Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 17


__ADS_3

CHAPTER 17


Nasib Hrastu Bhumi


Pertempuran yang luar biasa terjadi antara Denawa si Setan Berkabung dengan Joko Angkora si Penjahat Pemetik Bunga.


Musuh bebuyutan. Musuh dari muda. Sama sama jagoan yang berilmu tinggi.


Dendam Joko Angkoro yang sedalam lautan dan setinggi langit.


Joko Angkoro yang semula adalah pemuda gagah tampan, perayu dan pemikat wanita. Siapa pun wanita, tidak tua, tidak muda, bukan gadis, bukan janda...semua takluk oleh ketampanannya.


Tapi karena pertempuraan terakhir dengan Denawa membuat dirinya menjadi buruk rupa seperti ini.


Tua, bongkok, wajahnya rusak..dan menjijikan.


Semua karena Denawa.


Yang saat ini ia hadapi.


Dalam persembunyiannya, ia selalu melatih kesaktiaannya bahkan ia menemukan dan menciptakan ilmu baru.


Ilmu yang tidak di ajarkan kepada Bagus Handoko.


Ilmu yang ia ciptakan khusus untuk menghadapi Denawa.


Pertempuran sudah mencapai ratusan jurus..masih sama kuat..sama nafas...


Jual beli pukul ganti berganti..


Ilmu silat tongkat Bayangan Tongkat Pengejar Roh milik Denawa sebagai kembangan Ilmu Bayangan Pedang Pengejar Roh mampu di imbangi oleh Badai Geni.


Bahkan berkali kali Denawa harus pontang panting menyelamatkan diri.


Joko Angkoro mengepos tenaganya Badai Geni dirapal ketingkat tertinggi.


Tongkat kepala ularnya ia tancapkan di tanah.


Badannya seperti menyala terbakar, karena tenaga dalam


membumbung dari dalam tubuh dan menyala diluar.


Joko Angkoro seperti manusia api layaknya. Siap menyerang dengan kekuatan terakhir.


Denawa melihat perubahan dari musuhnya terkejut juga. Untung saja Denawa bukan pendekar ingusan.


Semakin tua semakin berisi. Petualangan yang melalang buana. Membuat ilmunya semakin matang. Pertempuran dan duel-duel yang di laluinya.


Memberikan pengalaman baru, gagasan baru. Untuk menyempurnakan ilmu, bahkan menciptakan ilmu baru.


Ilmu rahasia yang dikeluarkan disaat genting.


Perjalanan yang kemarin, ke Negeri Tanpa Langit didalam lingkungan yang dingin bersalju ia menciptakan ilmu ini.


Ia juga melepas tongkat naga hitamnya. Bukan memasang kuda kuda. Namun ia malah duduk bersemedi. Ilmu sihir putih dan tenaga dalam inti es, membuat tubuhnya yang sedang bersemedi mengeluarkan asap putih membumbung..asap yang dingin.. berubah ujud menjadi seekor naga es raksasa yang putih bagai salju...melesat memapaki serangan Badai Geni yang berupa bulatan-bulatan api membara!


Dua serangan beradu di udara..


" Duaaaaarrrrrr......rrrrtttt......cessssss," Badai Geni yang semula dorong mendorong saling beradu kekuatan..perlahan dan pasti..api yang berkobar kobar itu..mulai berkurang dan bola bola Badai Geni di telan masuk kemulut naga es raksasa itu.


Joko Angkoro terbelalak penasaran, ilmu yang sudah di yakini puluhan tahun ternyata tidak ada artinya bagi Denawa.


Bersama dengan musnah bola api masuk ke mulut naga..Joko Angkoro terserang arus tenaga inti es yang melesat tepat menghantam tubuhnya..


Tidak sempat mengelak


Tidak sempat melawan..


Sekujur tubuhnya membeku..jantungnya membeku..nyawanya melayang dan meninggalkan tubuhnya dalam keadaan dan posisi terkejut mengangkat tangan menjadi patung es.


Denawa menarik ajian simpanannya.


Naga es raksasa kembali memasuki tubuhnya.


Ia bangkit berdiri dan tertawa bergelak...


" Ha..ha...ha...ha...ha... Hrastu Bhumi...menyerahlah semua kambratmu sudah mati...ha...ha..ha..haa..," tawanya yang sangat lantang, mengguncang arena pertempuran.


Hrastu Bhumi...mendengar tawa Denawa..mencelos hatinya...


Semua sekutunya sudah binasa, anak buahnya keok!


Dan ia sedang menghadapi jago jago muda ini, yang diluar perhitungannya.


