas bahwa Naga besar itu sebenarnya adalah seruling pemuda itu dan sang empunya sudah terbang melayang keluar benteng menuju laut lepas meninggalkan naganya yang berhasil memikat pasukan untuk terus mengeroyoknya.
Restu Bumi yang mengawasi dari tempat sembunyi sangat terkejut, ternyata pemuda yang tidak dikenalnya itu mempunyai ilmu sihir yang sangat luar biasa.
Ilmu sihir yang dasarnya sama persis, yang telah diturunkan kepada Buntaran, dan yang ia miliki sendiri.
Siapakah pemuda ini, ada hubungan apakah dengan dirinya yang tidak ia ketahui?
Tiba-tiba terdengar ledakan keras bersamaan suara lengkingan Naga marah yang berasal dari arah laut ratusan tombak. Ternyata lengkingan itu adalah isyarat melepas pengaruh sihir dan menarik pulang seruling gading milik Ganesha yang meluncur cepat kembali kepada tuannya. Sama yang lain, hanya dengan potongan kayu, Ganesha membelah lautan yang berombak besar di laut barat ini.
Ia melayang di puncak gelombang seperti permainannya waktu kecil dengan cepat menuju Negeri Asoka menyusul Ayahnya dan Paman Lingga yang sudah melesat terlebih dulu.
Di atas benteng, pasukan pengeroyok kehilangan lawan.
Mereka terlongog kepayahan seperti melawan musuh yang sangat hebat. Sebagian mereka masih ingat, mereka tadi melawan seekor Naga Besar, mengapa sekarang, tiba-tiba menghilang?
Restu Bumi dan kambratnya melesat meninggalkan tempat persembunyian memberikan perintah lanjutan kepada Buntaran.
" Buntaran, siapkan semua pasukan. Aku yakin mereka akan memberikan serangan balas dendam. Karena kita telah menculik Raja. Sebagai negara besar, mereka akan sangat malu. Dan untuk menutupi malunya, mereka pasti akan menyerbu ke sini.
Kita tidak menunggu mereka datang.
Kitalah yang akan mendahului menyerang mereka.
Siapkan semua pasukan dan perbekalan, segera kita berangkat ke Negeri Asoka," perintahnya cepat.
Restu Bumi tersenyum penuh kemenangan, semua rencananya berhasil dimakan dengan lahap oleh lawannya.
Raja yang berhasil diselamatkan adalah inti rencananya itu.
Tinggal ia bergegas menghadap Raja Gomara, untuk melaporkan.
Inilah saatnya Kerajaan Sangga Langit siap menyerang Negeri Asoka yang sombong itu.
*
Di tengah laut 3 bayangan di balik kabut malam menuju pagi, terus melesat bagaikan ikan saja, membelah laut yang ganas tanpa henti.
Menuju ke Negeri Asoka.
*
Istana Asoka kembali geger. Ketika Santika, Lingga dan Ganesha berhasil membawa pulang Baginda Raja yang diculik.
Dalam keadaan payah, Raja dibaringkan di tempat tidur. Tabib istana segera dipanggil untuk melakukan penyelamatan.
*
Perdana Menteri Banara segera meninggalkan tubuh polos panas milik Alamanda mendengar kabar Baginda Baruna berhasil diselamatkan.
Kejadian diluar perhitungannya, yang akan menganggu rencana yang telah disusun matang olehnya.
Namun untuk menghilangkan kecurigaan ia segera melesat ke Istana, meskipun hasrat masih belum terpuaskan.
Tinggal Alamanda bergolek gelisah dengan tubuh polos indahnya di atas kasur yang beralas sutera bersulam benang emas yang semula penuh bara dan keringat asmara.
Ia memandang kepergian Banara dengan rasa was-was.
*
Kedatangan Santika, Lingga dan Ganesha, tidak pernah lepas dari mata-mata Pangeran Ludiro yang dipendam di sekitar istana. Terbukti tidak berselang lama, Pangeran Ludiro sudah datang karena mendengar kabar itu.
Pangeran Ludiro bergegas menuju tempat istirahat raja bersamaan datangnya dengan Banara sang Perdana Menteri.
Lingga sudah memberikan pertolongan pertama dengan menyalurkan tenaga murninya kepada Baginda Raja. Berganti-ganti dengan Santika, sebagai usaha mempertahankan keseimbangan fisik Baginda.
Namun itu tidaklah cukup. Baginda yang diserang adalah mentalnya. Sakitnya adalah karena siksaan mentalnya.
Langit Asoka mengambang mendung
Membawa titik hujan yang terseret angin
Sesekali suara kilat dan kilauan petir membelah langit.
Mungkinkah ini suatu pertanda?
Tabib istana sudah mengeluarkan semua kemampuannya. Dari mulai memberikan ramuan, memberikan tusuk jarum, maupun penyaluran tenaga dalam dari pendekar yang hadir untuk membuka simpul-simpul syaraf atau pun titik-titik penting pengatur darah dalam tubuh.
Seharian tanpa henti. Namun keadaan Raja masih jauh dari harapan. Fisiknya masih bisa diselamatkan, namun hati dan pikirannya telah hancur diracuni dan disiksa oleh penculik itu!
Senja yang menggantung turun dalam bayangan mendung yang terus melayang menggelapkan Negeri Asoka.
Ketika kilat terang membelah langit dan meledak keras di atap istana Negeri Asoka.
__ADS_1
Baginda Raja Baruna, tersentak bukan untuk bangun dan sadar, namun itulah reaksinya yang terakhir sebelum kemudian Baginda mangkat tidak tertolong lagi!.
Bersambung....