Lingga dan Santika..perpaduan mereka berdua mampu membendung semua ilmu dan jurus yang ia keluarkan.


Bahkan ilmu sihir yang ia keluarkan, yang biasanya mampu mempecundangi musuh musuhnya tidak mampu sedikitpun, mempengaruhi keduanya.


Suara seruling yang dimainkan Santika dan Gerengan Macan dan Terompet Gajah yang dikeluarkan Lingga. Mampu mengacaukan semua ilmu sihirnya


Tinggal ilmu memperbesar diri dan ilmu pukulan tenaga dalam yang masih mampu bertahan.


Sudah banyak ilmu simpanan yang ia keluarkan. Namun pertahanan Santika tetap kokoh, belum lagi gerakan lincah dan serangan Lingga.


Saat tubuhnya membesar, Lingga bagaikan seekor burung walet abu abu yang menyerang.


Saat mau di pukul, ia sudah melejit hilang


Saat mau di tangkap, ia sudah melesat berputar.


Lingga dan Santika membagi serangan kedua sasaran yang berbeda.


Lingga menyerang bagian atas, dada terus ke atas kepala.


Santika menyerang bagian perut ke bawah.


Bayangan Seruling Pencabut Nyawa tidak mampu melukai Hrastu Bhumi, karena ia mempunyai ilmu kebal senjata.


Namun suara seruling baja birunya yang kadang pelan menggetar,terkadang menjerit melengking menggetarkan jantungnya.


Belum lagi serangan Lingga, totokan jarak jauh panas dingin, membuat ia kerepotan.


Ia kadang salah menghadapi serangannya.


Sedikit demi sedikit, totokan itu mengganggu peredaraan darahnya.


Tubuhnya tidak terluka, namun syaraf dan aliran darahnya tergempur panas dan dingin berganti-ganti.


Ini pertempuran terakhir yang terlama, lebih dari ratusan jurus sudah berlalu.


Nafas dan rapalan aji Hrastu Bhumi mulai terjadi penurunan.


Gawat dan bahaya kalau begini.


Maka dirapalnya ajian terampuh yang dimiliknya, Setan Gentayangan Penjerat Nyawa..

__ADS_1


Tubuh raksasanya limbung, seperti orang mabuk.


Kemudian berputar seperti gasing. Mengeluarkan angin yang besar. Seperti badai saja kerasnya.


Semua meja, kursi, artibut, panggung lepas berterbangan.


Semua orang menghindar jauh jauh.


Hanya satu kursi yang kokoh di tempatnya, kursi milik Hrastu Bhumi.


Semua yang hadir takjub juga.


Melihat ilmu kesaktian Hrastu Bhumi yang luar biasa.


Jago jago tua, sangat menyayangkan dengan keadaan Hrastu Bhumi.


Ilmu yang begitu tinggi dan mukzizat, malah disalah gunakan.


Menjadi tunggangan nafsu dan angkara murka pemiliknya.


Ilmu atau ajian hanyalah alat.


Manusia lah yang menjadi majikannya.


Hrastu Bhumi masih berputar bagi gasing, diantara putaran yang mengeluarkan angin membadai, menerjanglah pukulan Setan Gentayangan Penjerat Nyawa.


Larikan sinar hitam secepat meteor menerjang kearah Lingga dan Santika.


" Blarrr......Buuummmm..," pukulan itu tertangkis oleh Bianglala Pengejar Roh, beradu diudara meledak dan membuat Santika terpental jauh, dan segera mengenjot tubuhnya melenting jauh menghilangkan tumbukan pukulan itu.


Ia jatuh dalam keadaan kuda kuda yang agak mengendur.


Sedangkan pukulan yang satunya meleset dari sasaran, karena Lingga dengan ajian Walet Merah bergerak sangat cepat dan Lingga selalu awas.


Angin pukulan yang menderu, sudah membuatnya langsung bereaksi. Akibatnya pukulan Hrastu menghantam lantai panggung. Buummm..separuh panggung hancur berantakan.


Santika mengatur posisi kuda kuda, kemudian menghimpun tenaga, ajian Kasih Pemutus Duka di siapkan. Tangannya yang biru bergetar dan kemudian berubah menjadi putih terang menyilaukan.


" Hiat...," sambil berteriak keras ia melesat memapaki pukulan Setan Gentayangan Penjerat Nyawa, bersamaan dengan putaran Hrastu Bhumi yang telah kehilangan sasaran memusat kepada Santika.


Benturan tenaga dalam yang hebat tidak bisa di elakkan lagi.


Sinar putih terang bertemu dengan sinar hitam.


Hawa tenaga dalam, dan hawa kematian mengambang kental.


" Blaaaamm..," bumi seakan bergetar. Sinar hitam penuh tenaga dalam memburu ke arah Santika yang tersentak mundur. Kalah kuat adu tenaga dalam.


Keadaan Santika sangat membahayakan. Nyawanya ada diujung tanduk.


Semua terkejut. Denawa sampai terpana..


Dan Kinanti sudah menjerit putus asa.


" Santika..awas..!" jerit Kinanti sambil memburu ke arah Santika.


" Buum..Buum..," dua pukulan hitam melesat menghantam panggung dan terus ke tanah, di mana tadi Santika terdorong mundur.


Santika segera bersila dan bersemedi di bantu Denawa dengan menyisipkan Pil Perebut Sukma untuk membantu menghilangkan luka dalam yang di derita muridnya.


Untung saja dalam waktu yang singkat itu, Lingga dengan ilmu Walet Merahnya berhasil menyambar dan melontarkan tubuh Santika ke arah Denawa, sambil memberikan totokan jarak jauhnya, menahan serangan Hrastu Bhumi beberapa helaan nafas. Namun mampu menyelamatkan Santika.


Hrastu Bhumi marah besar.


Musuhnya tinggal satu. Ini kesempatan terbaiknya.


" Harrggh..," gerengan Biruang Merah dilancarkan di gabung dengan Setan Gentayangan Penjerat Jiwa.


Serang sihir tinggi dan ajian yang mengerikan. Dilancarkan bebarengan.


Tokoh tokoh yang hadir, bergerak ingin menolong Lingga..


Akan tetapi..


" Hhhhheemmmmm..," suara gerengan macan yang dahsyat dikeluarkan Lingga untuk menghancurkan serangan sihir Hrastu Bhumi, bersamaan dengan Lingga menyatukan kedua jarinya saling beradu.


Menyatukan semua kekuatan yang dimiliki.


Di bangkitan kekuatan racun dari Ular Pethak Naga dan Buah Kala Jingga.


Tubuhnya seketika berselimut warna putih dan jingga.


Menguar aroma racun dan tubuhnya berubah menjadi bayangan putih jingga berselang seling. Membawa udara panas dan dingin dan di lepaskan ajian mukzizat Jari Sakti Inti Gerhana.


Cahaya merah putih menyatu kearah kedua jari tangan yang disatukan perlahan menjadi kelabu dan hitam..kemudian melesat menerjang ke arah putaran gasing tubuh Hrastu Bhumi.


Bayangan Lingga masuk kedalam putaran tubuh Hrastu Bhumi.


Terdengar suara bersuitan..dan


" Buumm..Buumm..aaaaa..," pukulan Hrastu Bhumi meleset menghantam tempat kosong.


Dan ia tersengat oleh totokan jarak dekat Lingga yang bagai bayangan naga hitam membelit tubuh raksasanya.


Jeritan yang panjang keluar dari mulut Hrastu Bhumi yang berlumur darah hitam.


Ia terkena totokan dan punahlah Ilmu Gasingnya dan tubuhnya kembali mengecil seperti sedia kala.


Ia terluka dalam dari semua lubang ditubuhnya mengeluarkan cairan darah hitam.


Tubuhnya terhuyung-huyung kearah tempat duduknya semula yang tidak hancur akibat pertempuraan itu.


Lingga memburu ke arah Hrastu Bhumi untuk memberikan totokan terakhir..namun..terlambat!


" Cepreettt...ha.ha.ha..tunggulah pembalasanku..ha..ha..ha ," suara jepretan itu adalah tombol rahasia yang ditekan oleh Hrastu Bhumi di lengan kursinya yang membawa tubuhnya hilang amblas kedalam tanah.


Tinggal suara tawa dan ancamannya yang menggema.


Hrastu Bhumi hilang ditelan bumi.


Meloloskan diri.


Melarikan diri.


Dari lobang tanah yang ada di bawah kursi tempatnya duduk di dalam pestanya.


Lingga terlambat menyusul masuk. Karena bersamaan dengan hilangnya tubuh Hrastu Bhumi, terpiculah semua sumbu peledak.


Suara ledakan bergemuruh di beberapa titik di Perguruan Bhumi Langit ini.


Mengalihkan perhatian dan menutup jalan pengejaraan bagi dirinya


Karena semua orang sibuk berusaha menyelamatkan diri dari jebakan peledak yang di pendam di Perguruan itu.


Banyak juga penduduk atau penonton yang tidak sempat menyelamatkan diri.

__ADS_1


Terperangkap dengan akal bulus Hrastu Bhumi untuk mati bersama.


" Tiji Tibeh " Mati Siji Mati Kabeh atau Mati Satu Mati Semua.


Untung saja para tokoh yang tersisa bukanlah jagoan abal abal.


Mereka berhasil selamat dari jebakan Hrastu Bhumi.


Tipu muslihat Hrastu Bhumi hanyalah mainan anak kecil belaka.


Dan tujuannya untuk kabur menyelamatkan diri.


Sangat berhasil.


Hrastu Bhumi kabur.


Dan hancurlah Perguruan Bhumi Langit, rata dengan tanah.


***


Perguruan Bhumi Langit tinggal puing.


Para korban pertempuran dan tokoh-tokoh hitam yang tewas dikuburkan di tempat itu satu liang.


Dibuatlah kuburan massal di sana!


Di beri tanda sebuah dinding batu besar bekas reruntuhan.


Raja Bengala dan Panglima Banara telah kembali hadir di sana. Di kawal oleh pasukan rahasia Pangeran Ludiro.


Setelah pemakaman massal itu Raja Bengala dan Panglima Banara di kawal kembali ke Istana.


***


Gompala keadaannya sudah lebih baik. Ia sudah mampu berdiri lagi.


Santika juga sudah melewati masa kritisnya. Ia di dampingi oleh Kinanti, Paramitha dan Lingga.


Akibat pukulan Hrastu Bhumi sudah berhasil diatasi. Tinggal pemulihan saja.


Tokoh-tokoh persilatan putih, semua masih selamat, hanya satu orang yang tewas dalam peristiwa Undangan Maut ini.


Waskito murid Gompala yang kalah duel dengan Bargowo.


Awan berarak mengusir mendung yang menggantung.


Di tiup angin lenyap sudah ke Utara.


Perguruan Bhumi Langit sepi seperti kuburan layaknya.


Di tinggalkan oleh semua orang yang telah datang mengabulkan Undangan Maut itu.


Perguruan Bhumi Langit tinggal kenangan!


Akhir dari Dendam


*Hidup selalu mengalir


Masa lalu


Masa sekarang


Masa depan...


Rangkaian cerita dari


Kehidupan itu sendiri


Lalu...apa yang harus dilakukan?


Sementara


Waktu terus melaju


Tidak pernah kembali


Waktu terus bergerak


Untuk diisi cerita baru!


Hidup adalah sebuah sebab akibat.


Rangkaian yang selalu berpasangan.


Ada sebab yang menjadi awalnya.


Ada akibat yang menjadi akhirnya*.


Demikian pula dendam dan cinta.


Apapun yang kita tanam akan kita panen pula nantinya.


Siapa yang menabur ia pulalah yang menuai badai.


Dendam yang muncul adalah akibat dari laku atau rasa yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi atau ego diri.


Cinta yang muncul adalah akibat dari rasa untuk memiliki dan di miliki.


Semua ikatan ini adalah rangkaian dari rantai karma atau sebab akibat.


Dendam milik Cempaka, Bagus Handoko, Joko Angkoro sudah lunas terbalas.


Mereka semua menikmati buah dari perasaan dendamnya.


Dendam yang harus di bayar dengan kematian!


Gumarang juga menjalani karmanya sendiri. Ambisinya untuk mendapatkan kemuliaan dan pangkat di tempuhnya melalui jalan yang salah. Bersekutu dengan Hrastu Bhumi, bukan jalan kemuliaan yang di perolehnya, tapi malu dan nista yang ia dapat. Yang menjadi sebab ia bunuh diri


Hrastu Bhumi yang menjadi biang keladi semua peristiwa berdarah ini. Menjalani karmanya sendiri.


Dua kali ia lolos dari penumpasaan karena tindakan makarnya.


Di Negeri Tanpa Langit ia makar, gagal dan melarikan diri, menjadi orang buruan.


Di Negeri Asoka ia mengulangi kesalahannya, makar kembali.


Semua usaha gagal total, bahkan ia menderita luka dalam akibat totokan Inti Gerhana milik Lingga


Dan sekali lagi, ia berhasil lolos dengan cara melarikan diri melalui gorong-gorong yang ia buat. Ujung yang satu di bawah kursi kebesaraannya di Perguruan Bhumi Langit, dan ujung satunya ada di lepas pantai Barat Laut negeri Asoka.


Lolos dan hilang entah kemana.


Untuk sementara waktu Negeri Asoka kembali dalam keadaan aman.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2